Suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian utama pasar global setelah Wall Street mencetak rekor penutupan tertinggi baru pada perdagangan Rabu. Investor terus mencermati perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu penurunan tajam harga minyak serta memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve.
Pergerakan pasar berlangsung cukup hati-hati karena pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi penting Amerika Serikat yang dapat menentukan arah kebijakan bank sentral AS dalam beberapa bulan ke depan.
Wall Street Cetak Rekor Penutupan Baru
Indeks saham utama Amerika Serikat berhasil ditutup di level tertinggi sepanjang masa meski penguatannya relatif terbatas. Investor masih menahan posisi besar sambil memantau perkembangan geopolitik dan arah inflasi AS.
Dow Jones Industrial Average naik 182,60 poin atau 0,36% ke level 50.644,28. S&P 500 menguat tipis 0,02% menjadi 7.520,36, sedangkan Nasdaq Composite naik 0,07% ke level 26.674,74.
Penguatan Dow Jones didorong oleh saham sektor industri dan defensif. Namun, pelemahan saham chip membatasi kenaikan Nasdaq dan S&P 500.
Pasar saham AS masih mempertahankan tren positif yang berlangsung sejak akhir Maret. Meski begitu, investor mulai lebih selektif karena ketidakpastian geopolitik dan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed terus memengaruhi sentimen pasar.
Negosiasi AS-Iran Tekan Harga Minyak
Perhatian investor tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah memperoleh rancangan awal kesepahaman dengan Washington untuk mengakhiri konflik yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Kesepakatan tersebut disebut mencakup pemulihan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz ke level sebelum perang dalam waktu satu bulan. Namun, Gedung Putih membantah laporan itu dan menyebut informasi tersebut tidak benar.
Meski kedua negara masih saling menyampaikan tuduhan terkait pelanggaran gencatan senjata, pasar melihat peluang perdamaian masih terbuka. Kondisi ini langsung menurunkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 5,55% dan ditutup di level US$88,68 per barel. Sementara itu, Brent melemah 5,31% menjadi US$94,29 per barel.
Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global. Investor mulai menilai risiko eskalasi konflik di Timur Tengah tidak sebesar yang sebelumnya diperkirakan.
Pasar Menunggu Data Inflasi Amerika Serikat
Selain isu geopolitik, investor juga fokus pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis Kamis. Data tersebut meliputi revisi produk domestik bruto kuartal pertama dan laporan Personal Consumption Expenditures (PCE).
Laporan PCE menjadi perhatian utama karena indikator tersebut merupakan acuan inflasi favorit Federal Reserve dalam menentukan arah suku bunga The Fed.
Pasar memperkirakan inflasi utama tahunan Amerika Serikat mencapai 3,8%, sedangkan inflasi inti diprediksi berada di level 3,3%. Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2%.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed juga meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 38,1%. Sebulan lalu, pasar bahkan belum memperkirakan adanya peluang kenaikan suku bunga tambahan tahun ini.
Investor menilai kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah sebelumnya berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dalam jangka lebih panjang.
Yield Obligasi AS Turun
Penurunan harga minyak turut membantu menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Investor mulai kembali masuk ke pasar obligasi setelah kekhawatiran inflasi sedikit mereda.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,477% dari sebelumnya 4,491%. Yield obligasi tenor 30 tahun turun ke level 5,007%, sementara yield tenor dua tahun melemah menjadi 4,033%.
Pergerakan yield tenor dua tahun mendapat perhatian besar karena sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga The Fed. Penurunan yield menunjukkan sebagian investor mulai berharap tekanan inflasi dapat berkurang apabila harga energi terus melemah.
Dolar AS Stabil, Yen Melemah
Di pasar mata uang, indeks dolar AS bergerak stabil setelah menguat pada sesi sebelumnya. Investor masih mempertimbangkan dampak geopolitik dan arah kebijakan moneter AS terhadap pergerakan mata uang global.
Indeks dolar AS naik tipis 0,1% ke level 99,20. Euro bergerak stabil di sekitar US$1,1629.
Sementara itu, dolar AS menguat terhadap yen Jepang hingga mencapai 159,52 yen per dolar. Level tersebut mendekati area yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang pada bulan lalu.
Penguatan dolar masih ditopang ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan bertahan tinggi lebih lama dibanding kebijakan moneter negara maju lainnya.
Harga Emas dan Kripto Melemah
Harga emas turun ke level terendah dalam dua bulan terakhir setelah pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Harga emas spot turun 1,19% menjadi US$4.452,38 per ounce. Kontrak emas berjangka AS juga turun 1,19% ke level US$4.447 per ounce.
Kenaikan ekspektasi suku bunga biasanya menekan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, penguatan dolar AS juga membuat harga emas semakin tertekan.
Di pasar kripto, Bitcoin turun 1,31% menjadi US$75.025, sedangkan Ethereum melemah 0,97% ke level US$2.055,62.
Bursa Eropa dan Pasar Global Bergerak Stabil
Bursa saham Eropa bergerak terbatas mendekati level tertinggi sepanjang masa yang tercapai sebelum konflik Iran memanas. Investor masih mencermati dampak geopolitik terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.
Indeks STOXX 600 Eropa naik tipis 0,03%, sementara FTSEurofirst 300 menguat 0,07%. Saham sektor otomotif dan kimia menjadi penopang utama pasar Eropa.
Sementara itu, indeks saham pasar berkembang MSCI melonjak 1,08% ke level 1.738,93. Indeks saham global MSCI juga menguat tipis menjadi 1.122,39.
Pasar global kini menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan negosiasi AS-Iran sebagai faktor utama yang akan menentukan pergerakan aset keuangan dalam jangka pendek.
Prospek Harga Emas Kamis | 28 Mei 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di atas resistance 4.537 dan kembali bergerak di bawah SMA 50. Trendline menurun juga masih membatasi ruang kenaikan, menandakan dominasi seller masih kuat. Saat ini harga bergerak sedang mencoba bertahan di atas area support 4.400.
Namun, RSI yang berada di bawah level 40 menunjukkan momentum bearish masih mendominasi. Jika harga turun menembus 4.400, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju 4.350 hingga support berikutnya di 4.305. Sebaliknya, rebound berpeluang terjadi apabila harga mampu kembali menembus resistance 4.537 dan bergerak naik menuju area 4.580.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.543 R2 4.560 R3 4.580
S1 4.480 S2 4.453 S3 4.419
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.400 |
| Profit Target Level | 4.450 |
| Stop Loss Level | 4.350 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.480 |
| Profit Target Level | 4.410 |
| Stop Loss Level | 4.540 |
Prospek Harga US Oil Kamis | 28 Mei 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan tekanan bearish setelah harga menembus support 91.48, yang kini berubah menjadi resistance terdekat. Setelah breakdown tersebut, harga kembali melemah dan membentuk support baru di area 87,58. Harga juga masih bergerak di bawah SMA 50, sementara struktur lower high dan lower low tetap mendominasi, menandakan trend penurunan masih berlanjut.
RSI yang berada di bawah level 40 turut mengindikasikan momentum bearish masih cukup kuat. Jika support 87,58 ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju 85,41 hingga 83,60. Sebaliknya, rebound jangka pendek baru berpeluang berkembang apabila harga mampu kembali naik menembus resistance 91,48 dan bergerak menuju area 93,18.
US Oil INTRADAY AREA
R1 91,48 R2 93,18 R3 94,66
S1 87,58 S2 85,41 S3 83,60
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 88,00 |
| Profit Target Level | 91,30 |
| Stop Loss Level | 85,40 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 91,45 |
| Profit Target Level | 88,20 |
| Stop Loss Level | 93,50 |
Baca analisa sebelumnya: Nasdaq Cetak Rekor di Tengah Gejolak Minyak
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat bahwa pergerakan NZD/USD masih berpeluang bullish pada time frame H4 dengan level pivot di 0.5845. Selama harga bertahan di atas area tersebut, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance di 0.5902, kemudian 0.5915 hingga 0.5928.
Pergerakan harga emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal menembus area resistance 4.543–4.560 yang juga berdekatan dengan garis MA. Harga saat ini bergerak di bawah moving average, menandakan tren turun masih dominan dalam jangka pendek. RSI yang berada di bawah level 50 turut mengindikasikan momentum beli yang masih lemah.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan upaya rebound setelah harga sempat menyentuh area support 89,40. Namun kenaikan tersebut masih berpotensi terbatas selama harga belum mampu menembus resistance 95,02 yang sebelumnya merupakan area support dan kini berubah menjadi resistance.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat pergerakan oil pada time frame H4 masih berpeluang rebound dengan level pivot di 90,75. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance 94,70, kemudian 96,75, hingga 98,70.
Harga emas berhasil rebound setelah bertahan di atas support 4.453 dan kembali bergerak naik mendekati area resistance 4.589. Pergerakan ini juga didukung oleh RSI yang mulai menguat ke atas level 50, menandakan momentum bullish mulai kembali terbentuk dalam jangka pendek. Selain itu, harga mulai bergerak di atas SMA 50 pada time frame H4, yang membuka peluang lanjutan kenaikan.
Harga US Oil masih bergerak dalam tekanan bearish setelah gagal bertahan di atas resistance 95,02 dan kembali turun menembus support 92,65. Pelemahan ini juga terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 pada time frame H4, sementara RSI turun mendekati area oversold, menandakan momentum bearish masih cukup dominan.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan AUD/USD masih cenderung bullish pada time frame H4, dengan level pivot berada di 0.7140. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka dengan target resistance terdekat di 0.7175. Jika resistance ini berhasil ditembus, maka potensi penguatan lanjutan dapat membawa harga menuju area 0.7195 hingga 0.7215.
Pergerakan harga emas pada time frame H4 mulai menunjukkan sinyal rebound setelah dibuka gap up dan langsung menembus resistance 4.534, yang kini berubah menjadi area support terdekat. Harga saat ini sedang menguji resistance 4.571 yang juga berdekatan dengan SMA 50, sehingga area tersebut menjadi level penting untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas 4.571, maka momentum bullish berpotensi berlanjut menuju resistance 4.637 hingga 4.670.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di atas support 95,02 dan kembali bergerak di bawah area SMA 50. Penurunan tajam terbaru juga membawa harga turun menjauhi resistance 96,90, sehingga memperkuat dominasi seller dalam jangka pendek. Saat ini harga mengarah ke support 88,57, dan jika level tersebut ditembus, tekanan turun berpotensi berlanjut menuju area support kuat 85,41 hingga 83,21 yang sebelumnya menjadi zona rebound penting.
Outlook Pasar Global 25 – 29 Mei 2026
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan silver pada time frame H4 berpeluang rebound dengan level pivot berada di 75,60. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance di 77,10, kemudian 77,70, hingga 78,90.
Harga emas sempat mengalami rebound, namun penguatannya masih tertahan di resistance 4.589 sehingga belum mampu mengubah arah trend secara signifikan. Setelah gagal menembus area tersebut, harga kembali melemah dan membentuk low baru di sekitar 4.488 sebelum akhirnya rebound lagi dan bergerak naik mendekati resistance 4.589. Meski rebound masih berlangsung, pergerakan harga yang tetap berada di bawah SMA 50 serta trendline bearish menunjukkan bahwa tekanan turun masih mendominasi.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih cenderung bearish setelah harga gagal bertahan di atas area resistance 100,50 dan kembali bergerak di bawah SMA 50. Tekanan jual meningkat setelah harga beberapa kali gagal melanjutkan kenaikan menuju resistance 102,74 dan membentuk pelemahan bertahap dalam jangka pendek. RSI yang bergerak di bawah level netral juga menunjukkan momentum bullish mulai melemah.
