Market Summary
Krisis Politik Inggris kembali menekan pergerakan Pound Sterling terhadap Dolar AS. GBP/USD turun untuk hari keempat berturut-turut dan diperdagangkan di level 1.3337. Pelemahan ini muncul setelah situasi politik di Inggris semakin tidak stabil akibat konflik internal di Partai Buruh.
Pengunduran diri Menteri Kesehatan Wes Streeting meningkatkan tekanan terhadap Perdana Menteri Keir Starmer. Sejumlah anggota parlemen Partai Buruh mulai mendorong pergantian kepemimpinan setelah hasil buruk dalam pemilu lokal pekan lalu. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kekosongan kekuasaan dan potensi krisis fiskal baru di Inggris.
Tekanan Politik Membebani Pound Sterling
Ketidakpastian politik membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset Inggris. Pasar khawatir proses pergantian pemimpin berlangsung tidak teratur dan menghadirkan sosok baru yang mendukung kebijakan fiskal longgar. Kekhawatiran tersebut meningkatkan tekanan jual terhadap Pound Sterling.
Andy Burnham menjadi salah satu nama yang disebut berpotensi menggantikan Keir Starmer. Investor obligasi menilai Burnham kurang ramah terhadap pasar. Selain Burnham, nama lain seperti Wes Streeting, Ed Miliband, dan Angela Rayner juga mulai muncul dalam persaingan internal Partai Buruh.
Situasi ini membuat Pound jatuh di bawah level 1.34 dan mencatat pelemahan mingguan hampir 2% terhadap Dolar AS. Penurunan tersebut menjadi level terendah sejak awal April.
Dolar AS Menguat Didukung Data Ekonomi
Sementara itu, Dolar AS terus menguat setelah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang solid. Data Retail Sales dan klaim pengangguran mingguan mendukung pandangan bahwa ekonomi AS masih kuat di tengah tekanan inflasi.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik di atas 4.5%, level tertinggi dalam hampir satu tahun. Kenaikan yield mendorong penguatan USD Index yang sudah naik sekitar 1.3% sepanjang pekan ini.
Pasar juga mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada akhir 2026 semakin besar. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga setidaknya satu kali mencapai sekitar 50%.
Inflasi dan Harga Energi Jadi Sorotan
Selain faktor politik, pasar juga mencermati kenaikan harga energi global. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak mentah dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Kepala ekonom Bank of England, Huw Pill, mendukung kebijakan pengetatan moneter lebih lanjut untuk mengendalikan tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi. Pelaku pasar kini memperkirakan Bank of England dapat menaikkan suku bunga sekitar 70 basis poin tahun ini.
Fokus Pasar Tertuju pada Hubungan AS-China
Pada akhir pekan, investor akan memperhatikan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pasar berharap kedua negara memberikan sinyal positif terkait perdagangan global dan stabilitas jalur energi internasional.
Meski komentar awal terdengar optimistis, pelaku pasar masih menunggu detail konkret mengenai kesepakatan perdagangan maupun langkah terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Prospek GBP/USD Masih Bearish
Krisis Politik Inggris diperkirakan masih menjadi faktor utama yang membebani Pound Sterling dalam jangka pendek. Selama ketidakpastian politik terus berlangsung dan Dolar AS tetap kuat, tekanan terhadap GBP/USD kemungkinan berlanjut.
Analisa Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan pergerakan GBP/USD masih berada dalam tren bearish pada time frame H4 dengan level pivot di 1.3410. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan turun diperkirakan masih berlanjut. Saat ini, GBP/USD sedang menguji area support terdekat di 1.3335. Jika level itu berhasil ditembus, harga berpotensi melanjutkan penurunan menuju support berikutnya di 1.3300 hingga 1.3265.
Sebaliknya, skenario bullish baru akan terbuka apabila harga mampu menembus dan bergerak stabil di atas level 1.3410. Jika hal itu terjadi, GBP/USD berpeluang melanjutkan kenaikan dengan target resistance di area 1.3440 hingga 1.3465.
Resistance 1: 1.3410 Resistance 2: 1.3440 Resistance 3: 1.3465
Support1: 1.3335 Support 2: 1.3300 Support 3: 1.3265
Baca juga: Peluang Trading EUR/USD Menjelang Data Retail Sales AS
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.





Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat masih berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di atas area resistance 4684 dan kembali bergerak di bawah garis SMA 50. Pelemahan ini membuka peluang penurunan lanjutan menuju support 4618, kemudian 4586 hingga 4560 jika tekanan jual semakin kuat.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 terlihat masih berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal mempertahankan kenaikan di atas area resistance 98,98 – 100,50 dan kembali bergerak di bawah garis SMA 50. Koreksi ini juga terjadi setelah harga menembus garis uptrend jangka pendek, sehingga membuka peluang pelemahan lanjutan menuju support 95,02, kemudian 93,67 hingga 91,84.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan EUR/USD pada time frame H4 masih cenderung bearish dengan level pivot berada di area 1.1735. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan penurunan masih berpotensi berlanjut dengan target support terdekat di 1.1695. Jika level support itu berhasil ditembus, maka peluang pelemahan lanjutan dapat mengarah ke area support berikutnya di 1.1675 hingga 1.1655.
Pergerakan emas di time frame H4 terlihat masih bergerak sideways di area konsolidasi setelah sebelumnya rebound dari support 4.560. Harga saat ini bergerak di sekitar SMA 50 dan mencoba bertahan di atas resistance 4.660 yang kini menjadi support terdekat. Jika mampu bertahan di atas area tersebut, emas berpeluang melanjutkan kenaikan untuk menguji resistance 4730, kemudian 4.770 hingga 4.833.
Pergerakan US Oil di time frame H4 terlihat mulai kehilangan momentum bullish setelah gagal bertahan di atas resistance 100,50 dan kembali bergerak di bawah SMA 50. Koreksi juga terjadi setelah harga menembus garis uptrend jangka pendek, yang membuka peluang pelemahan lebih lanjut menuju support 93,67. Jika tekanan bearish berlanjut, harga berpotensi turun menguji support berikutnya di 91,84 hingga 89,72.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat pergerakan XAU/USD pada time frame H4 masih cenderung bullish. Level pivot berada di area 4.685. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka. Harga berpotensi menguji resistance 4.725, kemudian 4.745, hingga 4.770.

Pergerakan emas pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bullish setelah berhasil rebound dan bertahan di atas area support 4.660, sekaligus bergerak di atas SMA 50. RSI yang berada di sekitar level 55 juga mengindikasikan momentum kenaikan masih cukup terjaga.
Pergerakan US Oil di time frame H4 sebelumnya sempat menguat setelah breakout di atas SMA 50 dan resistance 99,13, bahkan mencetak high baru di sekitar 102,62. Namun pada pembukaan market hari ini, harga langsung dibuka gap down dan kembali bergerak di bawah SMA 50 serta menembus up trend line yang sebelumnya menopang kenaikan.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat pergerakan XAG/USD masih cenderung bearish pada time frame H4, dengan level pivot berada di 85,90. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, potensi penurunan masih terbuka untuk menguji support 82,15, kemudian 80,70, hingga 79,60.
