Dolar Turun Setelah Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump
Dolar melemah usai putusan tarif Trump setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif luas yang diberlakukan oleh Donald Trump. Putusan mayoritas yang ditulis oleh John Roberts menyatakan bahwa penggunaan undang-undang darurat 1977 melampaui kewenangan presiden.
Pergerakan dolar berlangsung volatil. Mata uang ini sempat menguat setelah rilis data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, namun berbalik melemah setelah keputusan pengadilan diumumkan. Indeks dolar turun ke kisaran 97,80, meskipun masih mencatat kenaikan mingguan.
Data Ekonomi dan Ekspektasi The Fed
Data dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 1,4% pada kuartal terakhir, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 3%. Perlambatan ini terjadi di tengah dampak penutupan pemerintahan.
Sementara itu, inflasi inti PCE naik 0,4% secara bulanan dan mencapai 3% secara tahunan. Kondisi ini menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, dengan probabilitas penurunan suku bunga dalam waktu dekat sedikit menurun.
Kebijakan Tarif Baru Picu Ketidakpastian
Donald Trump langsung merespons putusan tersebut dengan rencana penerapan tarif global baru sebesar 10% melalui Trade Act 1974. Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa kombinasi kebijakan tarif ini berpotensi menjaga penerimaan negara tetap stabil.
Langkah ini menciptakan ketidakpastian baru di pasar, karena pelaku pasar kini menilai arah kebijakan perdagangan AS masih cenderung proteksionis meskipun kebijakan sebelumnya dibatalkan.
Saham AS Menguat Didorong Sentimen Positif
Pasar saham AS menguat setelah putusan pengadilan. Indeks S&P 500 naik 0,7%, sementara Nasdaq Composite menguat 0,9% dan mengakhiri tren penurunan lima pekan.
Penguatan saham didorong oleh berkurangnya kekhawatiran terhadap tarif sebelumnya, meskipun rencana kebijakan baru tetap menjadi faktor pembatas. Sektor teknologi memimpin kenaikan, menunjukkan minat risiko yang masih solid.
Emas Melonjak di Tengah Ketidakpastian
Harga emas naik menembus $5.080 per ounce dan menguji level tertinggi bulanan. Kenaikan ini didorong oleh kombinasi pelemahan dolar, data ekonomi yang lemah, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.
Emas tetap menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan dan inflasi yang masih tinggi.
Minyak Naik Didukung Risiko Geopolitik
Harga minyak WTI bergerak di sekitar $66 per barel dan mencatat kenaikan mingguan sekitar 5%. Penguatan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran setelah Trump mempertimbangkan aksi militer terbatas.
Selain faktor geopolitik, penurunan tajam persediaan minyak mentah AS juga memberikan dukungan tambahan bagi harga, memperkuat sentimen bullish di pasar energi.
Prospek Harga Emas Senin | 23 Februari 2026
Harga emas pada timeframe H4 terlihat melanjutkan momentum bullish setelah berhasil breakout dari area resistance 5.046 dan bergerak stabil di atas SMA 50, yang kini berfungsi sebagai support dinamis. Struktur higher low yang terbentuk sejak pertengahan Februari diperkuat oleh trendline naik, menunjukkan tekanan beli yang masih dominan.
Selama harga bertahan di atas area 5.000–5.046, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance berikutnya di 5.146 hingga 5.205, dengan peluang lanjutan menuju 5.268. RSI yang mendekati area overbought mengindikasikan momentum kuat, meskipun tetap membuka peluang koreksi sehat sebelum melanjutkan kenaikan.
GOLD INTRADAY AREA
R1 5.146 R2 5.205 R3 5.268
S1 5.046 S2 5.000 S3 4.961
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 5.050 |
| Profit Target Level | 4.140 |
| Stop Loss Level | 5.000 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 5.146 |
| Profit Target Level | 5.070 |
| Stop Loss Level | 5.205 |
Prospek Harga US Oil Jumat | 20 Februari 2025
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 menunjukkan momentum bullish yang masih terjaga setelah breakout kuat dari area resistance 65,43 dan kini bergerak di atas MA sebagai support dinamis. Struktur higher high dan higher low mengindikasikan tren naik yang solid, meskipun saat ini terlihat fase konsolidasi ringan setelah kenaikan tajam.
Selama harga mampu bertahan di atas area 65,43–64,61, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance berikutnya di 67,05 hingga 67,73, dengan peluang lanjutan menuju 68,55. RSI yang mulai menurun dari area tinggi mencerminkan adanya jeda momentum, namun belum menunjukkan sinyal pembalikan yang signifikan.
US Oil INTRADAY AREA
R1 67,05 R2 67,73 R3 68,55
S1 65,43 S2 64,61 S3 63,61
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 65,45 |
| Profit Target Level | 67,00 |
| Stop Loss Level | 64,50 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 67,05 |
| Profit Target Level | 66,00 |
| Stop Loss Level | 67,75 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Week Ahead 23–27 Februari 2026
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih cenderung bullish, dengan level pivot berada di 4.980. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, potensi kenaikan tetap terbuka untuk menguji area resistance di 5.045, 5.080, hingga 5.115.
Pergerakan emas pada timeframe H4 terlihat masih bergerak sideways dalam range yang cukup jelas, dengan harga tertahan di area resistance 5.046–5.100 dan support di kisaran 4.906 hingga 4.842. Area yang diarsir menunjukkan fase konsolidasi setelah penurunan tajam sebelumnya, menandakan pasar masih mencari arah berikutnya.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan XAG/USD pada time frame H4 masih cenderung bullish dengan level pivot di 77,60. Selama harga bertahan di atas level tersebut, kenaikan berpotensi berlanjut untuk menguji resistance di 80,00, kemudian 80,80, hingga 81,50.
Pada grafik H4, US Oil bergerak dalam fase sideway lebar di kisaran 61,08 hingga 66,41. Sebelumnya harga sempat tertekan turun ke bawah SMA 50 di area 63,61 dan membentuk low di sekitar 61,79, menandakan tekanan jual sempat mendominasi dalam jangka pendek.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan GBP/USD masih cenderung bullish pada time frame H4, dengan level pivot di 1.3540. Harga sempat menembus resistance terdekat di 1.3575. Jika level tersebut mampu dipertahankan, penguatan berpotensi berlanjut untuk menguji resistance berikutnya di 1.3590, bahkan hingga 1.3615.
Pergerakan emas pada grafik H4 menunjukkan tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di atas resistance 4.934 hingga 4.971 dan kini bergerak di bawah SMA 50 yang mulai menurun. Struktur lower high mengindikasikan melemahnya momentum bullish dan meningkatnya dominasi penjual.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 menunjukkan tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di atas resistance 62,83 dan kini bergerak di bawah SMA 50 yang mulai melandai. Kondisi ini mencerminkan melemahnya momentum bullish dan meningkatnya dominasi penjual dalam jangka pendek.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menilai pergerakan US Oil masih berpotensi bullish dengan level pivot di 62,95. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang rebound tetap terbuka untuk menguji area resistance 63,55, kemudian 63,85, hingga 64,20.
Pergerakan emas pada grafik H4 menunjukkan bahwa harga masih berada dalam fase konsolidasi setelah gagal menembus resistance kuat di area 5.077 hingga 5.119. Penolakan di area tersebut memicu koreksi, namun tekanan jual belum sepenuhnya dominan karena harga saat ini masih tertahan di sekitar SMA 50. Posisi ini menunjukkan bahwa SMA 50 masih berperan sebagai support dinamis, dan harga belum menembusnya secara valid.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 menunjukkan bahwa harga sedang menguji area SMA 50 di sekitar 63,61 setelah sebelumnya memantul dari support 62,35. Posisi ini menunjukkan bahwa SMA 50 menjadi resistance dinamis yang menentukan arah pergerakan selanjutnya.
