Saham Global Menguat Menjelang Data Inflasi
Pasar saham global ditutup menguat pada Selasa dengan dukungan dari kinerja positif Wall Street, meskipun investor masih menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. MSCI global equity index naik 0,23% ke 961,10 poin, sementara S&P 500 berhasil mencatat rekor baru dengan kenaikan 0,27% ke 6.512,61. Dow Jones Industrial Average juga bertambah 0,43% ke 45.711,34, dan Nasdaq naik 0,37% ke 21.879,49 yang sekaligus menandai rekor penutupan kedua secara berturut-turut. Di kawasan Eropa, STOXX 600 hanya naik tipis 0,06%, sementara indeks saham emerging markets lebih solid dengan penguatan 0,94% ke 1.294,26.
Revisi Data Pekerjaan AS dan Ekspektasi The Fed
Kenaikan di pasar saham terjadi meski Departemen Tenaga Kerja AS merilis revisi besar atas data lapangan kerja, yang menunjukkan bahwa dalam 12 bulan hingga Maret, penciptaan lapangan kerja ternyata 911.000 lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya. Hal ini memberi sinyal bahwa perlambatan pasar tenaga kerja sudah terjadi bahkan sebelum kebijakan tarif impor diberlakukan. Meski data tersebut memberi gambaran suram, investor menilai hal itu tidak mengubah ekspektasi terhadap kebijakan moneter. Pasar masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17 September mendatang, sementara peluang pemangkasan yang lebih agresif sebesar 50 basis poin hanya sekitar 8%. Pandangan yang muncul adalah bahwa ekonomi masih mampu bertahan dengan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih lambat, sehingga pasar tetap mempertahankan optimisme.
Dolar Menguat dan Yield Treasury Naik
Di pasar mata uang, dolar menguat terhadap sebagian besar mata uang utama, kecuali yen, seiring konsolidasi posisi menjelang data inflasi. Indeks dolar naik 0,43% ke 97,81, euro melemah 0,49% ke $1,1704, sementara terhadap yen dolar sedikit melemah 0,06% ke 147,42. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS bergerak naik karena aksi beli besar di tenor panjang mulai mereda. Yield obligasi 10 tahun naik menjadi 4,082% dari 4,046%, yield 30 tahun juga bertambah ke 4,7263%, dan yield 2 tahun meningkat ke 3,55%. Pergerakan ini mencerminkan ekspektasi bahwa prospek pemangkasan suku bunga sudah semakin kuat, meski investor tetap berhati-hati menanti data inflasi yang akan dirilis pada Rabu dan Kamis.
Minyak Lanjut Naik, Emas Konsolidasi Setelah Reli
Harga minyak berakhir lebih tinggi, didorong kabar mengenai serangan militer Israel terhadap pimpinan Hamas di Doha. Minyak WTI ditutup naik 0,59% ke $62,63 per barel, sementara Brent menguat 0,56% ke $66,39 per barel. Sementara itu, harga emas yang sebelumnya mencetak rekor reli mulai terkoreksi tipis, dengan emas spot turun 0,12% ke $3.631,12 per ons dan emas berjangka melemah 0,17% ke $3.631,90 per ons. Pelemahan ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung menjelang rilis data inflasi AS, yang akan menjadi acuan utama bagi arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Prospek harga Emas Rabu | 10 September 2025
Pergerakan emas pada grafik H4 terlihat terkoreksi setelah reli panjang. Saat ini harganya berada di bawah pivot point 3644.51. Selama harga tertahan di bawah area ini, tekanan turun berpotensi berlanjut menuju support 3614.28. Jika tekanan jual berlanjut, target berikutnya berada di 3596.67 dan 3566.44.
Sebaliknya, jika harga mampu kembali menembus pivot point, peluang kenaikan terbuka menuju resistance 3662.12. Pergerakan bullish dapat berlanjut ke 3692.35 hingga 3709.96. RSI berada di kisaran 66, menandakan momentum bullish jangka menengah masih ada. Namun, untuk jangka pendek arah masih korektif selama harga tertahan di bawah pivot.
GOLD INTRADAY AREA
R1 3662,12 R2 3692,35 R3 3.709,96
S1 3614,28 S2 3596,67 S3 3.566,44
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 3.616 |
| Profit Target Level | 3.640 |
| Stop Loss Level | 3.596 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 3.644 |
| Profit Target Level | 3.616 |
| Stop Loss Level | 3.663 |
Prospek harga US Oil Rabu | 10 September 2025
Secara keseluruhan, pergerakan US Oil pada grafik H4 masih cenderung bearish karena harga bergerak di bawah SMA 50. Tekanan turun masih dominan, meski terlihat ada pola rebound jangka pendek yang ditopang trendline naik. Rebound ini memberi peluang untuk menguji resistance di 63.61 yang bertepatan dengan posisi SMA 50.
Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas area tersebut, tren bisa bergeser ke arah bullish dengan target ke 64.07 hingga 64.49. Namun, selama harga berada di bawah SMA 50, sentimen tetap bearish dengan potensi penurunan ke 62.54, lalu 61.94 hingga 61.44.
US Oil INTRADAY AREA
R1 63,61 R2 64,07 R3 64,49
S1 62,54 S2 61,94 S3 61,44
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 62,80 |
| Profit Target Level | 63,60 |
| Stop Loss Level | 62,40 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 63,60 |
| Profit Target Level | 62,70 |
| Stop Loss Level | 64,10 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disiniGRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Analisis teknikal Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan EUR/USD pada time frame H4 masih berpotensi bullish dengan level pivot di 1.1740. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan diperkirakan berlanjut untuk menguji area resistance di 1.1790–1.1830.
Pergerakan emas pada timeframe H4 menunjukkan tren naik yang kuat dengan harga saat ini berada di atas garis SMA 50, menandakan momentum bullish masih dominan. Namun, indikator RSI sudah berada di area overbought sekitar 71 dan bahkan membentuk bearish divergence, yang bisa menjadi sinyal potensi koreksi. Level pivot 3.620,26 menjadi support terdekat, sementara resistance terdekat berada di 3.661,07.
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 menunjukkan tren turun yang masih dominan dengan harga bergerak di bawah garis SMA 50. Setelah penurunan tajam, harga sempat melakukan pullback ke area resistance 62,95 namun gagal menembusnya dan berpotensi melanjutkan penurunan menuju support terdekat di 61,44.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan GBP/USD pada time frame H4 masih cenderung bearish, dengan level pivot di 1.3525. Selama harga bergerak di bawah level ini, potensi penurunan diperkirakan berlanjut untuk menguji area support di 1.3460–1.3415.
Pergerakan harga emas di time frame H4 menunjukkan tren naik dengan posisi candle berada di atas SMA 50 dan mendekati area resistance R1 di 3613.51. Namun, indikator RSI menunjukkan adanya bearish divergence karena harga membentuk higher high sementara RSI membentuk lower high, yang menandakan potensi pelemahan momentum.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 di terlihat harga berada dalam tren turun dengan posisi candle di bawah SMA 50, namun saat ini berusaha melakukan pullback setelah menyentuh area oversold pada indikator RSI yang berada di level 29,53.
Pasar keuangan global bersiap menghadapi pekan penting dengan sederet rilis data ekonomi dan keputusan kebijakan moneter yang berpotensi mengubah arah sentimen. Di Amerika Serikat, sorotan utama akan tertuju pada laporan inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI), yang menjadi indikator kunci menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve. Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter serta proyeksi ekonomi terbaru. Dari Asia, investor akan menanti data perdagangan dan inflasi dari Tiongkok, serta pembaruan GDP dari Jepang.
Dari sisi teknikal, Trading Central menilai bahwa pergerakan harga emas pada time frame H4 masih berada dalam kecenderungan bullish, dengan level pivot di 3.535. Selama harga bergerak di atas level tersebut, peluang kenaikan diperkirakan berlanjut untuk menguji area resistance di 3.564–3.578.

Pergerakan emas di timeframe H4 menunjukkan tren naik yang kuat setelah menembus resistance sebelumnya. Posisi harga berada di atas SMA 50 sehingga tren masih terjaga. RSI saat ini berada di level 67, menandakan momentum bullish cukup solid namun mendekati area overbought.
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 menunjukkan pelemahan setelah harga gagal bertahan di atas trendline naik dan juga menembus ke bawah SMA 50. Saat ini harga bergerak di bawah area support penting 64,02–64,26 yang kini berubah menjadi resistance, sehingga tekanan jual masih dominan.
