Trading Opportunity Pair (TOP)
Market Summary
Harga minyak mentah mengalami tekanan setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan tarif impor baru terhadap mitra dagang utama seperti China dan Uni Eropa. Meskipun sektor energi, termasuk minyak dan gas alam, dikecualikan dari kebijakan ini, kekhawatiran akan dampak perang dagang terhadap pertumbuhan ekonomi global tetap membebani prospek permintaan minyak.
Harga minyak Brent turun hingga 3,2% ke level $72,52 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) jatuh di bawah $70 per barel. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan pasar keuangan global setelah kebijakan tarif terbaru Trump, yang dianggap sebagai langkah agresif dalam menekan mitra dagang AS. Beijing telah menyatakan akan mengambil langkah balasan, meskipun belum memberikan rincian lebih lanjut, sementara Uni Eropa juga berjanji akan merespons kebijakan ini.
Meskipun tarif baru tidak secara langsung berdampak pada minyak, keputusan ini tetap memicu sentimen negatif di pasar. Investor khawatir bahwa dampak dari tarif impor terhadap pertumbuhan ekonomi global dapat menurunkan permintaan energi dalam jangka panjang. Hal ini diperparah dengan laporan dari Badan Informasi Energi AS (EIA) yang menunjukkan peningkatan persediaan minyak mentah AS sebesar 6,2 juta barel dalam seminggu terakhir, jauh lebih tinggi dari ekspektasi pasar, yang semakin menekan harga minyak.
Selain itu, meningkatnya ketidakpastian ekonomi di AS akibat kebijakan tarif ini telah memicu spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan kembali menurunkan suku bunga untuk menghindari perlambatan ekonomi lebih lanjut. Dampaknya, imbal hasil obligasi AS mengalami penurunan tajam, yang kemudian menekan nilai dollar AS ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Melemahnya dollar AS sedikit membantu membatasi penurunan harga minyak, karena minyak yang dihargakan dalam dollar menjadi lebih murah bagi pembeli global.
Ke depan, fokus pasar akan tetap tertuju pada perkembangan perang dagang AS dan bagaimana kebijakan ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, data ekonomi AS seperti klaim pengangguran mingguan dan ISM Services PMI akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah pergerakan harga minyak. Dengan volatilitas yang masih tinggi, pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi, menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai dampak tarif terhadap perekonomian global dan permintaan energi.
Analisis Teknikal
Dari perspektif teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa US Oil masih cenderung bearish pada time frame H4, dengan level pivot di 69,75. Selama harga tetap berada di bawah level ini, tekanan jual berpotensi berlanjut untuk menguji area support di 68,80-68,25.
Sebagai alternatif skenario, jika harga berhasil menembus ke atas 69,75, ada peluang untuk pergerakan naik lebih lanjut guna menguji level resistance di 70,15-70,60.
Resistance 1: 69,75, Resistance 2: 70,15, Resistance 3: 70,60
Support1: 68,80, Support 2: 68,50, Support 3: 68,25