Market Summary
Peluang trading WTI kembali menjadi perhatian pasar setelah harga West Texas Intermediate (WTI) turun ke sekitar USD 64,80 pada sesi Asia, Kamis. Koreksi ini terjadi setelah harga sempat naik lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. Tekanan muncul usai data persediaan minyak mentah Amerika Serikat menunjukkan lonjakan signifikan.
Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS naik 8,53 juta barel pekan lalu. Total persediaan kini mencapai 428,8 juta barel. Meski meningkat tajam, level tersebut masih sekitar 3% di bawah rata-rata lima tahun untuk periode yang sama. Data ini memicu aksi ambil untung dan membatasi kelanjutan reli harga.
Risiko Surplus dan Sikap OPEC
Pasar juga menanti laporan bulanan International Energy Agency (IEA) yang akan dirilis hari ini. Lembaga tersebut sebelumnya kerap menyoroti potensi surplus pasokan global. Jika proyeksi surplus kembali ditegaskan, harga minyak dapat menghadapi tekanan lanjutan.
Sementara itu, OPEC mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan global untuk 2026 sebesar 1,38 juta barel per hari dan 2027 sebesar 1,34 juta barel per hari. Organisasi tersebut juga tidak mengubah proyeksi suplai dari negara non-OPEC. Sikap ini menunjukkan keyakinan bahwa permintaan energi tetap stabil dalam jangka menengah.
Ketegangan AS–Iran Batasi Tekanan Turun
Di tengah tekanan dari sisi persediaan, risiko geopolitik membatasi penurunan harga. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa belum ada keputusan final dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menegaskan negosiasi dengan Iran akan terus berlanjut.
Trump juga menyampaikan bahwa dirinya mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan dengan Iran tidak tercapai. Pernyataan tersebut meningkatkan sensitivitas pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan tersebut.
Selama ketegangan ini belum mereda, premi risiko cenderung tetap melekat pada harga minyak.
Data Tenaga Kerja AS Perkuat Fundamental Permintaan
Dari sisi makroekonomi, data tenaga kerja AS memberi dukungan terhadap prospek permintaan energi. Bureau of Labor Statistics melaporkan Nonfarm Payrolls Januari naik 130.000, melampaui ekspektasi 70.000. Angka Desember direvisi menjadi 48.000. Tingkat pengangguran turun ke 4,3% dari 4,4%.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menyatakan bahwa tingkat pengangguran menunjukkan stabilisasi setelah laporan tenaga kerja yang solid. Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid, menegaskan bahwa suku bunga perlu tetap berada di level restriktif untuk terus menekan inflasi dan ia belum melihat banyak tanda perlambatan dalam data ekonomi.
Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 94% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Fokus ke Data Jobless Claims dan Inflasi
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak melemah di sekitar 96,80 pada sesi Asia. Perlambatan Retail Sales dan komentar penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett ikut membebani dolar. Hassett menyebut pertumbuhan lapangan kerja berpotensi melambat dalam beberapa bulan mendatang akibat pertumbuhan angkatan kerja yang lebih rendah dan produktivitas yang lebih tinggi.
Pasar kini menunggu rilis data mingguan Initial Jobless Claims AS pada pukul 20:30 WIB. Klaim pengangguran diperkirakan turun menjadi 222 ribu dari sebelumnya 231 ribu. Angka yang lebih rendah dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan memengaruhi pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.
Selain itu, laporan inflasi Consumer Price Index (CPI) AS pada Jumat akan menjadi katalis penting berikutnya bagi pergerakan komoditas dan mata uang.
Dengan kombinasi lonjakan stok, ketegangan geopolitik, serta rangkaian data ekonomi utama, Peluang trading WTI tetap dipengaruhi tarik menarik antara risiko suplai dan kekuatan fundamental permintaan global.
Analisis Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan WTI pada time frame H4 masih cenderung bearish dengan level pivot di 65,05. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan turun masih berpotensi berlanjut dengan support terdekat di 64,00. Jika harga menembus area ini, penurunan dapat berlanjut menuju support berikutnya di kisaran 63,60 hingga 63,20.
Sebagai skenario alternatif, apabila harga mampu bergerak naik dan menembus 65,05, maka momentum kenaikan dapat berlanjut dengan target resistance selanjutnya di area 65,25 hingga 65,60.
Resistance 1: 65,05 Resistance 2: 65,25 Resistance 3: 65,60
Support1: 64,00 Support 2: 63,60 Support 3: 63,20
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
