FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bullish Range 0,71000 – 0,71500
Penguatan mata uang Dollar Australia terhadap mata uang Greenback terus berlangsung, meski dalam range yang terbatas. Kondisi Aussie saat ini mencapai level tertinggi dalam sepuluh minggu karena Bank Sentral mempertahankan sikap kebijakan yang agresif, sementara dolar AS melemah karena spekulasi kenaikan suku bunga Fed memudar di tengah data ekonomi AS yang lebih lemah. Data terbaru menunjukkan inflasi AS yang rendah, sementara sentimen konsumen dan penjualan ritel juga melemah. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar satu banding tiga untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, turun dari hampir 50% sebelum data terbaru dirilis. Di Australia, RBA mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35% dalam pertemuan kedua berturut-turut pekan lalu, namun Gubernur Michele Bullock menyatakan bahwa suku bunga mungkin perlu kembali dinaikkan mengingat Selat Hormuz masih tertutup dan pertumbuhan produktivitas tetap lemah. Asisten Gubernur RBA, Christopher Kent, juga mengatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat berjalan sesuai rencana, meskipun dampak penuhnya terhadap aktivitas ekonomi dan inflasi akan memakan waktu. Pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 70% untuk satu langkah kenaikan terakhir ke level 4,60% pada awal tahun depan. Sementara itu, laporan ketenagakerjaan Australia untuk bulan Juli akan menjadi sorotan pada hari Kamis.
Pivot : 0,71030
R1 : 0,71293 S1 : 0,70774
R2 : 0,71549 S2 : 0,70511
R3 : 0,71812 S3 : 0,70255
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 159,400 – 160,000
Pelemahan mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Dollar AS terus mewarnai pergerakan market pada awal pekan ini. Sebelumnya Yen Jepang melemah dan sentuh 159, anjlok dan merupakan kerugian pekan lalu seiring penguatan Dollar AS. Sebelumnya Yen sempat menguat terbatas akibat data ekonomi AS yang melambat, yang meredakan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 67% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan September, naik dari angka di bawah 50% sebulan yang lalu. Yen juga menguat meskipun data awal menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jepang lebih rendah dari yang diperkirakan pada kuartal kedua, karena permintaan domestik yang lemah lebih besar daripada ekspor yang kuat. Ekonomi tumbuh sebesar 1,1% secara tahunan pada kuartal kedua, di bawah ekspektasi pasar sebesar 2%. Sementara itu, para pedagang tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi mata uang lebih lanjut oleh pihak berwenang di tengah pelemahan yen yang terus berlanjut. Pasar juga berspekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan pada bulan September atau Oktober, di tengah kekhawatiran bahwa yen yang lebih lemah dapat memicu inflasi.
Pivot : 159,291
R1 : 159,746 S1 : 158,992
R2 : 160,045 S2 : 158,537
R3 : 160,500 S3 : 158,238
GBPUSD
Opportunity : Bullish menuju : 1.3590 – 1.3609
Sesuai perkiraan, pounds ditutup menguat pada perdagangan awal pekan ini. Pelemahan Dollar AS berlanjut seiring investor menilai ulang prospek kebijakan moneter The Fed. Pasar kini melihat peluang lebih kecil bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, mengingat data tenaga kerja dan ritel yang lesu. Kondisi ini membuka ruang penguatan bagi mata uang utama lain. GBP/USD bertahan di kisaran pertengahan 1,3500-an, mendekati level tertinggi tiga bulan menjelang rilis data ketenagakerjaan Inggris pada Selasa. Penguatan Poundsterling akan tertahan oleh perkiraan laporan data Claimant count change yang akan meningkat untuk bulan Juli. disisi lain tingkat pengangguran Inggris diperkirakan turun ke angka 4.8% versus 4.9% angka sebelumnya. Bank of England (BoE) akan mencermati data Average Earnings secara ketat. Sementara laporan data Housing Start dan Building Permit AS diperkirakan turun pada malam nanti.
Open : 1.3543 Pivot 1.3546
R1 : 1.3565 S1 : 1.3522
R2 : 1.3590 S2 : 1.3507
R3 : 1.3609 S3 : 1.3478
EURUSD
Opportunity : Bullish menuju 1.1637 – 1.1660
Euro ditutup menguat pada perdagangan Senin kemarin. Pelemahan Dollar AS berlanjut seiring investor menilai ulang prospek kebijakan moneter The Fed. Pasar kini melihat peluang lebih kecil bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, mengingat data tenaga kerja dan ritel yang lesu. Kondisi ini membuka ruang penguatan bagi mata uang utama lain. EUR/USD mempertahankan penguatan di kisaran 1,1580 setelah sempat mundur dari level tertinggi dua bulan di dekat 1,1614, dengan pelemahan Greenback menjadi penopang utama pasangan mata uang ini. EUR masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini menjelang laporan Survei sentimen ZEW dari Jerman dan Zona Euro, bersama jadwal pidato dari pejabat European Central Bank (ECB), Philip Lane. Disisi lain laporan data Housing Start dan Building Permit AS diperkirakan turun pada malam nanti.
Open : 1.1578 Pivot : 1.1583
R1 : 1.1606 S1 : 1.1553
R2 : 1.1637 S2 : 1.1529
R3 : 1.1660 S3 : 1.1499
USDCHF
Opportunity : Bearish menuju : 0.8040 – 0.8009
Swiss Franc kembali ditutup menguat pada perdagangan awal pekan ini. Serangkaian data ekonomi AS yang mengecewakan sepanjang Agustus mulai dari data lapangan kerja, inflasi, hingga penjualan ritel terus memangkas ekspektasi pasar terhadap langkah pemangkasan suku bunga Federal Reserve (Fed) bulan depan. Disatu-sisi laporan data ekonomi Swiss dapat menopang penguatan ekonomi Swiss dan penguatan mata-uang Swiss Franc. Pelemahan Dolar AS berlanjut seiring investor menilai ulang prospek kebijakan moneter The Fed. Pasar kini melihat peluang lebih kecil bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, mengingat data tenaga kerja dan ritel yang lesu. Kondisi ini membuka ruang penguatan bagi mata uang utama lain. CHF masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini yang disebabkan rilisnya laporan data Housing Start dan Building Permits AS diperkirakan turun pada malam nanti.
Open : 0.8107 Pivot : 0.8103
R1 : 0.8134 S1 : 0.8072
R2 : 0.8165 S2 : 0.8040
R3 : 0.8197 S3 : 0.8009
DXY
Opportunity: Bullish Range 99,500 – 99,800
Pelemahan sempat mewarnai pergerakan mata uang Dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya. Namun akhirnya di tutup dengan penguatan yang terbatas. Kondisi tersebut dapat dilihat pada Indeks Dollar AS (DXY) yang naik dan sentuh level 99,580. Sebelumnya Dollar AS ini menurun untuk sesi ketiga berturut-turut karena data ekonomi AS yang mendingin mendorong para pedagang untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Data yang dirilis pekan lalu menunjukkan inflasi AS yang rendah, sementara sentimen konsumen dan penjualan ritel melemah. Saat ini, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 67% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan September, naik dari probabilitas di bawah 50% yang diperkirakan sebulan sebelumnya. Para investor kini menantikan risalah pertemuan FOMC terbaru dan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut. Para pedagang juga akan memantau Empire State Manufacturing Index dan NAHB Housing Market Index yang akan dirilis hari ini. Dollar AS melemah secara luas, dengan penurunan terbesar terjadi terhadap dolar Australia dan Selandia Baru, serta Poundsterling Inggris.
Pivot : 99,514
R1 : 99,734 S1 : 99,360
R2 : 99,888 S2 : 99,140
R3 : 100,108 S3 : 98,986

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bullish ke 64,700
Indeks Nikkei 225 naik 0,74% dan ditutup pada 69.220 pada hari Senin, melanjutkan kenaikan pekan lalu setelah data awal menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh kurang dari yang diharapkan pada kuartal kedua, karena permintaan domestik yang lemah mengimbangi ekspor yang kuat. Namun demikian, permintaan yang kuat terkait dengan kecerdasan buatan terus mendukung prospek perusahaan-perusahaan Jepang yang terintegrasi secara mendalam ke dalam rantai pasokan semikonduktor global. Saham lokal juga naik bahkan setelah imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) melonjak ke level tertinggi baru dalam 30 tahun karena spekulasi kenaikan suku bunga Bank of Japan yang akan segera terjadi. Saham-saham yang terkait dengan chip dan AI sebagian besar naik, termasuk Kioxia Holdings (15,1%), Advantest (2,5%), Fujikura (7,3%), Tokyo Electron (1,6%), dan Furukawa Electric (5,9%). Sementara itu, saham-saham keuangan dan konsumen sebagian besar turun. Dalam berita perusahaan, Nvidia dilaporkan berencana untuk berinvestasi hingga $3 miliar di SB Energy, anak perusahaan SoftBank Group yang mengembangkan proyek pusat data besar di Ohio untuk OpenAI.
Pivot : 62,930
R1 : 64,550 S1 : 62,085
R2 : 65,395 S2 : 60,465
R3 : 67,015 S3 : 59,620
HANGSENG
Opportunity: Bullish ke 26,270
Indeks Hang Seng naik 1,3%, atau 336 poin, dan ditutup pada 25.435 pada hari Senin, pulih dari penurunan selama empat sesi berturut-turut yang didukung oleh kekuatan saham teknologi dan semikonduktor, karena pendapatan yang menggembirakan dan optimisme seputar bisnis terkait AI meningkatkan kepercayaan investor. SenseTime melonjak sekitar 8,9% setelah perusahaan kecerdasan buatan tersebut memperkirakan laba paruh pertama sebesar RMB500 juta hingga RMB700 juta, yang akan menandai laba pertamanya sejak pencatatan sahamnya di Hong Kong. Pasar IPO Hong Kong juga tetap menjadi fokus. Namun, investor tetap waspada terhadap risiko geopolitik dan setelah data Juli China mengecewakan, dengan produksi industri dan penjualan ritel keduanya melambat lebih dari yang diperkirakan sementara tingkat pengangguran naik menjadi 5,2%. Di antara saham-saham yang mengalami pergerakan signifikan termasuk Semiconductor Manufacturing International Corporation (6,1%), Tencent (1,5%), Kingboard Laminates (9,1%), MiniMax (1,5%), dan Xiaomi (1,0%).
Pivot : 25,894
R1 : 26,141 S1 : 25,762
R2 : 26,273 S2 : 25,515
R3 : 26,520 S3 : 25,383
NASDAQ
Opportunity: Buy Limit: 28,261| SL: 28,150 | TP: 28,600
Kontrak berjangka saham AS sedikit berubah pada hari Selasa setelah indeks utama memulai minggu ini dengan catatan buruk, tertekan oleh ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Dalam perdagangan reguler pada hari Senin, Dow Jones turun 0,51%, S&P 500 turun 0,52%, dan Nasdaq Composite turun 0,32%. Sepuluh dari 11 sektor S&P berakhir lebih rendah, dipimpin oleh sektor jasa komunikasi, barang konsumsi pokok, dan keuangan. Penurunan tersebut terjadi karena harga minyak naik seiring memudarnya prospek kesepakatan damai baru antara AS dan Iran, sementara upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz tetap buntu. Imbal hasil obligasi pemerintah 30 tahun juga naik ke level tertinggi sejak 2007, mencerminkan kekhawatiran atas inflasi dan meningkatnya pengeluaran pemerintah. Investor kini mengalihkan perhatian mereka ke pendapatan ritel yang akan dirilis minggu ini dari Home Depot, Lowe’s, dan Walmart untuk mendapatkan wawasan baru tentang kekuatan konsumen.
Pivot : 27,969.50
R1 : 28,707.00 S1 : 27,586.25
R2 : 29,090.25 S2 : 26,848.75
R3 : 29,827.75 S3 : 26,465.50

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Bullish menuju resistance 4.444
Harga emas bertahan di atas level US$4.400 per troy ounce pada perdagangan Selasa, melanjutkan penguatan selama dua sesi berturut-turut. Kenaikan tersebut terutama didukung oleh berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve menyusul serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar untuk memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga hingga akhir tahun juga tidak lagi sepenuhnya tercermin dalam harga pasar, berbeda dengan kondisi sepekan sebelumnya.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada risalah pertemuan The Fed pada Juli serta pernyataan Chairman Kevin Warsh dalam simposium tahunan Jackson Hole. Kedua agenda tersebut dipandang penting untuk memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan. Jika sinyal dari bank sentral menunjukkan sikap yang lebih dovish, emas berpotensi memperoleh dukungan tambahan karena lingkungan suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Di sisi lain, investor masih mewaspadai risiko inflasi di tengah meredupnya prospek tercapainya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Presiden Donald Trump yang tidak tertarik memperpanjang kesepakatan damai sementara meningkatkan ketidakpastian geopolitik dan berpotensi memperkuat permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Selain faktor geopolitik dan ekspektasi suku bunga, penguatan permintaan investasi serta pembelian yang berkelanjutan dari bank sentral, khususnya China, turut menjadi faktor pendukung bagi pergerakan emas.
Pivot : 4.377
R1 4.444 R2 4.476 R3 4.515
S1 4.377 S2 4.354 S3 4.310
Oil
Opportunity : Bullish selama bertahan di atas support 82,62, testing resistance 86,14.
Harga minyak mentah naik menuju US$85 per barel pada perdagangan Selasa, mencatatkan penguatan untuk sesi ketiga berturut-turut. Pergerakan tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global setelah prospek tercapainya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran semakin meredup. Presiden Donald Trump menyatakan tidak tertarik memperpanjang kesepakatan damai sementara, sementara memorandum of understanding yang ditandatangani pada Juni dan dirancang untuk memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak dalam merundingkan kesepakatan jangka panjang resmi berakhir pada Senin.
Ketidakpastian juga meningkat karena Iran dan Oman masih melakukan negosiasi mengenai mekanisme pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz, tanpa keterlibatan langsung Amerika Serikat. Washington diperkirakan tidak akan mendukung kesepakatan yang tidak menjamin kebebasan pelayaran melalui jalur strategis tersebut. Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan energi global, sehingga potensi gangguan terhadap arus pelayaran di kawasan tersebut dapat meningkatkan premi risiko pada harga minyak.
Sementara itu, produsen minyak di kawasan Timur Tengah dilaporkan semakin mampu memindahkan minyak secara terselubung melalui Selat Hormuz menuju pembeli global, sekaligus mengirimkan kargo dari luar titik sempit tersebut. Perkembangan ini menunjukkan adanya upaya pasar untuk mempertahankan kelancaran pasokan di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Namun, ketidakpastian mengenai hubungan AS-Iran dan kondisi pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan karena setiap eskalasi dapat memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Pivot: 82,68
R1 86,14 S1 82,68
R2 87,63 S2 81,24
R3 89,19 S3 79,88
DAILY ECONOMIC DATA


WEBINAR HARI INI (Selasa, 18 Agustus 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
GBP Menanti Data Ketenagakerjaan Inggris, ke Mana Arah Selanjutnya?
Catat jam dan waktunya ya!
| Selasa, 18 Agustus 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:

















