Inflasi AS Naik Sesuai Perkiraan
Inflasi AS kembali menjadi sorotan pasar setelah data terbaru menunjukkan kenaikan harga konsumen pada Februari. Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) naik 0,3% secara bulanan. Angka ini sesuai dengan perkiraan pasar dan lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Januari.
Secara tahunan, Inflasi AS tercatat sebesar 2,4% hingga Februari. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi berada di level 2,5%. Kedua angka tersebut juga sesuai dengan ekspektasi pasar.
Data ini menunjukkan bahwa tekanan harga masih relatif terkendali. Namun, investor mulai mempertimbangkan risiko kenaikan inflasi baru setelah konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi global.
Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Energi
Kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang berpotensi mengubah arah Inflasi AS dalam beberapa bulan ke depan. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Harga minyak melonjak hampir 5% pada perdagangan Rabu. Minyak Brent ditutup naik 4,8% ke level USD 91,98 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 4,6% ke USD 87,25 per barel.
Analis menilai pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar oleh International Energy Agency masih belum cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar. Gangguan pasokan energi tetap menjadi risiko utama bagi inflasi global.
Selain energi, harga pangan juga berpotensi meningkat. Pasar pupuk global menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik, yang dapat memicu kenaikan harga komoditas pertanian.
Saham Global Bergerak Beragam
Pasar saham global merespons data inflasi dan ketegangan geopolitik dengan pergerakan yang cenderung hati-hati. Di Amerika Serikat, indeks utama Wall Street berakhir bervariasi.
Indeks Dow Jones turun sekitar 0,6%. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite bergerak relatif stabil.
Di pasar global, indeks MSCI All-World turun sekitar 0,2%. Bursa saham Eropa juga melemah dengan indeks STOXX 600 turun 0,6%. Sebaliknya, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang justru naik sekitar 1%.
Investor tetap waspada karena konflik Timur Tengah berpotensi mengganggu perdagangan energi global. Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan bahan bakar dunia. Militer Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak dapat melonjak hingga USD 200 per barel jika konflik semakin meluas.
Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS
Kekhawatiran terhadap tekanan inflasi juga memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield obligasi Treasury tenor 10 tahun naik sekitar 9 basis poin ke level 4,226%.
Kenaikan yield ini meningkatkan kekhawatiran bahwa beberapa sektor keuangan mulai menunjukkan tanda-tanda overheating. Investor menyoroti pasar private credit serta investasi besar di sektor kecerdasan buatan.
Tekanan juga muncul di sektor manajemen aset. Saham perusahaan seperti Blue Owl Capital dan Ares Management melemah setelah kekhawatiran meningkat terhadap risiko kredit.
ECB Siap Kendalikan Inflasi
Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, menegaskan bahwa European Central Bank akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Ia menyatakan bahwa ECB akan melakukan segala upaya untuk mencegah terulangnya lonjakan harga energi seperti yang terjadi pada tahun 2022.
Di pasar mata uang, euro melemah sekitar 0,34% ke level USD 1,157. Poundsterling relatif stabil di sekitar USD 1,341. Sementara itu, yen Jepang melemah sehingga dolar AS naik sekitar 0,6% ke level 158,9 yen.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Prospek Harga Emas Kamis | 12 Maret 2026
Pergerakan emas pada grafik H4 menunjukkan harga sempat naik mendekati resistance 5.210, namun kembali terkoreksi dan kini bergerak di bawah garis downtrend jangka pendek. Area 5.183 menjadi resistance terdekat yang bertepatan dengan SMA 50, sehingga selama harga masih tertahan di bawah level tersebut, tekanan jual masih berpotensi berlanjut.
Jika harga gagal menembus 5.183, maka emas berisiko kembali turun untuk menguji support 5.124 hingga 5.089. Sebaliknya, jika mampu menembus garis downtrend dan bertahan di atas 5.183, maka peluang kenaikan menuju 5.210 hingga 5.239 kembali terbuka. RSI yang berada di sekitar level 48 menunjukkan momentum masih netral, cenderung bearish.
GOLD INTRADAY AREA
R1 5.183 R2 5.210 R3 5.239
S1 5.050 S2 4.996 S3 4.935
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 5.125 |
| Profit Target Level | 5.170 |
| Stop Loss Level | 5.080 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 5.180 |
| Profit Target Level | 5.130 |
| Stop Loss Level | 5.215 |
Prospek Harga US Oil Kamis | 12 Maret 2025
Pergerakan US Oil pada grafik H4 terlihat mencoba rebound setelah sebelumnya mengalami koreksi tajam dari area puncak. Saat ini harga bergerak naik dan bertahan di atas 88,84, yang kini berperan sebagai support terdekat setelah sebelumnya menjadi area penembusan.
Selama harga mampu bertahan di atas area 88,84, peluang penguatan masih terbuka untuk menguji resistance berikutnya di 95,95 hingga 99,99. Namun jika harga kembali turun dan menembus support 88,84, maka koreksi berpotensi berlanjut untuk menguji 86,11, bahkan membuka ruang penurunan lebih lanjut menuju 82,00. RSI yang berada di sekitar level 56 menunjukkan momentum mulai membaik, meski penguatan masih perlu konfirmasi dari pergerakan harga di atas area support tersebut.
US Oil INTRADAY AREA
R1 95,95 R2 99,99 R3 104,73
S1 88,84 S2 86,11 S3 82,00
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 88,90 |
| Profit Target Level | 95,00 |
| Stop Loss Level | 86,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 99,99 |
| Profit Target Level | 93,00 |
| Stop Loss Level | 104,75 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
