Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik
Dolar AS menguat ke level tertinggi tahun ini pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Ketegangan di Timur Tengah dan berlanjutnya serangan antara Rusia dan Ukraina mendorong investor mencari aset aman. Situasi ini juga memicu kenaikan harga energi dan memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi.
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di sekitar 102,60. Indeks tersebut berpotensi melanjutkan kenaikan menuju 103,30, level tertinggi harian pada 10 April 2025. Momentum bullish masih mendominasi pasar, sementara investor mencermati peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menyampaikan pandangan hawkish yang memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS masih dapat menaikkan suku bunga. Pasar kini menantikan petunjuk tambahan dari data ketenagakerjaan, sektor perumahan, serta pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller.
Euro dan Poundsterling Tertekan oleh Dolar AS
Pasangan EUR/USD turun ke 1,1154, level terendah dalam 17 bulan, setelah menembus ke bawah 1,1200. Minimnya katalis ekonomi dari kawasan Eropa turut membatasi kemampuan euro untuk melawan tekanan dolar AS.
Investor akan mencermati data Indeks Harga Konsumen Harmonisasi (HICP) Jerman serta pernyataan anggota Bank Sentral Eropa (ECB), Frank Elderson dan José Luis Escrivá. Data inflasi tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ECB selanjutnya.
GBP/USD juga melemah dan bergerak mendekati 1,3200. Tekanan dari dolar AS yang menguat membatasi ruang pemulihan poundsterling. Meski demikian, data penjualan ritel Inggris dan pernyataan anggota Bank of England, Megan Greene, berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang tersebut.
Sementara itu, USD/JPY bertahan di sekitar 158,50. Kekuatan dolar AS menopang pasangan ini, tetapi kekhawatiran terhadap kemungkinan intervensi otoritas Jepang menahan kenaikannya. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan berikutnya, termasuk pidato pejabat Bank of Japan pada 14 Oktober.
AUD/USD juga menghadapi tekanan jual karena gagal menembus level 0,7000. Pasangan ini bergerak turun menuju 0,6960. Investor menantikan risalah rapat Reserve Bank of Australia pada 13 Oktober serta data kepercayaan bisnis NAB untuk mencari petunjuk mengenai prospek ekonomi Australia.
Harga Emas Tertekan di Bawah US$4.200
Harga emas (XAU/USD) masih kesulitan menembus resistance US$4.200 per troy ounce. Tekanan jual membawa harga logam mulia tersebut mendekati US$4.150. Meski demikian, momentum penurunan mulai kehilangan tenaga.
Jika harga emas menembus support US$4.150, tekanan bearish berpotensi berlanjut. Sebaliknya, pelemahan momentum jual dapat membuka peluang pemulihan apabila pembeli kembali masuk ke pasar.
Investor juga menantikan data inflasi konsumen AS (CPI) September yang dijadwalkan rilis pada 14 Oktober. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed dan pergerakan emas. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Harga Minyak Naik akibat Risiko Pasokan
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berbalik naik pada Senin dan mencapai level tertinggi dalam dua pekan. WTI diperdagangkan di sekitar US$93 per barel, naik 2,20% pada hari tersebut setelah sempat menyentuh level terendah intraday US$89,02.
Sebelumnya, pasar minyak sempat melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati gencatan senjata segera terhadap serangan infrastruktur energi. Trump juga menyebut Rusia akan memasok lebih dari 300.000 ton solar, setara sekitar 2,25 juta barel, ke pasar AS dan global.
Namun, sentimen positif tersebut tidak bertahan lama. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia menyerang enam fasilitas energi Ukraina pada Senin. Pernyataan itu memunculkan keraguan terhadap keberlangsungan gencatan senjata. Kremlin menyatakan bahwa komunikasi masih berlangsung dan pihaknya akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut pada waktunya.
Wall Street Bergerak Beragam Menjelang Data Inflasi
Seiring dengan dolar AS menguat, bursa saham AS ditutup bervariasi pada Senin. Dow Jones Industrial Average naik 196 poin, sedangkan S&P 500 bergerak relatif datar dan Nasdaq Composite turun 0,4%. Saham teknologi memimpin pelemahan, sementara sektor energi, jasa komunikasi, dan barang konsumsi pokok mencatat kinerja lebih baik.
Investor mulai mempersiapkan musim laporan keuangan perusahaan sambil menunggu data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik turut menambah perhatian pasar terhadap risiko inflasi.
Prospek Pasar Menanti Data CPI AS
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi konsumen AS (CPI) September pada Rabu, 14 Oktober 2026. Data ini menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Jika inflasi melampaui ekspektasi, pasar berpotensi meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga. Skenario ini dapat membuat dolar AS menguat, sekaligus menekan harga emas dan saham, terutama jika imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut naik. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat meredakan ekspektasi pengetatan moneter dan membuka peluang pelemahan dolar AS.
Prospek Harga Emas Selasa | 13 Oktober 2026

Pergerakan emas pada timeframe H4 masih berada dalam tren bearish, meskipun harga mulai menunjukkan pemulihan setelah menyentuh area support 4.081–4.105. Harga sempat turun menembus area support 4.146, kemudian bergerak konsolidasi dan rebound menuju area 4.207. Namun, kenaikan tersebut belum mengubah tren utama karena harga masih berada di bawah SMA 50 yang cenderung menurun. Saat ini, harga berada di sekitar 4.167 dan bergerak di bawah resistance 4.207. Jika mampu menembus resistance tersebut, emas berpeluang melanjutkan rebound menuju 4.244 hingga 4.279.
Sebaliknya, jika kembali melemah dan menembus support 4.146, harga berpotensi menguji 4.105 hingga 4.081. Indikator RSI berada di sekitar 51,47, sedikit di atas level 50, yang menunjukkan momentum jangka pendek mulai membaik dan cenderung netral-bullish. Meski demikian, RSI tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren selama harga masih tertahan di bawah SMA 50 dan resistance 4.207.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.207 R2 4.244 R3 4.279
S1 4.146 S2 4.105 S3 4.081
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.160 |
| Profit Target Level | 4.205 |
| Stop Loss Level | 4.140 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.207 |
| Profit Target Level | 4.170 |
| Stop Loss Level | 4.220 |
Prospek Harga US Oil Selasa | 13 Oktober 2025

Pergerakan US Oil pada timeframe H4 mulai menunjukkan pemulihan bullish setelah sebelumnya bergerak dalam tekanan bearish dan konsolidasi. Harga sempat turun hingga menguji area support 86,82–87,90, kemudian rebound dan kini bergerak di sekitar 92,48. Kenaikan tersebut membawa harga mendekati resistance 94,67, sementara SMA 50 mulai mendatar dan berada di bawah harga, mengindikasikan momentum pemulihan jangka pendek mulai menguat.
Meski demikian, harga masih perlu menembus resistance 94,67 untuk membuka peluang kenaikan menuju 96,72 hingga 98,44. Jika gagal menembus resistance tersebut, US Oil berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu untuk menguji support 89,87. Apabila tekanan jual berlanjut hingga menembus level tersebut, harga berpeluang turun kembali menuju 87,90 hingga 86,82. Sementara itu, RSI berada di level 56,31, di atas level 50, yang menunjukkan momentum bullish mulai dominan dan masih belum memasuki area jenuh beli.
US Oil INTRADAY AREA
R1 94,67 R2 96,72 R3 98,44
S1 89,87 S2 87,90 S3 86,82
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 91,00 |
| Profit Target Level | 93,50 |
| Stop Loss Level | 89,50 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 93,90 |
| Profit Target Level | 91,20 |
| Stop Loss Level | 94,70 |
Baca analisa sebelumnya: Dolar AS Tertahan, Pasar Menanti Data Inflasi
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
