Dolar AS Menguat Tajam, Wall Street dan Emas Tertekan
Dolar AS menguat tajam pada perdagangan Senin setelah investor kembali fokus pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta prospek kebijakan moneter Federal Reserve. Penguatan dolar mendorong tekanan pada pasar saham dan emas, sementara harga minyak justru melemah seiring meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Indeks dolar AS naik ke level 101 dan mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini setelah bank sentral mempertahankan nada hawkish pada pertemuan pekan lalu dan merevisi proyeksi inflasi ke level yang lebih tinggi.
Wall Street Berakhir Mixed
Pergerakan indeks saham utama Amerika Serikat ditutup bervariasi. Dow Jones Industrial Average naik 148 poin atau 0,29% ke level 51.712,71. Kenaikan tersebut didukung oleh sektor kesehatan dan industri.
Sebaliknya, S&P 500 turun 0,37% ke level 7.472,79, sementara Nasdaq Composite melemah 1,32% ke level 26.166,60. Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar.
Alphabet anjlok 5%, sementara Meta Platforms, Amazon, dan Microsoft masing-masing turun antara 2,3% hingga 4,7%. Sentimen terhadap sektor teknologi melemah karena sebagian investor mulai mempertanyakan besarnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan yang dilakukan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa.
Saham SpaceX menjadi salah satu sorotan utama setelah merosot 16,4%, penurunan harian terbesar sejak perusahaan tersebut melantai di bursa. Pelemahan terjadi setelah perusahaan milik Elon Musk itu meluncurkan penawaran utang pertamanya.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih melihat prospek jangka panjang sektor kecerdasan buatan tetap kuat. Investasi pada pembangunan pusat data AI dan infrastruktur pendukung dinilai masih menjadi tema utama yang menopang pertumbuhan sektor teknologi.
Harga Minyak Turun Setelah Kemajuan Negosiasi AS-Iran
Harga minyak melanjutkan penurunan setelah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kemajuan dalam putaran pertama pembicaraan damai yang berlangsung di Swiss. Kedua pihak menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari.
Minyak Brent kontrak September turun 2,7% ke level US$77,90 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus melemah 2% menjadi US$74,31 per barel.
Selain kemajuan negosiasi, pasar juga merespons pernyataan pemerintah AS yang menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga minyak.
Penurunan harga energi dinilai positif bagi konsumen dan dunia usaha karena dapat membantu menekan tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Dolar AS Menguat Tajam Didukung Ekspektasi The Fed
Dolar AS menguat tajam karena pasar semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada tahun ini. Ketua The Fed, Kevin Warsh, pekan lalu menegaskan pentingnya mengembalikan stabilitas harga di tengah risiko inflasi yang masih tinggi.
Nada hawkish tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatkan daya tarik dolar AS. Akibatnya, mata uang Negeri Paman Sam menguat terhadap sebagian besar mata uang utama dunia.
Dolar mencatat penguatan paling besar terhadap yen Jepang di tengah meningkatnya kekhawatiran intervensi otoritas Jepang. Sementara itu, dolar sedikit melemah terhadap pound sterling setelah pengunduran diri Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis Kamis. Data tersebut merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve dan berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga.
Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mendatang.
Harga Emas Bergerak Mixed
Pasar emas menunjukkan pergerakan yang beragam. Harga emas spot naik 0,8% dan ditutup di US$4.191,43 per ons. Namun, kontrak berjangka emas justru turun 0,9% ke level US$4.209,70 per ons.
Pergerakan tersebut mencerminkan tarik-menarik antara sentimen positif dari kemajuan negosiasi damai AS-Iran dan tekanan dari penguatan dolar AS. Secara historis, dolar yang lebih kuat cenderung membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
The Fed Masih Menjadi Perhatian Utama
Pelaku pasar juga masih mencerna proyeksi terbaru Federal Reserve yang jauh lebih hawkish dibandingkan perkiraan sebelumnya. Dot plot terbaru menunjukkan setidaknya separuh anggota Federal Open Market Committee kini memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini untuk mengendalikan tekanan inflasi.
Bahkan, prospek kebijakan moneter untuk 2026 telah bergeser dari ekspektasi dua kali pemangkasan suku bunga menjadi kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga. Bank of America juga memperkirakan Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga hingga tahun 2028.
Suku Bunga Tinggi Menekan Prospek Emas
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emas karena aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia umumnya kurang menarik ketika suku bunga berada pada level tinggi. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga terus menguat, harga emas berpotensi menghadapi tekanan tambahan dalam jangka pendek meskipun ketidakpastian geopolitik masih mendukung permintaan aset safe haven.
Prospek Harga Emas Selasa | 23 Juni 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga gagal bertahan di area resistance 4.278. Tekanan jual kemudian mendorong harga menembus support 4.218 dan turun hingga membentuk support baru di kisaran 4.118. Dari area tersebut, harga sempat melakukan rebound, namun kenaikan masih tertahan di resistance 4.218 yang kini menjadi resistance terdekat sekaligus berdekatan dengan SMA 50.
Selama harga masih bergerak di bawah area tersebut, potensi pelemahan masih terbuka untuk kembali menguji support 4.118. Jika level ini ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju 4.072 hingga 4.024. Sementara itu, RSI berada di kisaran 43 yang menunjukkan momentum masih cenderung negatif meskipun belum memasuki area oversold.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.218 R2 4.278 R3 4.330
S1 4.118 S2 4.072 S3 4.024
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.138 |
| Profit Target Level | 4.210 |
| Stop Loss Level | 4.110 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.215 |
| Profit Target Level | 4.140 |
| Stop Loss Level | 4.240 |
Prospek Harga US Oil Selasa | 23 Juni 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang bergerak di bawah SMA 50 yang terus menurun. Setelah membentuk support di area 72,80, harga sempat mengalami rebound, namun kenaikan tersebut masih terbatas dan belum mampu menembus resistance 78,49 yang kini menjadi hambatan terdekat.
Selama harga bertahan di bawah level 78,49 dan SMA 50, tekanan jual masih berpotensi mendominasi pergerakan. Jika rebound gagal berlanjut, harga berisiko kembali menguji support 72,80. Penembusan di bawah level tersebut dapat membuka peluang penurunan lebih lanjut menuju 70,40 hingga 67,78. Sementara itu, RSI berada di kisaran 39 yang menunjukkan momentum masih cenderung lemah meskipun terdapat upaya pemulihan jangka pendek dari area support.
US Oil INTRADAY AREA
R1 78,49 R2 81,63 R3 83,60
S1 72,80 S2 70,40 S3 67,78
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 73,50 |
| Profit Target Level | 76,50 |
| Stop Loss Level | 72,50 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | Breakout 72,80 |
| Profit Target Level | 70,50 |
| Stop Loss Level | 74,40 |
Baca analisa sebelumnya: Selat Hormuz Ditutup Kembali, Minyak Melonjak
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
