FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bearish Range 0,71600 – 0,71100
Keperkasaan mata uang Dollar Australia terhadap mata uang Greenback belum bisa berlanjut. Kondisi Aussie ini, meski melemah namun tetap berada di dekat level tertinggi sejak awal Juni dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan kedua berturut-turut, di tengah meningkatnya kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 52% bahwa kenaikan suku bunga keempat tahun ini dapat terjadi paling cepat bulan depan, naik tajam dari 17% sebelumnya, sementara kenaikan pada bulan November sudah sepenuhnya diperhitungkan. Prospek yang lebih kuat untuk kebijakan yang lebih ketat muncul setelah laporan inflasi Juli yang lebih tinggi dari perkiraan dan data pengeluaran rumah tangga yang tangguh, yang mendorong beberapa bank besar untuk merevisi perkiraan mereka. NAB melihat kemungkinan langkah tersebut diambil paling cepat pada pertemuan tanggal 29–30 September, sedangkan CBA dan ANZ memperkirakan kenaikan pada bulan November namun mengakui adanya kemungkinan pengetatan lebih awal. Sementara itu, Dollar AS secara umum menguat setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan nada yang lebih agresif pada simposium Jackson Hole pekan lalu dalam pidato perdananya, dengan mengatakan bahwa para pembuat kebijakan mungkin perlu mengambil tindakan lebih lanjut jika inflasi tetap tinggi.
Pivot : 0,71628
R1 : 0,71728 S1 : 0,71553
R2 : 0,71803 S2 : 0,71453
R3 : 0,71903 S3 : 0,71378
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 159,700 – 160,100
Terpuruknya mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Dollar AS terus berlanjut. Bahkan saat ini Yen berfluktuasi di dekat level terendah satu bulan karena Dollar AS menguat menyusul pernyataan hawkish dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada bulan September. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 57% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan depan, angka yang melonjak tajam dari sekitar 40% pada pekan sebelumnya. Pelaku pasar juga berspekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga Bank of Japan pada bulan September di tengah kekhawatiran akan pelemahan yen dan inflasi yang dipicu oleh biaya impor. Yen telah mengalami penurunan lebih dari setengah dari kenaikannya setelah intervensi pasar mata uang gabungan Jepang-AS pada akhir Juli, dengan kelemahan struktural yang terus berlanjut dan membebani mata uang tersebut. Yen tetap berada di bawah tekanan akibat perbedaan suku bunga yang lebar, meningkatnya kekhawatiran fiskal di Jepang, dan harga minyak yang tinggi terkait dengan konflik di Timur Tengah. Mata uang Yen diperkirakan mencatat pelemahan sekitar 1,5% sepanjang Agustus.
Pivot : 159,795
R1 : 160,121 S1 : 159,399
R2 : 160,517 S2 : 159,073
R3 : 160,843 S3 : 158,677
GBPUSD
Opportunity : Bullish menuju : 1.3583 – 1.3615
Diluar perkiraan, Pounds ditutup menguat pada perdagangan Senin kemarin. Poundsterling mulai pulih setelah mencatat penurunan selama tiga sesi sebelumnya. Pasangan ini kembali menguji area 1,3550–1,3560. Pelaku pasar akan mencermati data harga rumah Nationwide, BRC Shop Price Inflation, final S&P Global Manufacturing PMI, serta data persetujuan dan penyaluran kredit Inggris. Disisi lain indeks Dollar AS berakhir turun pada hari Senin, terpicu komentar dovish dari Menteri Keuangan AS Bessent. Indeks Dollar AS ditutup turun 0,30% pada 99,40. Komentar dari Menteri Keuangan AS Bessent membebani Dollar pada hari Senin; ia menyatakan bahwa The Fed secara tradisional tidak menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap guncangan pasokan (supply shock). Namun, penurunan Dollar pada hari Senin terbatas karena harga minyak mentah WTI melonjak lebih dari +2% ke level tertinggi satu minggu. Kenaikan ini meningkatkan ekspektasi inflasi dan berpotensi mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga, yang merupakan faktor pendukung bagi Dollar. GBP masih berpotensi untuk menguat dengan dukungan data ekonomi Inggris yang rilis pada hari ini. Disatu-sisi Data ISM Manufacturing PMI AS diperkirakan akan mengalami penurunan.
Open : 1.3547 Pivot 1.3548
R1 : 1.3566 S1 : 1.3530
R2 : 1.3583 S2 : 1.3512
R3 : 1.3615 S3 : 1.3495
EURUSD
Opportunity : Bullish menuju 1.1648 – 1.1676
Euro ditutup menguat pada perdagangan Senin kemarin. Mata uang Euro berakhir naik terdukung pelemahan Dollar AS. Pasangan mata uang EUR/USD ditutup naik 0,29% pada 1.1617. Kenaikan Euro tertahan setelah data harga konsumen Jerman bulan Agustus menunjukkan kenaikan yang lebih rendah dari perkiraan, yang menjadi faktor dovish bagi kebijakan ECB. Indeks Harga Konsumen (IHK) Jerman bulan Agustus naik +0,2% secara bulanan (m/m) dan +2,9% secara tahunan (y/y); angka ini lebih rendah dari perkiraan sebesar +0,3% m/m dan +3,1% y/y. Disisi lain, lonjakan harga minyak mentah sebesar +2% pada hari Senin meningkatkan ekspektasi inflasi dan dapat mendorong ECB untuk memperketat kebijakan moneter, yang menjadi faktor pendukung bagi Euro. Analisa pasar hari ini menunjukkan dolar AS mulai kehilangan sebagian penguatannya setelah kenaikan kuat pada Jumat lalu. Indeks Dolar AS (DXY) turun menembus level 99,50 di tengah pergerakan imbal hasil Treasury AS yang beragam. Pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. EUR masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini dengan dukungan data ekonomi kawasan yang rilis hari ini. Disatu-sisi data ekonomi AS ISM Manufacturing PMI diperkirakan akan mengalami penurunan pada malam nanti.
Open : 1.1617 Pivot : 1.1605
R1 : 1.1632 S1 : 1.1589
R2 : 1.1648 S2 : 1.1561
R3 : 1.1676 S3 : 1.1546
USDCHF
Opportunity : Bullish menuju : 0.8114 – 0.8130
Swiss Franc diperdagangkan cukup stabil di tengah pelemahan mata-uang U.S Dollar. Mata-uang Swiss Franc tertahan oleh naiknya harga Minyak global akibat ketegangan Timur-tengah yang kembali meningkat. Harga WTI naik menuju level tertinggi enam hari di sekitar US$87 per barel. Kenaikan tersebut terjadi ketika ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dan gangguan terhadap aktivitas kapal tanker di kawasan Teluk Persia terus mempengaruhi pasokan minyak regional. CHF masih berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini yang disebabkan oleh rilisnya laporan data Retail Sales Swiss pada siang nanti yang diperkirakan turun. Menyusul data ekonomi AS ISM Manufacturing PMI yang diperkirakan akan mengalami penurunan pada malam nanti. Namun pergerakan mata-uang Swiss akan dibebani oleh naiknya harga Minyak mentah global karena risiko pasokan dari Timur Tengah.
Open : 0.8083 Pivot : 0.8083
R1 : 0.8099 S1 : 0.8068
R2 : 0.8114 S2 : 0.8053
R3 : 0.8130 S3 : 0.8037
DXY
Opportunity: Bearish Range 99,400 – 99,100
Penguatan mata uang Dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya belum mampu berlanjut. Kondisi ini tergambar dari Indeks Dollar AS (DXY) yang bertahan pada level 99,400-an. Penyebab tertahannya penguatan mata uang Dollar AS ini sepertinya para pelaku pasar lebih wait and see. Greenback jeda sejenak setelah reli selama tiga sesi yang sempat mengangkat mata uang tersebut ke level tertinggi dalam dua minggu, seiring meningkatnya spekulasi pelaku pasar mengenai kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September. Pernyataan Ketua The Fed, Warsh, dalam Simposium Jackson Hole pada hari Jumat memperkuat ekspektasi tersebut; Warsh menyebutkan bahwa The Fed “memiliki pekerjaan yang harus dilakukan” jika para pembuat kebijakan tidak yakin bahwa inflasi bergerak menuju target 2%. Warsh secara konsisten menekankan perlunya menurunkan inflasi, meskipun The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan Juni dan Juli, sehingga menimbulkan ketidakpastian mengenai waktu potensi perubahan kebijakan. Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada bulan September sekitar 64%. Para pelaku pasar kini menantikan serangkaian data ekonomi penting yang dapat menentukan langkah The Fed selanjutnya, termasuk laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis pada hari Jumat. Indeks Dollar AS diperkirakan sudah turun sekitar 0,2% pada Agustus, yang menandai penurunan bulanan kedua berturut-turut.
Pivot : 99,505
R1 : 99,621 S1 : 99,297
R2 : 99,829 S2 : 99,181
R3 : 99,945 S3 : 98,973

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Sell Limit di area 65.895 – 65,950
Indeks Nikkei 225 turun 0,6% menjadi di bawah 66.000 pada hari Selasa, memperpanjang kerugian dari sesi sebelumnya karena kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Saham Jepang juga mengikuti tren pelemahan dari Wall Street semalam, di mana imbal hasil obligasi pemerintah naik karena meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga bulan ini. Di dalam negeri, investor juga bertaruh bahwa Bank of Japan dapat menaikkan suku bunga pada bulan September di tengah kekhawatiran atas pelemahan yen yang terus berlanjut dan inflasi yang didorong oleh impor. Saham teknologi dan yang terkait dengan AI memimpin penurunan, dengan kerugian yang signifikan dari Fujikura (-3%), Advantest (-2,9%), Tokyo Electron (-4,6%), Taiyo Yuden (-1,5%), dan Murata Manufacturing (-1,4%). Saham keuangan juga turun, sementara saham konsumen mencatatkan kenaikan kecil.
Pivot : 66,092
R1 : 66,528 S1 : 65,328
R2 : 67,292 S2 : 64,892
R3 : 67,728 S3 : 64,128
HANGSENG
Opportunity: Bearish ke 25,138
Indeks Hang Seng turun tipis 0,1%, ditutup pada 25.567 pada hari Senin, di tengah meningkatnya keengganan terhadap risiko karena ketegangan AS-Iran yang kembali memanas menimbulkan kekhawatiran atas kenaikan harga minyak dan inflasi. Pasukan AS menyerang peluncur roket Iran di dekat Selat Hormuz, mendorong harga minyak mentah Brent lebih tinggi dan menekan pasar saham Asia. Pernyataan hawkish dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada bulan September, dengan pasar memperkirakan peluang kenaikan sebesar 57%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi dan dolar yang lebih kuat semakin menekan aset berisiko, sementara investor menunggu data pekerjaan dan inflasi AS untuk mendapatkan petunjuk tentang arah kebijakan Fed. Sementara itu, PMI manufaktur China naik menjadi 49,8 pada Agustus dari 49,2 pada Juli, melampaui ekspektasi 49,7 tetapi tetap berada dalam kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut. PMI non-manufaktur bertahan di 49,0. Saham-saham yang mengalami penurunan signifikan antara lain Tencent (-0,9%), China Resources Land (-2,8%), AIA (-1,7%), Lenovo (-1,3%), dan Zijin Gold International (-8,1%).
Pivot : 25,488
R1 : 26,141 S1 : 25,261
R2 : 25,840 S2 : 25,136
R3 : 25,965 S3 : 24,909
NASDAQ
Opportunity: Sell Limit: 29,170| SL: 29,300 | TP: 29,950
Kontrak berjangka saham AS stabil pada hari Selasa setelah indeks utama memulai minggu ini dengan catatan buruk, karena investor menghadapi kenaikan harga minyak yang dipicu oleh konflik baru di Timur Tengah. Biaya energi yang lebih tinggi memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan September, yang mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik. Dalam perdagangan reguler pada hari Senin, Dow Jones turun 0,7%, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 0,33% dan 0,12%. Sembilan dari 11 sektor S&P berakhir lebih rendah, dipimpin oleh sektor jasa komunikasi, utilitas, dan industri. Wall Street kini memasuki bulan yang secara historis merupakan bulan yang menantang bagi saham setelah mencatatkan kenaikan moderat pada bulan Agustus. Investor juga akan mengalihkan perhatian mereka ke data aktivitas manufaktur dan jasa terbaru pada hari Selasa, serta laporan pekerjaan bulan Agustus pada hari Jumat di tengah kalender ekonomi yang sibuk.
Pivot : 29,637.92
R1 : 29,684.83 S1 : 29,606.58
R2 : 29,716.17 S2 : 29,559.67
R3 : 29,763.08 S3 : 29,528.33

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Bearish selama di bawah 4.508, testing kembali support 4.407.
Harga emas bergerak di sekitar US$4.460 per troy ounce pada Selasa, berada di dekat level terendah dalam dua pekan terakhir. Tekanan terhadap harga emas terutama datang dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga AS pada September. Kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi, sehingga memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertahankan sikap moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut cenderung negatif bagi emas karena kenaikan suku bunga meningkatkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Sentimen terhadap emas semakin tertekan setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa bank sentral AS masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila belum terdapat bukti yang lebih jelas bahwa inflasi bergerak kembali menuju target 2%. Pernyataan tersebut mendorong perubahan signifikan dalam ekspektasi pasar. Probabilitas kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan telah meningkat menjadi lebih dari 65%, dibandingkan sekitar 36% sebelum pernyataan Warsh. Perubahan ekspektasi tersebut turut mendorong penguatan dolar dan imbal hasil obligasi AS, yang pada akhirnya membatasi daya tarik emas.
Meski demikian, koreksi harga emas masih relatif terbatas jika dilihat dari kinerja bulan sebelumnya. Emas mencatat kenaikan sekitar 10% sepanjang Agustus, didukung oleh keputusan Departemen Keuangan AS untuk menggandakan program buyback obligasi bertenor panjang yang bertujuan menopang likuiditas. Kebijakan tersebut kembali menghidupkan spekulasi mengenai potensi pelemahan nilai mata uang atau debasement trade, sehingga memberikan dukungan struktural terhadap permintaan emas.
Pivot : 4.508
R1 4.508 R2 4.541 R3 4.573
S1 4.407 S2 4.367 S3 4.324
Oil
Opportunity : Bullish menguji resistance 87,64.
Harga minyak mentah melanjutkan penguatan pada Selasa, dengan Brent kembali menembus US$86 per barel, setelah kenaikan pada sesi sebelumnya. Penguatan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi dari kawasan tersebut. Pasukan AS dilaporkan menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, sementara Iran merespons dengan serangan terhadap wilayah Uni Emirat Arab dan Yordania. Perkembangan ini menandai kembalinya konflik terbuka antara AS dan Iran setelah sekitar satu bulan kondisi yang relatif tenang.
Risiko terhadap pasokan semakin menjadi perhatian karena Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan minyak global, masih menghadapi ancaman gangguan. Meskipun kapal tanker masih dapat melintas dan sejumlah produsen utama Teluk seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, serta Irak masih mengekspor sebagian volume minyaknya, insiden sebuah supertanker yang terbakar setelah menabrak dua ranjau laut menunjukkan bahwa risiko terhadap aktivitas pelayaran tetap tinggi. Ancaman terhadap Kharg Island, yang merupakan salah satu pusat utama ekspor minyak Iran, juga meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan terganggunya pasokan dalam skala yang lebih besar apabila konflik kembali meningkat.
Di luar Timur Tengah, pasar minyak juga memperoleh tekanan tambahan dari gangguan pada kapasitas pengolahan. Serangan terhadap kilang-kilang di Rusia telah memperketat kapasitas penyulingan global dan mendorong margin produk olahan ke level tertinggi baru.
Pivot: 90,49
R1 87,47 S1 85,07
R2 88,54 S2 83,66
R3 90,49 S3 82,21
DAILY ECONOMIC DATA


WEBINAR HARI INI (Selasa, 1 September 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Price Action Jadi Panduan Trading USD Jelang ISM Manufacturing PMI
Catat jam dan waktunya ya!
| Selasa, 1 September 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
