Harga Minyak Melonjak Picu Gejolak Pasar Global
Harga minyak melonjak tajam pada awal pekan setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Lonjakan ini terjadi setelah Iran meningkatkan serangan militernya di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.
Kontrak Brent Crude ditutup naik 5,8% ke level $114,44 per barel, sementara West Texas Intermediate menguat 4,4% ke $106,42 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan yang semakin serius.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan memastikan jalur tersebut tetap terbuka melalui misi “Project Freedom”. Pernyataan ini memicu eskalasi lebih lanjut setelah sebelumnya sempat terjadi gencatan senjata.
Dampak ke Saham dan Obligasi Global
Harga minyak melonjak juga menekan pasar saham global. Indeks saham utama di Amerika Serikat melemah, dengan Dow Jones Industrial Average turun 1,13%, S&P 500 melemah 0,41%, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,19%.
Di Eropa, indeks STOXX 600 turun hampir 1%, dipicu kekhawatiran tarif baru terhadap sektor otomotif. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah meningkat, mencerminkan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi akibat lonjakan energi.
Kondisi ini mengubah arah kebijakan moneter global. Pasar kini tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini. Bahkan, ekspektasi kenaikan suku bunga mulai muncul di Eropa dan Inggris.
Inflasi Energi Dorong Kebijakan Bank Sentral Lebih Ketat
Lonjakan harga energi meningkatkan tekanan inflasi secara global. Hal ini membuat bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Barclays bahkan memperkirakan tidak akan ada pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed dalam waktu dekat.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,438%, mencerminkan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi. Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai mengantisipasi tekanan inflasi yang lebih persisten.
Volatilitas Yen dan Pergerakan Dolar
Di pasar mata uang, yen Jepang menunjukkan volatilitas tinggi. Pelaku pasar mencermati kemungkinan intervensi dari pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan mata uangnya.
Pasangan USD/JPY sempat berfluktuasi sebelum stabil di sekitar 157,12. Intervensi sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar $35 miliar. Tekanan inflasi dari pelemahan yen menjadi alasan utama potensi langkah lanjutan dari otoritas Jepang.
Indeks dolar AS menguat ke level 98,44, didukung oleh ekspektasi suku bunga tinggi dan meningkatnya permintaan aset safe haven. Sementara itu, euro dan pound sterling masing-masing melemah terhadap dolar.
Emas Melemah di Tengah Penguatan Dolar
Harga minyak yang melonjak juga berdampak pada pasar emas. Harga emas spot turun 2,13% ke $4.515,27 per ons, tertekan oleh penguatan dolar dan meningkatnya ekspektasi inflasi.
Biasanya, emas diuntungkan dari ketidakpastian geopolitik. Namun, dalam kondisi saat ini, tekanan dari imbal hasil tinggi dan dolar yang kuat lebih dominan mempengaruhi pergerakan harga.
Konflik Hormuz Jadi Risiko Utama Pasokan Energi
Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global kini mengalami gangguan serius selama dua bulan terakhir. Insiden terbaru, termasuk serangan terhadap kapal dan kebakaran di pelabuhan minyak, memperburuk kondisi.
Pemerintah Iran mengklaim telah menargetkan kapal militer AS, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak militer AS. Sementara itu, laporan lain menyebut adanya ledakan pada kapal berbendera Korea Selatan di wilayah tersebut.
Ketegangan ini mempertegas bahwa risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar energi global dalam jangka pendek.
Prospek Harga Emas Selasa| 05 Mei 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal menembus area resistance 4.618–4.660, dengan harga bergerak di bawah SMA 50 yang mulai menurun dan membentuk struktur lower high. Tekanan jual semakin terlihat setelah harga menembus area 4.560 dan saat ini mengarah ke support 4.482, yang menjadi level kunci dalam jangka pendek.
Jika support tersebut ditembus secara solid, potensi penurunan dapat berlanjut menuju 4.418 hingga 4.350. Namun, terdapat indikasi potensi rebound terbatas seiring munculnya bullish divergence pada RSI, sehingga selama harga mampu bertahan di atas 4.482, peluang pullback ke area 4.560 hingga 4.618 masih terbuka meskipun bias utama tetap cenderung bearish.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.560 R2 4.618 R3 4.660
S1 4.482 S2 4.418 S3 4.350
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.500 |
| Profit Target Level | 4.560 |
| Stop Loss Level | 4.480 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.615 |
| Profit Target Level | 4.560 |
| Stop Loss Level | 4.665 |
Prospek Harga US Oil Selasa | 05 Mei 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan kecenderungan bullish setelah harga berhasil rebound dari area support 98,36 dan kembali bergerak di atas MA yang mulai mengarah naik, mencerminkan perubahan momentum ke sisi atas. Saat ini harga sedang menguji resistance 106,56, dan jika mampu ditembus secara konsisten, potensi kenaikan dapat berlanjut menuju 111,20 hingga 113,25 sebagai target berikutnya.
Namun dalam jangka pendek, terdapat peluang koreksi terbatas terlebih dahulu selama harga belum mampu menembus 106,56, dengan area 101,46 menjadi support kunci yang perlu dijaga. Selama harga tetap bertahan di atas level tersebut, bias bullish masih terjaga dan setiap pelemahan cenderung dimanfaatkan sebagai peluang buy on dip.
US Oil INTRADAY AREA
R1 106,56 R2 111,20 R3 113,25
S1 101,46 S2 98,36 S3 94,52
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 101,50 |
| Profit Target Level | 106,00 |
| Stop Loss Level | 98,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 106,00 |
| Profit Target Level | 103,00 |
| Stop Loss Level | 108,00 |
Baca analisa sebelumnya: Dolar Melemah, Yen Menguat Usai Intervensi Jepang
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
