Market Review
Weekly Review dan Outlook pekan ini menyoroti pelemahan tajam dolar AS terhadap yen Jepang. Pasar menduga otoritas Tokyo turun tangan langsung untuk menahan pelemahan mata uang yang sempat menyentuh level terendah dalam empat dekade. Dolar juga melemah terhadap mata uang utama lain setelah data inflasi AS bulan Juni menunjukkan perlambatan, sehari setelah bank sentral AS menahan suku bunga.
Dolar AS Melemah, Yen Menguat Tajam
Otoritas Jepang sudah lama memberi sinyal akan bertindak jika yen terus melemah. Pelemahan mata uang ini memperberat dampak kenaikan harga energi impor terhadap biaya hidup masyarakat. Kementerian Keuangan Jepang belum memberikan konfirmasi resmi terkait dugaan intervensi ini.
Pelaku pasar meyakini pergerakan tajam yen merupakan hasil intervensi otoritas Jepang untuk menghentikan pelemahan mata uang ke level terendah multi-dekade, meski konfirmasi resmi belum ada. Seorang analis menilai kecepatan dan besarnya pergerakan dolar/yen memang mengindikasikan adanya intervensi langsung.
Dolar turun 2,6% menjadi 159,225 yen, level terlemah sejak 14 Mei. Penguatan yen ini terjadi menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan yang dijadwalkan Jumat. Ekonom memperkirakan suku bunga Jepang bertahan di 1%, meski beberapa laporan menyebut bank sentral mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih cepat akibat tekanan inflasi selama perang Iran berlangsung. Seorang ahli strategi mata uang menyebut otoritas Jepang tampak memanfaatkan momentum bearish dari data AS yang lemah untuk menjual dolar dan menopang yen.
Data Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi AS Jadi Sorotan
Data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index naik 3,7% secara tahunan pada Juni, melambat dari 4,1% pada Mei yang merupakan kenaikan terbesar sejak April 2023. Kenaikan inflasi PCE ini sesuai dengan ekspektasi ekonom.
Pertumbuhan ekonomi AS juga melambat pada kuartal kedua akibat defisit perdagangan yang melebar. Produk domestik bruto (PDB) naik dengan laju tahunan 1,5%, jauh di bawah perkiraan ekonom Reuters yang memproyeksikan pertumbuhan 2,1%. Seorang direktur trading senior mempertanyakan apakah bank sentral AS akan lebih mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi ketimbang inflasi, kondisi yang menurutnya sangat negatif bagi dolar AS.
Ketua bank sentral AS, Kevin Warsh, menegaskan komitmen penuh untuk menurunkan inflasi. Namun pernyataannya justru membuat pasar bingung soal langkah konkret yang akan diambil dalam beberapa bulan mendatang.
Euro dan Poundsterling Menguat
Euro naik 0,5% ke $1,15318, melanjutkan penguatan sejak sesi sebelumnya saat dolar AS melemah pasca keputusan bank sentral AS menahan suku bunga. Pelaku pasar kini menaikkan ekspektasi bank sentral AS akan kembali menahan suku bunga pada September, dengan probabilitas mencapai 34,8% menurut CME Group FedWatch, naik dari 24% sebelum pertemuan terakhir.
Poundsterling menguat 0,8% ke $1,34755 setelah Bank of England mempertahankan suku bunga sambil menunggu dampak perang Iran terhadap tekanan inflasi. Eskalasi konflik ini mendorong satu anggota dewan kebijakan tambahan untuk mendukung kenaikan suku bunga.
Harga Emas dan Minyak Dunia Bergerak Berlawanan Arah
Harga emas mencatat kenaikan tipis sepanjang Juli, didorong oleh dolar yang melemah dan keputusan bank sentral AS menahan suku bunga. Namun kenaikan ini tertahan oleh gambaran inflasi yang belum jelas serta lonjakan harga minyak akibat memburuknya diplomasi Timur Tengah. Harga emas spot turun 1,5% menjadi $4.044,61 per ons, sementara kontrak berjangka emas turun 1,5% menjadi $4.098,60 per ons. Sepanjang Juli, harga emas spot naik 0,9% dan kontrak berjangka naik 1,5%, mengakhiri tren penurunan empat bulan beruntun.
Harga minyak justru melonjak setelah Iran menyerang dua kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dan menyatakan jalur vital tersebut ditutup. Harga minyak mencatat kenaikan lebih dari 20% sepanjang Juli, setelah anjlok hampir 20% pada Juni. Lonjakan ini dipicu oleh runtuhnya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran, ditambah kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Bab el-Mandeb. ExxonMobil dan Chevron mencatat lonjakan laba kuartal kedua berkat kenaikan harga minyak ini. Brent crude naik 1,2% ke $87,88 per barel, sementara West Texas Intermediate naik 1,2% ke $84,59 per barel.
Wall Street Ditutup Menguat
Saham-saham teknologi besar mengangkat pasar AS pada Jumat meski sesi perdagangan berlangsung volatil. S&P 500 naik 0,7%, Nasdaq 100 naik 0,6%, dan Dow Jones naik 277 poin. Amazon melonjak 15,3% berkat pertumbuhan bisnis cloud yang kuat. Optimisme terhadap tren AI turut mengangkat saham software dan hyperscaler, dengan Alphabet naik 6,9%, Microsoft naik 3%, dan Meta naik 3,3%. Kenaikan ini menutupi penurunan Apple sebesar 7,3% akibat kelangkaan chip yang menaikkan biaya produksi kuartal Juni.
Netflix turun 2% dan Eli Lilly turun 0,6%, sementara ExxonMobil turun 1% karena kapasitas kilang yang terbatas menghambat perusahaan memanfaatkan penuh kenaikan harga minyak. Sepanjang pekan, Dow dan S&P 500 masing-masing naik sekitar 1%, sedangkan Nasdaq naik 1,6%. Sepanjang Juli, S&P 500 justru turun 0,1% dan Nasdaq turun 3,2%, sementara Dow mencatat kenaikan bulanan keempat berturut-turut dengan kenaikan 0,3%.
WEEK AHEAD
(03 – 07 Agustus 2026)
Outlook Pekan Depan: Fokus pada Data Tenaga Kerja AS
Weekly Review dan Outlook 3–7 Agustus 2026 memasuki babak baru dengan agenda ekonomi yang padat. Perang Iran-AS masih akan membayangi harga energi global dan prospek inflasi, seiring volatilitas tren AI yang akan diuji lewat hasil kinerja SpaceX dan AMD. Laporan tenaga kerja AS, JOLTS, dan ADP menjadi sorotan utama pekan ini, ditambah PMI ISM, factory orders, dan neraca perdagangan yang akan memberi gambaran industri dan dampak tarif.
Eropa akan merilis data produksi industri negara-negara utama zona euro untuk melihat dampak biaya energi yang tinggi, sementara Jerman merilis neraca perdagangan. China akan merilis hasil PMI dan neraca perdagangan. Jepang merilis data upah, sementara Australia merilis survei industri. Bank sentral Brasil dan India akan mengumumkan keputusan suku bunga masing-masing. OPEC+ juga dijadwalkan bertemu untuk membahas kuota produksi minyak tahun ini.
Amerika
Musim laporan keuangan kuartal kedua masih berlangsung, dengan hasil kinerja dari SpaceX, AMD, Berkshire Hathaway, Eli Lilly, Palantir, Caterpillar, McDonald’s, Vertex Pharmaceuticals, Merck, Walt Disney, Booking, Uber, Pfizer, dan Shopify. Sorotan utama pekan ini jatuh pada laporan tenaga kerja AS hari Jumat. Ekonom memperkirakan penambahan 91.000 lapangan kerja pada Juli, naik dari 57.000 pada Juni, sementara tingkat pengangguran diperkirakan naik tipis ke 4,3%. Pertumbuhan upah per jam diperkirakan tetap stabil di 0,3% secara bulanan.
Laporan payroll yang lebih kuat dari perkiraan bisa memperkuat ekspektasi bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September untuk menangani inflasi yang masih tinggi. Sebelum itu, PMI manufaktur dan jasa ISM diperkirakan menunjukkan ekspansi lanjutan. Investor juga akan memantau laporan JOLTS, dengan lowongan kerja diperkirakan turun menjadi 7,25 juta pada Juni dari level tertinggi dua tahun sebesar 7,59 juta pada Mei. Di Kawasan Amerika lainnya, Kanada akan merilis data tenaga kerja, neraca perdagangan, dan PMI Ivey serta S&P Global.
Eropa
Surplus perdagangan Jerman diperkirakan menyempit pada Juni setelah mencapai level tertinggi tiga bulan pada Mei. Produksi industri diperkirakan stagnan setelah dua bulan berturut-turut tumbuh, sementara pesanan pabrik diperkirakan tetap naik meski dengan laju lebih lambat. Penjualan ritel diperkirakan turun pada Juni setelah sempat pulih pada Mei.
Data PMI Juli diperkirakan menunjukkan sektor manufaktur Spanyol kembali tumbuh moderat, sementara aktivitas manufaktur Italia dan Swiss diperkirakan tumbuh lebih cepat. Sektor jasa di Spanyol dan Italia juga diperkirakan menguat lebih lanjut. Penjualan ritel riil zona euro diperkirakan naik untuk bulan kedua berturut-turut, begitu pula penjualan ritel Italia.
Produksi industri Prancis diperkirakan pulih pada Juni, sementara Italia diperkirakan mencatat pertumbuhan produksi industri untuk keempat kalinya dalam lima bulan terakhir. Inflasi tahunan Turki diperkirakan melandai untuk bulan kedua berturut-turut ke level 31,8%, level terendah dalam empat bulan. Kalender ekonomi Inggris relatif sepi, dengan Lloyds House Price Index diperkirakan menunjukkan kenaikan harga rumah 0,2% secara bulanan pada Juli.
Musim laporan keuangan Eropa berlanjut dengan hasil kinerja dari HSBC Holdings, BP, Novo Nordisk, Siemens Energy, Deutsche Telekom, dan Allianz.
Asia Pasifik
Investor di China akan memantau survei PMI manufaktur dan jasa RatingDog untuk Juli. Aktivitas manufaktur diperkirakan tumbuh sedikit lebih cepat, sementara pertumbuhan sektor jasa diperkirakan melambat. Data perdagangan China turut menjadi sorotan, dengan surplus perdagangan diperkirakan menyempit ke $112,5 miliar pada Juli.
Jepang akan merilis data pertumbuhan upah dan belanja rumah tangga Juni, keduanya diperkirakan menguat. Pasar juga akan mencermati risalah pertemuan kebijakan Bank of Japan bulan Juni, setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 1% sebelum menahannya kembali pada Juli. Sementara itu, Selandia Baru merilis laporan pasar tenaga kerja kuartal kedua.
Data Mingguan Perdagangan Emas (27 – 31 Juli 2026)
Open : 4.095,30 High : 4.120,23 Low : 3.995,86 Close : 4.048,16 Range : 124,37
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 3.989 | R1 4.114 |
| S2 3.930 | R2 4.179 |
| S3 3.865 | R3 4.238 |
Gold Outlook : Bearish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (27 – 31 Juli 2026)
Open : 85,65 High : 86,14 Low : 77,75 Close : 84,55 Range : 8,39
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 79,49 | R1 87,88 |
| S2 74,42 | R2 91,20 |
| S3 71,10 | R3 96,27 |
Oil Outlook : Bullish
Baca juga: Weekly Review dan Outlook 27–31 Juli 2026
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.

