Dolar AS Tertekan, Harga Emas Mendekati US$4.000
Tekanan dolar AS kembali meningkat pada Rabu setelah investor mencerna keputusan Federal Reserve (The Fed) dan pergerakan imbal hasil US Treasury yang bervariasi di berbagai tenor. The Fed mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pasar, meski tekanan inflasi masih meningkat.
Keputusan tersebut muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Bank sentral AS juga tidak memberikan sinyal kenaikan suku bunga pada Desember. Namun, dua dari 12 anggota pemungutan suara FOMC, Lisa Cook dan Beth Hammack, menginginkan kenaikan sebesar 25 basis poin.
Ketua The Fed Warsh menyampaikan pandangan optimistis mengenai ekspektasi inflasi. Ia menilai ekspektasi tersebut masih terkendali. Pernyataan ini menjadi perhatian pasar di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter berikutnya.
Dolar AS Menghadapi Data Ekonomi Penting
Tekanan dolar AS sekaligus menghentikan tren penguatan selama tiga hari berturut-turut dan kembali mendekati level 102,00. Pergerakan ini mencerminkan tekanan jual yang muncul setelah keputusan FOMC.
Pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi AS, termasuk klaim pengangguran mingguan, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), pendapatan dan belanja pribadi, serta estimasi awal pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal III. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga dan arah dolar AS selanjutnya.
Euro dan Poundsterling Mulai Pulih
EUR/USD mencatat pemulihan setelah mengalami penurunan selama lima sesi berturut-turut. Pasangan ini kembali menguji area 1,1170 menjelang keputusan Bank Sentral Eropa (ECB), yang diperkirakan mempertahankan suku bunga. Pasar juga menantikan data final sentimen konsumen kawasan Eropa.
Tekanan dolar AS turut mengangkat GBP/USD, namun masih terbatas dan menguji area 1,3340 setelah berbalik naik dari level terendah beberapa hari terakhir di sekitar 1,3270. Investor menantikan data kredit konsumen, persetujuan hipotek, penyaluran pinjaman, serta jumlah uang beredar M4 dari Bank of England (BoE).
Sementara itu, tekanan dolar AS membuat USD/JPY gagal mempertahankan penguatan di atas level 158,00. Pasangan ini berakhir di sekitar 157,80 dan mencatat pelemahan tipis. Pelaku pasar selanjutnya mencermati data investasi obligasi asing dan kepercayaan konsumen Jepang.
AUD/USD bergerak naik ke level tertinggi dalam lima minggu dan menguji simple moving average (SMA) 200 hari di sekitar 0,7060. Data harga ekspor dan impor Australia menjadi perhatian berikutnya.
Harga Minyak Naik, Emas Mendekati US$4.000
Harga minyak mentah WTI untuk kontrak Desember kembali menguat dan menembus US$103 per barel. Kekhawatiran baru mengenai pasokan dari Timur Tengah mendorong harga minyak ke level tertinggi mingguan.
Sebaliknya, harga emas kembali melemah setelah mencatat kenaikan selama dua sesi berturut-turut. Harga logam mulia tersebut bergerak mendekati US$4.000 per troy ounce di tengah kenaikan harga minyak dan penguatan imbal hasil US Treasury. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Wall Street Menguat, Saham Teknologi Bervariasi
Bursa saham AS ditutup menguat pada Rabu setelah investor mencerna keputusan The Fed dan komentar Warsh. S&P 500 naik 0,3%, Nasdaq menguat 0,2%, sedangkan Dow Jones mencatat kenaikan tipis.
Saham sektor keuangan turut menopang pasar. JPMorgan naik 1%, Morgan Stanley menguat 1,7%, Goldman Sachs bertambah 1,5%, dan Wells Fargo naik 1,2%.
Perhatian investor juga tertuju pada laporan keuangan perusahaan teknologi besar. Microsoft turun 0,1%, sedangkan Alphabet naik 1,3% menjelang pengumuman kinerja setelah penutupan pasar. Alphabet turut mendapat dukungan dari laporan mengenai rencana OpenAI membeli chip komputasi kecerdasan buatan dari Google.
Di sektor semikonduktor, Micron melonjak 5,9% dan AMD naik 3,2% setelah SK Hynix membukukan rekor laba kuartalan. Sebaliknya, saham Apple turun 0,9% meski perusahaan tersebut memperkenalkan MacBook Pro terbaru dengan layar sentuh.
Prospek Pasar Selanjutnya
Pergerakan pasar berikutnya akan bergantung pada data ekonomi AS, arah imbal hasil US Treasury, serta perkembangan ekspektasi kebijakan The Fed. Tekanan dolar AS berpotensi berlanjut apabila data ekonomi melemah dan pasar memperkirakan kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun, data inflasi yang kuat dapat kembali menopang dolar melalui ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
Di pasar komoditas, kenaikan harga minyak akibat risiko pasokan Timur Tengah dapat memperkuat kekhawatiran inflasi. Kondisi ini berpotensi membatasi pemulihan emas apabila imbal hasil obligasi AS terus meningkat. Investor akan mencermati kombinasi faktor tersebut untuk menentukan arah perdagangan dolar AS, emas, dan aset berisiko dalam waktu dekat.
Prospek Harga Emas Kamis | 29 Oktober 2026
Pergerakan XAU/USD pada time frame H4 masih cenderung bearish, meskipun harga mulai rebound dari area support 3.975. Harga sebelumnya sempat menembus resistance 4.066 yang bertepatan dengan SMA 50, tetapi gagal bertahan di atasnya. Sementara itu, tekanan jual juga tertahan di support 4.030, sehingga harga bergerak dalam konsolidasi antara kedua level tersebut. RSI(14) berada di level 52,15, menunjukkan momentum mulai pulih dan berada di atas zona netral.
Jika harga mampu kembali menembus 4.066 dan bertahan di atas SMA 50, peluang rebound menuju 4.106 hingga 4.155 terbuka. Namun, jika harga gagal melewati resistance tersebut dan menembus support 4.030, tekanan bearish berpotensi berlanjut menuju 3.975 hingga 3.928. Selama harga masih bergerak di antara 4.030 dan 4.066, arah pergerakan cenderung konsolidasi, dengan tren bearish belum sepenuhnya berakhir.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.066 R2 4.106 R3 4.155
S1 4.030 S2 3.975 S3 3.928
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.040 |
| Profit Target Level | 4.080 |
| Stop Loss Level | 4.020 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.105 |
| Profit Target Level | 4.070 |
| Stop Loss Level | 4.125 |
Prospek Harga US Oil Kamis | 29 Oktober 2026
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih cenderung bullish, dengan harga bergerak di atas SMA 50 dan membentuk struktur kenaikan. Saat ini, harga menguji resistance 103.86. Namun, RSI(14) berada di level 55,50 dan menunjukkan indikasi bearish divergence, ketika harga membentuk puncak lebih tinggi, sedangkan RSI membentuk puncak lebih rendah.
Kondisi ini mengindikasikan momentum bullish mulai melemah dan membuka peluang koreksi. Jika harga menembus resistance 103.86, kenaikan berpotensi berlanjut menuju 104.89 hingga 106.67. Sebaliknya, jika gagal menembus resistance dan turun di bawah 99.41, harga berpotensi menguji support 97.86 hingga 96.30. Dengan demikian, tren utama masih bullish, tetapi bearish divergence meningkatkan risiko koreksi dalam jangka pendek.
US Oil INTRADAY AREA
R1 103,86 R2 104,89 R3 106,67
S1 99,41 S2 97,86 S3 96,30
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 100,50 |
| Profit Target Level | 102,00 |
| Stop Loss Level | 99,30 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 103,80 |
| Profit Target Level | 100,50 |
| Stop Loss Level | 104,90 |
Baca analisa sebelumnya: Dolar AS Menguat Jelang Keputusan Fed, Emas Naik
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
