Dolar AS menguat untuk hari kelima berturut-turut pada akhir pekan lalu seiring lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Kenaikan harga energi akibat konflik Iran ikut memperkuat tekanan inflasi global dan mendorong investor kembali memburu aset safe haven berbasis dolar.
Indeks dolar AS menuat 0,32% ke level 99,27 setelah sempat menyentuh 99,302, tertinggi dalam lima pekan terakhir. Sementara itu, euro turun ke USD1,1623 setelah menyentuh level terendah sejak lima pekan terakhir.
Yield Treasury Melonjak Picu Penguatan Dolar
Kenaikan dolar terjadi bersamaan dengan lonjakan yield Treasury AS tenor 10 tahun yang mencapai 4,599%, tertinggi dalam setahun terakhir. Pasar obligasi mulai memperhitungkan risiko inflasi jangka panjang setelah harga minyak melonjak tajam akibat terganggunya distribusi energi di Selat Hormuz.
Harga minyak WTI naik 4,16% ke USD105,38 per barel, sedangkan Brent melonjak ke USD109,34 per barel. Pernyataan Presiden AS Donald Trump dan pejabat Iran memperkecil harapan tercapainya kesepakatan untuk menghentikan serangan kapal di kawasan tersebut.
Komentar pasar menyebut lonjakan harga energi berpotensi memaksa investor mengubah proyeksi inflasi global. Kondisi itu membuat pasar obligasi bergerak agresif dan mendorong yield terus naik.
Pejabat The Fed Fokus pada Inflasi
Beberapa pejabat Federal Reserve menegaskan bahwa pengendalian inflasi masih menjadi prioritas utama. Sebagian pejabat bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika tekanan harga terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan kebijakan moneter saat ini masih berada di posisi yang tepat di tengah ketidakpastian akibat perang di Timur Tengah. Namun, pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun.
Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember meningkat menjadi 49,5%, jauh lebih tinggi dibandingkan 14,3% pada pekan sebelumnya.
Yen dan Pound Sterling Tertekan
Terhadap yen Jepang, dolar AS naik 0,25% ke level 158,74. Pelemahan yen terjadi setelah inflasi grosir Jepang melonjak paling tinggi dalam tiga tahun akibat kenaikan harga minyak dan bahan kimia.
Kondisi tersebut memperkuat spekulasi bahwa Bank of Japan dapat menaikkan suku bunga secepatnya pada pertemuan Juni. Yen kini kembali mendekati level 160 yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Sementara itu, pound sterling melemah 0,57% ke USD1,3323 dan mencatat penurunan mingguan terbesar sejak November 2024. Tekanan terhadap pound dipicu ketidakpastian politik di Inggris yang membebani posisi Perdana Menteri Keir Starmer.
Wall Street Waspadai Inflasi dan Konflik Iran
Kontrak berjangka saham AS bergerak melemah pada awal pekan karena investor bersiap menghadapi rilis laporan keuangan perusahaan besar dan perkembangan konflik Iran-AS.
Futures Dow Jones turun sekitar 100 poin, sedangkan futures S&P 500 dan Nasdaq bergerak terbatas. Pasar saham sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi baru sebelum aksi ambil untung terjadi pada saham teknologi.
Pasar Fokus pada Laporan Keuangan Emiten Besar
Investor kini menanti laporan keuangan dari Nvidia, Target, dan Walmart pada pekan ini. Fokus pasar tertuju pada prospek belanja konsumen dan perkembangan sektor kecerdasan buatan.
Di sisi lain, harga emas turun di bawah USD4.550 per ons setelah anjlok hampir 4% pekan lalu. Penurunan emas terjadi karena pasar semakin yakin bank sentral global akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama akibat tekanan inflasi dari lonjakan energi.
Prospek Harga Emas Senin | 16 Mei 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish setelah harga turun menembus support 4.605 dan bergerak di bawah SMA 50, yang menandakan tekanan jual masih mendominasi. Indikator RSI juga turun ke area oversold di kisaran 25 sehingga membuka peluang terjadinya rebound jangka pendek.
Saat ini harga sedang menguji area support 4.525–4.500. Jika area tersebut mampu bertahan, maka harga berpeluang rebound untuk menguji resistance 4.605, yang sebelumnya merupakan support dan kini berubah menjadi resistance. Namun, jika support 4.500 ditembus, maka tekanan bearish berpotensi berlanjut menuju area 4.475.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.605 R2 4.646 R3 4.670
S1 4.525 S2 4.500 S3 4.475
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.525 |
| Profit Target Level | 4.580 |
| Stop Loss Level | 4.490 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.605 |
| Profit Target Level | 4.540 |
| Stop Loss Level | 4.650 |
Prospek Harga US Oil Senin | 16 Mei 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan kecenderungan bullish setelah harga berhasil bergerak di atas SMA 50 dan menembus resistance 100,50, yang kini berubah fungsi menjadi support. Penguatan ini juga didukung oleh indikator RSI yang naik ke kisaran 65, menandakan momentum beli masih cukup kuat meskipun mulai mendekati area overbought.
Selama harga mampu bertahan di atas area 100,50, US Oil berpeluang melanjutkan kenaikan untuk menguji resistance 105,25, kemudian 107,34 hingga 109,35. Namun, jika harga kembali turun di bawah 100,50, maka ada potensi koreksi menuju support 98,98 hingga 97,43.
US Oil INTRADAY AREA
R1 105,25 R2 107,34 R3 109,35
S1 100,50 S2 98,98 S3 97,43
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 100,50 |
| Profit Target Level | 104,00 |
| Stop Loss Level | 98,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 104,50 |
| Profit Target Level | 111,00 |
| Stop Loss Level | 105,50 |
Baca analisa sebelumnya: Saham AI Angkat Wall Street ke Level Tertinggi
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
