FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bearish Range 0,69800 – 0,69300
Kondisi mata uang Aussie terhadap mata uang Dollar AS tetap berada di jalur pelemahan. Bahkan saat ini Dollar Australia mencapai titik terendah dalam hampir sembilan minggu meskipun bank sentral telah memperkirakan kenaikan suku bunga secara luas. Dalam keputusan bulat, Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,60%, level tertinggi sejak 2011, dengan alasan tekanan inflasi yang terus berlanjut dan harga energi global yang lebih tinggi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Bank sentral tersebut kini telah menaikkan suku bunga sebanyak empat kali tahun ini dengan total kenaikan 100 basis poin, namun langkah bulan September ini sebagian besar telah diantisipasi oleh pasar. Harga swap memperhitungkan peluang 56% untuk kenaikan suku bunga lanjutan di bulan November, sementara peluang kenaikan di bulan Desember berada di angka 60%. Sementara itu, Aussie tetap berada di bawah tekanan dari Dollar AS yang lebih kuat dan imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi, karena pasar terus memperkirakan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve. Perhatian kini beralih ke data inflasi Australia bulan Agustus yang akan dirilis pada hari Rabu setelah angka inflasi inti bulan Juli yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat kekhawatiran tentang tekanan harga yang terus berlanjut.
Pivot : 0,69929
R1 : 0,70204 S1 : 0,69574
R2 : 0,70559 S2 : 0,69299
R3 : 0,70834 S3 : 0,68944
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 157,200 – 157,700
Pergerakan mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Dollar AS berada pada kondisi dan range yang terbatas, namun terus dibayangi pelemahan. Saat ini Yen Jepang stabil di kisaran 157 karena intervensi verbal lanjutan dari Tokyo memberikan dukungan bagi mata uang tersebut. Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengatakan Jepang dan AS akan tetap berkomunikasi erat dalam upaya menjaga stabilitas pasar mata uang di tengah meningkatnya kekhawatiran atas melemahnya yen. Komentar-komentar tersebut disampaikan setelah percakapan telepon pada hari Jumat dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, di mana kedua pejabat tersebut mengulangi kekhawatiran bahwa yen sedang undervalued dan sepakat untuk memperdalam kerja sama. Pejabat tinggi mata uang Jepang, Atsushi Mimura, juga mengatakan pekan ini bahwa perdana menteri dan menteri keuangan Jepang, bersama dengan pihak AS, telah menyampaikan pesan yang “sangat jelas” mengenai depresiasi nilai tukar yang berlebihan. Yen tetap berada di bawah tekanan meskipun Bank Sentral Jepang (BOJ) menaikkan suku bunga bulan ini, sementara panduan BOJ selanjutnya dan meningkatnya ekspektasi pengetatan lebih lanjut oleh Federal Reserve telah memicu spekulasi bahwa perbedaan suku bunga AS-Jepang dapat melebar.
Pivot : 157,318
R1 : 157,664 S1 : 156,931
R2 : 158,051 S2 : 156,585
R3 : 158,397 S3 : 156,198
GBPUSD
Opportunity : Bearish menuju : 1.3174 – 1.3147
Pounds masih tertekan oleh penguatan U.S Dollar pada perdagangan Selasa kemarin. Poundsterling bergerak turun dan menguji area 1,3200. Level tersebut menjadi titik perhatian setelah pasangan ini mencatat posisi terendah dalam tiga bulan. Agenda ekonomi Inggris mencakup transaksi berjalan kuartal II, Nationwide Housing Prices, investasi bisnis kuartalan, serta data pertumbuhan ekonomi final kuartal II. Rangkaian data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi Inggris ketika pound menghadapi tekanan dari penguatan Dollar. Indeks Dollar AS (DXY) bergerak menuju 101,60, level yang terakhir terlihat pada akhir Juli. Kenaikan yield US Treasury dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong utama pergerakan tersebut. Kenaikan yield US Treasury kembali menjadi perhatian pasar. Yield Treasury 10 tahun mencapai sekitar 5,29%, level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, yield Treasury 30 tahun menyentuh 5,6206%, level tertinggi dalam 24 tahun. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS sekaligus memberi tekanan pada pasar saham. Pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data tersebut mencakup perubahan tenaga kerja ADP, indeks harga PCE inti, pendapatan dan belanja pribadi, final pertumbuhan PDB kuartal II, Chicago PMI, serta persediaan minyak mentah. Data tenaga kerja dan inflasi akan menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve. GBP masih berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini yang disebabkan oleh tingginya Yield Obligasi AS yang mendukung permintaan U.S Dollar.
Open : 1.3228 Pivot 1.3230
R1 : 1.3259 S1 : 1.3203
R2 : 1.3286 S2 : 1.3174
R3 : 1.3315 S3 : 1.3147
EURUSD
Opportunity : Bearish menuju 1.1280 – 1.1248
Sesuai perkiraan, Euro ditutup melemah pada perdagangan Selasa kemarin. EUR bergerak ke level terendah dalam tiga bulan dan mendekati support penting 1,1300. Penguatan mata uang AS serta ketidakpastian geopolitik membuat euro kesulitan mempertahankan kenaikannya. Perhatian berikutnya tertuju pada data ekonomi Jerman. Pasar akan mencermati penjualan ritel, laporan pasar tenaga kerja, serta inflasi awal. Dari sisi Bank Sentral Eropa, Isabel Schnabel juga dijadwalkan menyampaikan pandangan yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter kawasan Euro. Disisi lain Indeks Dollar AS (DXY) bergerak menuju 101,60, level yang terakhir terlihat pada akhir Juli. Kenaikan yield US Treasury dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong utama pergerakan tersebut. Kenaikan yield US Treasury kembali menjadi perhatian pasar. Yield Treasury 10 tahun mencapai sekitar 5,29%, level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, yield Treasury 30 tahun menyentuh 5,6206%, level tertinggi dalam 24 tahun. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS sekaligus memberi tekanan pada pasar saham. Pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data tersebut mencakup perubahan tenaga kerja ADP, indeks harga PCE inti, pendapatan dan belanja pribadi, final pertumbuhan PDB kuartal II, Chicago PMI, serta persediaan minyak mentah. Data tenaga kerja dan inflasi akan menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve. EUR masih berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini yang masih dibayangi oleh penguatan U.S Dollar.
Open : 1.1340 Pivot : 1.1342
R1 : 1.1373 S1 : 1.1310
R2 : 1.1405 S2 : 1.1280
R3 : 1.1436 S3 : 1.1248
USDCHF
Opportunity : Bullish menuju : 0.8380 – 0.8429
Swiss Franc terus melemah hingga menyentuh level 0.8357 pada perdagangan Selasa kemarin. Data ekonomi Swiss yang rilis positif tidak mampu menahan laju pelemahan mata-uang Franc Swiss. KOF Leading Indicators Swiss naik sebesar 109.1 versus 107.5 angka sebelumnya. Namun penguatan mata-uang U S Dollar tidak dapat terbendung yang disebabkan naiknya yield US Treasury dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong utama pergerakan tersebut. Indeks Dolar AS (DXY) bergerak menuju 101,60, level yang terakhir terlihat pada akhir Juli. Pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data tersebut mencakup perubahan tenaga kerja ADP, indeks harga PCE inti, pendapatan dan belanja pribadi, final pertumbuhan PDB kuartal II, Chicago PMI, serta persediaan minyak mentah. Data tenaga kerja dan inflasi akan menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve. CHF masih berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini yang masih dibayangi oleh penguatan U.S Dollar.
Open : 0.8328 Pivot : 0.8338
R1 : 0.8360 S1 : 0.8317
R2 : 0.8380 S2 : 0.8295
R3 : 0.8429 S3 : 0.8274
DXY
Opportunity: Bullish Range 101,300 – 101,600
Keperkasaan mata uang Greenback terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya terus berlanjut. Bahkan penguatan tersebut tergambar pada Indeks Dollar AS (DXY) yang terus mengalami kenaikan dan sentuh level tertinggi hariannya 101,612. Posisi Dollar AS saat ini memperpanjang kenaikan 0,2% pada sesi sebelumnya dan diperdagangkan pada level tertinggi tiga bulan, karena Dollar AS terus diuntungkan dari ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh The Fed. Sedikit kemajuan telah dicapai dalam pembicaraan AS-Iran yang bertujuan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali sepenuhnya Selat Hormuz. Penurunan harga minyak pada hari Selasa tidak banyak meredakan kekhawatiran bahwa biaya energi yang masih tinggi dapat memicu inflasi dan mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed. Sementara itu, aktivitas ekonomi AS yang kuat juga turut menopang Dollar AS. Namun, data lowongan kerja dan keyakinan konsumen yang dirilis hari ini menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan. Laporan inflasi PCE malam nanti dan laporan ketenagakerjaan pada Jumat lusa diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kekuatan ekonomi AS. Para pedagang memperkirakan kenaikan suku bunga Fed hampir satu poin persentase penuh selama tahun mendatang. Dollar AS naik 1,8% pada bulan September tetapi hampir tidak berubah pada kuartal ketiga.
Pivot : 101,388
R1 : 101,599 S1 : 101,164
R2 : 101,823 S2 : 100,953
R3 : 102,034 S3 : 100,729

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bullish ke area 67,031
Indeks Nikkei 225 naik 1% menjadi di atas 66.000, sementara Indeks Topix yang lebih luas naik 0,8% menjadi 4.073 pada hari Rabu, mengakhiri penurunan dua sesi karena harga minyak turun tajam akibat meredanya kekhawatiran pasokan. Pergerakan ini menyusul pemulihan sekitar setengah kapasitas pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi dan perintah pemerintahan Trump untuk melepaskan cadangan darurat. Di dalam negeri, investor menilai data yang menunjukkan produksi industri Jepang secara tak terduga turun pada bulan Agustus, mencerminkan output yang lebih lemah di sektor manufaktur utama di tengah permintaan ekspor yang lebih rendah, sementara pertumbuhan penjualan ritel berada di bawah ekspektasi. Saham teknologi memimpin pemulihan meskipun tekanan terus berlanjut dari imbal hasil obligasi yang tinggi, dengan kenaikan yang signifikan pada Kioxia Holdings (2,2%), SoftBank Group (4%), Advantest (1,8%), Taiyo Yuden (5,3%), dan Fujikura (4,5%). Indeks Nikkei 225 diperkirakan akan berakhir bulan ini sebagian besar tidak berubah.
Pivot : 65,887
R1 : 66,893 S1 : 65,303
R2 : 67,477 S2 : 64,297
R3 : 68,483 S3 : 63,713
HANGSENG
Opportunity: Bearish ke 25,217
Indeks Hang Seng turun 0,5%, atau 119 poin, menjadi 24.524 pada hari Selasa, karena investor tetap berhati-hati di tengah harga minyak yang lebih tinggi, imbal hasil obligasi global yang tinggi, dan terus melemahnya saham teknologi Tiongkok. Minyak mentah Brent naik 0,6% menjadi sekitar US$106 per barel di tengah kekhawatiran pasokan Timur Tengah yang berkelanjutan, memperkuat kekhawatiran inflasi dan suku bunga. Selain itu, kerugian semalam di Wall Street dengan imbal hasil obligasi 10 tahun naik di atas 5,2% dan imbal hasil obligasi 30 tahun mencapai sekitar 5,55%, menambah tekanan pada aset berisiko global. Sementara itu, saham teknologi Tiongkok daratan tetap berada di bawah tekanan setelah AS bergerak menuju pembatasan komponen buatan Tiongkok yang digunakan dalam pusat data AI, sementara ekuitas Tiongkok secara lebih luas juga terpengaruh oleh memudarnya optimisme setelah pertemuan Trump-Xi. Posisi hati-hati menjelang libur Hari Nasional Tiongkok juga membatasi selera risiko. Saham-saham yang mengalami penurunan signifikan antara lain Tencent (-1,8%), Xiaomi (-2,6%), AIA (-0,2%), Meituan (-2,0%), dan Geely (-7,4%).
Pivot : 24,408
R1 : 24,558 S1 : 24,120
R2 : 24,846 S2 : 23,970
R3 : 24,996 S3 : 23,682
NASDAQ
Opportunity: Buy Limit: 30,560| SL: 30,400 | TP: 30,720
Kontrak berjangka saham AS sedikit menguat pada hari Rabu setelah indeks utama berada di bawah tekanan pada sesi sebelumnya, tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Kontrak berjangka yang terkait dengan Dow, S&P 500, dan Nasdaq 100 masing-masing naik sekitar 0,2%. Selama perdagangan reguler pada hari Selasa, Dow turun 0,26%, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 0,17% dan 0,09%. Tujuh dari 11 sektor S&P berakhir lebih rendah, dengan sektor energi, material, dan barang konsumsi pokok memimpin penurunan. Pergerakan ini terjadi karena imbal hasil obligasi pemerintah 30 tahun naik hingga 5,62%, mencapai level yang belum pernah terlihat sejak Juni 2002, sementara imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun naik ke level tertinggi baru tahun 2007 di dekat 5,3%. Investor kini menunggu laporan indeks harga PCE pada hari Rabu, ukuran inflasi pilihan Federal Reserve. Sepanjang bulan ini, Dow Jones turun sekitar 3,5%, sementara S&P 500 sedikit berubah dan Nasdaq Composite naik 1,6%.
Pivot : 30,917.92
R1 : 31,166.33 S1 : 30,771.33
R2 : 31,312.92 S2 : 30,522.92
R3 : 31,561.33 S3 : 30,376.33

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Meski mengalami rebound, harga masih belum mampu menembus resistance di level 4.235. Dengan demikian, tren masih cenderung bearish, sementara level 4.142 menjadi support penting yang perlu diperhatikan.
Harga emas bergerak di sekitar US$4.200 per troy ounce pada Rabu, setelah berhasil mengalami pemulihan pada sesi sebelumnya. Namun, ruang kenaikan emas masih terbatas karena pasar kembali menghadapi tekanan dari penguatan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield Treasury tenor 30 tahun sempat mencapai 5,62%, level tertinggi sejak Juni 2002. Kenaikan yield tersebut meningkatkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Tekanan terhadap emas terutama berasal dari kekhawatiran bahwa inflasi masih akan bertahan tinggi akibat kenaikan harga energi dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve turut memperkuat tekanan tersebut. Presiden New York Fed John Williams pada Selasa menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun dapat menjadi langkah yang sesuai, sementara konflik di Timur Tengah dan ekspansi teknologi kecerdasan buatan disebut sebagai faktor yang masih berkontribusi terhadap tingginya inflasi.
Di sisi lain, penurunan tajam harga minyak memberikan sedikit dukungan bagi emas dengan meredakan sebagian kekhawatiran terhadap tekanan inflasi berbasis energi. Perbaikan aliran pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah dan rencana pelepasan cadangan minyak strategis Amerika Serikat membantu menekan harga energi, sehingga mengurangi salah satu sumber tekanan inflasi yang sebelumnya membebani pasar.
Meski demikian, sentimen terhadap emas masih cenderung tertekan. Kombinasi yield Treasury yang berada di level tinggi, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, serta kekhawatiran terhadap inflasi membuat investor tetap berhati-hati. Dengan kondisi tersebut, emas berada dalam posisi yang relatif rentan terhadap penguatan yield lebih lanjut. Secara bulanan, harga emas berada di jalur untuk mencatat penurunan hampir 6% sepanjang September, menunjukkan bahwa tekanan dari faktor makroekonomi masih cukup dominan meskipun ketidakpastian geopolitik tetap memberikan elemen safe-haven bagi logam mulia.
Pivot : 4,235
R1 4,235 R2 4,280 R3 4,316
S1 4,142 S2 4.110 S3 4.081
Oil
Opportunity : Bearish, namun harga saat ini tertahan di level support 88,68. Jika support tersebut mampu bertahan, terdapat peluang rebound untuk menguji resistance 92,78. Meski demikian, tren masih bearish selama harga bergerak di bawah level resistance tersebut
Harga minyak mentah kembali berada di bawah US$90 per barel pada Rabu, melanjutkan penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Pelemahan harga terutama dipicu oleh meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Timur Tengah setelah indikasi menunjukkan bahwa arus ekspor minyak dari kawasan tersebut mulai kembali pulih. Rata-rata ekspor minyak mentah selama 10 hari terakhir telah meningkat menjadi sekitar 17,5 juta barel per hari, atau sekitar 98% dari level sebelum perang.
Pemulihan tersebut turut didukung oleh kembalinya ekspor minyak Arab Saudi melalui jalur pipa East-West dengan kapasitas sekitar setengah dari kemampuan normalnya. Di saat yang sama, arus pengiriman minyak melalui jalur pelayaran yang tidak resmi masih berlangsung di Selat Hormuz. Perkembangan tersebut memberikan sinyal bahwa sebagian besar pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah masih dapat mencapai pasar global meskipun konflik berkepanjangan menimbulkan risiko terhadap infrastruktur dan jalur distribusi energi.
Dari Amerika Serikat, tekanan terhadap harga minyak semakin bertambah setelah pemerintah berencana melepas hingga 40 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk membantu mengatasi lonjakan harga bahan bakar. Data industri juga menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 1 juta barel pada pekan lalu, menambah indikasi bahwa kondisi pasokan domestik relatif lebih longgar.
Kombinasi membaiknya aliran pasokan dari Timur Tengah, tambahan minyak dari cadangan strategis AS, serta peningkatan persediaan domestik memberikan tekanan terhadap harga minyak dalam jangka pendek. Namun, penurunan tersebut belum sepenuhnya mengubah tren bulanan. Minyak mentah AS masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan selama tiga bulan berturut-turut, karena konflik AS-Iran yang berkepanjangan dan gangguan pasokan yang meluas tetap menjadi faktor pendukung harga.
Pivot: 92,78
R1 96,72 S1 88,68
R2 94,67 S2 85,89
R3 92,78 S3 83,71
DAILY ECONOMIC DATA

WEBINAR HARI INI (Rabu, 30 September 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Live Trading Membaca Momentum Emas Saat Rilis Core PCE dan GDP AS
Catat jam dan waktunya ya!
| Rabu, 30 September 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
