FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bearish Range 0,68900 – 0,68200
Berlanjutnya pelemahan mata uang Aussie terhadap mata uang Greenback, menutup perdagangan pekan kemarin. Kondisi Aussie mendekati level terendah tiga bulan dan menuju kerugian mingguan yang besar karena Dollar AS tetap stabil secara umum karena ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Dollar AS telah menguat sejak Federal Reserve mengambil sikap yang mengejutkan agresif pekan lalu, mendorong pasar untuk memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 75% paling cepat pada September. Sementara itu, ekspektasi pengetatan tambahan oleh Reserve Bank of Australia telah mereda, meskipun terjadi sedikit peningkatan tekanan harga yang mendasarinya pada bulan Mei. Investor memperkirakan inflasi kuartal kedua akan lebih rendah dari perkiraan bank sentral sebesar 8%, memperkuat spekulasi bahwa siklus pengetatan telah mencapai puncaknya. Pasar hanya memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan sebesar 4,35% sebesar 50%, sementara beberapa pihak telah mulai memperkirakan penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun 2027. Dollar Australia juga siap untuk mengalami penurunan bulanan kedua berturut-turut lebih dari 4%, karena ketegangan di Timur Tengah dan aksi jual saham teknologi awal bulan ini membebani aset berisiko.
Pivot : 0,68960
R1 : 0,69173 S1 : 0,68756
R2 : 0,69377 S2 : 0,68543
R3 : 0,69590 S3 : 0,68339
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 161,700 – 162,000
Tekanan terus mewarnai pergerakan mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Dollar AS di akhir pekan lalu. Bahkan kondisi Yen berada di dekat level terlemahnya sejak 1986 meskipun data menunjukkan inflasi inti Tokyo meningkat untuk pertama kalinya dalam 8 bulan, memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Jepang (BOJ) akan terus menaikkan suku bunga. Pada Rabu pekan lalu, Gubernur BOJ Kazuo Ueda menegaskan kembali komitmennya untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut sejalan dengan perkembangan ekonomi, inflasi, dan keuangan. Sehari kemudian, anggota dewan yang berpandangan keras, Naoki Tamura, juga menganjurkan kenaikan suku bunga setiap beberapa bulan. Bank Sentral Jepang (BOJ) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan selanjutnya pada 31 Juli. Yen tetap berada di bawah tekanan meskipun ada peringatan lisan berulang kali dari Kementerian Keuangan Jepang dan intervensi mata uang yang memecahkan rekor dalam beberapa pekan terakhir, karena Dollar AS yang lebih kuat dan perbedaan suku bunga yang lebar dengan AS terus membebani mata uang tersebut sementara Federal Reserve diperkirakan akan menaikkan suku bunga akhir tahun ini.
Pivot : 161,699
R1 : 161,874 S1 : 161,558
R2 : 162,015 S2 : 161,383
R3 : 162,190 S3 : 161,242
GBPUSD
Opportunity : Bullish menuju : 1.3231 – 1.3272
Di luar perkiraan, Pounds berhasil menguat untuk kedua kalinya di akhir pekan kemarin. Poundsterling dalam pair GBPUSD bergerak menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan forex sesi Eropa hari Jumat (26/6/2026) di tengah koreksi dolar AS terhadap semua rival utamanya. Fokus pasar saat ini beragam antara dinamika politik domestik di Inggris serta rilis data inflasi penting AS (PCE Price Index) yang justru menurunkan ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed). Faktor domestik Inggris menjadi pendorong utama bagi pergerakan Poundsterling. Para pelaku pasar dan pedagang saat ini tengah menyoroti potensi transisi kepemimpinan, di mana Andy Burnham digadang-gadang sebagai penerus Keir Starmer untuk Perdana Menteri Inggris. Sementara itu, PCE Inti yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed naik 3,4% YoY (vs 3,3% sebelumnya), mencatat level tertinggi sejak Oktober 2023. Meskipun angka inflasi meningkat dan berada jauh di atas target 2% milik Fed, rilis tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar. GBP masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini seiring turunnya harga minyak mentah yang akan menekan tingkat inflasi dalam jangka menengah.
Open : 1.3198 Pivot 1.3205
R1 : 1.3219 S1 : 1.3180
R2 : 1.3231 S2 : 1.3151
R3 : 1.3272 S3 : 1.3123
EURUSD
Opportunity : Bullish menuju 1.1433 – 1.1464
Euro kembali ditutup menguat pada perdagangan Jumat kemarin. Penguatan mata-uang Euro terjadi disebabkan oleh Fokus pasar pekan lalu tertuju pada rilis indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) inti Amerika Serikat, yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve. Data menunjukkan inflasi inti PCE bulan Mei naik sesuai ekspektasi pasar, baik secara bulanan maupun tahunan. Meski inflasi masih berada pada level tinggi, pelaku pasar justru sedikit mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Penyesuaian tersebut terjadi karena investor menilai tekanan inflasi kemungkinan telah mencapai puncaknya setelah harga minyak dunia turun tajam dalam beberapa hari terakhir. Indeks Dolar AS (DXY) memang turun tipis sekitar 0,1% ke level 101,32 pada akhir perdagangan Jumat. Hari ini EUR masih berpotensi untuk kembali menguat akibat turunnya harga minyak mentah yang dapat meredakan kekhawatiran kenaikan tingkat inflasi secara global.
Open : 1.1387 Pivot : 1.1394
R1 : 1.1415 S1 : 1.1354
R2 : 1.1433 S2 : 1.1324
R3 : 1.1464 S3 : 1.1292
USDCHF
Opportunity : Bullish menuju : 0.8133 – 0.8168
Swiss Franc berhasil menguat terhadap U.S Dollar setelah rilis data Core Personal Consumption Expenditure AS. Data tersebut menunjukkan inflasi inti naik 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan. Angka itu sesuai dengan ekspektasi pasar dan sedikit lebih tinggi dibandingkan April. Meskipun masih berada jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%, hasil tersebut berhasil meredakan kekhawatiran bahwa bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Sinyal meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga membuat Dollar AS melemah setelah sebelumnya mencatat penguatan selama enam hari berturut-turut. Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang mendorong penguatan mata-uang Franc Swiss. CHF masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini seiring meredanya konflik geopolitik dan turunya harga minyak mentah dunia.
Open : 0.8095 Pivot : 0.8088
R1 : 0.8098 S1 : 0.8075
R2 : 0.8111 S2 : 0.8065
R3 : 0.8133 S3. : 0.8035
DXY
Opportunity: Bullish Range 101,300 – 101,600
Pelemahan terbatas mata uang Dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya masih mewarnai pergerakan market. Hal tersebut terlihat pada Indeks Dollar AS (DXY) yang merosot kembali dan ditutup pada level 101,366. Mata uang Greenback jatuh pada penutupan market Jumat lalu setelah laporan inflasi PCE yang secara umum sesuai dengan perkiraan membuat investor sedikit mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed tahun ini. Kerugian Dollar AS paling terasa terhadap Euro dan Franc Swiss. Meskipun demikian, Dollar AS tetap menguat sekitar 0,3% sepanjang pekan lalu, didukung oleh nada kebijakan The Fed yang lebih hawkish di awal bulan. Ketua Fed yang baru, Warsh, menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk mengendalikan inflasi, meredakan kekhawatiran bahwa ia mungkin akan mendapat tekanan dari Presiden AS Trump untuk memangkas suku bunga terlalu dini. Fed juga menaikkan proyeksi inflasi PCE 2026. Inflasi PCE utama meningkat menjadi 4,1% pada bulan Mei, memperkuat pandangan bahwa inflasi tetap sulit ditembus. Pasar saat ini memperkirakan 3x kenaikan suku bunga Fed tahun ini, dengan probabilitas kenaikan pertama pada bulan September sekitar 62%.
Pivot : 101,327
R1 : 101,609 S1 : 101,084
R2 : 101,852 S2 : 100,802
R3 : 102,134 S3 : 100,559

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bearish ke area 60,115
Indeks Nikkei 225 melemah sebesar 1,3% hingga jatuh di bawah level 68.500, sementara indeks Topix yang lebih luas turut tergerus 0,5% ke posisi 3.944 pada hari Senin — menandai sesi pelemahan beruntun kedua secara berturut-turut di tengah kekhawatiran investor atas perkembangan situasi terkini di Timur Tengah. Harga minyak mentah ikut melonjak seiring memanasnya kembali bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz, meskipun kedua belah pihak telah menyepakati penghentian serangan lebih lanjut menjelang perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung pekan ini di Doha, Qatar.
Dari sisi domestik, data terbaru menunjukkan bahwa penjualan ritel Jepang tumbuh sebesar 5,3% pada bulan Mei — merupakan laju pertumbuhan tertinggi sejak November 2023 — yang sebagian besar ditopang oleh paket stimulus pemerintah yang berhasil mendorong daya beli masyarakat.
Di sisi sektoral, saham-saham teknologi mencatat penurunan paling tajam di tengah kekhawatiran yang kian menguat mengenai keberlanjutan reli pasar yang selama ini ditopang oleh euforia kecerdasan buatan. Sejumlah emiten teknologi terkemuka membukukan koreksi signifikan, di antaranya Kioxia yang anjlok 8,8%, SoftBank Group melemah 5,2%, Fujikura terkoreksi 7,7%, Advantest turun 5,7%, serta Ibiden yang merosot 7,5%.
Pivot : 62,026
R1 : 63,068 S1 : 60,773
R2 : 64,321 S2 : 59,731
R3 : 66,616 S3 : 57,436
HANGSENG
Opportunity: Menguji support ke area: 25,434
Indeks Hang Seng turun 335 poin, atau 1,4%, dan ditutup pada 23.077 pada hari Kamis, mundur dari kenaikan pada sesi sebelumnya dan menyentuh level terendah sejak Mei 2025, karena investor tetap berhati-hati menjelang data neraca perdagangan Hong Kong. Meskipun demikian, kerugian sebagian diredam oleh penguatan saham teknologi setelah Micron Technology mengeluarkan perkiraan yang lebih kuat dari yang diharapkan dan menyoroti permintaan chip memori yang kuat didorong oleh AI, yang meningkatkan sentimen di seluruh sektor semikonduktor. Sementara itu, harga minyak yang lebih rendah, didorong oleh tanda-tanda peningkatan pasokan dan kemajuan dalam negosiasi perdamaian AS-Iran, membantu meredakan kekhawatiran inflasi. Investor juga memantau arus masuk yang kuat dari Tiongkok daratan, yang telah mendukung ekuitas Hong Kong di tengah kebangkitan aktivitas IPO. Saham yang mengalami penurunan signifikan antara lain Tencent (-1,7%), Meituan (-2,4%), Xiaomi (-2,9%), Sunny Optical Technology (-11,7%), dan Trip.com (-10,9%).
Pivot : 25,870
R1 : 26,094 S1 : 25,448
R2 : 26,516 S2 : 25,224
R3 : 27,162 S3 : 24,578
NASDAQ
Opportunity:Sell Limit: 29,737| SL: 29,840 | TP: 28,500
Pasar saham berjangka Amerika Serikat menguat pada hari Senin, didorong oleh laporan yang menyebutkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan saling serang sebelum perundingan damai kembali digelar di Doha dalam pekan ini. Ketegangan antara kedua negara tersebut telah meningkat secara signifikan sejak Kamis lalu, ketika Iran melancarkan serangan terhadap sebuah kapal kontainer, sebuah kapal tanker pengangkut minyak milik Qatar, serta sejumlah pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain — yang kemudian memantik serangkaian serangan balasan dari pihak Amerika Serikat.
Di sisi lain, bursa Wall Street baru saja menyelesaikan sepekan perdagangan yang berakhir dengan pergerakan bervariasi di antara indeks-indeks utamanya. Para investor tercatat melakukan rotasi dari saham-saham sektor teknologi menuju sektor-sektor lain yang dinilai lebih defensif. Indeks S&P 500 membukukan penurunan sebesar 1,95%, sementara Nasdaq Composite mengalami koreksi yang lebih dalam dengan pelemahan mencapai 4,6%. Berbeda halnya dengan Dow Jones Industrial Average yang justru berhasil membukukan kenaikan sebesar 0,6% sepanjang pekan tersebut.
Tekanan terbesar dirasakan oleh kelompok saham teknologi berkapitalisasi jumbo. Nvidia dan Alphabet masing-masing mencatat penurunan lebih dari 8%, sementara Apple, Amazon, dan Meta turut terkoreksi lebih dari 4%. Nasib serupa dialami oleh SpaceX, yang sahamnya ambles hingga 17% — menghapus hampir seluruh reli yang telah ditorehkan sejak perusahaan tersebut resmi melantai di pasar saham pada 12 Juni lalu.
Pivot : 29,057.92
R1 : 29,889.08 S1 : 28,291.17
R2 : 30,676.17 S2 : 27,439.67
R3 : 32,294.42 S3 : 25,821.42

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Meski rebound, harga masih tertahan di resistance SMA 50, di kisaran 4.140. Tren tetap bearish selama resistance bertahan, testing support 4.024.
Harga emas melemah ke kisaran US$4.050 per ounce pada perdagangan Senin, mengakhiri penguatan yang terjadi selama dua sesi sebelumnya. Koreksi ini dipicu oleh meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah setelah saling serang antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz, yang mendorong kenaikan harga minyak dan kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Eskalasi konflik berlangsung sejak Kamis ketika Iran melancarkan serangan terhadap sebuah kapal kontainer, kapal pengangkut minyak Qatar, serta pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain. Sebagai respons, Amerika Serikat melakukan beberapa serangan balasan. Meskipun demikian, kedua negara kemudian sepakat untuk menghentikan sementara aksi militer menjelang dimulainya kembali perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung pekan ini di Doha, Qatar.
Dari sisi fundamental ekonomi, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan hasil yang secara umum sesuai dengan ekspektasi pasar. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada tahun ini. Fokus investor kini beralih pada rilis data ketenagakerjaan bulanan Amerika Serikat serta indeks ISM Manufacturing PMI yang akan menjadi petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed dan prospek pergerakan harga emas dalam jangka pendek.
Pivot : 4.024
R1 4.140 R2 4.199 4.265
S1 3.4024 S2 3.959 S3 3.886
Oil
Opportunity : Bearish selama di bawah resistance 72,80, testing kembali support di 68,86
Harga minyak mentah menguat ke kisaran US$70 per barel pada perdagangan Senin, pulih secara moderat dari level terendah dalam empat bulan terakhir. Penguatan ini didorong oleh kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut.
Rangkaian konflik dimulai pada Kamis ketika Iran menyerang sebuah kapal kontainer, yang kemudian dibalas oleh serangan Amerika Serikat pada hari berikutnya. Ketegangan kembali meningkat pada Sabtu setelah Iran menyerang kapal yang mengangkut minyak Qatar, sehingga mendorong Amerika Serikat melancarkan serangan balasan. Meski demikian, kedua negara telah menyepakati penghentian sementara aksi militer menjelang perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung di Doha pada pekan ini. Laporan Axios juga menyebutkan bahwa pejabat Amerika Serikat dan Iran akan bertemu untuk membahas situasi di Selat Hormuz serta berbagai isu lain yang bertujuan mengakhiri konflik.
Di tengah meredanya ketegangan, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan peningkatan setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara kedua negara. Namun demikian, pelaku industri pelayaran masih bersikap hati-hati karena ratusan kapal dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk Persia. Kondisi tersebut membuat pasar minyak tetap mewaspadai potensi gangguan distribusi energi, sehingga pergerakan harga diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan hasil perundingan yang berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Pivot: 72,80
R1 72,80 S1 68,86
R2 75,15 S2 65,79
R3 78,08 S3 63,57
DAILY ECONOMIC DATA

WEBINAR HARI INI (Senin, 29 Juni 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
The Fed Semakin Hawkish, Bagaimana Prospek Pasar di Awal Pekan?
Catat jam dan waktunya ya!
| Senin, 29 Juni 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
