Market Review
Weekly Review dan Outlook 20–24 Juli 2026 diawali dengan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global akibat kombinasi faktor geopolitik, data ekonomi, dan ekspektasi kebijakan bank sentral. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia, sementara investor juga mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian menjelang pertemuan Federal Reserve akhir bulan ini. Di sisi lain, dimulainya musim laporan keuangan kuartal kedua turut memengaruhi pergerakan pasar saham global, khususnya sektor teknologi.
Dolar AS Menguat Didukung Data Ekonomi
Dolar AS berhasil menguat terhadap mayoritas mata uang utama setelah sebelumnya sempat tertekan oleh data inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi. Penguatan tersebut didorong oleh membaiknya data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan ketahanan aktivitas domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Data terbaru menunjukkan klaim tunjangan pengangguran turun dibandingkan pekan sebelumnya, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi yang solid. Sementara itu, penjualan ritel pada Juni mencatatkan kenaikan meski pertumbuhannya relatif terbatas akibat turunnya harga bahan bakar yang menekan nilai penjualan di stasiun pengisian bensin.
Ketahanan ekonomi tersebut membuat investor kembali menempatkan dolar AS sebagai aset safe haven. Amerika Serikat juga dinilai lebih tahan terhadap gejolak harga energi dibandingkan negara maju lainnya. Kondisi tersebut membuat arus modal kembali mengalir ke aset berbasis dolar ketika risiko geopolitik meningkat.
Sebelumnya, data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) yang lebih rendah dari perkiraan sempat menekan dolar AS. Namun, data ekonomi yang tetap solid serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kembali menopang penguatan mata uang tersebut.
Di sisi lain, peluang Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli semakin mengecil. Berdasarkan Fed Funds Futures CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli hanya sekitar 10%. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di kisaran 48%.
Harga Minyak Melonjak Akibat Konflik AS-Iran
Pasar energi menjadi sorotan utama sepanjang pekan setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak global dan mendorong investor memburu kontrak minyak mentah.
Pada perdagangan Kamis, harga minyak sempat terkoreksi sekitar 0,8% ke level US$84,29 per barel. Namun tekanan jual tidak berlangsung lama karena kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak kembali mendominasi sentimen pasar.
Iran menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat telah menyasar sejumlah infrastruktur penting, termasuk jembatan dan fasilitas strategis lainnya. Di sisi lain, berbagai laporan menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan langkah militer lanjutan sebagai respons terhadap perkembangan konflik tersebut.
Situasi semakin memanas setelah Teheran meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia sehingga potensi gangguan distribusi minyak langsung mendorong kenaikan harga.
Pada akhir pekan, harga minyak Brent ditutup naik 4,6% ke level US$88,13 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,5% menjadi US$82,47 per barel. Secara mingguan, Brent melonjak sekitar 16%, sementara WTI naik sekitar 15,5%, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak April dan mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik di pasar energi.
Harga Emas Tertekan oleh Lonjakan Harga Energi
Berbeda dengan pola yang biasanya terjadi saat ketegangan geopolitik meningkat, harga emas justru mencatat pelemahan sepanjang pekan. Investor menilai lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat sehingga ruang bagi bank sentral untuk segera melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Harga emas spot memang sempat menguat pada perdagangan Jumat dan ditutup di kisaran US$4.017,23 per troy ounce. Namun secara mingguan, logam mulia tersebut masih terkoreksi sekitar 2,5%, menjadi penurunan terbesar dalam lebih dari satu bulan. Sementara itu, kontrak berjangka emas juga turun sekitar 2,2% sepanjang pekan.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap inflasi kembali menjadi perhatian utama pasar meskipun tekanan harga konsumen di Amerika Serikat sebelumnya mulai menunjukkan perlambatan.
ECB Jadi Sorotan, Euro Melemah
Di kawasan Eropa, perhatian investor mulai beralih menuju pertemuan European Central Bank (ECB) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Euro melemah terhadap dolar AS setelah harga gas alam Eropa naik ke level tertinggi sejak Maret, memicu kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat membebani pertumbuhan ekonomi kawasan euro.
Meski pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli, ekspektasi terhadap sikap hawkish masih cukup tinggi. Sebagian pelaku pasar bahkan masih melihat peluang adanya kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun apabila tekanan inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi.
Perkembangan tersebut membuat investor akan lebih memperhatikan panduan kebijakan yang akan disampaikan Presiden ECB Christine Lagarde, terutama mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan moneter beberapa bulan ke depan.
Wall Street Tertekan oleh Aksi Jual Saham Teknologi
Pasar saham Amerika Serikat mengakhiri pekan di zona negatif seiring meningkatnya aksi jual pada saham-saham teknologi dan memburuknya sentimen risiko akibat konflik geopolitik.
Indeks Dow Jones turun sekitar 0,8%, S&P 500 melemah sekitar 1%, sedangkan Nasdaq terkoreksi sekitar 1,4% pada perdagangan Jumat. Secara mingguan, Nasdaq mencatat penurunan hampir 3%, menjadi indeks dengan performa terburuk di antara indeks utama Wall Street.
Tekanan terbesar berasal dari sektor semikonduktor setelah muncul kekhawatiran bahwa perusahaan hyperscaler akan mengurangi belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran tersebut semakin meningkat setelah perusahaan AI asal China meluncurkan model terbaru yang dinilai mampu meningkatkan persaingan di industri AI global.
Saham Nvidia, Broadcom, AMD, dan Intel sama-sama ditutup melemah. Di sisi lain, Netflix anjlok lebih dari 7% setelah perusahaan memberikan proyeksi perlambatan pertumbuhan pendapatan pada kuartal berikutnya. Sentimen negatif tersebut membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang pekan yang dipenuhi agenda ekonomi dan laporan keuangan penting.
WEEK AHEAD
(20 – 24 Juli 2026)
Pekan depan perhatian investor masih akan tertuju pada perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memengaruhi harga energi dan ekspektasi kebijakan bank sentral. Di saat yang sama, musim laporan keuangan kuartal kedua akan semakin ramai dengan rilis kinerja sejumlah perusahaan teknologi dan industri besar. Kombinasi faktor geopolitik, data ekonomi, serta laporan keuangan diperkirakan akan menjadi penggerak utama pasar global sepanjang pekan.
Amerika
Di Amerika Serikat, perhatian investor akan terbagi antara musim laporan keuangan dan sejumlah data ekonomi penting. Sejumlah perusahaan besar seperti Alphabet, Tesla, Intel, IBM, General Motors, Honeywell, GE Vernova, American Express, Exxon Mobil, Verizon, hingga Lockheed Martin dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal kedua. Laporan tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai apakah pertumbuhan sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) masih mampu berlanjut.
Selain musim laporan keuangan, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi. Agenda yang akan dirilis meliputi S&P Global PMI, Conference Board Leading Index, Chicago Fed National Activity Index, Kansas City Fed Manufacturing Index, serta data penjualan rumah baru. Meski pejabat Federal Reserve telah memasuki masa tenang menjelang rapat FOMC pada 28–29 Juli, data-data tersebut tetap berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Di Kanada, perhatian akan tertuju pada data inflasi, penjualan ritel, serta harga rumah baru. Sementara itu, Meksiko dijadwalkan merilis data inflasi pertengahan bulan yang akan memberikan gambaran mengenai tekanan harga di kawasan Amerika Utara.
Eropa
Di Eropa, agenda utama pekan depan adalah keputusan kebijakan moneter European Central Bank (ECB). Pasar secara luas memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga setelah kenaikan 25 basis poin pada pertemuan sebelumnya. Namun, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde mengenai prospek inflasi dan kemungkinan langkah kebijakan berikutnya, terutama setelah kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Selain keputusan ECB, pasar juga akan mencermati rilis Flash PMI kawasan euro, Jerman, Prancis, dan Inggris untuk melihat kondisi aktivitas sektor manufaktur dan jasa. Investor juga akan memantau ZEW Economic Sentiment Jerman, GfK Consumer Confidence, data konstruksi Zona Euro, serta kepercayaan konsumen kawasan euro.
Di Inggris, perhatian akan tertuju pada data inflasi, tingkat pengangguran, pertumbuhan upah, dan penjualan ritel yang akan memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi domestik. Sementara itu, Andy Burnham dijadwalkan resmi menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris.
Asia Pasifik
Di kawasan Asia Pasifik, perhatian investor akan tertuju pada keputusan kebijakan People’s Bank of China (PBoC) yang diperkirakan mempertahankan suku bunga Loan Prime Rate tenor satu tahun di level 3,0% dan tenor lima tahun di level 3,5%.
Jepang dijadwalkan merilis data neraca perdagangan serta inflasi nasional yang diperkirakan meningkat. Selain itu, data awal PMI juga akan memberikan gambaran mengenai aktivitas manufaktur dan jasa di negara tersebut.
Australia akan merilis data ketenagakerjaan yang diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 15 ribu lapangan kerja dengan tingkat pengangguran yang relatif stabil. Sementara itu, India juga akan mengumumkan data awal PMI sektor manufaktur dan jasa.
Data Mingguan Perdagangan Emas (13 – 17 Juli 2026)
Open : 4.095,41 High : 4.104,73 Low : 3.959,57 Close : 4.010,76 Range : 145,16
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 3.945 | R1 4.090 |
| S2 3.880 | R2 4.170 |
| S3 3.800 | R3 4.236 |
Gold Outlook : Bearish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (13 – 17 Juli 2026)
Open : 73,59 High : 82,00 Low : 72,56 Close : 81,67 Range : 9,44
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 75,49 | R1 84,93 |
| S2 69,30 | R2 88,18 |
| S3 66,05 | R3 94,37 |
Oil Outlook : Bullish
Baca juga: Weekly Review dan Outlook 13 – 17 Juli 2026
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
