Weekly Review dan Outlook pekan ini dibuka dengan kejutan besar dari pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Data payroll Juli turun tajam dan langsung mengguncang ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Dolar AS pun melemah terhadap yen dan euro pada perdagangan Jumat, sementara emas melesat ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Dolar AS Tertekan Usai Data Payroll Juli Mengecewakan
Ekonomi AS kehilangan 23.000 lapangan kerja pada Juli. Angka ini jauh meleset dari ekspektasi ekonom yang memperkirakan penambahan 80.000 hingga 85.000 pekerjaan menurut jajak pendapat Reuters. Tingkat pengangguran justru turun ke 4,1%, tetapi penurunan ini terjadi karena tingkat partisipasi angkatan kerja anjlok ke 61,4%, level terendah dalam hampir lima setengah tahun.
Data Mei dan Juni juga direvisi turun sebesar total 103.000 pekerjaan. Penurunan payroll banyak didorong oleh hilangnya hampir 50.000 pekerjaan di sektor pendidikan pemerintah daerah. Kondisi ini membuat pasar langsung memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga bulan September.
Peluang The Fed menahan suku bunga pada September naik menjadi 56%, dari 45% sehari sebelumnya, menurut CME FedWatch. Seorang strategist FX dan rates global di Macquarie Group menilai pasar mungkin sudah menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga ke Oktober atau Desember. Ia menambahkan bahwa data yang menunjukkan pelemahan ekonomi AS atau pasar tenaga kerja yang tidak sekuat perkiraan biasanya mendorong pasar menunda proyeksi kenaikan suku bunga The Fed.
Yen dan Euro Menguat, Yield Obligasi AS Turun
Dolar melemah 0,57% terhadap yen ke level 157,56, meski masih mencatat penguatan mingguan sekitar 0,10% setelah intervensi bersejarah otoritas Jepang dan AS pekan sebelumnya. Euro naik 0,39% ke $1,1568 dan mencatat kenaikan mingguan 0,41% terhadap dolar.
Indeks dolar turun 0,44% ke 99,50 dan mencatat pelemahan mingguan 0,31%, penurunan mingguan kedua secara beruntun. Yield obligasi Treasury AS ikut turun tajam. Yield obligasi 2 tahun turun 4,2 basis poin ke 4,245%, sementara yield obligasi 10 tahun turun 2 basis poin ke 4,649%.
Emas Melonjak, Wall Street Cetak Rekor
Emas spot naik 2,55% ke $4.347,29 per ons dan mencetak kinerja mingguan terbaik sejak akhir Januari. Kombinasi pelemahan dolar, penurunan harga minyak, dan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mendorong reli emas ini. Kontrak berjangka emas juga naik 2,4% ke $4.402,67 per ons, dan kedua kontrak mencatat kenaikan mingguan lebih dari 7%.
Wall Street ikut merespons positif. S&P 500 naik 0,6% dan menutup perdagangan di rekor 7.758 poin. Nasdaq melonjak 1,3%, sedangkan Dow Jones bertambah 152 poin. Saham-saham sensitif terhadap suku bunga mendapat dukungan dari penurunan yield obligasi. SpaceX melompat 15,8% setelah Argus Research menaikkan rekomendasi menjadi “Buy” karena imbal hasil cepat dari investasi infrastruktur AI perusahaan. Palantir naik 10,3% setelah hasil kuartal kedua yang kuat dan proyeksi 2026 yang lebih tinggi. Sebaliknya, Sandisk turun 3,7% dan Western Digital turun 3,8%, sementara Berkshire Hathaway melemah menjelang laporan labanya.
Harga Minyak Turun di Tengah Negosiasi Selat Hormuz
Harga minyak bergerak fluktuatif pada Jumat, tetapi tetap menuju penurunan mingguan yang tajam. Optimisme di awal pekan soal kemungkinan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz mendorong harga turun lebih dulu. Kesepakatan itu ternyata belum terwujud hingga akhir pekan, sehingga sebagian kerugian sempat terkoreksi.
Brent crude turun 0,2% ke $82,29 per barel, sedangkan WTI turun 0,2% ke $77,14 per barel. Untuk sepekan penuh, Brent merosot 8,5% dan WTI melemah 8,7%.
WEEK AHEAD
(10 – 14 Agustus 2026)
Outlook Pekan Depan: Fokus ke Inflasi AS
Weekly Review dan Outlook untuk pekan 10–14 Agustus 2026 akan banyak dipengaruhi oleh negosiasi Iran, AS, dan negara-negara GCC soal akses Selat Hormuz. Negosiasi ini akan terus menentukan arah harga energi dan ekspektasi suku bunga global.
Amerika
Sektor teknologi dan AI juga akan menjadi sorotan lewat laporan laba Applied Materials, Cisco, dan CoreWeave, di tengah volatilitas tinggi pada tema perdagangan AI. Di AS, data inflasi Juli menjadi perhatian utama karena The Fed dan pelaku pasar masih terbelah soal arah suku bunga bulan depan.
CPI AS diperkirakan naik 0,1% bulanan, setelah turun 0,4% pada Juni, sedangkan inflasi inti diperkirakan naik 0,2% setelah stagnan bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi headline diperkirakan melambat ke 3,4% dan inflasi inti ke 2,5%, tanda bahwa tekanan harga akibat konflik Iran mulai mereda. PPI diperkirakan naik 0,1%, sementara PPI inti diperkirakan naik 0,2%, sejalan dengan capaian Juni.
Penjualan ritel diperkirakan naik 0,2%, sejalan dengan kenaikan Juni, sementara Indeks Sentimen Konsumen Michigan versi awal diperkirakan sedikit melemah. Penjualan rumah bekas diperkirakan turun ke 4,07 juta unit, dan Indeks Optimisme Bisnis Kecil NFIB juga diperkirakan melemah tipis. Data belanja modal bisnis dan laporan anggaran bulanan pemerintah AS turut dirilis pekan ini.
Eropa
Weekly Review dan Outlook kawasan Eropa turut disorot oleh performa ekonomi Inggris pada kuartal kedua. Ekonomi Inggris diperkirakan tumbuh 0,4% secara kuartalan pada Q2 2026, melambat dari 0,6% pada Q1. Secara bulanan, GDP Inggris pada Juni diperkirakan justru turun 0,1%, penurunan kedua dalam tiga bulan terakhir. Output manufaktur juga diperkirakan turun untuk pertama kalinya dalam empat bulan.
Penjualan ritel Inggris diperkirakan tumbuh 1,5% secara tahunan pada Juli, melambat dari 1,7% pada Juni, menurut data British Retail Consortium. Di kawasan Euro, produksi industri diperkirakan kembali tumbuh setelah mencatat kenaikan pada empat dari lima bulan terakhir. Estimasi kedua GDP Q2, data ketenagakerjaan, dan neraca perdagangan Eurozone juga akan dirilis pekan ini.
Jerman akan merilis data harga grosir, sementara Swiss dan Rusia akan mengumumkan angka GDP masing-masing. Data inflasi Juli versi final untuk negara-negara ekonomi besar Eropa turut dinantikan. Norges Bank dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga, bersamaan dengan bank sentral Rumania dan Serbia. Di sisi korporasi, E.ON dan RWE dari Jerman akan melaporkan kinerja keuangan mereka.
Asia Pasifik
Sorotan utama di kawasan Asia Pasifik pekan ini adalah data inflasi China bulan Juli. Inflasi konsumen China diperkirakan naik 0,8% secara tahunan, melambat dari 1% pada Juni, sementara inflasi produsen diperkirakan melambat ke 3,8% dari 4,1%. Pinjaman yuan baru diperkirakan hanya naik CNY 45 miliar, jauh di bawah lonjakan CNY 1,61 triliun pada Juni. Data neraca berjalan China juga akan dirilis pekan ini.
Di Jepang, pasar akan mencermati Summary of Opinions dari rapat BOJ bulan Juli, saat bank sentral mempertahankan suku bunga acuan di 1%. Sejumlah indikator ekonomi Jepang turut dirilis, termasuk PPI yang diperkirakan naik lebih cepat sebesar 0,6%, surplus neraca berjalan yang diperkirakan hampir separuh dari periode sebelumnya, serta data pinjaman bank, survei Reuters Tankan, dan pesanan mesin perkakas.
Di Australia, Reserve Bank of Australia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di 4,35% setelah inflasi kuartal kedua menunjukkan tanda moderasi. Investor juga akan memantau data kepercayaan bisnis dan data kredit perumahan Australia pekan ini.
Data Mingguan Perdagangan Emas (03 – 07 Agustus 2026)
Open : 4.073,76 High : 4.371,85 Low : 4.018,94 Close : 4.337,60 Range : 352,91
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.114 | R1 4.467 |
| S2 3.890 | R2 4.596 |
| S3 3.761 | R3 4.820 |
Gold Outlook : Bullish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (03 – 07 Agustus 2026)
Open : 79,22 High : 82,26 Low : 74,16 Close : 76,99 Range : 8,10
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 73,35 | R1 81,45 |
| S2 69,70 | R2 85,90 |
| S3 65,25 | R3 89,55 |
Oil Outlook : Bearish
Baca juga: Weekly Review dan Outlook 3–7 Agustus 2026
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
