Saham Global Melemah Akibat Ketegangan Timur Tengah
Perang Iran kembali mengguncang pasar keuangan global pada Kamis setelah serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk Persia memupus harapan de-eskalasi cepat. Lonjakan harga energi langsung menekan sentimen investor dan memicu kekhawatiran inflasi baru.
Indeks saham utama di Wall Street turun tajam. Dow Jones dan S&P 500 masing-masing melemah sekitar 1,5%, sementara Nasdaq jatuh 1,8%. Di Eropa, indeks STOXX 600 turun 0,6% dan indeks MSCI All-World merosot 1,5%.
Tekanan terutama datang dari kenaikan harga minyak serta kekhawatiran terhadap pasar kredit swasta yang bernilai triliunan dolar.
Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi
Minyak mentah Brent ditutup di $100,46 per barel, melonjak lebih dari 9% dan mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022. Minyak WTI AS juga naik hampir 10% ke $95,70.
Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Pasar meragukan apakah pelepasan cadangan strategis cukup untuk menahan dampaknya. Komentar dari Morgan Stanley menyebut volatilitas saham akibat geopolitik biasanya bersifat sementara. Namun harga minyak tinggi yang bertahan lama dapat membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama.
Ancaman Iran Picu Risiko Pasokan Energi
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyatakan negaranya akan membalas serangan, menutup Selat Hormuz, dan menargetkan pangkalan militer AS. Pernyataan ini menandakan potensi eskalasi serius.
Pejabat Irak melaporkan kapal tanker bahan bakar diserang perahu bermuatan bahan peledak di perairan Irak. Operasi pelabuhan minyak Irak bahkan disebut terhenti total.
Iran sebelumnya meningkatkan serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Setidaknya 16 kapal telah terdampak sejak konflik dimulai. Teheran memperingatkan harga minyak bisa mencapai $200 per barel, meski Menteri Energi AS Chris Wright menilai skenario tersebut kecil kemungkinan terjadi.
Inflasi dan Suku Bunga Jadi Kekhawatiran Baru
Data terbaru menunjukkan inflasi AS naik 0,3% pada Februari, sesuai perkiraan. Namun pasar menilai dampak konflik jauh lebih besar terhadap tekanan harga.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik karena kekhawatiran inflasi mengalahkan permintaan aset aman. Yield obligasi 10 tahun naik ke 4,261%, sementara yield 2 tahun mencapai level tertinggi enam bulan.
Ekonom memperkirakan Federal Reserve baru akan memangkas suku bunga pada Juni, dengan kemungkinan penurunan yang terbatas sepanjang tahun ini.
Dolar Menguat di Tengah Ketidakpastian
Investor global beralih ke dolar AS sebagai aset likuid dan relatif aman, sementara mata uang negara pengimpor energi tertekan.
Euro turun ke $1,1515 dan yen melemah ke sekitar 159 per dolar. Indeks dolar naik lebih dari 1,5% dan mendekati level tertinggi sejak November, didukung status AS sebagai eksportir energi bersih.
Harga emas justru turun sekitar 1,7% ke $5.088 per ounce, mencerminkan dominasi penguatan dolar dalam jangka pendek.
Prospek Harga Emas Jumat | 13 Maret 2026
Pergerakan emas pada grafik H4 masih berada dalam tekanan setelah gagal mempertahankan area di atas SMA 50 (garis biru), yang kini berfungsi sebagai resistance dinamis. Harga juga menembus support minor dan membentuk lower high, mengindikasikan momentum bearish mulai dominan.
Selama harga tetap di bawah area 5.149–5.192, potensi penurunan masih terbuka untuk menguji support kuat di 5.050 hingga 5.014, bahkan berlanjut ke 4.961 jika tekanan jual meningkat. RSI yang berada di bawah level 50 turut mengonfirmasi melemahnya momentum bullish dan mendukung skenario koreksi lanjutan dalam jangka pendek.
GOLD INTRADAY AREA
R1 5.149 R2 5.192 R3 5.239
S1 5.050 S2 5.014 S3 4.961
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 5.052 |
| Profit Target Level | 5.100 |
| Stop Loss Level | 5.010 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 5.149 |
| Profit Target Level | 5.070 |
| Stop Loss Level | 5.192 |
Prospek Harga US Oil Jumat | 13 Maret 2025
Pergerakan US Oil pada grafik H4 menunjukkan pemulihan setelah koreksi tajam dari puncak sebelumnya, dengan harga kembali bergerak di atas SMA 50 yang mengindikasikan tren naik jangka pendek mulai terbentuk. Harga juga telah menembus resistance 89,81 dan kini bergerak mendekati 92,50 yang berpotensi menjadi support baru, sehingga peluang kenaikan masih terbuka menuju resistance berikutnya di 99,99 selama harga bertahan di atas area 89,81.
RSI yang berada di sekitar level 60 turut mendukung momentum bullish yang cukup solid, namun belum menunjukkan kondisi jenuh beli, sehingga ruang penguatan masih tersedia dalam waktu dekat.
US Oil INTRADAY AREA
R1 99,99 R2 104,73 R3 108,00
S1 92,50 S2 89,81 S3 86,11
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 92,50 |
| Profit Target Level | 99,00 |
| Stop Loss Level | 89,80 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 99,99 |
| Profit Target Level | 93,00 |
| Stop Loss Level | 104,75 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
