Konflik Timur Tengah Dorong Penguatan Dolar
Konflik Timur Tengah kembali menjadi perhatian utama pasar global pada akhir pekan. Ketegangan geopolitik tersebut mendorong investor mencari aset safe haven seperti dolar AS dan menekan mata uang yang sensitif terhadap harga energi.
Dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama dan mencatat potensi kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Penguatan ini terjadi ketika investor global mengurangi eksposur lintas negara dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan menyerang Iran “dengan sangat keras dalam minggu depan”. Pernyataan itu muncul setelah Washington memberikan pengecualian terbatas selama 30 hari untuk pembelian minyak Rusia yang sebelumnya terkena sanksi.
Euro Tertekan Risiko Lonjakan Energi
Dampak konflik Timur Tengah paling terasa pada mata uang negara pengimpor energi. Euro melemah sekitar 0,6% ke level 1,1439 dolar pada akhir perdagangan.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang naik sekitar 0,7% ke level 100,35. Sepanjang pekan, indeks tersebut menguat sekitar 1,5%.
Lonjakan harga minyak menjadi ancaman serius bagi ekonomi kawasan euro dan Jepang. Kedua wilayah ini sangat bergantung pada impor energi. Sebaliknya, Amerika Serikat relatif lebih terlindungi karena telah menjadi eksportir bersih minyak mentah selama hampir satu dekade.
Rabobank menurunkan proyeksi EUR/USD jangka pendek. Bank tersebut memperkirakan pasangan mata uang itu berada di sekitar 1,14 dalam satu bulan dan 1,15 dalam tiga bulan, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya di 1,16.
Inflasi AS Hambat Peluang Penurunan Suku Bunga
Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan belanja konsumen Amerika Serikat naik sedikit lebih tinggi dari perkiraan pada Januari. Data ini menegaskan bahwa tekanan inflasi masih bertahan.
Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve tidak akan segera memangkas suku bunga. Beberapa ekonom bahkan menilai bank sentral AS bisa mulai membahas kemungkinan kenaikan suku bunga kembali jika tekanan inflasi meningkat.
Lonjakan harga energi yang dipicu konflik Timur Tengah berpotensi memperburuk tantangan tersebut. Harga minyak yang tinggi dapat menjaga inflasi tetap kuat dan memperumit upaya stabilisasi harga.
Yen Melemah, Jepang Siap Bertindak
Dolar juga menguat tajam terhadap yen Jepang. Nilai tukar sempat mencapai sekitar 159,67 yen per dolar, level tertinggi sejak Juli 2024.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan untuk merespons pergerakan yen yang berdampak pada kehidupan masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa Tokyo terus berkomunikasi dengan otoritas Amerika Serikat terkait perkembangan di pasar valuta asing.
Pelemahan yen memperbesar biaya impor energi Jepang yang sudah tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi bahwa pemerintah Jepang dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Harga Minyak Melonjak karena Blokade Selat Hormuz
Di pasar komoditas, harga minyak WTI naik lebih dari 2% mendekati 98 dolar per barel. Lonjakan ini terjadi setelah blokade Selat Hormuz mengganggu sekitar 20% arus energi global.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan gelombang serangan terbesar terhadap target Iran. Eskalasi tersebut mengganggu lalu lintas kapal komersial di kawasan Teluk.
Beberapa produsen minyak di kawasan tersebut juga mulai membatasi produksi karena kapasitas penyimpanan hampir penuh. Kondisi ini memperketat pasokan energi global dan memaksa pembeli mencari alternatif pasokan di luar kawasan Teluk.
Emas Turun Meski Risiko Geopolitik Tinggi
Harga emas justru melemah dan turun di bawah 5.050 dolar per ons. Biasanya logam mulia menguat saat ketegangan geopolitik meningkat.
Namun penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat investor beralih ke aset yang memberikan imbal hasil.
Lonjakan harga minyak di atas 100 dolar per barel juga meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Situasi ini membuat sebagian pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga pada 2026.
Pasar Saham AS Ikut Tertekan
Pasar saham Amerika Serikat juga bergerak melemah di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik Timur Tengah. Indeks S&P 500 turun sekitar 0,6%, sementara Dow Jones melemah 0,3% dan Nasdaq 100 turun sekitar 0,7%.
Tekanan terjadi ketika investor menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan volatilitas pasar energi. Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memaksa pelaku pasar menyesuaikan kembali ekspektasi suku bunga untuk 2026.
Pada saat yang sama, data ekonomi menunjukkan pertumbuhan GDP Amerika Serikat pada kuartal IV lebih lemah dari perkiraan. Namun imbal hasil obligasi tetap naik karena pasar menilai lonjakan harga energi dapat memperpanjang tekanan inflasi.
Kenaikan yield tersebut menekan sektor yang sensitif terhadap kredit. Saham teknologi memimpin pelemahan, dengan Adobe anjlok setelah panduan bisnis yang mengecewakan serta pengumuman pergantian CEO. Saham Meta, Palantir, dan Oracle juga turun antara sekitar 1,7% hingga 3,8%.
Prospek Harga Emas Senin | 16 Maret 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat berada dalam tekanan setelah menembus beberapa level support penting. Setelah sebelumnya bergerak sideways di bawah area 5.192 dan 5.122, harga akhirnya turun menembus support 5.061 dan melanjutkan penurunan hingga mendekati area 4.961. Pergerakan ini juga diiringi oleh posisi harga yang berada di bawah SMA 50, sehingga mengindikasikan momentum bearish yang masih cukup kuat.
Selama harga tetap bertahan di bawah area 5.061, tekanan penurunan masih berpotensi berlanjut untuk menguji support berikutnya di sekitar 4.906. Jika level tersebut ditembus, maka pelemahan dapat berlanjut menuju area support selanjutnya di kisaran 4.842. Sementara itu, indikator RSI yang berada di sekitar level 32 menunjukkan momentum bearish masih dominan meskipun mulai mendekati area oversold.
GOLD INTRADAY AREA
R1 5.061 R2 5.122 R3 5.192
S1 4.961 S2 4.906 S3 4.842
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.961 |
| Profit Target Level | 5.050 |
| Stop Loss Level | 4.905 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 5.060 |
| Profit Target Level | 4.965 |
| Stop Loss Level | 5.125 |
Prospek Harga US Oil Senin | 16 Maret 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 terlihat melanjutkan kenaikan dengan membentuk gap di kisaran 96,60 hingga area 98,00. Kenaikan ini menunjukkan momentum bullish yang masih cukup kuat, namun pergerakan harga saat ini masih tertahan di area resistance 99,99 yang menjadi level kunci untuk menentukan arah selanjutnya.
Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas resistance 99,99, maka kenaikan berpotensi berlanjut untuk menguji resistance berikutnya di kisaran 104,73 hingga 108,00. Namun jika harga gagal menembus level tersebut dan kembali turun hingga menutup gap dengan bergerak di bawah 96,60, maka US Oil berpotensi mengalami koreksi untuk menguji kembali area support di sekitar 92,50 hingga 89,81.
US Oil INTRADAY AREA
R1 99,99 R2 104,73 R3 108,00
S1 92,50 S2 89,81 S3 86,11
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 92,50 |
| Profit Target Level | 99,00 |
| Stop Loss Level | 89,80 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 99,99 |
| Profit Target Level | 93,00 |
| Stop Loss Level | 104,75 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
