Pasar forex hari ini bergerak relatif tenang sejak awal pekan. Dolar AS bertahan di sekitar 99,00 berdasarkan US Dollar Index (DXY). Pergerakan pasar masih mendapat pengaruh dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, dan peningkatan yield obligasi AS. Investor kini mengalihkan perhatian ke data inflasi Amerika Serikat yang akan keluar pada Kamis dan Jumat.
Dolar AS Menunggu Data Inflasi
DXY berada di 98,82, tidak jauh dari level pembukaan Selasa. Namun, grafik membentuk pola doji yang menunjukkan keraguan pelaku pasar. Investor menunggu data tenaga kerja dan inflasi sebelum menentukan arah berikutnya.
Pada Rabu, pasar akan mencermati rata-rata perubahan tenaga kerja ADP selama empat pekan. Setelah itu, perhatian beralih ke data Producer Price Index (PPI) pada Kamis. Data Consumer Price Index (CPI) pada Jumat menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve.
Kenaikan harga energi menjadi faktor penting bagi prospek inflasi. Jika harga minyak terus meningkat, tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dan membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas.
EUR/USD Menembus 1,1600
EUR/USD akhirnya menembus level 1,1600 seiring pelemahan dolar AS. Pergerakan euro juga mendapat perhatian menjelang pidato Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde.
Pasar mengarahkan perhatian pada pertemuan kebijakan ECB pada 10 September. Pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sepenuhnya dalam harga pasar.
Kondisi tersebut membuat pergerakan EUR/USD tetap sensitif terhadap komentar Lagarde. Jika ECB memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat, euro berpeluang mendapat dorongan tambahan.
GBP/USD Tertekan Setelah Menguat
GBP/USD sempat naik ke 1,3561 sebelum mundur ke sekitar 1,3539. Pergerakan tersebut terjadi setelah sejumlah pejabat Bank of England memberikan pandangan mengenai inflasi dan suku bunga.
Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan perang AS-Iran mendorong harga energi lebih tinggi. Sarah Greene juga mengkhawatirkan harga minyak yang bertahan pada level tinggi.
Alan Taylor mendukung kebijakan suku bunga yang tetap “moderat restriktif”. Sementara itu, Dave Ramsden menilai kondisi inflasi domestik Inggris relatif terkendali.
Kalender ekonomi Inggris relatif sepi hingga 11 September. Data Produk Domestik Bruto (GDP) akan menjadi perhatian utama berikutnya.
USD/JPY Waspadai Intervensi Jepang
USD/JPY kembali melemah setelah muncul dugaan intervensi dari otoritas Jepang. Pasangan mata uang ini sempat turun di bawah 153,00 sebelum kembali menguat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendorong Jepang untuk memperketat kebijakan moneternya. Tekanan terhadap yen juga tetap menjadi perhatian pasar karena pergerakan USD/JPY memiliki hubungan kuat dengan yield Treasury AS bertenor 10 tahun.
USD/JPY masih berpeluang menguji kembali level sebelum intervensi. Namun, arah pasangan ini akan sangat bergantung pada data inflasi AS dan pergerakan yield Treasury. Investor juga menunggu data Machine Tool Orders dari Jepang.
AUD/USD Naik Setelah Komentar RBA
AUD/USD bergerak naik setelah Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Hauser mengatakan bank sentral akan membahas kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Pernyataan tersebut memberikan dukungan bagi dolar Australia. Namun, kalender ekonomi Australia relatif kosong. Data inflasi China dapat menjadi penggerak tambahan karena hubungan perdagangan kedua negara cukup kuat.
Pasar juga menunggu data Consumer Inflation Expectations Australia untuk September. Angka tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan RBA berikutnya.
Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi Enam Pekan
Harga minyak, terutama West Texas Intermediate (WTI), naik ke level tertinggi dalam enam pekan. Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi.
Serangan Houthi terhadap Arab Saudi menambah risiko gangguan pada infrastruktur energi. Sejumlah bank investasi juga mulai memperkirakan konflik dapat berlangsung lebih lama, bahkan hingga 2027.
Kenaikan harga minyak menjadi risiko bagi inflasi global. Jika harga energi terus bertahan tinggi, bank sentral dapat menghadapi tekanan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Harga Emas Tertekan Menjelang CPI AS
Harga emas bergerak turun dan kembali berada di bawah $4.400 per troy ounce. Investor memilih berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat.
Emas memang berfungsi sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan inflasi yang mendorong suku bunga lebih tinggi justru menjadi tekanan bagi bullion. Yield obligasi yang meningkat membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik.
Karena itu, emas berpotensi bergerak dalam rentang yang relatif familiar hingga pasar mendapatkan petunjuk baru dari laporan inflasi AS pada Jumat.
Wall Street Tertekan Kenaikan Harga Energi
Pasar saham AS berakhir melemah pada Selasa. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap margin perusahaan sekaligus memperbesar risiko suku bunga tetap tinggi.
S&P 500 turun 0,6%, Nasdaq melemah 0,3%, sedangkan Dow Jones kehilangan 628 poin. Ketegangan baru antara AS dan Iran menambah kekhawatiran terhadap gangguan ekspor bahan bakar dari kawasan Teluk Persia.
Serangan Houthi juga merusak infrastruktur energi Arab Saudi dan mengurangi kapasitas produksinya. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kenaikan biaya bagi perusahaan dan konsumen.
Kenaikan biaya pinjaman juga menekan saham yang sensitif terhadap suku bunga. Microsoft turun 1,1%, Palantir melemah 2,3%, dan Amazon kehilangan 0,6%. Amazon juga menjadi perhatian menjelang penawaran obligasi berdenominasi sterling.
Perusahaan AI semakin banyak menggunakan pembiayaan dalam mata uang asing. Pada saat yang sama, pasar obligasi dolar menghadapi peningkatan pasokan utang terkait sektor AI.
Oracle justru bergerak berlawanan dengan pasar. Sahamnya naik 2,4% menjelang laporan kinerja perusahaan pada pekan ini.
Pasar Menunggu Arah Baru
Pasar forex hari ini masih bergerak hati-hati karena investor menunggu rangkaian data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Dolar berada dalam posisi yang relatif stabil, tetapi arah berikutnya dapat berubah setelah PPI dan CPI keluar.
Kenaikan harga minyak menjadi faktor tambahan yang perlu diperhatikan. Jika tekanan energi kembali meningkatkan ekspektasi inflasi, yield Treasury berpotensi naik dan memberi dukungan bagi dolar.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat kembali menekan dolar dan membuka ruang penguatan bagi mata uang utama lainnya. Karena itu, perhatian pasar kini tertuju pada data inflasi AS dan respons bank sentral terhadap perubahan harga energi.
Prospek Harga Emas Rabu | 09 September 2026
Pergerakan emas pada grafik H4 masih menunjukkan tekanan bearish setelah gagal bertahan di atas area 4.450 dan kembali bergerak di bawah SMA 50, sementara RSI 38 mengindikasikan momentum jual masih cukup kuat. Selama harga tertahan di bawah 4.413–4.450, emas berpeluang melanjutkan koreksi menuju support 4.324, dan jika level tersebut ditembus, penurunan berikutnya dapat mengarah ke 4.282 hingga 4.223.
Sebaliknya, jika harga mampu kembali menembus 4.413, peluang rebound akan terbuka menuju 4.450, dengan 4.510 sebagai resistance penting yang perlu ditembus untuk mengubah tekanan bearish saat ini.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.413 R2 4.450 R3 4.510
S1 4.324 S2 4.282 S3 4.223
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.325 |
| Profit Target Level | 4.380 |
| Stop Loss Level | 4.280 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.410 |
| Profit Target Level | 4.360 |
| Stop Loss Level | 4.450 |
Prospek Harga US Oil Rabu | 09 September 2025
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan tren bullish dengan harga bertahan di atas SMA 50 dan terus membentuk higher high. Saat ini harga bergerak di sekitar 94 dan mulai mendekati resistance 95.42, sehingga penembusan level tersebut akan membuka peluang kenaikan menuju 96.94 dan selanjutnya 99.32. RSI 64 juga masih menunjukkan momentum bullish yang cukup kuat, meski harga perlu mewaspadai potensi koreksi jika gagal menembus 95.42.
Selama koreksi masih bertahan di atas 91.79 dan 89.52, struktur bullish tetap terjaga, sedangkan penurunan di bawah 89.52 dapat mengurangi kekuatan tren naik.
US Oil INTRADAY AREA
R1 95,42 R2 96,94 R3 99,32
S1 91,79 S2 89,52 S3 87,64
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 91,80 |
| Profit Target Level | 95,00 |
| Stop Loss Level | 89,50 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 95,40 |
| Profit Target Level | 92,50 |
| Stop Loss Level | 97,00 |
Baca analisa sebelumnya: Dolar AS Melemah, Pasar Menanti Inflasi AS
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
