Pasar Global Tertekan oleh Ancaman Tarif AS
Pasar global tertekan pada awal pekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa. Ancaman ini muncul seiring rencana pengambilalihan Greenland oleh Amerika Serikat yang ditentang negara-negara tersebut. Reaksi pasar langsung terlihat melalui pelemahan bursa saham global dan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai.
Trump menyatakan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10% mulai 1 Februari terhadap impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Tarif tersebut bahkan berpotensi meningkat hingga 25% pada 1 Juni apabila tidak tercapai kesepakatan terkait Greenland.
Bursa Saham Dunia Melemah
Di Eropa, indeks STOXX 600 turun 1,2%, mencerminkan tekanan luas di pasar saham kawasan tersebut. Indeks unggulan di Frankfurt, Paris, dan London juga melemah dengan penurunan berkisar antara 0,4% hingga 1,7%. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang turun 0,7%, sementara indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang relatif stabil. Pasar saham Amerika Serikat tidak beroperasi karena libur Martin Luther King Jr. Day, namun kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun lebih dari 1,2%, menandakan sentimen negatif tetap kuat.
Emas dan Perak Cetak Rekor Baru
Ketika pasar global tertekan, investor mengalihkan dana ke aset aman. Harga emas melonjak ke rekor baru di level USD 4.689 per troy ounce, sementara perak naik hingga USD 94,08. Kenaikan ini menegaskan peran emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan perdagangan global.
Sebaliknya, harga minyak justru bergerak melemah. Kekhawatiran bahwa eskalasi konflik dagang dapat menekan pertumbuhan ekonomi global membebani prospek permintaan energi, meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda.
Dolar Melemah, Yen dan Franc Menguat
Di pasar mata uang, dolar AS justru kehilangan daya tarik sebagai aset aman. Indeks dolar tercatat melemah, sementara yen Jepang dan franc Swiss menguat. Euro berhasil bangkit dari level terendah tujuh minggu dan naik ke area USD 1,1641, sementara pound sterling menguat ke USD 1,3422.
Pelemahan dolar mencerminkan kekhawatiran bahwa sumber risiko kali ini berasal langsung dari kebijakan Amerika Serikat. Kondisi ini mendorong investor untuk mendiversifikasi portofolio mereka keluar dari aset berbasis dolar.
Jepang dan Kebijakan Bank Sentral Jadi Sorotan
Perhatian pasar juga tertuju pada Jepang setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan pembubaran parlemen menjelang pemilu cepat pada 8 Februari. Langkah ini diambil untuk memperkuat posisi koalisi pemerintah yang rapuh. Meski demikian, pasar relatif tenang menanggapi perkembangan tersebut.
Bank of Japan (BoJ) dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada Jumat dan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 0,75% setelah kenaikan pada Desember lalu. Sikap bank sentral ini dinilai krusial mengingat preferensi Perdana Menteri Takaichi terhadap koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Pertumbuhan China Melambat
Dari China, data menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV melambat menjadi 4,5% secara tahunan. Meski angka ini melampaui perkiraan pasar, lemahnya penjualan ritel menegaskan tekanan pada permintaan domestik. Produksi industri justru menunjukkan kinerja lebih baik berkat dukungan ekspor.
Kondisi ekonomi China yang melambat menambah tekanan terhadap prospek pertumbuhan global, terutama ketika pasar global tertekan oleh ketidakpastian perdagangan dan geopolitik yang semakin meningkat.
Prospek Harga Emas Selasa | 20 Januari 2026
Pergerakan emas pada timeframe H4 masih menunjukkan tren naik yang kuat, terlihat dari struktur higher high dan higher low yang tetap terjaga serta harga yang bergerak stabil di atas garis tren naik dan SMA 50. Penembusan resistance 4.640 yang diikuti pembukaan gap up di area 4.592 menjadi sinyal kelanjutan tren bullish, sekaligus menegaskan bahwa tekanan beli masih mendominasi. Area 4.592 hingga 4.550 kini beralih fungsi sebagai support terdekat, sementara selama harga mampu bertahan di atas zona tersebut, potensi kenaikan lanjutan tetap terbuka menuju resistance 4.700, kemudian 4.760 hingga 4.800.
Dari sisi momentum, RSI H4 mendukung skenario bullish setelah berhasil menembus garis downtrend-nya, yang menandakan berakhirnya fase koreksi sebelumnya. RSI yang bertahan di area atas 60 mencerminkan kekuatan buyer yang masih sehat dan membuka peluang bagi harga untuk melanjutkan reli setelah konsolidasi jangka pendek.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.700 R2 4.760 R3 4.800
S1 4.640 S2 4.592 S3 4.550
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.650 |
| Profit Target Level | 4.690 |
| Stop Loss Level | 4.620 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.690 |
| Profit Target Level | 4.660 |
| Stop Loss Level | 4.710 |
Prospek Harga US Oil Selasa | 20 Januari 2025
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 masih bergerak sideways dengan bias pemulihan setelah harga mampu bertahan di atas support kuat 58,45 dan tetap berada di atas SMA 50. Selama area 58,45 tidak ditembus, peluang rebound masih terbuka dengan resistance terdekat di 59,94, yang jika berhasil dilewati dapat mendorong kenaikan menuju 60,56 hingga 61,19.
RSI yang berada di sekitar level 50 mencerminkan momentum netral dan mendukung potensi pergerakan naik secara bertahap selama support utama tetap terjaga.
US Oil INTRADAY AREA
R1 59,94 R2 60,56 R3 61,19
S1 58,45 S2 57,85 S3 57,14
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 58,90 |
| Profit Target Level | 59,90 |
| Stop Loss Level | 58,30 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 59,90 |
| Profit Target Level | 59,00 |
| Stop Loss Level | 60,60 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
