FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bearish Range 0,69500 – 0,69000
Pergerakan mata uang Dollar Australia terhadap mata uang Greenback sempat mengalami penguatan terbatas dan sementara. Dukungan penguatan tersebut mencapai level terkuatnya dalam dua minggu karena penurunan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS menekan nilai Dollar AS. Kenaikan harga obligasi pemerintah AS menurunkan imbal hasil dari level tertinggi dalam 24 tahun, memberikan sedikit kelegaan bagi pasar global setelah berminggu-minggu mengalami aksi jual besar-besaran. Penurunan imbal hasil membantu mata uang Aussie menguat 0,4% pada hari Jumat, mencatatkan kenaikan mingguan pertamanya dalam lima minggu terakhir. Perhatian kini beralih ke laporan ketenagakerjaan Australia bulan September yang akan dirilis Kamis depan, menyusul kenaikan tak terduga dalam tingkat pengangguran menjadi 4,6% pada bulan Agustus. Peningkatan lebih lanjut dalam angka pengangguran akan memperkuat argumen untuk menolak kenaikan suku bunga lagi oleh Reserve Bank of Australia setelah kenaikan bulan lalu yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,60%. Pasar memperkirakan sekitar 30% kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan November, dan meningkat menjadi 46% pada bulan Desember. Risalah rapat bank sentral tanggal 13 Oktober juga akan menjadi fokus, serta laporan CPI kuartal September akhir bulan ini, dengan inflasi inti diperkirakan akan tetap tinggi.
Pivot : 0,69692
R1 : 0,69840 S1 : 0,69437
R2 : 0,70095 S2 : 0,69289
R3 : 0,70243 S3 : 0,69034
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 158,500 – 159,000
Pelemahan mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Greenback terus berlangsung. Bahkan saat ini Yen Jepang sudah sentuh level 158,745, dengan aktivitas perdagangan diperkirakan tetap lesu akibat hari libur nasional di Jepang dan hari libur perbankan di AS. Meskipun demikian, para pedagang tetap berhati-hati karena mata uang tersebut berfluktuasi di dekat ambang batas penting 160 per dollar, level yang sebelumnya mendorong Tokyo untuk melakukan intervensi guna mendukung yen. Yen terus menghadapi tekanan penurunan akibat perbedaan suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang, di tengah biaya pinjaman domestik yang relatif rendah dan beban utang negara yang besar. Sementara itu, ketidakpastian tetap ada mengenai apakah Bank Sentral Jepang akan menaikkan suku bunga lagi bulan ini, meskipun pasar terus mengantisipasi kemungkinan langkah tersebut pada bulan Desember atau Januari. Gubernur BoJ Kazuo Ueda mencatat bahwa pengetatan moneter yang cepat lebih umum terjadi di Amerika Utara dan Eropa pada tahun 2022, menyusul gangguan rantai pasokan akibat pandemi dan pemulihan permintaan yang kuat.
Pivot : 158,463
R1 : 158,856 S1 : 158,181
R2 : 159,138 S2 : 157,788
R3 : 159,531 S3 : 157,506
GBPUSD
Opportunity : Bearish menuju : 1.3163 – 1.3126
Pounds kembali tertekan setelah menguat di sesi sebelumnya. Pounds melemah dan bergerak mendekati 1,3200. Tekanan dari Dollar AS yang menguat membatasi ruang pemulihan poundsterling. Meski demikian, data penjualan ritel Inggris dan pernyataan anggota Bank of England, Megan Greene, berpotensi mempengaruhi pergerakan mata uang tersebut. U.S Dollar menguat ke level tertinggi tahun ini pada perdagangan Senin kemarin. Ketegangan di Timur-tengah dan berlanjutnya serangan antara Rusia dan Ukraina mendorong investor mencari aset aman. Situasi ini juga memicu kenaikan harga energi dan memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi. Indeks Dollar AS (DXY) bergerak di sekitar 102,60. Indeks tersebut berpotensi melanjutkan kenaikan menuju 103,30, level tertinggi harian pada 10 April 2025. Momentum bullish masih mendominasi pasar, sementara investor mencermati peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). GBP masih berpotensi untuk tertekan pada perdagangan hari ini, meningkatnya Konflik Timur-tengah dan ketegangan Rusia-Ukraina dapat menekan mata-uang Poundsterling jauh lebih dalam.
Open : 1.3207 Pivot 1.3223
R1 : 1.3245 S1 : 1.3185
R2 : 1.3283 S2 : 1.3163
R3 : 1.3305 S3 : 1.3126
EURUSD
Opportunity : Bearish menuju 1.1110 – 1.1068
Euro kembali tertekan pada perdagangan Senin kemarin. Pasangan EUR/USD turun ke 1,1154, level terendah dalam 17 bulan, setelah menembus ke bawah 1,1200. Minimnya katalis ekonomi dari kawasan Eropa turut membatasi kemampuan euro untuk melawan tekanan dolar AS. Investor akan mencermati data Indeks Harga Konsumen Harmonisasi (HICP) Jerman serta pernyataan anggota Bank Sentral Eropa (ECB), Frank Elderson dan José Luis Escrivá. Data inflasi tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ECB selanjutnya. Disisi lain indeks Dollar AS melonjak ke level tertinggi dalam 1,5 tahun dan ditutup naik pada hari Senin, terdorong kenaikan harga minyak mentah. Indeks dolar AS ditutup naik 0,36% pada 102,58. Harga Minyak mentah WTI naik lebih dari +2% pada hari Senin, memicu ekspektasi inflasi yang dapat mendorong The Fed untuk memperketat kebijakan moneter dan mendukung Dollar. EUR masih berpotensi untuk tertekan pada perdagangan hari ini, ketegangan Timur-tengah dan kembali memanas konflik Rusia-Ukraina dapat menekan mata-uang Euro.
Open : 1.1154 Pivot : 1.1174
R1 : 1.1197 S1 : 1.1132
R2 : 1.1237 S2 : 1.1110
R3 : 1.1261 S3 : 1.1068
USDCHF
Opportunity : Bullish menuju : 0.8385 – 0.8422
Swiss Franc kembali tertekan setelah menguat di sesi sebelumnya. CHF tertekan cukup signifikan ke level 0.8348 pada Senin kemarin. Ketegangan Konflik Timur-tengah dan Serangan Rusia ke Ukraina menekan mata-uang Franc Swiss lebih jauh. Indeks Dollar AS melonjak ke level tertinggi dalam 1,5 tahun dan ditutup naik pada hari Senin, terdorong kenaikan harga minyak mentah. Indeks Dollar AS ditutup naik 0,36% pada 102,58. Harga Minyak mentah WTI naik lebih dari +2% pada hari Senin, memicu ekspektasi inflasi yang dapat mendorong The Fed untuk memperketat kebijakan moneter dan mendukung Dollar. CHF masih berpotensi untuk tertekan pada perdagangan hari ini, mengingat ketegangan geopolitik dan naiknya harga minyak global yang akan menghambat pergerakan mata-uang Franc Swiss.
Open : 0.8346 Pivot : 0.8329
R1 : 0.8366 S1 : 0.8310
R2 : 0.8385 S2 : 0.8273
R3 : 0.8422 S3 : 0.8253
DXY
Opportunity: Bullish Range 102,500 – 102,800
Geliat penguatan mata uang Dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya terus berlanjut. Bahkan keperkasaan tersebut dapat terlihat pada Indeks Dollar (DXY) yang sudah sentuh level tertinggi hariannya di 102,607. Greenback saat ini bertahan di dekat level tertingginya sejak April 2025, karena investor memperkirakan inflasi akan meningkat lebih lanjut dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah meningkatkan daya tarik Dollar AS sebagai aset safe-haven. Harga minyak mentah naik untuk sesi ketiga berturut-turut setelah Presiden Zelenskyy menuduh Rusia melanggar gencatan senjata energi dengan terus melakukan serangan, sementara Arab Saudi melaporkan serangan drone dan rudal baru setelah serangan mematikan di bandara Riyadh. Sementara itu, data CPI dan PPI dijadwalkan rilis minggu ini. Sebagian besar pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan Oktober mendatang, sementara memperkirakan kenaikan suku bunga lagi pada bulan Desember. The Fed terakhir kali menaikkan biaya pinjaman pada bulan September, menandai kenaikan suku bunga pertama sejak tahun 2023. Euro, komponen terbesar indeks tersebut, melemah lebih lanjut di tengah kekhawatiran fiskal dan gejolak politik di Prancis.
Pivot : 102,426
R1 : 102,752 S1 : 102,245
R2 : 102,933 S2 : 101,919
R3 : 103,259 S3 : 101,738

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bullish ke area 67,031
Indeks Nikkei 225 turun 2% menjadi di bawah 68.000 dalam perdagangan pasca-liburan pada hari Selasa, memperpanjang penurunannya untuk sesi keempat berturut-turut dan menyusul aksi jual yang dipimpin oleh sektor teknologi semalam di Wall Street. Saham-saham teknologi menghadapi tekanan jual yang berat karena kekhawatiran atas perdagangan AI meningkat, dengan investor menilai kembali prospek belanja modal di tengah kenaikan biaya pinjaman. CEO Broadcom, Hock Tan, mengatakan bahwa booming AI telah menarik investor yang strateginya menyerupai perjudian, sementara miliarder Ray Dalio menggambarkan AI sebagai “gelembung klasik” yang mendekati potensi pecah karena suku bunga naik dan investor berupaya mengubah kekayaan menjadi uang tunai. Kerugian signifikan tercatat di antara saham-saham teknologi dan terkait AI, termasuk Kioxia Holdings (-9,3%), Advantest (-5,3%), SoftBank Group (-7%), Taiyo Yuden (-5,6%), dan Tokyo Electron (-4,5%).
Pivot : 65,887
R1 : 66,893 S1 : 65,303
R2 : 67,477 S2 : 64,297
R3 : 68,483 S3 : 63,713
HANGSENG
Opportunity: Bearish ke 25,217
Indeks Hang Seng naik 0,3%, atau 60 poin, dan ditutup pada 24.271 pada hari Senin, didukung oleh optimisme atas upaya Beijing untuk menstabilkan pasar saham daratan Tiongkok dan perkembangan di sektor teknologi Tiongkok. Perhatian investor terpusat pada Tencent Holdings, yang berencana menerbitkan obligasi senior tanpa jaminan dalam denominasi dolar AS dan yuan lepas pantai, dengan jatuh tempo potensial antara 10 hingga 30 tahun. Sementara itu, laporan tentang perselisihan pemegang saham yang melibatkan perusahaan rintisan AI Moonshot AI menjelang IPO Hong Kong yang direncanakan menimbulkan kekhawatiran tentang tata kelola perusahaan dan pengungkapan informasi. Minyak mentah Brent turun 1,1% menjadi US$103,50 per barel, meredakan beberapa kekhawatiran inflasi, meskipun serangan terhadap pengiriman dan bandara di Teluk mempertahankan risiko pasokan. Namun, imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap mendekati level tertinggi 24 tahun, sementara kekhawatiran tentang meningkatnya biaya investasi AI dan data inflasi AS yang akan datang membuat investor tetap berhati-hati. Di antara saham-saham yang mengalami pergerakan signifikan, Tencent (0,2%), AIA (0,9%), MiniMax (0,5%), dan Meituan (0,4%) mengalami kenaikan.
Pivot : 24,408
R1 : 24,558 S1 : 24,120
R2 : 24,846 S2 : 23,970
R3 : 24,996 S3 : 23,682
NASDAQ
Opportunity: Buy Limit: 30,560| SL: 30,400 | TP: 30,720
Kontrak berjangka saham AS diperdagangkan beragam pada hari Selasa karena investor bersiap untuk laporan pendapatan bank-bank besar yang dapat membentuk arah musim pendapatan kuartal ketiga. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,1% dan 0,2%, sementara kontrak berjangka Dow naik tipis 0,05%. JPMorgan, Goldman Sachs, Citigroup, dan Wells Fargo dijadwalkan untuk merilis hasil kuartalan terbaru mereka hari ini. Perusahaan besar lainnya yang akan melaporkan termasuk Johnson & Johnson dan UnitedHealth. Investor juga akan menilai data penjualan rumah yang ada dan pernyataan dari pejabat Federal Reserve Christopher Waller, Tom Barkin, dan Susan Collins. Perkembangan ini terjadi menjelang laporan inflasi September pada hari Rabu, yang dapat memengaruhi keputusan kebijakan Fed selanjutnya. Pada sesi reguler Senin, S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 0,06% dan 0,44%, tertekan oleh aksi jual saham chip memori. Sementara itu, Dow naik 0,38%
Pivot : 30,917.92
R1 : 31,166.33 S1 : 30,771.33
R2 : 31,312.92 S2 : 30,522.92
R3 : 31,561.33 S3 : 30,376.33

COMMODITY ZONE BY NITRA
Gold
Opportunity: Bias pergerakan hari ini bersifat netral cenderung bearish, dengan strategi sell on rally di dalam rentang pergerakan selama harga belum ditutup di atas level 4228
Pada perdagangan Senin, 12 Oktober, harga emas dibuka di level 4193,33 dan sempat melonjak hingga menyentuh level tertinggi di 41217,21. Namun, tekanan jual membawa harga turun ke level terendah 4154,54 sebelum akhirnya ditutup di 4170,72. Penutupan ini mencatatkan penurunan sekitar 25 poin atau -0,61% dari level penutupan Jumat di 4196,18. Candle harian membentuk bayangan atas yang cukup panjang, mengindikasikan bahwa upaya rebound dari level terendah 4066,30 pada 7 Oktober kembali mendapat penolakan kuat di area 4217–4228 yang merupakan puncak pergerakan 2 Oktober. Secara keseluruhan, struktur grafik harian belum pulih. Harga masih tertahan di bawah SMA20 (4225), SMA50 (4337), dan SMA200 (4529), serta baru sebatas bertahan di atas SMA10 (4157). Sementara itu, RSI14 berada di level 43,9 yang mencerminkan momentum lemah namun belum menyentuh area oversold, dengan ATR14 di kisaran 78 poin yang menandakan volatilitas masih tergolong lebar. Dalam cakupan yang lebih luas, puncaknya terus menurun dari September di 4399,63 menjadi 4275, 4228, dan kini 4217. Kendati demikian, titik terendah 4066,30 masih lebih tinggi dibandingkan area dasar Juni–Juli di 3942,08 dan 3995,86. Sebagai catatan, September ditutup di level 4156,90 setelah emas merosot lebih dari 6% sepanjang bulan tersebut. Memasuki awal sesi Asia pada 13 Oktober, pergerakan emas cenderung menyempit di rentang 4166–4176 dan bergerak di kisaran 4168.
Penggerak fundamental saat ini masih terikat dalam kerangka Gold Paradox. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak, yang pada gilirannya mengerek ekspektasi inflasi. Kondisi ini memicu sikap The Fed yang makin hawkish, memperkuat yield obligasi dan dolar AS, sehingga menekan pergerakan emas. Setelah menaikkan suku bunga pada September, pasar kini sedang menimbang peluang kenaikan berikutnya di Oktober atau Desember. Probabilitas kenaikan pada Oktober diperkirakan sebesar 17%, sementara peluang setidaknya satu kali kenaikan hingga Desember mencapai 86%. Saat ini, yield obligasi AS 10-tahun bertahan mendekati level tertinggi dua dekade, sedangkan dolar AS masih berada dekat dengan puncaknya dalam 18 bulan terakhir. Sedikit penopang datang dari pernyataan Trump yang menepis opsi serangan ke Iran sebelum pemilu November, sehingga sempat menurunkan yield dan dolar pada pekan lalu. Kalender data hari ini terbilang ringan, hanya memuat laporan bulanan OPEC, data penjualan rumah bekas AS, serta pidato dari Pejabat The Fed—Waller pada siang WIB, disusul Barkin dan Collins menjelang tengah malam hingga dini hari WIB. Fokus utama pasar kini tertuju pada rilis CPI AS bulan September pada Rabu, 14 Oktober pukul 19.30 WIB, dengan konsensus memperkirakan CPI headline naik 0,6% secara bulanan (3,6% tahunan) dan CPI core naik 0,2% secara bulanan (2,5% tahunan). Menjelang rilis data penting tersebut, pasar diperkirakan berada dalam fase antisipasi dengan kecenderungan pengurangan posisi.
Pivot : 4180.82
R1 4207.11 R2 4243.49 R3 4269.78
S1 4144.44 S2 4118.15 S3 4081.77
Oil
Opportunity :Bullish selama harga mampu bertahan di atas zona 90,3–89,5
Pada sesi perdagangan Senin, 12 Oktober, WTI dibuka pada level 91,84 dan sempat tertekan ke level terendah 89,56. Namun, aksi beli mendorong harga melambung hingga menyentuh 94,29 sebelum akhirnya ditutup pada level 93,10, menguat 1,57 poin atau +1,72% dari level 91,53 pada Jumat. Bentuk candle dengan ekor bawah yang panjang dan posisi penutupan dekat level tertinggi mengindikasikan bahwa pembeli berhasil menyerap tekanan jual dengan baik. Saat ini, harga bergerak nyaman di atas seluruh indikator rata-rata pergerakan utama, meliputi SMA10 (90,70), SMA20 (92,85), SMA50 (89,05), SMA100 (84,90), dan SMA200 (83,53). RSI14 yang berada di angka 53,2 mencerminkan kondisi netral, sementara ATR14 bertahan di kisaran 4,16. Koreksi yang terjadi dari puncak September di 106,67 menuju level terendah 86,82 pada 6 Oktober memang tergolong dalam. Meski demikian, pergerakan harga setelahnya mulai membentuk pola higher low di rentang kasar 86,8–96,7. Tren jangka menengah masih terjaga naik, terlihat dari penutupan bulanan sejak Juli hingga September yang terus meningkat dari 84,55, 86,26, hingga 90,37. Memasuki sesi Asia pada 13 Oktober, pergerakan harga cenderung tipis di rentang 92,21–92,51 dengan volume yang relatif terbatas.
Sisi fundamental minyak masih didominasi oleh perkembangan isu geopolitik Timur Tengah dan kondisi pasokan. Kenaikan harga pada hari Senin dipicu oleh serangan Houthi ke bandara Riyadh yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang, sehingga membawa WTI ditutup pada 93,74 dan Brent di 106,65. Selain itu, insiden serangan kembali menimpa kapal tanker di Selat Hormuz, meski arus ekspor dari wilayah Teluk secara umum masih berjalan. Kendati lalu lintas tanker di Hormuz mencatatkan level terendah dalam dua bulan, kabar mengenai pertimbangan Donald Trump untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam aksi balasan ke Yemen berpotensi memicu lonjakan premi risiko pasar. Di sisi lain, terdapat faktor penahan kenaikan harga, seperti pengumuman tambahan pasokan bahan bakar diesel dari Rusia serta wacana gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina, terlepas dari klaim Ukraina atas pelanggaran kesepakatan tersebut. Di samping itu, penguatan dolar AS dan tingginya yield obligasi turut membatasi penguatan karena menekan ekspektasi permintaan global. Katalis terjadwal yang ditunggu hari ini adalah rilis laporan bulanan OPEC guna mengamati revisi proyeksi pasokan dan permintaan, disusul data CPI AS pada Rabu yang sangat sensitif terhadap dinamika harga energi.
Pivot: 92.32
R1 95.07 S1 90.34
R2 97.05 S2 87.59
R3 99.80 S3 85.61
DAILY ECONOMIC DATA

WEBINAR HARI INI (Selasa, 13 Oktober 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Mengidentifikasi Peluang Trading dengan Support & Resistance
Catat jam dan waktunya ya!
| Selasa, 13 Oktober 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
