Market Summary
Peluang trading emas terlihat semakin menarik pada Rabu ini. Harga emas naik tipis karena dolar AS melemah menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve. Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Harga minyak juga naik. Kombinasi ini membuat investor lebih waspada terhadap risiko inflasi.
Pada sesi sebelumnya, harga emas justru turun lebih dari 1%. Penguatan dolar AS menekan harga logam mulia saat itu.
Dolar AS Melemah, Emas Mendapat Sedikit Dukungan
Indeks Dolar AS turun 0,1% pada Rabu. Meski begitu, indeks ini masih bertahan dekat level tertinggi dalam sebulan terakhir. Kondisi ini membuat emas sedikit lebih murah bagi pembeli luar negeri.
Pasar meyakini The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan dua hari ini. CME Group FedWatch Tool mencatat probabilitas sekitar 68% bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada Rabu ini. Peluang kenaikan 25 basis poin hanya sekitar 32%. Trader juga memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai 77%.
Suku bunga tinggi dalam waktu lama biasanya menekan harga emas. Alasannya sederhana: emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga biaya peluang memegang emas naik saat suku bunga tinggi.
Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas
Investor juga memantau eskalasi baru di Timur Tengah. Militer AS mengklaim berhasil mencegat beberapa rudal balistik Iran yang mengarah ke pasukan Amerika di kawasan tersebut.
Garda Revolusi Iran mengklaim menyerang pangkalan udara AS dan fasilitas milik US Central Command di Yordania. Serangan ini memunculkan kekhawatiran baru bahwa jeda diplomatik sebelumnya hanya bersifat sementara.
Popular Mobilization Forces (PMF) Irak menyebut pasukan AS dan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke markas mereka di beberapa provinsi Irak. Arab Saudi sendiri mengklaim berhasil mencegat drone dari wilayah Irak yang menargetkan fasilitas minyak. Arab Saudi menuding milisi dukungan Iran berada di balik serangan tersebut.
Rangkaian serangan ini mengakhiri jeda empat hari dalam bentrokan militer langsung antara Washington dan Teheran. Risiko eskalasi lanjutan pun kembali meningkat setelah sempat muncul peluang diplomasi singkat.
Kenaikan Harga Minyak Bayangi Ekspektasi Inflasi
Harga minyak melonjak lebih dari 4% pada Rabu setelah rangkaian serangan terbaru tersebut. Analis dari ING menilai kenaikan harga minyak akibat eskalasi Timur Tengah berpotensi menekan harga emas pada awal perdagangan. Menurut mereka, kondisi ini memicu kembali kekhawatiran inflasi di pasar.
Data Ekonomi AS Jadi Penentu Arah Berikutnya
Trader kini menanti sejumlah data ekonomi AS pekan ini. Data personal consumption expenditures (PCE) price index dan laporan payrolls Juli akan menjadi sorotan utama. Kedua data ini memberi gambaran lebih jelas soal arah suku bunga ke depan.
Dengan berbagai faktor tersebut, peluang trading emas tetap terbuka bagi trader yang jeli membaca arah dolar AS, kebijakan The Fed, dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Analisa Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan harga emas pada time frame H4 masih cenderung bearish, dengan level pivot berada di 4.055. Selama harga tetap bergerak di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih berlanjut dengan potensi menguji area support di 3.982, kemudian 3.964, hingga 3.947.
Sebagai skenario alternatif, apabila harga berhasil menembus dan bertahan di atas level 4.055, momentum berpotensi berbalik menjadi bullish dengan target pengujian area resistance di 4.081, kemudian 4.098.
Resistance 1: 4.051 Resistance 2: 4.081 Resistance 3: 4.098
Support1: 3.982 Support 2: 3.964 Support 3: 3.947
Baca juga: Peluang Trading AUD/USD Pasca Pernyataan Bullock
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
