FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bullish Range 0,71100 – 0,71600
Pelemahan mata uang Aussie terhadap mata uang Dollar AS kembali mewarnai pergerakan market. Bahkan saat ini Dollar Australia mundur dari level tertinggi sepuluh minggu yang dicapai pada sesi sebelumnya karena data pasar tenaga kerja yang lebih lemah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga RBA lainnya. Jumlah lapangan kerja berkurang sebanyak 15.800 pada bulan Juli, berbalik dari kenaikan bulan Juni yang direvisi naik menjadi 80.300, serta meleset dari perkiraan kenaikan sebesar 15.000. Angka ini menandai penurunan bulanan pertama sejak bulan April. Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,5%—sedikit di atas ekspektasi pasar maupun angka 4,4% pada bulan Juni—dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Dalam perkiraan terbarunya, RBA memproyeksikan pengangguran akan meningkat menjadi 4,8% pada pertengahan tahun 2028 dan tetap pada level tersebut hingga paruh kedua tahun ini, di atas perkiraan pemerintah sebesar 4,5%. Meskipun para pembuat kebijakan masih menilai kondisi pasar tenaga kerja relatif ketat, data terkini mengindikasikan bahwa pertumbuhan lapangan kerja dan permintaan mulai melambat secara bertahap. Bank Sentral Australia (RBA) baru-baru ini mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan Juni dan Agustus karena menilai dampak pengetatan kebijakan sebelumnya terhadap aktivitas ekonomi.
Pivot : 0,71151
R1 : 0,71279 S1 : 0,70980
R2 : 0,71450 S2 : 0,70852
R3 : 0,71578 S3 : 0,70681
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 159,000 – 159,500
Pergerakan mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Greenback kembali mengalami pelemahan. Padahal sebelumnya Yen menguat cukup bagus, namun pelemahan justru terjadi setelah menguat hampir 1% pada sesi sebelumnya, didukung oleh penurunan tajam nilai dolar dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) seiring langkah pemerintah AS untuk menekan biaya pinjaman jangka panjang melalui perluasan program pembelian kembali obligasi. Departemen Keuangan AS menyatakan akan setidaknya melipatgandakan skala operasi pembelian kembali untuk mendukung likuiditas yang mencakup sekuritas dengan jatuh tempo 10 hingga 30 tahun, karena lonjakan imbal hasil baru-baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai likuiditas dan stabilitas pasar. Meskipun demikian, yen tetap berada di bawah tekanan dalam jangka panjang karena perbedaan suku bunga yang lebar, meningkatnya kekhawatiran fiskal, dan tingginya biaya energi dan impor. Data terbaru juga menunjukkan defisit perdagangan Jepang melebar tajam pada bulan Juli karena impor melonjak ke rekor tertinggi akibat peningkatan pembelian minyak mentah, sementara pertumbuhan ekspor tetap kuat, didukung oleh permintaan yang tinggi untuk chip terkait AI.
Pivot : 158,742
R1 : 159,469 S1 : 158,310
R2 : 159,902 S2 : 157,583
R3 : 160,628 S3 : 157,151
GBPUSD
Opportunity : Bearish menuju : 1.3561 – 1.3529
Pounds kembali menguat pada perdagangan Kamis kemarin. Data ekonomi Inggris yang kuat masih menopang penguatan mata-uang Poundsterling. Bisnis di sektor Industri juga menunjukan penguatan di bulan Agustus. Disisi lain Sikap hawkish The Fed mendorong Indeks Dollar AS naik ke level 98,90 pada Kamis, meski masih di bawah ambang 100,00. GBP/USD justru menguat dan bertahan di atas level 1,3600, meski dolar lebih kuat. Pasar Inggris punya banyak data penting pada Jumat. GBP berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini yang disebabkan oleh rilis data Retail Sales Inggris yang diperkirakan akan melemah pada siang nanti. Retail Sale diperkirakan turun ke angka 2.2% untuk dibulan Juli versus 4.2% angka sebelumnya, yang diiringi oleh data ekonomi di sektor Jasa dan Manufaktur Inggris yang juga diperkirakan akan mengalami tekanan.
Open : 1.3629 Pivot 1.3626
R1 : 1.3660 S1 : 1.3594
R2 : 1.3692 S2 : 1.3561
R3 : 1.3726 S3 : 1.3529
EURUSD
Opportunity : Bearish menuju 1.1643 – 1.1618
Euro bertahan di tengah penguatan mata-uang U.S Dollar. Mata-uang Euro diperdagangkan cukup stabil pada Kamis kemarin. Sikap hawkish The Fed mendorong Indeks Dollar AS naik ke level 98,90 pada Kamis, meski masih di bawah ambang 100,00. Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan pandangan hawkish soal inflasi. Musalem menyebut inflasi inti masih terlalu tinggi. Ia juga menilai peluang inflasi kembali ke target semakin kecil pada level suku bunga saat ini. Menurutnya, menaikkan suku bunga sekarang bisa menghindarkan The Fed dari tindakan yang lebih agresif di kemudian hari. EUR/USD bertahan di kisaran 1,1600-an. Pergerakan cenderung datar karena pelaku pasar menunggu rilis PMI flash Zona Euro. EUR berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini yang disebabkan oleh rilisnya data Manufaktur dan sektor Jasa yang diperkirakan turun untuk bulan Agustus.
Open : 1.1678 Pivot : 1.1685
R1 : 1.1701 S1 : 1.1660
R2 : 1.1726 S2 : 1.1643
R3 : 1.1743 S3 : 1.1618
USDCHF
Opportunity : Bullish menuju : 0.8046 – 0.8083
Swiss Franc terkoreksi setelah penguatan yang cukup signifikan di sesi sebelumnya. Sikap hawkish The Fed mendorong Indeks Dollar AS naik ke level 98,90 pada Kamis, meski masih di bawah ambang 100,00. Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan pandangan hawkish soal inflasi. Musalem menyebut inflasi inti masih terlalu tinggi. Ia juga menilai peluang inflasi kembali ke target semakin kecil pada level suku bunga saat ini. Menurutnya, menaikkan suku bunga sekarang bisa menghindarkan The Fed dari tindakan yang lebih agresif di kemudian hari. CHF masih berpotensi untuk tertekan pada perdagangan hari ini yang akan dibayangi oleh penguatan U.S Dollar.
Open : 0.8002 Pivot : 0.7986
R1 : 0.8023 S1 : 0.7963
R2 : 0.8046 S2 : 0.7926
R3 : 0.8083 S3. : 0.7903
DXY
Opportunity: Bearish Range 98,800 – 98,500
Kondisi mata uang Greenback terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya masih berada pada jalur pelemahan. Bahkan tekanan tersebut tergambar pada Indeks Dollar AS (DXY) yang tetap berada di level 98,800. Saat ini Dollar AS berada di dekat level terendah dalam tiga bulan seiring langkah pemerintah AS untuk menekan biaya pinjaman jangka panjang melalui perluasan program buyback obligasi. Departemen Keuangan AS menyatakan akan setidaknya melipatgandakan skala operasi pembelian kembali untuk mendukung likuiditas yang mencakup sekuritas dengan jatuh tempo 10 hingga 30 tahun, karena lonjakan imbal hasil baru-baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai likuiditas dan stabilitas pasar. Langkah tersebut menandakan bahwa Departemen Keuangan AS siap mengambil peran yang lebih aktif di pasar obligasi untuk membatasi imbal hasil jangka panjang, yang berpotensi meningkatkan likuiditas dolar di seluruh sistem keuangan global. Sementara itu, risalah pertemuan Federal Reserve bulan Juli mengonfirmasi bahwa sejumlah pembuat kebijakan mendukung kenaikan suku bunga tahun ini guna mencegah munculnya tekanan inflasi yang lebih kuat di kemudian hari. Di sisi lain, meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah, dengan kondisi kebuntuan antara AS dan Iran, terus menempatkan risiko inflasi sebagai fokus perhatian.
Pivot : 98,776
R1 : 98,996 S1 : 98,619
R2 : 99,153 S2 : 98,399
R3 : 99,373 S3 : 98,242

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bullish ke 64,700
Indeks Nikkei 225 turun 0,7% menjadi di bawah 66.000 sementara Indeks Topix yang lebih luas turun 0,25% menjadi sekitar 4.050 pada hari Jumat, mengembalikan keuntungan dari sesi sebelumnya karena imbal hasil obligasi global pulih di tengah kekhawatiran bahwa upaya AS untuk mengekang biaya pinjaman melalui pembelian kembali utang mungkin hanya memberikan solusi sementara. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun diperdagangkan sekitar 4,7%, menghapus kerugiannya dari awal pekan, sementara imbal hasil obligasi acuan Jepang 10 tahun mengakhiri penurunan dua hari. Sementara itu, data menunjukkan tingkat inflasi Jepang meningkat untuk bulan kedua berturut-turut, memperkuat kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentral Jepang dalam waktu dekat. Gubernur BOJ Kazuo Ueda sebelumnya mengindikasikan bahwa pihak berwenang dapat mulai menormalisasi kebijakan dengan kecepatan yang lebih cepat. Saham-saham teknologi memimpin penurunan, dengan kerugian yang signifikan dari Advantest (-0,8%), Taiyo Yuden (-3,2%), dan SoftBank Group (-2,3%). Indeks Nikkei dan Topix diperkirakan akan mengalami penurunan lebih dari 4% dan 3% untuk minggu ini.
Pivot : 62,930
R1 : 64,550 S1 : 62,085
R2 : 65,395 S2 : 60,465
R3 : 67,015 S3 : 59,620
HANGSENG
Opportunity: Bullish ke 26,270
Indeks Hang Seng naik 0,8%, atau 203 poin, dan ditutup pada 25.698 pada hari Kamis, karena kenaikan saham sektor kesehatan dan teknologi mendorong pasar. Saham sektor kesehatan dan bioteknologi termasuk yang berkinerja paling kuat. Everest menjadi yang paling menonjol setelah melaporkan peningkatan pendapatan semester pertama sebesar 157,3% secara tahunan menjadi RMB1,15 miliar dan peningkatan laba bersih non-IFRS menjadi RMB97,2 juta, yang sebagian besar didorong oleh pengobatan penyakit ginjal NEFECON. Saham teknologi juga mengalami kenaikan, dengan Tencent melaporkan lonjakan belanja modal (capex) kuartal kedua sebesar 176% secara tahunan menjadi RMB52,8 miliar untuk investasi AI, sementara pendapatan naik 11% dan laba yang disesuaikan meningkat 9%. Sentimen semakin didukung oleh kebijakan China yang mempertahankan suku bunga acuan jangka pendek (LPR) satu tahun dan lima tahun tidak berubah pada 3,00% dan 3,50%. Imbal hasil obligasi global juga menurun setelah Departemen Keuangan AS menggandakan pembelian kembali utang jangka panjangnya, yang mendukung selera risiko. Saham-saham yang mengalami pergerakan signifikan antara lain Tencent (0,9%), Xiaomi (1,2%), CSPC Pharmaceutical (9,6%), Genscript Biotech (13,6%), dan MiniMax (6,2%).
Pivot : 25,894
R1 : 26,141 S1 : 25,762
R2 : 26,273 S2 : 25,515
R3 : 26,520 S3 : 25,383
NASDAQ
Opportunity: Sell Limit: 29,753| SL: 29,900 | TP: 29,400
Kontrak berjangka saham AS berfluktuasi di dekat level terendah mingguan pada hari Jumat setelah indeks utama menghadapi tekanan jual yang berat pada sesi sebelumnya, karena imbal hasil obligasi pemerintah pulih di tengah kekhawatiran bahwa rencana pemerintah untuk menurunkan biaya pinjaman mungkin hanya menawarkan solusi sementara. Kenaikan harga minyak, karena AS dan Iran tetap buntu terkait Selat Hormuz, juga memicu kekhawatiran inflasi. Dalam perdagangan reguler pada hari Kamis, Dow Jones turun 1,32%, S&P 500 turun 0,87%, dan Nasdaq Composite turun 1%. Sembilan dari 11 sektor S&P berakhir lebih rendah, dengan saham sektor barang konsumsi pokok, perawatan kesehatan, dan barang konsumsi non-pokok memimpin penurunan. Imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang membalikkan penurunan hari Rabu setelah pengumuman Departemen Keuangan tentang pembelian kembali utang yang lebih besar. Dalam berita perusahaan, Ross Stores melonjak lebih dari 8% dalam perdagangan setelah jam kerja reguler setelah pengecer tersebut membukukan hasil kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan.
Pivot : 29,549.33
R1 : 29,732.42 S1 : 29,343.17
R2 : 29,929.58 S2 : 29,169.08
R3 : 30,309.83 S3 : 28,788.83

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Bullish, testing resistance 4.541 – 4.569
Harga emas diperdagangkan di atas level US$4.500 per troy ounce pada Jumat dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan ketiga secara berturut-turut. Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah volatilitas yang tinggi di pasar valuta asing dan obligasi, sementara kenaikan harga minyak turut memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Katalis utama penguatan emas terjadi pada Rabu ketika harga melonjak lebih dari 4% setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk setidaknya menggandakan pembelian kembali surat utang jangka panjang. Kebijakan tersebut ditujukan untuk membantu menekan biaya pinjaman pemerintah. Pengumuman ini mendorong imbal hasil Treasury AS dan dolar AS turun tajam, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil. Meskipun imbal hasil Treasury kemudian kembali naik karena muncul kekhawatiran bahwa langkah pemerintah AS hanya akan memberikan solusi sementara terhadap tingginya biaya pinjaman jangka panjang, harga emas mampu mempertahankan sebagian besar kenaikannya.
Sentimen positif terhadap emas juga diperkuat oleh permintaan investasi yang masih solid serta berlanjutnya pembelian oleh bank sentral. China menjadi salah satu faktor pendukung penting, seiring tetap kuatnya permintaan dari sektor resmi dan investor. Dengan kombinasi ketidakpastian pasar keuangan, volatilitas mata uang, risiko inflasi, serta pembelian bank sentral yang masih kuat, emas mempertahankan momentum bullish dan bergerak menuju pekan ketiga berturut-turut dalam zona penguatan.
Pivot : 4.472
R1 4.541 R2 4.569 R3 4.595
S1 4.472 S2 4.444 S3 4.407
Oil
Opportunity : Bullish selama support 84,28 bertahan, testing resistance 87,63
Harga minyak mentah diperdagangkan di atas US$86 per barel pada Jumat dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kedua secara berturut-turut. Sepanjang pekan ini, harga telah menguat hampir 6%, mencerminkan meningkatnya premi risiko di pasar energi akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan terhadap infrastruktur energi di kawasan lain.
Faktor utama yang menopang harga minyak adalah konflik AS-Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, khususnya perselisihan terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global. Amerika Serikat tengah mempersiapkan langkah untuk mengisolasi perekonomian Iran melalui serangkaian sanksi ekonomi baru yang oleh Presiden Donald Trump digambarkan sebagai “economic D-day”. Rincian kebijakan tersebut diperkirakan diumumkan pada Senin dan berpotensi mencakup pembatasan terhadap akses Iran ke jaringan keuangan dan perdagangan internasional, termasuk perbankan, perusahaan, registrasi pelayaran, transfer dana, serta jaringan penyelundupan.
Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran dan mendorong Iran menuju perundingan mengenai konflik, program nuklir, serta pengendalian Selat Hormuz. Bagi pasar minyak, perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan dan arus perdagangan energi global, sehingga mendorong investor menambahkan premi risiko ke dalam harga minyak.
Di luar konflik AS-Iran, pasar minyak juga mendapat tekanan dari perkembangan di Rusia. Serangkaian serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayah, yang berpotensi memperketat kondisi pasokan energi. Dengan demikian, kenaikan harga minyak saat ini tidak hanya mencerminkan ekspektasi terhadap gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga meningkatnya risiko terhadap infrastruktur energi Rusia.
Pivot: 84,28
R1 84,26 S1 87,63
R2 82,68 S2 89,19
R3 81,24 S3 90,49
DAILY ECONOMIC DATA


WEBINAR HARI INI (Rabu, 19 Agustus 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Price Action Jadi Panduan Trading Emas Menjelang Penutupan Pekan
Catat jam dan waktunya ya!
| Jumat, 21 Agustus 2026 | |
| 14.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
