FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bullish Range 0,71200 – 0,72200
Keperkasaan mata uang Dollar Australia terhadap mata uang Greenback terus terjadi, bahkan penguatan Aussie ini cukup besar. Sebelumnya Dollar Australia ini bertahan dan tetap berada di dekat level tertinggi sepuluh minggu karena investor mencermati pernyataan terbaru dari Reserve Bank of Australia dan data upah triwulanan yang lemah. Upah di Australia meningkat dengan laju moderat untuk kuartal kelima berturut-turut pada kuartal Juni, sementara pertumbuhan tahunan di sektor swasta melambat ke level terendah dalam empat tahun. Pertumbuhan upah swasta yang lebih lambat dapat mengurangi tekanan pada RBA untuk memperketat kebijakan, meskipun Wakil Gubernur Andrew Hauser memperingatkan bahwa bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga lagi jika risiko inflasi yang meningkat terwujud. Ia menyoroti konflik Timur Tengah, lonjakan AI global, dan rendahnya produktivitas sebagai risiko utama terhadap inflasi. Bank Sentral Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan di 4,35% pekan lalu setelah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin sejak Februari untuk menahan tekanan harga yang terus berlanjut. Perhatian kini beralih ke laporan pekerjaan hari Kamis, dengan perkiraan peningkatan lapangan kerja sebesar 15.000 pada bulan Juli setelah kenaikan yang signifikan sebesar 76.300 pada bulan Juni, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di angka 4,4%.
Pivot : 0,71062
R1 : 0,71463 S1 : 0,70841
R2 : 0,71684 S2 : 0,70440
R3 : 0,72085 S3 : 0,70219
USDJPY
Opportunity: Bearish Range 158,000 – 157,000
Tanda penguatan mata uang Yen terhadap mata uang Dollar AS muncul pada perdagangan market kemarin. Sebelumnya Yen tetap berada dalam kisaran terbatas selama lebih dari seminggu setelah kehilangan sekitar setengah dari keuntungan yang diperoleh menyusul intervensi bersama oleh Tokyo dan Washington pada akhir Juli. Mata uang ini terus mengalami pelemahan akibat selisih suku bunga yang lebar, kekhawatiran fiskal yang meningkat, serta tingginya biaya energi dan impor. Dari sisi kebijakan moneter, para pelaku pasar semakin berspekulasi mengenai kenaikan suku bunga Bank of Japan pada bulan September untuk mendukung yen dan mengekang inflasi. Imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang mencapai level tertinggi dalam 30 tahun pekan ini, mencerminkan ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ yang akan segera terjadi dan meningkatnya kekhawatiran fiskal. Sementara itu, data terbaru menunjukkan pesanan mesin inti di Jepang melonjak 9,7% pada bulan Juni, melebihi perkiraan dan mengindikasikan pengeluaran modal yang lebih kuat di kalangan perusahaan.
Pivot : 158,606
R1 : 159,178 S1 : 157,577
R2 : 160,207 S2 : 157,005
R3 : 160,779 S3 : 155,976
GBPUSD
Opportunity : Bullish menuju : 1.3692 – 1.3755
Sesuai perkiraan, Pounds menguat pada perdagangan Rabu kemarin. GBP/USD menembus 1,3600 dan mencapai puncak tiga bulan, dengan inflasi Inggris yang kuat turut menekan performa dollar. Laporan data Inflasi Inggris rilis sesuai perkiraan, namun angka Inflasi Inti tetap bertahan di angka 2.6% di bulan Juli secara tahunan. Disisi lain Notulen FOMC pekan ini gagal menahan pelemahan dolar AS. Indeks Dollar AS (DXY) merosot tajam ke bawah level 99,00 pada Rabu dan bertahan jauh di bawah 100,00. Pelemahan ini muncul setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana melipatgandakan operasi buyback obligasi jangka panjang mulai 9 September. Pelemahan Dollar AS membuka ruang penguatan bagi sejumlah mata uang utama. Pounds masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini dengan dukungan data ekonomi Inggris yang cukup solid dan lemahnya permintaan akan Dollar AS. Para pelaku pasar akan fokus pada laporan data Klaim pengangguran AS yang rilis pada malam nanti yang diperkirakan mengalami kenaikan.
Open : 1.3605 Pivot 1.3585
R1 : 1.3648 S1 : 1.3541
R2 : 1.3692 S2 : 1.3478
R3 : 1.3755 S3 : 1.3434
EURUSD
Opportunity : Bullish menuju 1.1750 – 1.1822
Euro ditutup menguat cukup signifikan pada perdagangan Rabu kemarin. Pelemahan Dollar AS membuka ruang penguatan bagi sejumlah mata uang utama. EUR/USD melesat melewati 1,1675, level tertinggi sejak akhir Mei. Notulen FOMC pekan ini gagal menahan pelemahan dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY) merosot tajam ke bawah level 99,00 pada Rabu dan bertahan jauh di bawah 100,00. Pelemahan ini muncul setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana melipatgandakan operasi buyback obligasi jangka panjang mulai 9 September. Penguatan mata-uang EUR juga diperkuat oleh data Inflasi kawasan yang rilis sesuai ekspektasi pasar yang naik sebesar 2.9% versus 2.8% angka sebelumnya. EIR masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini yang diperkuat oleh data ekonomi kawasan yang solid dan lemahnya permintaan akan U.S Dollar. Para pelaku pasar akan fokus pada laporan data Klaim pengangguran AS yang rilis pada malam nanti yang diperkirakan mengalami kenaikan.
Open : 1.1676 Pivot : 1.1641
R1 : 1.1713 S1 : 1.1603
R2 : 1.1750 S2 : 1.1532
R3 : 1.1822 S3 : 1.1494
USDCHF
Opportunity : Bearish menuju : 0.7864 – 0.7759
Swiss Franc dapat menguat cukup signifikan pada perdagangan Rabu kemarin. Penguatan mata-uang Swiss didukung oleh penguatan data ekonomi di sektor Industri yang rilis jauh diatas angka perkiraan. Industrial Production Swiss di kuartal ke-2 naik sebesar 5.50% versus -7.60% angka sebelumnya. Disisi lain Notulen FOMC pekan ini gagal menahan pelemahan Dollar AS. Indeks Dollar AS (DXY) merosot tajam ke bawah level 99,00 pada Rabu dan bertahan jauh di bawah 100,00. Pelemahan ini muncul setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana melipatgandakan operasi buyback obligasi jangka panjang mulai 9 September. CHF masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini menanti laporan Trade Balance Swiss pada siang nanti, dan laporan Klaim pengangguran AS yang rilis pada malam nanti yang diperkirakan akan mengalami kenaikan.
Open : 0.7972 Pivot : 0.8022
R1 : 0.8076 S1 : 0.7917
R2 : 0.8181 S2 : 0.7864
R3 : 0.8234 S3. : 0.7759
DXY
Opportunity: Bearish Range 98,700 – 98,200
Pelemahan cukup dalam mata uang Dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya kembali terjadi, sentuh level terendah pada Mei lalu. Kondisi mata uang Amerika tersebut terlihat pada Indeks Dollar AS (DXY) yang anjlok dan sentuh level terendah hariannya 98,767. Penyebab pelemahan Dollar AS ini setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan program pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjangnya. Langkah ini mengisyaratkan kesiapan Departemen Keuangan AS untuk melakukan intervensi aktif di pasar obligasi guna membatasi imbal hasil jangka panjang, sekaligus meningkatkan prospek likuiditas Dollar AS dalam sistem keuangan global yang bersumber dari Rekening Umum Departemen Keuangan (Treasury General Account). Langkah-langkah tersebut sejalan dengan upaya sebelumnya untuk membatasi lonjakan obligasi jangka panjang secara global, yang seringkali mendorong perusahaan asing untuk menjual kepemilikan Dollar mereka guna mendukung mata uang mereka. Jepang dan AS baru-baru ini melakukan intervensi di pasar valuta asing yang memicu anjloknya indeks Dollar AS, sementara Menteri Keuangan Bessent menyerukan peningkatan batas fasilitas FIMA milik Federal Reserve agar negara-negara asing dapat memperoleh likuiditas dolar tanpa harus melakukan intervensi aktif di pasar valuta asing. Sementara itu, notulen FOMC mengkonfirmasi bahwa beberapa anggota melihat alasan untuk menaikkan suku bunga.
Pivot : 99,075
R1 : 99,383 S1 : 98,458
R2 : 100,000 S2 : 98,150
R3 : 100,308 S3 : 97,533

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bullish ke 64,700
Indeks Nikkei 225 naik 1,3% menjadi di atas 66.000 sementara Indeks Topix yang lebih luas naik 0,8% menjadi 4.045 pada hari Kamis, mengakhiri penurunan dua hari karena saham Jepang mengikuti tren positif dari Wall Street di tengah penurunan imbal hasil obligasi global dari level tertinggi multi-tahun. Departemen Keuangan AS mengatakan akan meningkatkan lebih dari dua kali lipat pembelian kembali utang 10, 20, dan 30 tahun selama beberapa bulan mendatang setelah imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007 awal pekan ini. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun juga turun menjadi sekitar 2,84% setelah mencapai level tertinggi 30 tahun sebesar 2,95% awal pekan ini. Sementara itu, data menunjukkan defisit perdagangan Jepang melebar tajam pada bulan Juli karena impor melonjak ke rekor tertinggi akibat peningkatan pembelian minyak mentah, sementara pertumbuhan ekspor tetap kuat, didukung oleh permintaan yang kuat untuk chip terkait AI. Kenaikan yang signifikan datang dari saham-saham unggulan dalam indeks, termasuk Kioxia Holdings (3,8%), Advantest (1,8%), SoftBank Group (3,2%), Nintendo (3,2%), dan Toyota Motor (3%).
Pivot : 62,930
R1 : 64,550 S1 : 62,085
R2 : 65,395 S2 : 60,465
R3 : 67,015 S3 : 59,620
HANGSENG
Opportunity: Bullish ke 26,270
Indeks Hang Seng sedikit berubah dan ditutup pada 25.495 pada hari Rabu, pulih dari penurunan sebelumnya karena saham HKEX naik 1,6% menjadi HK$411,40 menyusul hasil paruh pertama yang kuat dari operator bursa tersebut. Pendapatan naik 19% year-on-year, laba bersih meningkat 24%, dan dividen interim dinaikkan 24%, memberikan dukungan pada sentimen pasar. Pada saat yang sama, Hong Kong and China Gas naik setelah membukukan peningkatan laba paruh pertama sebesar 23%, membantu mendukung pasar secara keseluruhan. Namun, kenaikan tersebut dibatasi oleh latar belakang global yang berhati-hati, dengan investor mencerna aksi jual saham teknologi, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi, harga minyak yang lebih tinggi, dan ketegangan Timur Tengah yang kembali meningkat yang membebani selera risiko di seluruh pasar Asia. Pergerakan saham yang signifikan termasuk Xiaomi (5,1%), Tencent (0,9%), dan Meituan (1,9%). Sebaliknya, SMIC dan China Unicom masing-masing turun 4,6% dan 12,8%.
Pivot : 25,894
R1 : 26,141 S1 : 25,762
R2 : 26,273 S2 : 25,515
R3 : 26,520 S3 : 25,383
NASDAQ
Opportunity: Buy Limit: 28,261| SL: 28,150 | TP: 28,600
Kontrak berjangka saham AS sedikit menguat pada hari Kamis setelah mencatatkan rebound moderat pada sesi sebelumnya, karena penurunan tajam imbal hasil obligasi pemerintah membantu meningkatkan sentimen investor. Dalam perdagangan reguler pada hari Rabu, Dow dan S&P 500 masing-masing naik 0,22% dan 0,21%, sementara Nasdaq Composite naik 0,16%, dengan ketiga indeks acuan tersebut mengakhiri penurunan selama tiga hari berturut-turut. Sektor barang konsumsi non-esensial, material, dan barang konsumsi esensial berkinerja lebih baik daripada pasar secara keseluruhan, sementara saham industri, teknologi, dan keuangan tertinggal. Imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang turun dari level tertinggi multi-tahun setelah pemerintah mengumumkan rencana untuk meningkatkan pembelian kembali obligasi 10, 20, dan 30 tahun lebih dari dua kali lipat dalam beberapa bulan mendatang. Langkah ini dilakukan setelah imbal hasil obligasi pemerintah 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007 awal pekan ini. Investor kini mengalihkan perhatian mereka ke pendapatan raksasa ritel Walmart pada akhir hari ini, bersamaan dengan data klaim pengangguran mingguan terbaru.
Pivot : 27,969.50
R1 : 28,707.00 S1 : 27,586.25
R2 : 29,090.25 S2 : 26,848.75
R3 : 29,827.75 S3 : 26,465.50

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Bullish menguji resistance 4.541, namun ada potensi koreksi terlebih dahulu menguji support 4.472-4.444.
Harga emas bertahan di sekitar level US$4.500 per troy ounce pada perdagangan Kamis setelah mencatat kenaikan lebih dari 4% pada sesi sebelumnya. Penguatan tersebut terutama didorong oleh penurunan tajam imbal hasil (yield) US Treasury, setelah pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah untuk menekan biaya pembiayaan jangka panjang. Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk meningkatkan lebih dari dua kali lipat pembelian kembali surat utang tenor 10, 20, dan 30 tahun dalam beberapa bulan mendatang. Kebijakan tersebut muncul setelah yield Treasury 30 tahun sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2007 pada awal pekan.
Penurunan yield Treasury menjadi katalis positif bagi emas karena mengurangi opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan kupon seperti emas. Kondisi tersebut membuat logam mulia kembali lebih menarik bagi investor, terutama setelah kenaikan yield sebelumnya meningkatkan tekanan terhadap harga emas. Dengan yield jangka panjang yang mulai terkoreksi, minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai dan penyimpan nilai kembali menguat.
Di sisi lain, prospek kebijakan moneter Federal Reserve masih menjadi faktor yang dapat membatasi penguatan emas. Risalah pertemuan The Fed pada Juli menunjukkan bahwa sejumlah pejabat mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada tahun ini untuk mencegah tekanan inflasi yang lebih besar di kemudian hari. Sikap tersebut mengindikasikan bahwa ruang pelonggaran moneter belum sepenuhnya terbuka dan dapat kembali mendorong kenaikan yield apabila ekspektasi kenaikan suku bunga menguat.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut memberikan dukungan terhadap emas. Kebuntuan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran menjaga risiko inflasi serta ketidakpastian ekonomi global tetap tinggi. Dalam kondisi tersebut, emas berpotensi mempertahankan daya tariknya sebagai aset safe haven.
Pivot : 4.472
R1 4.541 R2 4.569 R3 4.595
S1 4.472 S2 4.444 S3 4.407
Oil
Opportunity : Tidak ada perubahan trend secara signifikan, Bullish selama bertahan di atas support 82,62, testing resistance 86,14.
Harga minyak mentah bertahan di atas US$84 per barel pada perdagangan Kamis setelah mencatat kenaikan lebih dari 3% sepanjang pekan berjalan. Penguatan harga terutama dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya kebuntuan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara masih berada dalam situasi tegang terkait berbagai isu, termasuk konfrontasi mengenai Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak global.
Risiko geopolitik semakin meningkat setelah Uni Emirat Arab mengumumkan penghentian sejumlah transaksi finansial dan ekonomi dengan Iran. Langkah tersebut diambil setelah UEA menuduh Iran meluncurkan rudal balistik ke wilayahnya. Peningkatan tekanan ekonomi dan ketegangan regional tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak, sehingga memberikan premi risiko geopolitik pada harga crude oil.
Meskipun demikian, risiko gangguan pasokan secara langsung masih relatif terkendali. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa arus minyak masih terus berlangsung melalui Selat Hormuz dan membuka kemungkinan untuk kembali melakukan pembicaraan dengan Teheran pada waktu tertentu. Selain itu, produsen minyak di kawasan Teluk masih mampu mengirimkan volume crude yang signifikan melalui jalur alternatif serta pengiriman yang dilakukan secara terbatas dan tidak terbuka. Kondisi tersebut membantu meredam kekhawatiran bahwa ketegangan geopolitik akan segera menyebabkan kekurangan pasokan global.
Dari sisi fundamental Amerika Serikat, data Energy Information Administration menunjukkan persediaan crude oil domestik justru meningkat sebesar 4,4 juta barel dalam sepekan terakhir. Kenaikan stok tersebut menjadi faktor yang berpotensi membatasi ruang penguatan harga karena menunjukkan pasokan minyak mentah AS masih cukup tersedia. Namun, persediaan produk distilat turun sebesar 1,5 juta barel dan mencapai level terendah dalam lebih dari satu bulan, memberikan indikasi adanya tekanan pada sisi permintaan atau pasokan produk olahan tertentu.
Pivot: 82,68
R1 86,14 S1 82,68
R2 87,63 S2 81,24
R3 89,19 S3 79,88
DAILY ECONOMIC DATA

WEBINAR HARI INI (Kamis, 20 Agustus 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Supply & Demand Jadi Fokus Trading Emas Jelang Data Jobless Claim AS
Catat jam dan waktunya ya!
| Kamis, 20 Agustus 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
