Ringkasan Pasar Global Pekan Ini
Ringkasan Pasar Global pada periode 02–06 Februari 2026 diwarnai tekanan di pasar saham dunia, penguatan tajam dolar AS, serta lonjakan volatilitas di komoditas. Pasar merespons penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya, data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, serta hasil kinerja emiten besar yang beragam. Kombinasi faktor kebijakan moneter, inflasi, dan laba korporasi membentuk arah pasar sepanjang pekan.
Saham Global Tertekan, Wall Street Volatil
Pasar saham global melemah untuk sesi kedua berturut-turut. Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average turun 179,09 poin atau 0,36% ke level 48.892,47. S&P 500 terkoreksi 29,98 poin atau 0,43% ke 6.939,03, sementara Nasdaq Composite anjlok 223,30 poin atau 0,94% ke 23.461,82. Data inflasi produsen AS menjadi pemicu utama tekanan jual karena pelaku pasar menilai risiko suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Secara mingguan, S&P 500 masih mencatat kenaikan 0,3%, menjadi penguatan pertama dalam tiga pekan. Dow Jones turun 0,4%, sedangkan Nasdaq melemah 0,2%. Kinerja bulanan tetap positif, dengan S&P 500 naik 1,4%, Dow Jones menguat 1,7%, dan Nasdaq bertambah 0,9%.
Inflasi AS dan Dampak Tarif Impor
Data Producer Price Index (PPI) AS untuk final demand melonjak 0,5% secara bulanan, jauh di atas estimasi 0,2% dan lebih tinggi dari kenaikan 0,2% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan upaya pelaku usaha meneruskan biaya impor yang lebih mahal akibat tarif. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih bertahan, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi terbatas dalam waktu dekat.
Penunjukan Kevin Warsh dan Arah Kebijakan The Fed
Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan Kevin Warsh sebagai pilihannya untuk menjadi Ketua Federal Reserve berikutnya, menggantikan Jerome Powell setelah masa jabatannya berakhir pada Mei. Trump menyatakan bahwa tidak pantas menanyakan langsung soal penurunan suku bunga, namun ia menilai Warsh memiliki kecenderungan untuk menurunkan biaya pinjaman. Pasar menilai Warsh mendukung suku bunga yang lebih rendah, tetapi tetap berhati-hati dan tidak agresif.
Sementara itu, Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem menegaskan bahwa bank sentral AS belum perlu memangkas suku bunga lebih lanjut, kecuali pasar tenaga kerja memburuk atau inflasi turun signifikan. Ia menilai kisaran suku bunga acuan 3,50%–3,75% sudah berada di level netral.
Eropa Lebih Tangguh Berkat Kinerja Emiten
Berbeda dengan Wall Street, indeks STOXX 600 Eropa naik 0,64% dan mempertahankan penguatan setelah pengumuman The Fed. Kinerja laba perusahaan yang solid mendorong indeks ini mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Mei serta memperpanjang tren naik bulanan menjadi tujuh bulan berturut-turut, terpanjang sejak 2021. MSCI World Index memang turun 0,69% ke 1.042,93, namun tetap berada di jalur kenaikan mingguan dan membukukan persentase kenaikan bulanan terbesar sejak September.
Dolar AS Menguat, Imbal Hasil Obligasi Naik
Nilai tukar dolar AS menguat signifikan setelah pengumuman calon Ketua The Fed dan rilis data inflasi. Indeks dolar naik 0,57% ke level 96,73, sementara euro melemah 0,54% ke $1,1904. Meski begitu, dolar masih mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut dan penurunan bulanan ketiga.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 2,4 basis poin ke 4,251%. Kenaikan ini membuka peluang terjadinya penguatan imbal hasil bulanan kedua berturut-turut, yang terakhir kali terjadi pada awal 2024.
Emas dan Perak Terkoreksi Tajam
Penguatan dolar AS memicu aksi ambil untung besar di pasar logam mulia. Harga emas spot anjlok 10,14% ke $4.847,87 per ons, setelah sebelumnya mencetak rekor hampir $5.600. Penurunan ini berpotensi mengakhiri tren kenaikan tiga pekan berturut-turut, meski secara bulanan emas masih melonjak lebih dari 12%, menjadi kinerja Januari terkuat sejak November 2009. Dalam ringkasan pasar global, Harga perak spot jatuh lebih dalam, turun 27,66% ke $84 per ons. Ini menjadi penurunan harian terbesar sejak setidaknya 1982 dan menegaskan tingginya volatilitas di sektor logam.
Minyak Bertahan di Area Tinggi
Harga minyak bergerak stabil dengan kecenderungan melemah terbatas. Minyak mentah AS turun 0,32% dan ditutup di $65,21 per barel, sementara Brent turun tipis 0,03% ke $70,69 per barel. Harga bertahan dekat level tertinggi enam bulan terakhir, didukung oleh ketegangan geopolitik yang terus berlangsung antara AS dan Iran.
Proyeksi Ekonomi Pekan 02–06 Februari
Ringkasan Pasar Global untuk pekan ke depan akan sangat dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter AS, rilis lanjutan data inflasi, serta perkembangan pasar tenaga kerja. Pasar saham berpotensi bergerak fluktuatif dengan fokus pada arah suku bunga dan keberlanjutan laba korporasi. Dolar AS masih memiliki peluang bertahan kuat selama tekanan inflasi belum mereda, sementara emas dan komoditas berisiko melanjutkan fase konsolidasi setelah volatilitas ekstrem.
WEEK AHEAD
(02 – 06 Februari 2026)
Week Ahead: 02–06 Februari 2026
Pekan pertama Februari akan menjadi lanjutan dari dinamika pasar global yang tidak biasa sejak awal tahun. Volatilitas ekstrem di logam mulia, kekhawatiran pelemahan nilai dolar AS, serta penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve masih membentuk sentimen. Fokus pasar akan tertuju pada data tenaga kerja AS, indikator aktivitas ekonomi utama, musim laporan keuangan emiten besar, serta keputusan suku bunga bank sentral utama dunia.
Amerika Serikat dan Kanada
Dalam Ringkasan Pasar Global, Amerika Serikat menjadi pusat perhatian melalui rilis laporan ketenagakerjaan Januari dari Bureau of Labor Statistics. Nonfarm payrolls diperkirakan bertambah 70.000, meningkat dari 50.000 pada Desember. Tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,4%, sementara rata-rata upah per jam diperkirakan kembali naik 0,3%. BLS juga akan merilis revisi benchmark tahunan dan pembaruan faktor musiman, yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.
Data pendukung pasar tenaga kerja juga akan dirilis melalui laporan JOLTS, yang diperkirakan menunjukkan penurunan moderat pada lowongan kerja, serta laporan ADP dan data pemutusan hubungan kerja dari Challenger. Dari sisi aktivitas ekonomi, ISM manufaktur diperkirakan menunjukkan kontraksi yang lebih kecil, sementara ISM jasa berpotensi mencatat perlambatan pertumbuhan. Indeks sentimen konsumen awal dari University of Michigan diperkirakan melemah. Data PMI final dari S&P Global, kredit konsumen, serta pengumuman Quarterly Refunding dari Departemen Keuangan AS juga akan menjadi perhatian.
Musim laporan keuangan berlanjut dengan rilis kinerja Amazon, Alphabet, Qualcomm, Palantir Technologies, Walt Disney, AMD, Uber, serta sejumlah perusahaan farmasi dan konsumen besar. Kinerja emiten teknologi dan AI akan menjadi tolok ukur minat risiko pasar.
Di Kanada, data ketenagakerjaan Januari diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 7.000 lapangan kerja, dengan tingkat pengangguran stabil di 6,8%. PMI S&P Global untuk Kanada juga akan dirilis.
Eropa
Di kawasan Eropa, pasar menantikan keputusan kebijakan moneter dari Bank Sentral Eropa dan Bank of England. Keduanya secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Polandia juga dijadwalkan mengumumkan kebijakan suku bunga, dengan ekspektasi tidak ada perubahan.
Dari sisi data, inflasi awal akan dirilis di Zona Euro, Prancis, dan Italia. Inflasi Zona Euro diperkirakan melambat ke 1,7%, Italia ke 1%, dan Prancis ke 0,6%. Di Jerman, pesanan pabrik diproyeksikan turun setelah tiga bulan berturut-turut mencatat kenaikan, sementara penjualan ritel diperkirakan kembali melemah. Produksi industri Prancis diperkirakan pulih, sedangkan penjualan ritel Italia berpotensi naik untuk bulan ketiga berturut-turut.
PMI manufaktur diperkirakan menunjukkan kontraksi yang lebih kecil di Spanyol, Italia, dan Swiss. Sektor jasa Spanyol diperkirakan tetap solid meski dengan laju yang lebih lambat. Data lain yang akan dipantau meliputi penjualan ritel Zona Euro, neraca perdagangan Jerman, tingkat pengangguran Spanyol, data perdagangan Prancis, serta harga rumah di Inggris.
Asia Pasifik
Di Asia, perhatian utama tertuju pada China dengan rilis PMI resmi manufaktur dan non-manufaktur NBS untuk Januari, diikuti oleh survei PMI swasta. Data tersebut diperkirakan menunjukkan pertumbuhan manufaktur dan jasa yang masih terbatas, mencerminkan pemulihan ekonomi yang belum merata.
Di Jepang, Bank of Japan akan merilis Summary of Opinions, dengan para pembuat kebijakan kembali menegaskan bahwa suku bunga akan terus naik jika aktivitas ekonomi dan inflasi bergerak sesuai proyeksi. Data PMI final juga akan dirilis, sementara belanja rumah tangga diperkirakan turun 1,3% setelah lonjakan kuat pada November.
Di Australia, Reserve Bank of Australia diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke 3,85% menyusul inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan. Data pendukung meliputi AI Group Industry Index, PMI final Januari, serta data perdagangan Desember yang diperkirakan mencatat surplus lebih lebar. Sementara itu, Selandia Baru dijadwalkan akan merilis data tenaga kerja.
Data Mingguan Perdagangan Emas (26 – 30 Januari 2026)
Open : 5.005,11 High : 5.597,52 Low : 4.682,57 Close : 4.874,63 Range : 914,95
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.506 | R1 5.420 |
| S2 4.137 | R2 5.966 |
| S3 3.591 | R3 6.335 |
Gold Outlook : Bullish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (26 – 30 Januari 2026)
Open : 61,20 High : 66,41 Low : 60,08 Close : 65,75 Range : 6,33
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 61,75 | R1 68,08 |
| S2 57,75 | R2 70,41 |
| S3 55,42 | R3 74,41 |
Oil Outlook : Bullish
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
