Weekly Review dan Outlook 25 – 29 Mei 2026 menunjukkan pasar global mulai kehilangan momentum reli setelah investor menghadapi lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah. Meski sentimen sempat membaik setelah muncul optimisme negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, investor tetap berhati-hati menghadapi risiko inflasi yang masih tinggi.
Wall Street Kehilangan Momentum Reli
Pergerakan pasar saham Amerika Serikat melemah sepanjang pekan lalu setelah kenaikan tajam imbal hasil obligasi Treasury memicu kekhawatiran baru terkait biaya pinjaman yang lebih tinggi. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2000-an di kisaran 5,19%.
Kondisi tersebut memberi tekanan pada valuasi saham, khususnya sektor teknologi yang sebelumnya menjadi motor utama reli pasar. Indeks S&P 500 ditutup melemah tipis dan mengakhiri tren kenaikan selama beberapa pekan terakhir. Nasdaq juga terkoreksi seiring mulai meredanya reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sektor defensif dan energi mampu bertahan lebih baik dibanding sektor siklikal seperti material dan industri. Sementara itu, pasar obligasi kembali tertekan karena ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama terus meningkat.
The Fed Mulai Membuka Peluang Kenaikan Suku Bunga
Risalah pertemuan Federal Reserve bulan April memperlihatkan perubahan besar dalam arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Beberapa pejabat bank sentral mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi yang dipicu lonjakan harga energi terus bertahan.
Pasar kini tidak lagi fokus pada kapan The Fed akan memangkas suku bunga. Sebaliknya, perhatian investor mulai bergeser pada kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan menjelang akhir tahun. Pelaku pasar bahkan mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober atau Desember.
Pergantian kepemimpinan The Fed juga menjadi perhatian pasar setelah Kevin Warsh resmi menjabat sebagai ketua baru Federal Reserve. Ia mengambil alih kebijakan moneter di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi dan dorongan Presiden Donald Trump agar bank sentral segera memangkas suku bunga.
Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Penggerak Pasar
Perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama penggerak pasar global pekan lalu. Harga minyak sempat melonjak mendekati US$110 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Namun, sentimen pasar membaik setelah muncul laporan mengenai potensi kemajuan pembicaraan damai. Harga minyak akhirnya turun kembali ke bawah US$100 per barel dan membantu meredakan tekanan inflasi.
Penurunan harga minyak tersebut ikut mendorong pemulihan sementara di pasar saham dan membantu menurunkan imbal hasil obligasi. Meski demikian, investor masih akan terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz yang hingga kini masih mengalami gangguan distribusi energi.
Nvidia Perkuat Optimisme Sektor AI
Laporan keuangan Nvidia menjadi perhatian terbesar pasar minggu lalu. Perusahaan teknologi tersebut mencatat pendapatan sekitar US$81,6 miliar atau melonjak sekitar 85% dibanding tahun sebelumnya.
Selain mencetak laba yang kuat, Nvidia juga mengumumkan program buyback saham senilai US$80 miliar. Hasil tersebut memperlihatkan permintaan terhadap infrastruktur AI masih sangat tinggi.
Meski begitu, pasar mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan sektor AI mampu terus mempertahankan ekspektasi tinggi investor. Reli pasar saham kini terlihat semakin sempit karena hanya ditopang oleh sejumlah perusahaan teknologi berkapitalisasi besar.
Harga Emas Turun karena Ekspektasi Suku Bunga Tinggi
Harga emas mencatat pelemahan mingguan setelah ekspektasi kenaikan suku bunga global kembali meningkat. Spot gold turun sekitar 0,7% sepanjang pekan dan diperdagangkan di kisaran US$4.509 per ounce pada akhir perdagangan Jumat.
Tekanan terhadap emas muncul karena investor memperkirakan bank sentral global akan mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk meredam inflasi akibat lonjakan harga energi. Lingkungan suku bunga tinggi biasanya mengurangi daya tarik aset non-yielding seperti emas.
Meskipun konflik Timur Tengah masih menjadi faktor pendukung safe haven, pasar emas belum mampu menghindari tekanan akibat kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
WEEK AHEAD
(25 – 29 Mei 2026)
Outlook Pasar Global 25 – 29 Mei 2026
Weekly Review dan Outlook 25 – 29 Mei 2026 pekan ini akan kembali dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, arah harga minyak, serta data inflasi global. Investor juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Pasifik.
Amerika
Di Amerika Serikat, perhatian pasar tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi favorit The Fed. Selain itu, pasar juga akan memantau data GDP kuartal pertama, durable goods orders, personal income, serta data sektor perumahan.
Pernyataan para pejabat Federal Reserve juga akan menjadi fokus utama untuk melihat arah kebijakan suku bunga berikutnya. Pasar keuangan Amerika Serikat sendiri tutup pada Senin karena libur Memorial Day. Di sisi lain, Kanada akan merilis data pertumbuhan ekonomi terbaru.
Eropa
Di Eropa, investor akan memantau data inflasi dari Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol. Lonjakan harga energi membuat sejumlah pejabat European Central Bank mulai mendukung kenaikan suku bunga tambahan. Data kepercayaan konsumen dan dunia usaha kawasan Eurozone juga diperkirakan masih berada di level rendah.
Asia – Pasifik
Sementara itu, kawasan Asia Pasifik akan diramaikan oleh sejumlah data penting dari Jepang seperti industrial production, retail sales, consumer confidence, dan inflasi Tokyo. Australia juga akan merilis data inflasi terbaru yang diperkirakan sedikit melambat.
Bank sentral Selandia Baru dan Korea Selatan dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga minggu ini.
Pasar Masih Sensitif terhadap Inflasi dan Suku Bunga
Pergerakan pasar global saat ini masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi inflasi dan suku bunga. Konflik Timur Tengah tetap menjadi faktor risiko utama karena dapat memicu lonjakan harga energi dan memperpanjang tekanan inflasi global.
Selama imbal hasil obligasi Amerika Serikat masih bertahan di level tinggi, volatilitas pasar saham dan emas kemungkinan tetap besar. Investor akan terus mencari kepastian mengenai arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Dengan kondisi tersebut, volatilitas diperkirakan masih mendominasi pasar sepanjang pekan ini, terutama menjelang rilis data inflasi utama Amerika Serikat pada akhir minggu.
Data Mingguan Perdagangan Emas (18 – 22 Mei 2026)
Open : 4.538,19 High : 4.589,54 Low : 4.453,39 Close : 4.510,12 Range : 136,15
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.446 | R1 4.582 |
| S2 4.382 | R2 4.654 |
| S3 4.310 | R3 4.718 |
Gold Outlook : Bearish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (18 – 22 Mei 2026)
Open : 101,59 High : 105,15 Low : 94,67 Close : 96,13 Range : 10,48
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 92,15 | R1 102,63 |
| S2 88,17 | R2 109,13 |
| S3 81,67 | R3 113,11 |
Oil Outlook : Bearish
Baca juga: Weekly Review dan Outlook 18 – 22 Mei 2026
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
