Market Summary
Peluang trading EUR/USD menjadi perhatian pasar setelah euro mencatat kenaikan moderat pada Selasa. Penguatan ini terutama berasal dari pelemahan dolar AS, bukan karena perbaikan fundamental euro. Pasangan EUR/USD bergerak di level 1,1194 setelah bangkit dari titik terendah dalam 17 bulan di sekitar 1,1150 pada Senin.
Meski mencatat pemulihan, euro masih menghadapi tekanan. EUR/USD telah melemah sekitar 3,5% dalam lima minggu terakhir. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis dan dampak kenaikan harga energi terus membayangi prospek mata uang tunggal Eropa tersebut.
Inflasi Jerman Meningkat pada September
Data inflasi Jerman memperkuat perhatian pasar terhadap tekanan harga di kawasan euro. Data final Harmonized Index of Consumer Prices (HICP) menunjukkan inflasi bulanan meningkat menjadi 0,6% pada September, dari 0,2% pada Agustus.
Secara tahunan, inflasi Jerman mencapai 3,3%, naik dari 2,9% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan harga kembali menguat dan dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB).
Inflasi yang lebih tinggi berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan ECB. Namun, kenaikan harga yang didorong oleh energi juga dapat meningkatkan biaya bisnis dan rumah tangga. Kondisi tersebut menambah tantangan bagi perekonomian zona euro.
Krisis Fiskal Prancis Membayangi Euro
Selain inflasi, kondisi fiskal Prancis masih menjadi sumber tekanan bagi euro. Peningkatan utang pemerintah telah mendorong biaya pinjaman ke level yang terakhir terlihat selama krisis keuangan pada 2009–2011.
Pemerintah Prancis menghadapi kesulitan memperoleh dukungan yang cukup untuk menjalankan program penghematan anggaran. Pada saat yang sama, demonstrasi mahasiswa terkait pendanaan pendidikan menambah tekanan domestik.
Ketidakpastian fiskal ini membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berdenominasi euro. Perkembangan politik dan kemampuan pemerintah mengendalikan anggaran akan tetap menjadi perhatian pasar dalam menilai prospek mata uang kawasan tersebut.
Harga Minyak Tinggi Menambah Tekanan Ekonomi Zona Euro
Ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi prospek ekonomi Eropa. Harga minyak Brent telah turun dari puncak bulanan di atas US$105 per barel, tetapi masih bertahan di atas US$100.
Harga energi yang tinggi meningkatkan biaya produksi dan transportasi serta mengurangi daya beli rumah tangga. Jika inflasi tetap tinggi ketika pertumbuhan ekonomi melambat, zona euro menghadapi risiko stagflasi, yaitu kondisi ketika kenaikan harga berlangsung bersamaan dengan lemahnya pertumbuhan ekonomi.
Situasi ini menempatkan euro dalam posisi sulit. Tekanan inflasi dapat membatasi pelonggaran moneter ECB, sementara kenaikan biaya energi berpotensi memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi kawasan.
Sikap Hawkish The Fed Menjadi Perhatian Pasar
Dari Amerika Serikat, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, kembali menekankan perlunya kebijakan moneter yang ketat. Ia menilai tekanan inflasi telah meluas dan membutuhkan respons kebijakan yang lebih berhati-hati.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum mampu mendorong penguatan dolar AS. Pelaku pasar cenderung menunggu data inflasi konsumen AS untuk memperoleh petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan Federal Reserve berikutnya.
Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk September diperkirakan meningkat menjadi 3,7% secara tahunan, dibandingkan 3,4% pada Agustus. Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan naik menjadi 2,5% dari 2,4%.
Data indeks harga produsen (PPI) yang dijadwalkan rilis pada Kamis juga menjadi perhatian. Inflasi produsen tahunan diperkirakan bertahan di 5,4%, sedangkan inflasi inti diproyeksikan turun menjadi 4,4% dari 4,6% pada Agustus.
Peluang Trading EUR/USD Menjelang Rilis Data Inflasi AS
Peluang trading EUR/USD dalam waktu dekat akan bergantung pada perkembangan inflasi dan respons pasar terhadap kebijakan moneter kedua bank sentral. Data inflasi Jerman yang meningkat memberikan gambaran mengenai tekanan harga di zona euro, tetapi krisis fiskal Prancis dan tingginya harga energi masih membatasi sentimen terhadap euro.
Sementara itu, data CPI dan PPI AS berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah Federal Reserve. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dan mendukung dolar AS. Sebaliknya, data yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap euro jika pasar menilai peluang pelonggaran kebijakan The Fed semakin besar.
Pelaku pasar akan mencermati rangkaian data tersebut untuk menilai arah pergerakan EUR/USD berikutnya. Perhatian juga tertuju pada perkembangan fiskal Prancis dan ketegangan geopolitik yang memengaruhi harga energi serta prospek ekonomi zona euro.
Analisa Teknikal
Berdasarkan analisis Trading Central, EUR/USD masih menunjukkan tren bearish pada time frame H4, dengan level pivot di 1.1193. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, tekanan bearish berpotensi berlanjut dengan target support di 1.1149, 1.1137, dan 1.1125.
Sebaliknya, jika harga menembus level pivot 1.1193 ke atas, EUR/USD berpeluang menguat untuk menguji area resistance di 1.1213 hingga 1.1225.
Resistance 1.1193 Resistance 2: 1.1213 Resistance 3: 1.1225
Support1: 1.1149 Support 2: 1.1137 Support 3: 1.1125
Baca juga: Peluang Trading Silver Pasca Serangan ke Bandara Riyadh
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
