FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bullish Range 0,69400 – 0,70100
Pergerakan mata uang Dollar Australia terhadap mata uang Greenback berusaha menguat, meski terbatas dan sementara. Saat ini Aussie tetap di dekat level terendahnya sejak pertengahan Juli, setelah laporan pekerjaan yang lemah secara tak terduga membuat para pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut. Tingkat pengangguran tetap berada di level tertinggi 5 tahun terakhir yaitu 4,7%, di atas perkiraan 4,6%, sementara angka bulan sebelumnya direvisi naik dari angka awal 4,6%. Selain itu, perekonomian kehilangan 39.300 lapangan kerja, penurunan bulanan terbesar sejak Februari tahun lalu, yang sangat kontras dengan ekspektasi penambahan 20.000 lapangan kerja. Data ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja mungkin mulai melonggar setelah Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga acuan sebesar 1 poin persentase menjadi 4,60% tahun ini guna meredam inflasi—salah satu siklus pengetatan paling agresif di antara negara-negara maju. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada bulan November kurang dari 10%, turun dari 35% sebelumnya, sementara peluang kenaikan pada bulan Desember turun menjadi 30% dari 60%. Perhatian kini tertuju pada pidato Gubernur Andrew Hauser pekan ini serta data Indeks Harga Konsumen (CPI) kuartal ketiga yang akan dirilis akhir bulan ini, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan ke depan.
Pivot : 0,69420
R1 : 0,69696 S1 : 0,69173
R2 : 0,69943 S2 : 0,68897
R3 : 0,70219 S3 : 0,68650
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 157,900 – 158,500
Kondisi mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Greenback mencoba untuk menguat, meski terbatas dan sementara. Yen Jepang menguat dan sentuh 157,685, menjauh dari level terendah enam minggu setelah Menteri Keuangan Satsuki Katayama memperingatkan bahwa pihak berwenang siap untuk kembali melakukan intervensi di pasar mata uang jika diperlukan. Ia juga menegaskan bahwa posisi Washington dan Tokyo tetap tidak berubah menyusul intervensi bersama untuk mendukung Yen pada Juli lalu. Komentar-komentarnya muncul setelah mata uang melemah sebagai respons terhadap data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Terkait kebijakan moneter, anggota dewan Bank of Japan (BOJ), Junko Koeda, mengingatkan agar tidak terlalu menahan diri dalam menaikkan suku bunga, yang mengisyaratkan bahwa bank sentral tersebut mungkin tetap berada di jalur untuk kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Laporan sebelumnya mengindikasikan bahwa BOJ ragu-ragu untuk menerapkan kenaikan suku bunga berturut-turut yang tidak biasa bulan ini, sementara masih mempertimbangkan potensi kenaikan di bulan Desember.
Pivot : 158,000
R1 : 158,315 S1 : 157,668
R2 : 158,647 S2 : 157,353
R3 : 158,962 S3 : 157,021
GBPUSD
Opportunity : Bullish menuju : 1.3387 – 1.3427
Sesuai perkiraan, Pounds ditutup menguat di akhir perdagangan pekan kemarin. Dukungan data ekonomi Inggris yang cukup solid mampu mendorong mata-uang Poundsterling bergerak menguat dalam dua sesi berturut. Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey mengatakan bahwa tanda-tanda tekanan inflasi putaran kedua masih relatif terkendali. Ia juga menilai ekonomi Inggris lebih tangguh daripada perkiraan sebelumnya. Survei Reuters menunjukkan 54 dari 63 ekonom memperkirakan BoE akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada November. Ekspektasi tersebut dapat mendukung pound jika data inflasi Inggris melampaui perkiraan. Disatu-sisi Indeks Dollar AS merosot ke level terendah dalam 2 minggu dan ditutup turun pada akhir pekan hari Jumat, setelah Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, tidak memberikan panduan mengenai kebijakan moneter maupun kondisi ekonomi dalam pidatonya di pertemuan tahunan IMF di Bangkok. Indeks Dollar AS ditutup turun 0,17% pada 101,83. Absennya panduan dari Kevin Warsh menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed akhir bulan ini menjadi 13%, dari sebelumnya 27% pada hari Kamis. Investor akan memantau data penjualan ritel, pasar tenaga kerja, dan inflasi Inggris pada pekan depan. Pasangan GBP/USD masih bergerak di bawah 1,3400, dengan arah berikutnya bergantung pada data ekonomi dan prospek kebijakan BoE.
Open : 1.3302 Pivot 1.3323
R1 : 1.3367 S1 : 1.3283
R2 : 1.3387 S2 : 1.3258
R3 : 1.3427 S3 : 1.3219
EURUSD
Opportunity : Bullish menuju 1.1276 – 1.1300
Euro naik ke level tertinggi dalam 1,5 minggu pada akhir pekan kemarin, terdukung pelemahan U.S Dollar. Pasangan mata uang EUR/USD ditutup naik 0,17% pada 1.1239. komentar hawkish dari anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB), Nagel, turut mendorong Euro, ia menyatakan bahwa ECB mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk meredam inflasi. Anggota Dewan Gubernur ECB sekaligus Presiden Bundesbank, Joachim Nagel, menyatakan, “ECB telah menaikkan suku bunga sebanyak dua kali, dan jika situasi tetap seperti saat ini, kami tidak menutup kemungkinan untuk mengambil langkah lebih lanjut.” Namun, kenaikan Euro dikurangi, turun dari level tertingginya pada hari Jumat setelah harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam 1 bulan, sementara harga gas alam di Eropa melesat ke level tertinggi dalam 3,75 tahun. Kondisi ini berdampak negatif bagi ekonomi Zona Euro maupun mata uang Euro, mengingat Eropa sangat bergantung pada impor energi. Namun kerusuhan yang terjadi di Perancis dapat mempengaruhi dan menekan Euro. EUR masih berpotensi untuk menguat di tengah lemahnya permintaan U.S Dollar.
Open : 1.1196 Pivot : 1.1238
R1 : 1.1267 S1 : 1.1177
R2 : 1.1276 S2 : 1.1146
R3 : 1.1300 S3 : 1.1114
USDCHF
Opportunity : Bearish menuju : 0.8207 – 0.8183
Swiss Franc kembali menguat dalam dua hari berturut didukung pelemahan U.S Dollar. CHF ditutup menguat di level 0.8238 pada Jumat kemarin. Indeks Dollar AS merosot ke level terendah dalam 2 minggu dan ditutup turun pada akhir pekan hari Jumat, setelah Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, tidak memberikan panduan mengenai kebijakan moneter maupun kondisi ekonomi dalam pidatonya di pertemuan tahunan IMF di Bangkok. Indeks Dollar AS ditutup turun 0,17% pada 101,83. Absennya panduan dari Kevin Warsh menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed akhir bulan ini menjadi 13%, dari sebelumnya 27% pada hari Kamis. Namun penguatan mata-uang Swiss Franc tertahan setelah harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam 1 bulan, sementara harga gas alam di Swiss melesat ke level tertinggi dalam 3,75 tahun. Kondisi ini berdampak negatif bagi ekonomi Swiss maupun mata uang Franc Swiss, mengingat Swiss sangat bergantung pada impor energi. CHF masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini didukung lemahnya permintaan mata-uang U.S Dollar.
Open : 0.8240 Pivot : 0.8247
R1 : 0.8272 S1 : 0.8223
R2 : 0.8287 S2 : 0.8207
R3 : 0.8311 S3 : 0.8183
DXY
Opportunity: Bearish Range 101,700 – 101,400
Akhirnya mata uang Dollar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya mengalami pelemahan pada penutupan market akhir pekan kemarin. Tekanan tersebut terlihat pada Indeks Dollar (DXY) yang merosot dan sentuh level terendah hariannya di 101,576. Saat ini mata uang Greenback sentuh level terendah dalam dua minggu, dan turun sekitar 0,4% untuk pekan lalu, menandai penurunan mingguan pertamanya setelah 3 minggu berturut-turut mengalami penguatan. Dollar AS berada di bawah tekanan di tengah kekhawatiran mengenai pengeluaran untuk kecerdasan buatan (AI) di tengah lingkungan suku bunga tinggi. Sentimen ini membebani kepercayaan para pelaku pasar dan memicu pergeseran ke aset yang lebih aman (*flight to safety*) pada awal pekan lalu, yang menyebabkan penurunan pada pasar saham, imbal hasil obligasi, dan nilai Dollar AS. Dari sisi data, angka Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang lebih tinggi dari perkiraan semakin memperkuat bukti adanya tekanan inflasi yang meningkat. Saat ini, pasar memperkirakan sekitar 85% kemungkinan suku bunga akan tetap tidak berubah pada Oktober, sementara hampir 90% kemungkinan kenaikan sebesar 25 basis poin pada bulan Desember. Komentar dari Ketua Fed Warsh pada KTT IMF semakin memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap stabil pada Oktober. Warsh menolak untuk memberikan isyarat apakah kenaikan suku bunga lainnya sedang dipertimbangkan, tetapi mengatakan bahwa inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tidak mengubah penilaiannya terhadap perekonomian AS.
Pivot : 101,813
R1 : 102,051 S1 : 101,541
R2 : 102,323 S2 : 101,303
R3 : 102,561 S3 : 101,031

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bullish ke area 67,031
Indeks Nikkei 225 turun 2,2% menjadi di bawah 64.000 pada hari Senin, mencapai titik terendah dalam satu bulan karena saham-saham teknologi melanjutkan penurunan di tengah meningkatnya tekanan pada perdagangan kecerdasan buatan (AI). Investor semakin mempertanyakan apakah pengeluaran besar-besaran untuk infrastruktur AI akan menghasilkan pengembalian yang cukup, terutama karena perusahaan-perusahaan Jepang tetap sangat terlibat dalam ekspansi AI global. Saham-saham yang mengalami penurunan signifikan termasuk Kioxia (-1,6%), Advantest (-4%), SoftBank Group (-5,3%), Lasertec (-5,2%), dan Taiyo Yuden (-6,2%). Saham Kioxia juga menghadapi risiko penurunan tambahan setelah laporan menunjukkan bahwa posisi beli (long position) dengan leverage yang beredar di saham tersebut mencapai sekitar ¥920 miliar minggu lalu, tertinggi di antara perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Tokyo. Sementara itu, investor mengalihkan perhatian mereka ke data perdagangan dan inflasi yang akan datang untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang kesehatan ekonomi Jepang.
Pivot : 65,887
R1 : 66,893 S1 : 65,303
R2 : 67,477 S2 : 64,297
R3 : 68,483 S3 : 63,713
HANGSENG
Opportunity: Bearish ke 25,217
Indeks Hang Seng naik 0,5%, atau 124 poin, dan ditutup pada 24.187 pada hari Jumat, pulih dari kerugian sesi sebelumnya karena ekuitas Asia pulih setelah aksi jual saham teknologi dan semikonduktor, dengan pembeli yang memanfaatkan penurunan harga di tengah meredanya kekhawatiran atas volatilitas pasar global. Imbal hasil yang lebih rendah membantu mengurangi tekanan pada ekuitas, sementara investor membeli saham yang harganya jatuh setelah volatilitas pasar baru-baru ini dan mengikuti kenaikan di Wall Street. Pemulihan produsen chip regional juga membantu meningkatkan selera risiko, meskipun ketidakpastian seputar keberlanjutan pengeluaran kecerdasan buatan terus membebani sebagian sektor teknologi. Investor juga menunggu komentar Ketua Federal Reserve Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang prospek suku bunga AS. Data kepercayaan bisnis Hong Kong juga akan dirilis kemudian pada hari itu. Pergerakan saham yang signifikan termasuk Lenovo (6,2%), Kingboard Laminates (2,5%), Z.AI Co. (1,2%), dan AIA (1,0%). Indeks ditutup pada hari Senin karena hari libur nasional.
Pivot : 24,408
R1 : 24,558 S1 : 24,120
R2 : 24,846 S2 : 23,970
R3 : 24,996 S3 : 23,682
NASDAQ
Opportunity: Buy Limit: 30,560| SL: 30,400 | TP: 30,720
Kontrak berjangka saham AS naik pada hari Senin karena investor bersiap menghadapi pekan yang sibuk dengan laporan pendapatan perusahaan sambil menilai kembali prospek investasi terkait AI. Kontrak berjangka Nasdaq 100 naik 0,7%, sementara kontrak berjangka S&P 500 dan Dow masing-masing naik sekitar 0,4%. Para pelaku pasar menunggu hasil dari perusahaan-perusahaan besar, termasuk Tesla, Meta, Netflix, American Express, dan GE Aerospace. Pekan lalu, Nasdaq Composite dan S&P 500 masing-masing turun 4,48% dan 1,95%, karena saham teknologi berada di bawah tekanan di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang pembiayaan AI. CoreWeave, perusahaan neocloud yang sangat bergantung pada utang untuk membangun pusat data yang disewakan kepada perusahaan teknologi, muncul sebagai titik fokus kekhawatiran ini, dengan sahamnya anjlok 25% selama pekan tersebut. Sementara itu, investor obligasi korporasi mulai menghindari utang CoreWeave, mendorong credit default swap perusahaan ke tingkat yang mengkhawatirkan.
Pivot : 30,917.92
R1 : 31,166.33 S1 : 30,771.33
R2 : 31,312.92 S2 : 30,522.92
R3 : 31,561.33 S3 : 30,376.33

COMMODITY ZONE BY NITRA
Gold
Opportunity:Cenderung naik terbatas selama harga bertahan di atas 4.100, dengan kisaran perdagangan yang dominan di 4.100 sampai 4.240
Pergerakan harga emas pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, ditutup relatif mendatar dengan pembentukan candle harian ber-range sempit sekitar 52 Dolar AS. Setelah dibuka pada level 4.171,36 dan sempat menyentuh level tertinggi 4.198,99 serta level terendah 4.147,08, harga akhirnya mengakhiri sesi di 4.168,82. Secara mingguan, posisi penutupan tersebut terhitung hampir sejajar dengan level penutupan Senin di 4.170,72. Padahal, dinamika tengah pekan sempat menguji ketahanan pasar ketika data inflasi Amerika Serikat yang memanas menekan harga hingga ke level terendah 4.073,29 pada Rabu, 14 Oktober. Dominasi pembeli kemudian mampu mengembalikan konsolidasi harga ke atas level psikologis 4.100 pada dua hari perdagangan terakhir. Saat ini, pergerakan emas masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 10 hari pada kisaran 4.152 dan secara konsisten bergerak di rentang 4.100 hingga 4.290 sejak akhir September. Kendati masih berada jauh di bawah puncak rekor Januari pada kisaran 5.597, emas berupaya membentuk pijakan konsolidasi yang solid di atas dasar tahunannya pada 3.942.
Dari sisi fundamental per Senin, 19 Oktober 2026, rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS September yang tumbuh 3,7% secara tahunan (YoY) di atas ekspektasi 3,6%, diikuti lonjakan Indeks Harga Produsen (PPI) sebesar 6,3% YoY, sempat mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober hingga mendekati 60%. Namun, spekulasi tersebut langsung surut ke kisaran 16% setelah Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan sinyal hawkish untuk rapat Oktober dalam pertemuannya di IMF, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember masih terpatri kuat di angka 89%. Mengingat The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September lalu, emas harus berhadapan dengan tren suku bunga tinggi. Tekanan tambahan bagi logam mulia juga datang dari imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bertahan di kisaran 5,1% serta indeks Dolar AS yang berada di level 101,87. Di sisi lain, lonjakan harga minyak hingga menyentuh 110 Dolar AS memberikan efek ganda: memperkuat daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven) dari ancaman inflasi, sekaligus meningkatkan risiko pengetatan moneter lanjutan dari The Fed. Agenda kalender ekonomi AS hari ini cenderung sepi menyusul mulainya masa blackout pejabat The Fed menjelang rapat FOMC pada 27–28 Oktober. Oleh karena itu, arah pergerakan harga emas hari ini diperkirakan akan sangat bergantung pada dinamika yield obligasi, pergerakan dolar, serta fluktuasi harga minyak. Pada awal sesi Asia, emas dibuka menguat tipis ke kisaran 4.182.
Pivot : 4171.63
R1 4196.18 R2 4223.54 R3 4248.09
S1 4144.27 S2 4119.72 S3 4092.36
Oil
Opportunity : Cenderung bullish selama harga bertahan di atas 95,2 sampai 96,3
Minyak mentah mengakhiri sesi perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, dengan performa yang sangat solid. Setelah dibuka pada level 96,09, sempat menyentuh level terendah 95,23 sebelum melesat hingga mencapai level tertinggi 99,29 dan ditutup di 98,93. Kenaikan harian sebesar 2,8% ini membentuk bentukan pola bullish yang kuat dengan harga penutupan yang mendekati level tertingginya. Secara akumulatif sepanjang pekan lalu, minyak mentah berhasil melesat sekitar 8% dari posisi penutupan pekan sebelumnya di 91,53, mengonfirmasi dorongan beli yang masif setelah sempat tertahan dalam rentang konsolidasi 89 hingga 94. Pencapaian ini sekaligus menandai level penutupan tertingginya sejak pertengahan September dan menempatkan posisi harga jauh di atas rata-rata pergerakan 10 hari pada kisaran 92,6. Target resistensi berikutnya terbentang pada zona 103 hingga 106 yang merupakan area tertinggi pertengahan September, sedangkan tingkat support terdekat berada di 95,2 dan 92,4. Pada awal perdagangan pekan ini, harga terpantau mengalami koreksi teknis tipis ke kisaran 97,81 dari posisi pembukaan di 98,84.
Ditinjau dari faktor fundamental per 19 Oktober 2026, pasar minyak mendapat sentimen positif yang kuat menyusul penutupan akhir pekan lalu di mana Brent menguat ke 109,86 dan WTI menyentuh 101,41, mencatatkan lonjakan mingguan masing-masing sebesar 4,9% dan 10,4%. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh eskalasi risiko pasokan di Timur Tengah setelah sedikitnya sembilan kapal dilaporkan mendapat serangan di kawasan Selat Hormuz. Jalur distribusi vital ini tercatat mengalami penurunan lalu lintas harian menjadi 9,4 juta barel per hari, atau hanya menyisakan sekitar 70% dari kapasitas normal sebelum konflik Iran. Ketegangan pasar fisik kian diperparah oleh gangguan pasokan solar global serta berhentinya operasi beberapa kilang di Rusia. Meski pemerintah AS berupaya meredam lonjakan harga melalui pelepasan lebih dari 20 juta barel cadangan oleh IEA serta penawaran exchange tender hingga 17 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis (SPR), sentimen pasar masih berada dalam kecemasan. Namun, kenaikan harga mulai tertahan pagi ini setelah Presiden Donald Trump menerbitkan kebijakan pengecualian sanksi dan tarif terhadap Rusia yang berpotensi menambah arus ekspor bahan bakar negara tersebut, sehingga menyeret Brent turun sekitar 1% ke level 108,80 di sesi Asia. Fokus pelaku pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data stok mingguan AS di pertengahan pekan, serta perkembangan situasi geopolitik di Selat Hormuz dan serangan Ukraina ke kilang-kilang minyak Rusia.
Pivot: 97.82
R1 100.40 S1 96.34
R2 101.88 S2 93.76
R3 104.46 S3 92.28
DAILY ECONOMIC DATA

WEBINAR HARI INI (Senin, 19 Oktober 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Membaca Arah Pasar Jelang Pidato Kevin Warsh
Catat jam dan waktunya ya!
| Senin, 19 Oktober 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
