Data Tenaga Kerja AS Jadi Fokus Pasar
Data tenaga kerja AS menjadi perhatian utama investor setelah Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin. Reli saham Amerika Serikat didorong oleh penguatan saham teknologi, meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta optimisme pasar terhadap prospek ekonomi AS. Kini, investor menunggu data tenaga kerja AS yang akan dirilis pada Kamis karena laporan tersebut menjadi pertimbangan penting bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Data tenaga kerja AS juga menjadi katalis utama yang dicermati pelaku pasar pada pekan ini.
Wall Street Ditutup Menguat, Dow Jones Cetak Rekor
Indeks saham utama Amerika Serikat ditutup menguat, dengan Dow Jones Industrial Average menembus level 52.000 untuk pertama kalinya. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite berhasil rebound setelah mengalami tekanan tajam pada pekan sebelumnya.
Penguatan dipimpin oleh sektor teknologi, terutama setelah saham Alphabet naik lebih dari 4% pada hari pertamanya sebagai anggota indeks Dow Jones. Kenaikan saham-saham teknologi berhasil mendorong sentimen positif di pasar saham AS.
Optimisme investor juga meningkat setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa Gubernur Federal Reserve Lisa Cook tetap menjabat. Putusan tersebut menolak upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memberhentikannya sekaligus menegaskan independensi Federal Reserve.
Meredanya Ketegangan AS-Iran Dukung Sentimen Pasar
Sentimen pasar semakin membaik setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda. Kedua negara dilaporkan sepakat menghentikan aksi saling serang yang terjadi selama akhir pekan.
Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa tindakan militer masih dapat dilakukan apabila diperlukan. Namun, ia juga mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan menggelar perundingan lanjutan di Doha, Qatar, pada Selasa. Harapan terhadap kelanjutan dialog tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Dolar AS Bertahan Kuat Menjelang Laporan Ketenagakerjaan
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di sekitar level 101,10 setelah kehilangan sebagian momentumnya akibat aksi ambil untung. Meski demikian, dolar tetap berada dekat level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Dolar AS masih didukung oleh aktivitas ekonomi yang tetap solid, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.
Lagarde Soroti Risiko Inflasi Kawasan Euro
EUR/USD menguat menuju area 1,1420 setelah investor mencermati data sentimen kawasan euro dan pidato Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde dalam ECB Forum on Central Banking 2026.
Christine Lagarde mengatakan bahwa Eropa berpotensi menghadapi lebih banyak guncangan yang dapat mendorong inflasi menjauh dari target bank sentral. Menurutnya, ketahanan ekonomi kawasan euro memberikan ruang bagi Bank Sentral Eropa untuk menaikkan suku bunga tanpa menimbulkan tekanan terhadap stabilitas keuangan. Investor kini menantikan data Penjualan Ritel Jerman dan inflasi awal kawasan euro.
Di pasar valuta asing lainnya, GBP/USD menguat terbatas di sekitar 1,3260 karena pelemahan dolar AS. Sementara itu, USD/JPY bertahan di dekat level 161,90 akibat perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve dan Bank of Japan yang masih lebar, sehingga pelaku pasar tetap mengantisipasi kemungkinan intervensi otoritas Jepang.
AUD/USD melemah menuju area 0,6890 menjelang rilis notulen rapat Reserve Bank of Australia. Investor akan mencermati pandangan bank sentral mengenai inflasi serta peluang pengetatan kebijakan lebih lanjut. Data PMI manufaktur dan nonmanufaktur China juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi pergerakan dolar Australia.
Harga Minyak Bertahan, Emas Masih Tertekan
Harga minyak mentah WTI bergerak terbatas di sekitar US$70,50 per barel. Kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz masih menjaga premi risiko pasokan. Namun, harga tetap berada di bawah level tertinggi sebelumnya karena investor masih menilai apakah ketegangan di Timur Tengah akan mengganggu ekspor minyak atau mulai mereda.
Sementara itu, harga emas berada di sekitar US$4.020 per ons. Penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi mengurangi minat terhadap logam mulia. Namun, ketidakpastian geopolitik masih membantu membatasi tekanan yang lebih dalam pada harga emas.
Prospek Harga Emas Selasa | 30 Juni 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, tercermin dari posisi harga yang terus bergerak di bawah SMA 50 yang masih mengarah turun. Setelah gagal menembus area resistance 4.096 yang berdekatan dengan SMA 50, harga kembali terkoreksi dan kini diperdagangkan di sekitar 4.020, mengindikasikan bahwa tekanan jual masih mendominasi. Sementara itu, indikator RSI bergerak di bawah level 50, yang menunjukkan momentum bearish masih cukup kuat meskipun belum memasuki area jenuh jual.
Selama harga bertahan di bawah resistance 4.096, potensi pelemahan diperkirakan masih berlanjut dengan target support di 3.959, kemudian 3.886, dan apabila tekanan jual semakin meningkat, harga berpeluang melanjutkan penurunan hingga support berikutnya di 3.819. Sebaliknya, jika harga mampu menembus dan bertahan di atas 4.096, maka peluang pemulihan dapat berlanjut menuju resistance 4.145, dengan target kenaikan berikutnya di area 4.199.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.096 R2 4.145 R3 4.199
S1 3.959 S2 3.886 S3 3.819
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 3.985 |
| Profit Target Level | 4.060 |
| Stop Loss Level | 3.940 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.070 |
| Profit Target Level | 3.970 |
| Stop Loss Level | 4.100 |
Prospek Harga US Oil Selasa | 30 Juni 2025
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren bearish, terlihat dari posisi harga yang tetap bergerak di bawah SMA 50 yang masih menurun. Setelah membentuk rebound dari area support 68,86, harga kini menguji resistance 72,80 yang juga berada tidak jauh di bawah SMA 50, sehingga kenaikan yang terjadi masih berpotensi bersifat korektif. Di sisi lain, indikator RSI mulai menguat namun masih berada di bawah level 50, menunjukkan bahwa momentum beli mulai meningkat tetapi belum cukup kuat untuk mengubah arah tren utama.
Selama harga masih bertahan di bawah resistance 72,80, tekanan jual diperkirakan tetap mendominasi dengan potensi penurunan menuju support 68,86. Jika level tersebut ditembus, pelemahan dapat berlanjut ke support 65,79 hingga 63,57. Sebaliknya, apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas 72,80, peluang penguatan dapat berlanjut menuju resistance 75,16, dengan target kenaikan berikutnya di area 78,07.
US Oil INTRADAY AREA
R1 72,80 R2 75,16 R3 78,07
S1 68,86 S2 65,79 S3 63,57
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 68,90 |
| Profit Target Level | 71,50 |
| Stop Loss Level | 68,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 71,75 |
| Profit Target Level | 70,00 |
| Stop Loss Level | 73,00 |
Baca analisa sebelumnya: Dolar AS Menguat, Harga Emas Catat Rugi Mingguan
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber yang dianggap terpercaya dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi mengenai perkembangan pasar keuangan. Seluruh data, opini, dan proyeksi yang disampaikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global. Artikel ini bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran investasi maupun trading. Setiap keputusan investasi dan transaksi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. Selalu lakukan analisis dan pertimbangan risiko secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.
