FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bullish Range 0,70800 – 0,71300
Geliat pergerakan mata uang Aussie terhadap mata uang Dollar AS berusaha mempertahankan penguatannya. Dimana Aussie mendekati level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir karena pernyataan terbaru Bank Sentral memperkuat sikap kebijakan yang restriktif. Asisten Gubernur RBA Christopher Kent mengatakan bahwa kenaikan suku bunga sebelumnya berjalan sesuai rencana, dengan kondisi moneter yang lebih ketat membebani pengeluaran konsumen dan memperlambat aktivitas ekonomi secara lebih luas. Ia mencatat bahwa pertumbuhan kredit perumahan telah melambat, dengan penurunan yang nyata dalam pemberian pinjaman rumah baru, dan mengatakan bahwa kondisi keuangan secara keseluruhan tetap agak ketat. Bank sentral mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35% minggu ini setelah menaikkannya sebesar 75 basis poin sejak bulan Februari. Namun, Gubernur Michele Bullock mengatakan para pembuat kebijakan tetap khawatir bahwa inflasi mungkin tidak akan mereda seperti yang diharapkan dan siap untuk menaikkan suku bunga lagi jika diperlukan. Pasar memperkirakan sekitar 54% kemungkinan kenaikan suku bunga menjadi 4,60% pada bulan Desember, yang kemungkinan menandai berakhirnya siklus pengetatan kebijakan moneter. Perhatian kini beralih ke Gubernur Michele Bullock, yang dijadwalkan memberikan kesaksian di hadapan parlemen pada Jumat.
Pivot : 0,70764
R1 : 0,71017 S1 : 0,70577
R2 : 0,71204 S2 : 0,70324
R3 : 0,71457 S3 : 0,70137
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 159,300 – 160,000
Menutup pekan kemarin mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Greenback, Yen sempat menguat terbatas, namun kembali mengalami pelemahan. Kondisi Yen Jepang diperdagangkan dan berada di jalur pelemahan sekitar 1% sepanjang pekan lalu, karena tidak adanya intervensi lanjutan dari pihak berwenang mendorong spekulan untuk terus berspekulasi melawan mata uang tersebut. Yen kini telah mengalami pelemahan sekitar setengah dari kenaikan yang terjadi pada akhir Juli dan awal Agustus, ketika Tokyo dan Washington melakukan intervensi bersama yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mata uang ini tetap tertekan oleh faktor fundamental jangka panjang, termasuk selisih suku bunga yang lebar, kekhawatiran fiskal yang meningkat, serta tingginya biaya energi dan impor. Sementara itu, pasar memprediksi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan pada September atau Oktober di tengah kekhawatiran bahwa pelemahan Yen akan memicu inflasi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengatakan Jepang harus memperkuat intervensi mata uang dengan kebijakan dan fundamental ekonomi yang mendukung Yen.
Pivot : 159,141
R1 : 159,687 S1 : 158,773
R2 : 160,055 S2 : 158,227
R3 : 160,601 S3 : 157,859
GBPUSD
Opportunity : Bullish menuju : 1.3607 – 1.3654
Pounds ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan kemarin. GBP diperdagangkan mendekati puncak tiga bulan di kisaran 1,3560 saat menutup pekan. Laporan pasar tenaga kerja Inggris terbit Selasa, angka inflasi Juli menyusul Rabu, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) inti diperkirakan naik mendekati 3%. Penjualan Ritel menutup rangkaian data pada Jumat. Inflasi yang tinggi berpotensi mempersulit langkah Bank of England (BoE) sekaligus memberi dukungan baru bagi Poundsterling. Sebaliknya, data yang lebih lunak bisa menjadi tekanan domestik pertama bagi mata uang ini dalam beberapa pekan terakhir. Disatu-sisi Dollar AS melemah pada akhir pekan lalu dan menutup minggu di bawah level 100,00 pada indeks DXY. Pelemahan ini terjadi setelah data ekonomi AS yang lemah muncul empat kali berturut-turut. Survei awal Sentimen Konsumen Michigan turun tajam ke angka 51 pada Agustus dari 55,2 sebelumnya, jauh di bawah perkiraan pasar. Data ini melengkapi pekan yang juga diwarnai inflasi yang mereda dan laporan Penjualan Ritel yang lesu. GBP masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini akibatnya kurangnya minat para Investor akan mata-uang U.S Dollar.
Open : 1.3528 Pivot 1.3523
R1 : 1.3569 S1 : 1.3485
R2 : 1.3607 S2 : 1.3438
R3 : 1.3654 S3 : 1.3400
EURUSD
Opportunity : Bullish menuju 1.1619 – 1.1654
Euro menguat cukup signifikan pada perdagangan Jumat kemarin. EUR menutup pekan di kisaran atas 1,1500, level tertinggi dalam dua bulan terakhir dan mendekati 1,1600. Kalender ekonomi zona Euro relatif sepi pekan ini. Survei ZEW Jerman terbit Selasa, sementara PMI awal Jumat menjadi ujian utama dari dalam negeri. Bank Sentral Eropa (ECB) masih memilih menunggu, sehingga pergerakan pasangan mata uang ini tetap bergantung pada arah Dolar AS. EUR masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini mengingat lemahnya mata-uang U.S Dollar setelah data ekonomi AS yang lemah muncul empat kali berturut-turut. Survei awal Sentimen Konsumen Michigan turun tajam ke angka 51 pada Agustus dari 55,2 sebelumnya, jauh di bawah perkiraan pasar. Data ini melengkapi pekan yang juga diwarnai inflasi yang mereda dan laporan Penjualan Ritel yang lesu.
Open : 1.1562 Pivot : 1.1559
R1 : 1.1594 S1 : 1.1534
R2 : 1.1619 S2 : 1.1499
R3 : 1.1654 S3 : 1.1473
USDCHF
Opportunity : Bearish menuju : 0.8085 – 0.8068
Swiss Franc berhasil ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan kemarin. Swiss Franc sempat tertekan dalam empat hari berturut oleh penguatan U.S Dollar. Dolar AS melemah pada akhir pekan lalu dan menutup minggu di bawah level 100,00 pada indeks DXY. Pelemahan ini terjadi setelah data ekonomi AS yang lemah muncul empat kali berturut-turut. Survei awal Sentimen Konsumen Michigan turun tajam ke angka 51 pada Agustus dari 55,2 sebelumnya, jauh di bawah perkiraan pasar. Data ini melengkapi pekan yang juga diwarnai inflasi yang mereda dan laporan Penjualan Ritel yang lesu. CHF masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan hari ini yang didukung data ekonomi Swiss yang cukup solid dengan laporan tingkat pertumbuhan GDP yang naik cukup signifikan pada Jumat kemarin.
Open : 0.8125 Pivot : 0.8126
R1 : 0.8149 S1 : 0.8108
R2 : 0.8167 S2 : 0.8085
R3 : 0.8190 S3 : 0.8068
DXY
Opportunity: Bearish Range 99,600 – 99,300
Tekanan pada mata uang Greenback terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya mulai mewarnai penutupan market pekan lalu. Kondisi tersebut tergambar pada Indeks Dollar AS (DXY) yang merosot dan sentuh level terendahnya di 99,475. Pelemahan Dollar AS ini mendekati level terendah dua bulan di 95,53 pada tanggal 7 Agustus karena data ekonomi terbaru membatasi posisi terkait kenaikan suku bunga Federal Reserve. Angka penjualan ritel kelompok kontrol (*retail sales control group*) secara tak terduga turun pada Juli, menantang pandangan mengenai ketahanan kuat konsumen AS, meskipun efek musiman yang fluktuatif turut mendistorsi data tersebut. Hasil tersebut dirilis setelah inflasi produsen dan konsumen melambat pada periode tersebut, yang tampaknya menunda urgensi bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam pertemuan September mereka. Meskipun demikian, dana asing tetap relatif kurang berinvestasi pada obligasi Treasury AS jangka panjang dibandingkan awal tahun ini karena kekhawatiran bahwa indeks harga yang tinggi dan sikap acuh tak acuh The Fed terhadap inflasi dapat meningkatkan inflasi dalam jangka panjang. Di tengah tekanan terhadap mata uang tersebut, indeks DXY bergerak di dekat level terendahnya setelah Departemen Keuangan AS menyelesaikan intervensi gabungan di pasar valuta asing bersama Tokyo untuk mendukung Yen.
Pivot : 99,682
R1 : 99,889 S1 : 99,428
R2 : 100,143 S2 : 99,221
R3 : 100,350 S3 : 98,967

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bullish ke 64,700
Indeks Nikkei 225 naik 0,4% menuju 69.000 pada hari Senin, memperpanjang kenaikan minggu lalu setelah data awal menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh kurang dari yang diharapkan pada kuartal kedua, karena permintaan domestik yang lemah mengimbangi ekspor yang kuat. Namun demikian, permintaan yang kuat terkait dengan kecerdasan buatan terus mendukung prospek perusahaan-perusahaan Jepang yang terintegrasi secara mendalam ke dalam rantai pasokan semikonduktor global. Saham-saham yang terkait dengan chip dan AI sebagian besar naik, termasuk Kioxia Holdings (2,9%), Advantest (3,9%), Fujikura (3%), Tokyo Electron (1,6%), dan Furukawa Electric (4,1%). Sementara itu, saham-saham keuangan dan konsumen sebagian besar turun. Dalam berita perusahaan, Nvidia dilaporkan berencana untuk berinvestasi hingga $3 miliar di SB Energy, anak perusahaan SoftBank Group yang mengembangkan proyek pusat data besar di Ohio untuk OpenAI.
Pivot : 62,930
R1 : 64,550 S1 : 62,085
R2 : 65,395 S2 : 60,465
R3 : 67,015 S3 : 59,620
HANGSENG
Opportunity: Bullish ke 26,270
Indeks Hang Seng sedikit turun 0,2%, atau 44 poin, dan ditutup pada 25.397 pada hari Kamis, karena investor tetap berhati-hati setelah penurunan sesi sebelumnya meskipun data inflasi AS yang lebih lemah memperkuat ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih akomodatif. Pasar Asia secara umum lebih kuat setelah data harga konsumen AS meredakan kekhawatiran inflasi dan mendukung ekspektasi prospek kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Namun, kenaikan di Hong Kong terbatas karena investor terus menilai kelemahan saham teknologi dan risiko geopolitik. Saham teknologi tetap menjadi fokus utama karena investor mencerna hasil kuartal kedua Tencent dan terus menilai perkembangan di sektor kecerdasan buatan China. Kinerja teknologi beragam, dengan Lenovo (20,2%), Z.AI Co. (9,0%), dan MiniMax (5,4%) naik, sementara Tencent (-4,5%) dan Xiaomi (-1,8%) turun. Investor juga memantau pendapatan perusahaan yang akan datang dan perkembangan di sektor teknologi China.
Pivot : 25,894
R1 : 26,141 S1 : 25,762
R2 : 26,273 S2 : 25,515
R3 : 26,520 S3 : 25,383
NASDAQ
Opportunity: Buy Limit: 28,261| SL: 28,150 | TP: 28,600
Kontrak berjangka saham AS sedikit menguat pada hari Senin karena investor menantikan pekan yang relatif tenang, dengan laporan pendapatan dari peritel besar kemungkinan akan memberikan petunjuk baru tentang kesehatan ekonomi. Home Depot dijadwalkan melaporkan hasilnya pada hari Selasa, diikuti oleh Lowe’s pada hari Rabu dan Walmart pada hari Kamis. Di bidang ekonomi, investor akan mencermati risalah rapat terbaru Federal Reserve pada hari Rabu setelah data inflasi AS yang lesu pekan lalu mendorong para pedagang untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan September. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatatkan kenaikan mingguan selama tiga minggu berturut-turut, dengan S&P 500 berada di dekat rekor tertinggi. Musim pendapatan yang kuat telah mendukung Wall Street meskipun ada ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran yang masih ada seputar perdagangan kecerdasan buatan.
Pivot : 27,969.50
R1 : 28,707.00 S1 : 27,586.25
R2 : 29,090.25 S2 : 26,848.75
R3 : 29,827.75 S3 : 26,465.50

COMMODITY ZONE BY ALWI ASSEGAF
Gold
Opportunity: Bullish menguji resistance 4.402 – 4.444
Harga emas kembali menguat pada awal pekan dan berhasil menembus level $4.400 per troy ounce, melanjutkan kenaikan dari sesi sebelumnya. Penguatan tersebut terutama didorong oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Data yang dirilis pekan lalu memperlihatkan tekanan inflasi AS yang relatif terkendali, sementara sentimen konsumen dan penjualan ritel juga menunjukkan pelemahan. Kondisi tersebut membuat investor mulai mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September hanya sekitar satu banding tiga, turun dari hampir 50 persen sebelum rangkaian data ekonomi tersebut dirilis.
Perubahan ekspektasi kebijakan moneter menjadi katalis positif bagi emas. Prospek suku bunga yang lebih rendah atau setidaknya sikap The Fed yang tidak terlalu agresif mengurangi tekanan terhadap aset tanpa imbal hasil seperti emas. Pada saat yang sama, pelemahan sejumlah indikator ekonomi AS turut meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai ketika investor mulai mempertanyakan kekuatan pertumbuhan ekonomi.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada risalah pertemuan FOMC serta pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole. Kedua agenda tersebut berpotensi memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS dan menjadi faktor penting bagi pergerakan emas berikutnya.
Di luar faktor moneter, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih memberikan dukungan tambahan terhadap permintaan aset safe haven. Israel kembali melancarkan serangan ke Lebanon pada akhir pekan, sementara Presiden Donald Trump tengah mempersiapkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran. Perkembangan tersebut menjaga tingkat ketidakpastian geopolitik tetap tinggi dan berpotensi mempertahankan minat investor terhadap emas.
Namun, kenaikan emas juga menghadapi faktor penahan dari pasar energi. Pergerakan minyak yang masih terkendali karena adanya pengiriman minyak mentah secara diam-diam melalui Selat Hormuz membantu meredam kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi dan risiko inflasi. Jika tekanan inflasi kembali mereda, kondisi tersebut justru dapat memberikan ruang lebih besar bagi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS.
Pivot : 4.310
R1 4.402 R2 4.444 R3 4.476
S1 4.310 S2 4.278 S3 4.223
Oil
Opportunity : Sideway to bullish selama bertahan di atas 81,24, target 82,68 – 84,40.
Harga minyak mentah kembali diperdagangkan di atas $82 per barel pada awal pekan dan mempertahankan sebagian besar kenaikan dari sesi sebelumnya. Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan, khususnya karena perkembangan konflik masih berkaitan erat dengan keamanan jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz.
Pada akhir pekan, Israel melancarkan serangan baru ke Lebanon yang dilaporkan menewaskan 11 orang, termasuk seorang komandan senior Hezbollah. Di sisi lain, Presiden Donald Trump tengah mempersiapkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran sebagai bagian dari tekanan untuk memaksa Teheran menyerah. Situasi tersebut membuat risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang menopang harga minyak.
Pasar juga mencermati berakhirnya secara resmi perjanjian gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Pada saat yang sama, negosiasi untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz masih menghadapi kebuntuan. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar tetap memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan apabila situasi kembali memburuk.
Meski demikian, kenaikan harga minyak masih relatif terkendali. Produsen minyak di kawasan Timur Tengah dilaporkan tetap mengalirkan jutaan barel minyak mentah secara diam-diam melalui Selat Hormuz. Aktivitas tersebut membantu menjaga pasokan energi tetap tersedia sehingga mengurangi tekanan kenaikan harga yang lebih agresif.
Perkembangan hubungan antara Iran dan Oman juga menjadi perhatian. Kedua negara disebut semakin mendekati kesepakatan mengenai mekanisme pengelolaan Selat Hormuz, meskipun Amerika Serikat tidak terlibat langsung dalam pembicaraan tersebut. Jika tercapai kesepakatan yang mampu menjaga kelancaran lalu lintas kapal tanker, risiko gangguan pasokan global dapat berkurang dan berpotensi membatasi kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Dari sisi pasar, kondisi tersebut menciptakan keseimbangan antara risiko geopolitik dan kemampuan pasokan untuk tetap berjalan. Ketegangan di Timur Tengah memberikan premium risiko pada harga minyak, tetapi arus minyak yang masih berlangsung melalui Selat Hormuz mencegah pasar mengalami kepanikan pasokan.
Pivot: 81,24
R1 82,68 S1 81,24
R2 84,40 S2 79,88
R3 86,14 S3 77,74
DAILY ECONOMIC DATA


