Harga Minyak Melonjak di Tengah Ketegangan AS-Iran
Harga minyak melonjak pada awal perdagangan pekan ini setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Penolakan tersebut memperpanjang kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dan meningkatkan tekanan terhadap jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.
Minyak Brent sempat naik hingga 3,5% ke level USD104,80 per barel, sementara West Texas Intermediate bergerak mendekati USD99 per barel. Lonjakan harga energi terjadi setelah Trump menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima”.
Pasar kini khawatir konflik berkepanjangan akan terus mengganggu pengiriman minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar ke berbagai negara. Gangguan distribusi di Selat Hormuz sejak perang pecah pada akhir Februari telah memangkas arus pasokan energi global dan meningkatkan risiko inflasi.
Futures Wall Street Bergerak Melemah
Kontrak futures saham Amerika Serikat bergerak melemah pada Minggu malam setelah Wall Street mencatat reli kuat sepanjang pekan lalu. Futures Dow Jones Industrial Average turun sekitar 156 poin atau 0,3%, sedangkan futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing terkoreksi sekitar 0,2%.
Pelemahan tersebut muncul setelah investor mulai mengambil keuntungan usai reli besar yang mendorong indeks utama Amerika Serikat mencetak rekor tertinggi baru. Pada perdagangan Jumat lalu, pasar saham ditutup menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan hasil yang lebih baik dari ekspektasi.
Data nonfarm payrolls April tercatat naik 115.000 pekerjaan, jauh di atas proyeksi ekonom yang memperkirakan penambahan sekitar 55.000 pekerjaan. Data tersebut memperkuat optimisme terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat dan membantu mendorong indeks S&P 500 serta Nasdaq Composite ditutup di level tertinggi sepanjang sejarah.
Namun, sentimen positif tersebut mulai tertahan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi yang berpotensi memperbesar tekanan inflasi global.
Pasar Fokus pada Data Inflasi Amerika Serikat
Investor kini mengalihkan perhatian ke rangkaian data ekonomi Amerika Serikat pekan ini, terutama laporan inflasi konsumen dan produsen bulan April. Pelaku pasar ingin melihat sejauh mana kenaikan harga minyak mulai memengaruhi tekanan harga secara lebih luas.
Kenaikan biaya energi dikhawatirkan dapat memperlambat penurunan inflasi dan mempersulit langkah Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Selain data inflasi, pasar juga akan memantau laporan keuangan sejumlah perusahaan besar seperti Fox Corporation, Barrick Mining, dan Constellation Energy.
Selat Hormuz Jadi Sumber Kekhawatiran Utama
Harga minyak melonjak karena pasar semakin khawatir terhadap kondisi di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah melewati wilayah tersebut sebelum dikirim ke pasar global.
Badan Energi Internasional menyebut konflik di kawasan itu telah memicu salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi modern. Meski masih ada sebagian kecil pasokan yang berhasil melewati Selat Hormuz, total volume pengiriman tetap jauh lebih rendah dibanding sebelum perang dimulai.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan masih mampu mengalihkan sebagian pengiriman minyak menggunakan jalur alternatif, sementara Qatar berhasil mengirim satu kargo gas alam cair pertamanya sejak konflik dimulai.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan pasar energi global kemungkinan baru kembali normal pada 2027 jika gangguan distribusi di Selat Hormuz berlangsung lebih lama.
Survei dari Goldman Sachs juga menunjukkan mayoritas pelaku pasar memperkirakan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz akan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini.
Serangan Drone Perburuk Ketegangan Kawasan
Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah serangan drone membakar kapal kargo di dekat Qatar pada Minggu. Insiden tersebut menjadi salah satu serangan terbaru terhadap jalur pelayaran sejak gencatan senjata diberlakukan pada awal April.
Uni Emirat Arab dan Kuwait juga melaporkan berhasil mencegat drone yang dianggap mengancam keamanan wilayah mereka.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perang melawan Iran “belum berakhir”. Netanyahu mengatakan Israel masih perlu menghancurkan kemampuan nuklir Iran dan menghilangkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi.
Laporan media sebelumnya menyebut Iran menawarkan pemindahan sebagian stok uranium yang diperkaya ke negara ketiga. Namun, Tehran tetap menolak membongkar fasilitas nuklirnya. Laporan tersebut kemudian dibantah oleh media semi-resmi Iran.
Volume Perdagangan Minyak Melonjak Tajam
Komentar Trump juga memicu lonjakan aktivitas perdagangan di pasar energi. Volume transaksi kontrak Brent untuk pengiriman Juli melonjak tajam pada awal perdagangan pekan ini.
Lebih dari 4.000 kontrak Brent berpindah tangan hanya dalam lima menit pertama perdagangan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding rata-rata sesi sebelumnya yang biasanya berada di bawah 1.000 kontrak pada menit-menit awal perdagangan.
Lonjakan volume menunjukkan pelaku pasar semakin agresif merespons perkembangan geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi global.
Harga Emas Justru Bergerak Melemah
Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, harga emas justru bergerak turun sekitar 0,5% ke USD4.690 per ons. Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih lebih fokus pada volatilitas pasar energi dibanding memburu aset safe haven.
Dengan kondisi tersebut, harga minyak melonjak menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar global pada awal pekan ini. Pelaku pasar kini menghadapi kombinasi tekanan geopolitik, ancaman inflasi, dan ketidakpastian distribusi energi dunia.
Prospek Harga Emas Senin | 11 Mei 2026
Pergerakan emas di time frame H4 terlihat mengalami koreksi setelah gagal menembus area resistance 4.730 hingga 4.770. Meski demikian, tekanan turun masih tertahan di area support 4.660 serta SMA 50 di kisaran 4.618 yang masih menjadi penopang pergerakan harga.
Selama harga mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang rebound masih terbuka untuk kembali menguji resistance 4.730 hingga 4.770. Namun, apabila harga menembus di bawah 4.618, tekanan bearish berpotensi membawa emas turun lebih lanjut menuju support 4.555.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.730 R2 4.770 R3 4.842
S1 4.660 S2 4.618 S3 4.555
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.670 |
| Profit Target Level | 4.730 |
| Stop Loss Level | 4.610 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.730 |
| Profit Target Level | 4.670 |
| Stop Loss Level | 4.780 |
Prospek Harga US Oil Senin | 11 Mei 2025
Pergerakan US Oil di time frame H4 sempat mengalami koreksi setelah gagal bertahan di atas resistance 99,13. Namun, harga kembali rebound setelah membentuk low baru di area 93,78 yang kini menjadi support terdekat. Saat ini harga masih menguji kembali resistance 99,13 serta area SMA 50 di kisaran 101,46 yang menjadi resistance dinamis.
Selama harga mampu bertahan di atas support 93,78, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji 99,13 hingga 101,46. Jika berhasil menembus di atas SMA 50 tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju resistance 104,06. Sebaliknya, apabila harga kembali gagal menembus area resistance dan turun di bawah 93,78, tekanan bearish berpotensi membawa harga turun lebih lanjut menuju 88,57.
US Oil INTRADAY AREA
R1 99,13 R2 101,46 R3 104,06
S1 93,78 S2 92,26 S3 88,57
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 94,00 |
| Profit Target Level | 98,00 |
| Stop Loss Level | 92,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 99,00 |
| Profit Target Level | 96,10 |
| Stop Loss Level | 101,50 |
Baca analisa sebelumnya: Harga Emas Tertahan di Tengah Konflik AS-Iran
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di TPFX. Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
