Weekly Review dan Outlook 22 – 26 Juni 2026 menunjukkan pasar keuangan global kembali dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, kebijakan bank sentral, serta perubahan ekspektasi suku bunga. Dolar AS mencatat penguatan signifikan setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga namun memberikan sinyal yang lebih hawkish. Sementara itu, harga emas melanjutkan pelemahan dan pasar saham global bergerak bervariasi di tengah perkembangan terbaru terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Review Pasar Global: Dolar AS Menguat, Saham Dunia Melemah
Pasar saham global ditutup melemah pada akhir pekan setelah negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss batal terlaksana. Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian geopolitik dan mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman.
Indeks MSCI All-World turun setelah sebagian investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Bursa saham Eropa juga bergerak negatif, sementara pasar saham Amerika Serikat tutup karena libur Juneteenth.
Di pasar valuta asing, dolar AS mencatat penguatan mingguan terbaik dalam satu bulan terakhir. Penguatan tersebut didorong oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas harga.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini semakin besar. Ekspektasi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka pendek dan memperkuat posisi dolar terhadap mayoritas mata uang utama dunia.
Yen Jepang Kembali Tertekan
Penguatan dolar AS memberikan tekanan besar terhadap yen Jepang. Pasangan USD/JPY bertahan di atas level 160 dan mendekati level tertinggi dalam hampir empat dekade.
Pergerakan tersebut memicu serangkaian peringatan dari pejabat Jepang mengenai kemungkinan intervensi di pasar valuta asing. Pemerintah Jepang dan Bank of Japan sebelumnya telah beberapa kali menegaskan kesiapan mereka untuk mengambil tindakan apabila volatilitas nilai tukar dianggap berlebihan.
Fokus investor kini tertuju pada langkah berikutnya dari otoritas Jepang, terutama setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga menjadi 1,0% dalam pertemuan bulan Juni untuk membantu menekan inflasi dan mendukung mata uang domestik.
Harga Minyak Turun Setelah Jalur Hormuz Kembali Dibuka
Pasar energi mengalami perubahan sentimen yang cukup besar sepanjang pekan lalu. Harga minyak sempat mendapat dukungan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, namun kemudian berbalik melemah setelah muncul perkembangan positif terkait keamanan jalur pelayaran.
Kesepakatan penghentian blokade laut antara Amerika Serikat dan Iran memungkinkan kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.
Kembalinya arus distribusi minyak meningkatkan harapan terhadap normalisasi pasokan global. Akibatnya, harga minyak bergerak turun dan kembali berada di bawah level US$80 per barel.
Meski demikian, pelaku pasar masih mempertanyakan keberlanjutan kesepakatan tersebut mengingat kondisi geopolitik kawasan yang masih rentan terhadap perubahan mendadak.
Emas Catat Penurunan Mingguan Ketiga Berturut-turut
Harga emas kembali mengalami tekanan jual sepanjang pekan lalu. Logam mulia tersebut turun menuju US$4.150 per troy ounce dan mencatat penurunan mingguan ketiga secara beruntun.
Faktor utama yang membebani emas adalah penguatan dolar AS serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, revisi proyeksi harga emas dari Goldman Sachs turut memengaruhi sentimen pasar. Institusi tersebut memangkas target harga emas akhir tahun menjadi US$4.900 per troy ounce dari sebelumnya US$5.400 per troy ounce.
Meski ketidakpastian geopolitik masih tinggi, investor lebih fokus pada prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpotensi semakin ketat dalam beberapa bulan mendatang.
WEEK AHEAD
(22 – 26 Juni 2026)
Outlook Pasar 22 – 26 Juni 2026
Pekan ini perhatian investor akan tertuju pada perkembangan pasca dibukanya kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian blokade laut. Selain perkembangan geopolitik, pasar juga akan disibukkan oleh sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Pasifik yang berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan bank sentral utama dunia.
Amerika
Di Amerika Serikat, fokus utama pasar akan tertuju pada data pendapatan dan pengeluaran pribadi bulan Mei yang juga mencakup indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan Federal Reserve. Pengeluaran pribadi diperkirakan meningkat 0,6% setelah naik 0,5% pada bulan sebelumnya, sementara pendapatan pribadi diproyeksikan tumbuh 0,4%.
Dari sisi inflasi, Core PCE diperkirakan naik 0,3% secara bulanan setelah meningkat 0,2% pada April. Data ini akan menjadi perhatian utama karena Federal Reserve dalam proyeksi ekonomi terbarunya menaikkan perkiraan inflasi untuk tahun 2026. Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan yang kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan tahun ini berpotensi semakin menguat.
Selain data inflasi, investor juga akan mencermati pesanan barang tahan lama yang diperkirakan turun 4,7% setelah melonjak 7,9% pada bulan sebelumnya. Data PMI awal Juni dari S&P Global juga akan menjadi sorotan, terutama untuk mengukur kondisi sektor manufaktur dan jasa Amerika Serikat.
Sejumlah data penting lainnya yang akan dirilis meliputi penjualan rumah baru, revisi akhir produk domestik bruto kuartal pertama, indeks sentimen konsumen University of Michigan, laba korporasi, neraca transaksi berjalan, persediaan grosir, serta indeks aktivitas nasional Chicago Fed.
Perhatian pasar juga akan tertuju pada hasil stress test perbankan Federal Reserve tahun 2026 yang mengukur kemampuan bank-bank besar Amerika Serikat menghadapi skenario perlambatan ekonomi dan gejolak pasar yang ekstrem. Di kawasan Amerika lainnya, Kanada akan merilis data inflasi Mei yang diperkirakan meningkat 0,7% secara bulanan.
Eropa
Di Eropa, fokus utama pasar akan tertuju pada data PMI awal Juni yang akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi aktivitas bisnis di kawasan tersebut.
Di Zona Euro, sektor manufaktur diperkirakan masih mengalami perlambatan, sementara sektor jasa diperkirakan menunjukkan perbaikan secara bertahap. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya stabilisasi ekonomi meskipun pertumbuhan masih relatif terbatas.
Jerman akan menjadi perhatian utama melalui rilis GfK Consumer Climate Index dan Ifo Business Climate Index. Kedua indikator tersebut diperkirakan menunjukkan peningkatan kepercayaan konsumen dan pelaku usaha. Data tersebut juga dapat menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi terbesar di Eropa mulai membaik.
Di Inggris, investor akan mencermati data PMI, survei industri CBI, dan survei perdagangan distribusi. Rangkaian data tersebut akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi ekonomi Inggris. Perhatian pasar juga tertuju pada prospek pertumbuhan setelah Bank of England mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhir.
Selain data ekonomi, perkembangan politik Inggris juga berpotensi memengaruhi sentimen pasar. Kemenangan Andy Burnham dalam pemilihan sela Makerfield menjadi sorotan investor. Pada saat yang sama, tekanan politik terhadap Perdana Menteri Keir Starmer masih meningkat. Meski demikian, Starmer menegaskan akan tetap melanjutkan masa jabatannya.
Data penting lainnya dari kawasan Eropa meliputi registrasi kendaraan baru Zona Euro, survei kepercayaan bisnis dan konsumen dari Prancis dan Italia, tingkat pengangguran Prancis, serta data final pertumbuhan ekonomi Spanyol kuartal pertama.
Asia Pasifik
Di Asia Pasifik, perhatian investor akan tertuju pada kebijakan moneter China, Jepang, dan Australia.
People’s Bank of China diperkirakan mempertahankan Loan Prime Rate satu tahun di level 3,0% dan Loan Prime Rate lima tahun di level 3,5%. Pasar juga akan memantau data laba industri China untuk melihat kekuatan pemulihan ekonomi selama lima bulan pertama tahun ini.
Di Jepang, data PMI awal Juni akan menjadi indikator penting untuk mengukur aktivitas manufaktur dan jasa. Investor juga akan mencermati data inflasi Tokyo yang diperkirakan meningkat menjadi 1,6% secara tahunan dari sebelumnya 1,3%.
Selain itu, pasar akan menelaah Summary of Opinions dari pertemuan Bank of Japan bulan Juni. Dalam pertemuan tersebut, Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0% sebagai upaya menekan inflasi dan mendukung penguatan yen. Komentar para anggota dewan kebijakan akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai langkah kebijakan selanjutnya.
Sementara itu, Australia akan merilis data inflasi Mei yang diperkirakan meningkat menjadi 4,3% secara tahunan dari 4,2% pada bulan sebelumnya. Selain inflasi, pasar juga akan mencermati data ketenagakerjaan, belanja rumah tangga, dan PMI awal Juni untuk mengukur kondisi ekonomi menjelang pertemuan berikutnya Reserve Bank of Australia.
Data Mingguan Perdagangan Emas (15 – 19 Juni 2026)
Open : 4.269.01 High : 4.382,41 Low : 4.121,60 Close : 4.155,48 Range : 260,81
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.057 | R1 4.318 |
| S2 3.959 | R2 4.481 |
| S3 3.796 | R3 4.579 |
Gold Outlook : Bearish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (15 – 19 Juni 2026)
Open : 80,71 High : 80,83 Low : 72,80 Close : 76,49 Range : 8.03
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 72,58 | R1 80,61 |
| S2 68,68 | R2 84,74 |
| S3 64,55 | R3 88,64 |
Oil Outlook : Bearish
Baca juga: Weekly Review dan Outlook 15 – 19 Juni 2026
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
