Market Summary
Inflasi AS menjadi perhatian utama pasar global menjelang rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat pada Selasa malam. Kondisi tersebut ikut memengaruhi pergerakan harga perak, dolar AS, hingga ekspektasi suku bunga Federal Reserve.
Harga perak turun di bawah $85 per ounce pada perdagangan Selasa setelah sempat menguat pada awal sesi. Koreksi terjadi ketika dolar AS kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sebelumnya, perak melonjak lebih dari 7% dan menyentuh level tertinggi dalam dua bulan pada Senin. Kenaikan tersebut terjadi karena investor melihat potensi kenaikan permintaan industri sekaligus meningkatnya minat terhadap aset safe haven.
Inflasi AS Dipengaruhi Konflik Timur Tengah
Pasar kembali bersikap hati-hati setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran berada dalam kondisi “massive life support”. Pernyataan itu muncul setelah Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat berlangsung lebih lama. Jalur tersebut menjadi salah satu rute pengiriman minyak paling penting di dunia.
Harga minyak yang tetap tinggi kemudian meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi AS. Pasar juga mulai memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan tekanan harga. Dollar Index kembali bergerak di atas level 98 pada Selasa. Penguatan dolar muncul karena investor mencari aset aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Selain itu, laporan juga menyebut Trump akan bertemu dengan tim keamanan nasionalnya untuk membahas kemungkinan dimulainya kembali operasi militer. Pemerintah AS juga mempertimbangkan kembali rencana pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz.
Fokus Pasar Tertuju ke Data Inflasi CPI AS
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat diperkirakan akan melaporkan kenaikan inflasi AS pada April. Pasar memperkirakan CPI bulanan naik 0,6% setelah sebelumnya melonjak 0,9% pada Maret.
Sementara itu, CPI tahunan diproyeksikan naik menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,3%. Angka tersebut akan menjadi level tertinggi sejak September 2023. Untuk Core CPI, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, pasar memperkirakan kenaikan sebesar 0,4% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan.
Lonjakan harga energi menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi AS dalam beberapa bulan terakhir. Sejak konflik Timur Tengah dimulai pada akhir Februari hingga akhir April, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 50%.
Meski harga minyak sempat terkoreksi pada awal Mei, levelnya masih sekitar 40% lebih tinggi dibanding sebelum perang AS-Iran pecah.
Peluang Trading Perak
Pergerakan perak dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi oleh data inflasi AS dan arah dolar AS. Jika data CPI kembali lebih tinggi dari ekspektasi, dolar berpotensi menguat dan menekan harga perak.
Sebaliknya, jika data inflasi menunjukkan perlambatan, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat kembali meningkat. Kondisi itu bisa membuka peluang kenaikan lanjutan bagi harga perak setelah reli tajam dalam beberapa hari terakhir.
Analisa Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central melihat pergerakan XAG/USD masih cenderung bearish pada time frame H4, dengan level pivot berada di 85,90. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, potensi penurunan masih terbuka untuk menguji support 82,15, kemudian 80,70, hingga 79,60.
Sebagai alternatif skenario, jika harga mampu menembus dan bertahan di atas 85,90, XAG/USD berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area resistance 87,10 hingga 88,60.
Resistance 1: 85,90 Resistance 2: 87,10 Resistance 3: 88,60
Support1: 82,15 Support 2: 80,70 Support 3: 79,60
Baca juga: Peluang Trading USD/JPY di Tengah Gejolak Harga Minyak
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
