FOREX ZONE BY HAKIM DAN TEGUH
AUDUSD
Opportunity: Bullish Range 0,69800 – 0,70300
Konsolidasinya pergerakan mata uang Aussie terhadap mata uang Dollar AS masih terus mewarnai pergerakan market. Kondisi mata uang Australia ini tetap mendekati level terendah dalam beberapa bulan terakhir, saat para pelaku pasar mencermati risalah rapat bulan September dari Reserve Bank of Australia. Bank sentral memperingatkan bahwa beberapa risiko kenaikan inflasi yang sebelumnya diidentifikasi telah terjadi atau sedang meningkat, serta menambahkan bahwa kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut masih mungkin dilakukan jika diperlukan. Pasar kini mengamati pertemuan bulan November, dengan kemungkinan kenaikan suku bunga kelima tahun ini jika data inflasi kuartal ketiga mendatang menunjukkan tekanan harga yang terus berlanjut. Bank Sentral Australia (RBA) juga menyoroti kenaikan biaya global, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, dan harga minyak di atas level yang diasumsikan dalam perkiraan Agustus sebagai risiko inflasi utama. Perhatian kini beralih ke laporan ketenagakerjaan September yang akan dirilis Kamis dan data CPI kuartal ketiga yang diharapkan akhir bulan ini untuk mencari petunjuk tentang langkah selanjutnya dari RBA. Sementara itu, Dollar AS naik ke level tertinggi dalam 18 bulan, didorong oleh permintaan aset aman karena risiko geopolitik meningkat setelah serangan baru terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan Ukraina.
Pivot : 0,69724
R1 : 0,69954 S1 : 0,69586
R2 : 0,70092 S2 : 0,69356
R3 : 0,70322 S3 : 0,69218
USDJPY
Opportunity: Bullish Range 158,300 – 158,800
Tanda penguatan mata uang Yen Jepang terhadap mata uang Dollar AS mulai nampak, meski terbatas dan sementara. Saat ini Yen Jepang sempat menguat dan sentuh level 157,826, mengakhiri pelemahan selama dua sesi berturut-turut saat para pelaku pasar kembali beraktivitas setelah libur panjang akhir pekan. Sentimen pasar dipengaruhi oleh data yang menunjukkan harga produsen Jepang naik 6,8% pada bulan September, di bawah perkiraan 7,6% dan menandai kenaikan paling lambat sejak Mei. Meskipun demikian, angka-angka tersebut menunjukkan tekanan inflasi yang terus berlanjut, memperkuat ekspektasi akan potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, menyatakan bahwa waktu dan laju kenaikan suku bunga di masa depan akan bergantung pada bagaimana kenaikan harga grosir berdampak pada inflasi konsumen dan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga. Namun, ketidakpastian masih menyelimuti keputusan apakah bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga bulan ini, meskipun pasar terus mengantisipasi kemungkinan langkah tersebut pada bulan Desember atau Januari.
Pivot : 158,256
R1 : 158,686 S1 : 157,879
R2 : 159,063 S2 : 157,449
R3 : 159,493 S3 : 157,072
GBPUSD
Opportunity : Bearish menuju : 1.3184 – 1.3164
Di luar perkiraan, Pounds ditutup menguat pada perdagangan Selasa kemarin. Poundsterling berupaya pulih dari level terendah baru-baru ini pada perdagangan forex Eropa hari Selasa (13/10/2026) di tengah sikap investor yang menimbang antara jeda dalam lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut. Mata uang poundsterling juga mendapat dukungan dari revisi naik IMF terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi Inggris. Ekonomi kini diperkirakan tumbuh sebesar 1,3% tahun ini, dibandingkan dengan proyeksi 1,0% pada bulan Juli. Terkait kebijakan moneter, Megan Greene sebagai salah satu pembuat kebijakan Bank of England yang cenderung hawkish berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dan pasar tenaga kerja yang tangguh mengindikasikan perlunya mempertahankan suku bunga di atas level saat ini (3,75%) guna mengendalikan inflasi. Disisi lain Indeks Dollar AS (DXY) turun ke kisaran 102,20 setelah mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut. Pelaku pasar memilih berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS pada Rabu. Angka tersebut berpotensi mempengaruhi ekspektasi suku bunga dan menentukan arah dolar dalam jangka pendek. GBP berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini apabila data Inflasi AS rilis diatas angka perkiraan, namun sebaliknya Pounds dapat menguat apabila data Inflasi AS rilis dibawah angka perkiraan.
Open : 1.3249 Pivot 1.3239
R1 : 1.3274 S1 : 1.3219
R2 : 1.3294 S2 : 1.3184
R3 : 1.3329 S3 : 1.3164
EURUSD
Opportunity : Bearish menuju 1.1134 – 1.1115
Euro berhasil ditutup menguat pada perdagangan Selasa kemarin. Mata-uang Euro memanfaatkan pelemahan dolar dengan bangkit dari level terendah baru-baru ini di sekitar 1,1150 dan kembali menguji level 1,1200. Agenda ekonomi kawasan euro relatif terbatas, dengan data harga grosir Jerman menjadi perhatian utama. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde juga dijadwalkan berbicara. Namun kenaikan Euro dibatasi oleh kekhawatiran mengenai beban utang Prancis terus membayangi euro, disertai ketakutan akan penularan masalah utang Perancis ke negara-negara Eropa lainnya. Pasar memperhitungkan peluang sebesar 12% bagi kenaikan suku bunga ECB sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan ECB berikutnya, yang dijadwalkan pada 29 Oktober. Disisi lain Indeks Dollar AS (DXY) turun ke kisaran 102,20 setelah mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut. Pelaku pasar memilih berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS pada Rabu. Angka tersebut berpotensi mempengaruhi ekspektasi suku bunga dan menentukan arah dolar dalam jangka pendek. EUR berpotensi untuk tertekan pada perdagangan hari ini apabila rilis data Inflasi AS berada diatas angka perkiraan, namun sebaliknya apabila rilis data Inflasi AS berada dibawah angka perkiraan, maka Euro akan kembali menguat.
Open : 1.1197 Pivot : 1.1185
R1 : 1.1217 S1 : 1.1166
R2 : 1.1236 S2 : 1.1134
R3 : 1.1268 S3 : 1.1115
USDCHF
Opportunity : Bullish menuju : 0.8363 – 0.8379
Swiss Franc ditutup menguat memanfaatkan pelemahan U.S Dollar. CHF ditutup menguat di level 0.8325 pada Selasa kemarin. Indeks Dollar AS (DXY) turun ke kisaran 102,20 setelah mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut. Pelaku pasar memilih berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS pada Rabu. Angka tersebut berpotensi mempengaruhi ekspektasi suku bunga dan menentukan arah Dollar dalam jangka pendek. Disisi lain pergerakan harga minyak yang terus menguat mendekati angka $95 per barrel dapat menghambat pergerakan mata-uang Franc Swiss. CHF berpotensi untuk kembali melemah pada perdagangan hari ini, selain harga minyak yang tinggi, rilis data inflasi AS malam nanti juga dapat menekan mata-uang Franc Swiss. Namun sebaliknya, apabila rilis data inflasi AS dibawah angka perkiraan maka mata-uang Swiss Franc dapat melanjutkan penguatannya.
Open : 0.8318 Pivot : 0.8328
R1 : 0.8344 S1 : 0.8310
R2 : 0.8363 S2 : 0.8294
R3 : 0.8379 S3 : 0.8275
DXY
Opportunity: Bearish Range 102,200 – 101,800
Tekanan terbatas dan sementara yang terjadi pada mata uang Greenback terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya mulai nampak di market. Hal tersebut tergambar pada Indeks Dollar (DXY) yang turun dan sentuh level terendah hariannya di 102,162, turun dari level 102,620 pada sesi sebelumnya yang merupakan level tertinggi dalam 18 bulan. Penurunan ini terjadi seiring dengan turunnya harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, sementara aksi jual di sektor teknologi mendorong permintaan terhadap aset safe-haven. Para investor juga menantikan data inflasi penting AS minggu ini, termasuk laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) pada hari Rabu, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai prospek inflasi dan langkah kebijakan The Fed berikutnya. Sementara itu, para pedagang telah mengurangi spekulasi mengenai kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) bulan ini, dengan probabilitas langkah tersebut berada di kisaran 19%. Untuk bulan Desember, pasar memperhitungkan peluang hampir 72% bagi kenaikan suku bunga *fed funds* sebesar 25 bps. Dollar AS melemah secara luas, dengan penurunan paling tajam terhadap yen setelah inflasi grosir Jepang berada di bawah ekspektasi. Namun, tekanan harga yang terus berlanjut memperkuat ekspektasi akan kenaikan suku bunga lebih lanjut dari Bank of Japan.
Pivot : 102,317
R1 : 102,472 S1 : 102,060
R2 : 102,729 S2 : 101,905
R3 : 102,884 S3 : 101,648

INDICES ZONE BY FEDI
NIKKEI
Opportunity: Bullish ke area 67,031
Indeks Nikkei 225 naik 0,4% menjadi di atas 68.000 pada hari Rabu, mengakhiri penurunan selama empat sesi berturut-turut karena tekanan jual pada saham teknologi dan saham terkait AI mereda. Sentimen juga membaik setelah komentar dovish dari Presiden Federal Reserve New York, John Williams, yang menyatakan bahwa satu kenaikan suku bunga tambahan akan tepat tahun ini tetapi tidak melihat perlunya pengetatan lebih lanjut pada tahun 2027. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih rendah memberikan dukungan lebih lanjut untuk saham Jepang, meskipun harga minyak yang tinggi membatasi kenaikan. Di antara saham teknologi berkinerja terbaik, Advantest naik 1%, Kioxia Holdings naik 2,2%, Lasertec naik 2,5%, SoftBank Group naik 2,6%, dan Taiyo Yuden melonjak 5,1%. Saham teknologi Jepang telah menghadapi tekanan yang meningkat dalam beberapa sesi terakhir di tengah kekhawatiran atas investasi terkait AI dan persaingan yang semakin ketat dari China.
Pivot : 65,887
R1 : 66,893 S1 : 65,303
R2 : 67,477 S2 : 64,297
R3 : 68,483 S3 : 63,713
HANGSENG
Opportunity: Bearish ke 25,217
Indeks Hang Seng naik 0,3%, atau 74 poin, dan ditutup pada 24.345 pada hari Selasa setelah anjlok di pagi hari, karena pasar pulih dari kerugian awal meskipun tekanan pada saham teknologi terus berlanjut. Sentimen tetap rapuh di tengah aksi jual global pada saham-saham terkait AI, yang didorong oleh kekhawatiran atas persaingan yang semakin ketat di industri semikonduktor, valuasi yang tinggi, dan pengembalian investasi besar-besaran di bidang AI. Meningkatnya ketegangan geopolitik dan harga minyak mentah Brent mendekati US 105 perbarel juga membuat kekhawatiran inflasi dan suku bunga tetap menjadi fokus. Tencent Holdings menarik permintaan investor yang kuat untuk rencana penjualan obligasinya ,menarik lebih dari US15,5 miliar dalam pesanan untuk penawaran yang menargetkan setidaknya US$4,5 miliar, bahkan ketika investor mencermati rencana investasi AI perusahaan teknologi. Para pelaku pasar juga menunggu data inflasi AS dan pendapatan perusahaan yang akan datang. Pergerakan saham yang signifikan antara lain Xiaomi (2,0%), AIA (2,0%), Meituan (0,6%), dan Geely (3,1%).
Pivot : 24,408
R1 : 24,558 S1 : 24,120
R2 : 24,846 S2 : 23,970
R3 : 24,996 S3 : 23,682
NASDAQ
Opportunity: Buy Limit: 30,560| SL: 30,400 | TP: 30,720
Kontrak berjangka saham AS sedikit berubah pada hari Rabu karena investor menunggu laporan inflasi konsumen bulan September untuk mendapatkan petunjuk tentang keputusan suku bunga Federal Reserve selanjutnya. Dalam berita korporasi, saham Bank of America turun lebih dari 2% dalam perdagangan setelah jam kerja setelah regulator federal mengenakan denda lebih dari $1,2 miliar, dengan tuduhan bahwa bank tersebut selama bertahun-tahun gagal melaporkan lebih dari $5 miliar transaksi mencurigakan. Selama sesi reguler Selasa, Dow Jones turun 0,35%, S&P 500 turun 0,02%, dan Nasdaq Composite turun 0,15%. Saham perusahaan memori memperpanjang kerugian di tengah meningkatnya kekhawatiran atas investasi terkait AI dan persaingan yang semakin ketat dari China, dengan Micron turun 4,6%, SanDisk turun 1,7%, Lam Research turun 3,2%, dan Applied Materials anjlok 7,2%. Saham-saham sektor keuangan juga sebagian besar berakhir lebih rendah setelah rilis laporan keuangan triwulanan, termasuk Citigroup (-5,3%), Wells Fargo (-2,6%), Goldman Sachs (-0,1%), dan JPMorgan (-0,3%).
Pivot : 30,917.92
R1 : 31,166.33 S1 : 30,771.33
R2 : 31,312.92 S2 : 30,522.92
R3 : 31,561.33 S3 : 30,376.33

COMMODITY ZONE BY NITRA
Gold
Opportunity: Bias harian cenderung netral hingga bearish selama harga berada di bawah titik pivot 4.168,77.
Pada sesi Selasa (13/10), emas melemah 11,58 poin (-0,28%) ke level 4.159,14 setelah gagal bertahan di atas resistansi 4.200. Pergerakan harga membentuk pola lower high dan lower low di bawah seluruh rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) harian. Indikator RSI 14 berada di level 43, mencerminkan momentum yang melemah. Sementara itu, volume transaksi mencatatkan penurunan akibat kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis data ekonomi penting. Sesi Rabu (14/10) dibuka cenderung datar di level 4.161,20.
Fokus fundamental hari ini adalah rilis CPI Amerika Serikat periode September pada Rabu 14 Oktober pukul 19.30 WIB (08.30 ET). Konsensus survei WSJ memperkirakan inflasi headline naik sekitar 0,6% secara bulanan dan 3,6% secara tahunan, didorong lonjakan energi, sedangkan core CPI diperkirakan melambat ke sekitar 0,2% dan bertahan di 2,4% secara tahunan. Karena kenaikan headline sudah banyak diperhitungkan pasar, reaksi harga akan bergantung pada core. Angka core di batas atas kisaran proyeksi, sekitar 0,24% atau lebih, akan menguatkan kekhawatiran pejabat Fed bahwa inflasi meluas dan memperkuat pricing kenaikan suku bunga Desember. Latar belakangnya, The Fed menaikkan suku bunga 25 bps ke 3,75%–4,00% pada September, dan 16 dari 18 pejabat melihat peluang minimal satu kenaikan lagi tahun ini. CME FedWatch memberi peluang kenaikan Desember mendekati 70%, sementara yield obligasi 30 tahun sempat menyentuh 5,56%, tertinggi sejak 2004. Dolar AS juga bertahan mendekati level terkuatnya dalam 18 bulan, ditopang ketegangan Timur Tengah dan kehati-hatian menjelang CPI, PPI dan penjualan ritel. Ini kembali memperlihatkan “Gold Paradox”: eskalasi geopolitik mendorong minyak naik, lalu inflasi, lalu sikap hawkish Fed, dan akhirnya penguatan dolar serta yield riil yang menekan emas. Karena itu emas cenderung lebih sensitif terhadap kejutan core CPI daripada terhadap headline geopolitik.
Bias intraday emas saya nilai netral cenderung bearish selama harga bertahan di bawah pivot 4.168,77 dan di bawah area 4.200–4.223. Sebelum CPI rilis, pergerakan biasanya sempit dan rawan false breakout, sehingga lebih bijak menunggu. Jika core CPI panas (0,3% atau lebih), yield dan dolar berpotensi naik dan emas bisa turun ke S1 4.137, lalu S2 4.115, dengan target lanjutan di zona 4.083 sampai 4.066. Jika core CPI lunak (0,2% atau di bawahnya), rebound teknikal bisa menuju PP 4.169 dan R1 4.191, dengan hambatan kuat di R2 4.223 yang bertepatan dengan zona resistance 4.215–4.227. Zona itu sebelumnya gagal ditembus emas. Strategi umumnya adalah sell on rally di area 4.190–4.223 setelah muncul penolakan yang jelas, atau buy hanya jika ada sweep di 4.137–4.115 yang diikuti reversal. Karena ATR besar, kurangi ukuran lot dan beri jarak stop yang lebih longgar saat rilis data.
Pivot : 4168.77
R1 4190.88 R2 4222.62 R3 4244.73
S1 4137.03 S2 4114.92 S3 4083.18
Oil
Opportunity : Bias harian cenderung bullish moderat selama harga bertahan di atas pivot 92,85
Minyak WTI menguat 0,72% ke level 93,77 pada sesi Selasa (13/10) dan ditutup mendekati harga tertingginya. Struktur harga jangka pendek menunjukkan tren naik yang konsisten di atas seluruh EMA harian. RSI 14 berada pada level 54, menandakan masih tersedianya ruang untuk kenaikan lanjutan. Area resistansi terdekat berada di kisaran 94,29 hingga 94,67. Perdagangan sesi Rabu (14/10) dibuka stabil di level 93,63.
Secara fundamental, minyak masih ditopang risiko pasokan Timur Tengah. WTI ditutup naik 0,4% sedangkan Brent turun 0,9% pada Selasa, karena kesepakatan diesel AS-Rusia mengimbangi serangan Arab Saudi dan Yaman. Dentuman keras dilaporkan terdengar dekat markas Saudi Aramco di Dhahran, sementara OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan 2026 untuk bulan keenam berturut-turut. Brent bertahan di kisaran 106 dolar. Di Selat Hormuz, Iran masih meninjau tanggapan AS atas proposalnya soal pembukaan kembali selat dan akan menjawab lewat perantara. Arus minyak keluar Hormuz pada pekan yang berakhir 6 Oktober tercatat sekitar 9,5 juta barel per hari, sekitar 30% di bawah level sebelum perang. Trump juga menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela November, sehingga risiko eskalasi langsung dari AS agak mereda. Hari ini ada dua pemicu volatilitas: CPI AS pukul 19.30 WIB, dan laporan persediaan minyak mentah EIA yang jadwal normalnya pukul 21.30 WIB. Dolar yang kuat dan yield tinggi menjadi penghambat bagi minyak, dan HSBC menilai lonjakan harga minyak akibat konflik Iran adalah salah satu pemicu utama guncangan pasar obligasi 2026. Dampak CPI ke minyak karena itu cenderung tidak searah dengan dampaknya ke emas.
Pivot: 92.85
R1 94.9 S1 91.71
R2 96.04 S2 89.66
R3 98.09 S3 88.52
DAILY ECONOMIC DATA

WEBINAR HARI INI (Rabu, 14 Oktober 2026)

Halo, Sobat Trader…
Mau tingkatkan potensi profit trading Dollar AS & Emas bersama analyst profesional TPFx Indonesia? Mari bergabung di program unggulan seru dari TPFx Indonesia dengan tema:
Memetakan Momentum Emas dengan Supply & Demand Saat Rilis CPI AS
Catat jam dan waktunya ya!
| Rabu, 14 Oktober 2026 | |
| 13.00 WIB | |
| Online Event : Zoom & YouTube TPFX Indonesia |
Silakan klik link di sini untuk join:
