Ringkasan Pasar & Proyeksi Ekonomi: Sentimen Global Berubah
Ringkasan pasar & proyeksi ekonomi pekan 09–13 Maret 2026 menunjukkan perubahan sentimen yang cukup tajam di pasar keuangan global. Investor menghadapi kombinasi risiko geopolitik, lonjakan harga energi, serta data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan.
Indeks saham utama di Amerika Serikat dan Eropa menutup pekan dengan pelemahan. Ketegangan perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mendorong harga minyak melonjak tajam, sementara laporan pasar tenaga kerja AS justru menunjukkan penurunan jumlah pekerjaan pada Februari. Kombinasi faktor tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.
Pada saat yang sama, volatilitas meningkat di berbagai aset, mulai dari saham hingga mata uang dan obligasi pemerintah. Investor kini menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Data Tenaga Kerja AS Melemah
Laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat menjadi sorotan utama pasar. Data terbaru menunjukkan nonfarm payrolls justru turun sebanyak 92.000 pekerjaan pada Februari, berlawanan dengan ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan sekitar 59.000 pekerjaan.
Angka tersebut juga berbanding terbalik dengan revisi kenaikan 126.000 pekerjaan pada Januari. Selain itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% dari sebelumnya 4,3%.
Data ini menandakan bahwa momentum ekonomi AS mulai melemah. Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve berpotensi memangkas suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
Namun, pasar tetap berhati-hati. Kenaikan harga energi dapat memicu tekanan inflasi baru sehingga ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi lebih terbatas.
Perang Timur Tengah Mendorong Lonjakan Harga Minyak
Ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar pekan ini. Konflik militer meningkat setelah serangan baru Israel ke Iran dan Lebanon, sementara Iran membalas dengan peluncuran rudal ke Israel serta beberapa negara Teluk yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump bahkan menuntut Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”, yang memperkeras retorika konflik tersebut.
Di tengah eskalasi tersebut, muncul sinyal diplomatik ketika presiden Iran menyebutkan adanya upaya mediasi dari beberapa negara.
Situasi semakin kompleks setelah menteri energi Qatar memperingatkan bahwa seluruh produsen energi di kawasan Teluk berpotensi menghentikan ekspor dalam beberapa minggu ke depan. Jika skenario itu terjadi, harga minyak berpotensi melonjak hingga $150 per barel.
Harga Minyak Melonjak Tajam
Harga minyak merespons situasi tersebut dengan lonjakan signifikan. Pasokan dari Timur Tengah terhambat akibat penutupan efektif Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.
Minyak mentah AS melonjak 12,21% menjadi $90,90 per barel, kenaikan harian terbesar sejak 2020. Pada sesi intraday, harga bahkan sempat menyentuh $92,61, level tertinggi sejak September 2023.
Sementara itu, Brent crude yang menjadi acuan global ditutup di $92,69 per barel, naik sekitar 8,5% dalam sehari.
Lonjakan harga energi ini memperkuat kekhawatiran inflasi global karena biaya energi memiliki dampak luas terhadap harga barang dan jasa.
Pasar Saham Global Tertekan
Kombinasi lonjakan minyak dan pelemahan ekonomi membuat pasar saham global bergerak negatif. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95%, sedangkan S&P 500 melemah 1,33% dan Nasdaq Composite turun 1,59% pada penutupan Jumat.
Secara mingguan, S&P 500 mencatat penurunan 2,02%, terbesar sejak Oktober tahun lalu. Dow Jones bahkan mencatat pelemahan mingguan 3,01%, yang menjadi penurunan terbesar sejak April.
Di Eropa, indeks STOXX 600 juga mengalami tekanan dan mencatat penurunan mingguan sekitar 5,5%, yang menjadi kinerja terburuk dalam hampir satu tahun.
Lonjakan volatilitas juga terlihat dari indeks ketakutan pasar VIX, yang naik hingga 29,49, level tertinggi sejak April.
Pergerakan Mata Uang dan Obligasi
Di pasar mata uang, investor beralih ke aset safe haven. Franc Swiss menguat terhadap berbagai mata uang utama seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.
Indeks dolar AS sedikit melemah ke 98,89, sementara euro bergerak stabil di sekitar $1,1614. Di sisi lain, dolar menguat tipis terhadap yen Jepang.
Perdagangan obligasi pemerintah AS berlangsung cukup fluktuatif. Yield obligasi tenor 10 tahun bergerak turun ke 4,142%, sementara yield obligasi dua tahun turun ke 3,556%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga di masa depan.
Menurut alat FedWatch dari CBOE, pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga pertama oleh Federal Reserve akan terjadi pada Juli 2026.
Emas Menguat di Tengah Ketidakpastian
Aset safe haven lain juga mendapat dukungan. Harga emas naik setelah data tenaga kerja AS yang lemah meningkatkan harapan terhadap pemangkasan suku bunga.
Harga emas spot naik sekitar 1,81% ke $5.168 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS naik ke $5.137 per ons.
Perak juga mencatat kenaikan signifikan, naik sekitar 2,45% menjadi $84,14 per ons.
Meski demikian, emas masih mencatat penurunan mingguan pertama dalam lima minggu terakhir setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan di awal pekan.
Proyeksi Pasar Pekan 09–13 Maret
Dalam ringkasan pasar & proyeksi ekonomi pekan ini, investor kemungkinan tetap fokus pada tiga faktor utama: perkembangan konflik Timur Tengah, arah harga minyak global, dan data ekonomi Amerika Serikat berikutnya.
Jika konflik terus meningkat dan pasokan minyak semakin terganggu, tekanan inflasi global berpotensi meningkat kembali. Kondisi tersebut dapat memperumit keputusan Federal Reserve dalam menentukan waktu yang tepat untuk mulai memangkas suku bunga.
Sebaliknya, jika upaya diplomatik mulai menunjukkan hasil, volatilitas pasar dapat mereda dan investor kembali fokus pada fundamental ekonomi. Oleh karena itu, pasar global diperkirakan masih bergerak fluktuatif sepanjang pekan perdagangan 09–13 Maret 2026.
WEEK AHEAD
(02 – 06 Maret 2026)
Week Ahead: 02–06 Maret 2026
Perkembangan geopolitik diperkirakan masih mendominasi pasar global pada pekan mendatang setelah perang di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Laporan dari IEA dan OPEC akan menjadi perhatian penting karena kedua institusi tersebut diperkirakan memberikan gambaran mengenai dampak gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk Persia terhadap pasar minyak dunia.
Selain energi, investor juga akan memantau sejumlah indikator inflasi di berbagai negara besar. Data indeks harga konsumen akan dirilis di China, sementara Jepang akan merilis data pengeluaran rumah tangga yang memberikan gambaran kekuatan konsumsi domestik.
Di kawasan Eropa, pelaku pasar menunggu data produksi industri di kawasan Eurozone serta negara-negara ekonomi utama. Inggris juga akan merilis data GDP bulanan dan output industri. Selain itu, indikator ekonomi awal dari Australia dan Swiss turut menjadi perhatian investor global.
Amerika
Di Amerika Serikat, perkembangan konflik Timur Tengah kemungkinan tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi sentimen pasar. Investor akan mencermati apakah terdapat tanda-tanda deeskalasi yang dapat membuka kembali jalur pelayaran energi melalui Selat Hormuz.
Dari sisi data ekonomi, laporan inflasi menjadi fokus utama. Indeks harga konsumen (CPI) Februari diperkirakan naik menjadi 2,5% secara tahunan dari sebelumnya 2,4%, sementara inflasi bulanan diproyeksikan tetap di 0,2%. Inflasi inti juga diperkirakan bertahan di 2,5%.
Estimasi kedua produk domestik bruto (GDP) diperkirakan mengonfirmasi bahwa ekonomi AS tumbuh 1,4% secara tahunan pada kuartal IV, melambat dibanding periode sebelumnya. Sementara itu, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Januari diperkirakan naik 0,3% secara bulanan, dengan inflasi inti bertahan di 0,4%.
Beberapa indikator lain juga akan dirilis, termasuk pesanan barang tahan lama yang diperkirakan rebound 1,2% pada Januari. Penjualan rumah existing home sales untuk Februari diproyeksikan turun menjadi 3,90 juta unit secara tahunan setelah anjlok tajam pada Januari akibat tingginya biaya pinjaman.
Indeks sentimen konsumen dari University of Michigan untuk Maret diperkirakan sedikit melemah ke 56,3, sementara defisit perdagangan Januari diperkirakan menyempit menjadi sekitar $69 miliar. Pasar juga akan mencermati data JOLTS Job Openings, housing starts, building permits, laporan anggaran bulanan, ekspektasi inflasi konsumen, serta indeks optimisme usaha kecil dari NFIB.
Di sektor korporasi, sejumlah perusahaan besar dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan, termasuk Oracle, Hewlett Packard, UiPath, Adobe, dan Wheaton Precious Metals.
Di kawasan Amerika lainnya, Kanada akan merilis laporan ketenagakerjaan dan data perdagangan luar negeri.
Eropa
Di Inggris, data GDP bulanan diperkirakan menunjukkan ekonomi kembali tumbuh pada Januari untuk bulan ketiga berturut-turut. Output industri dan manufaktur juga diperkirakan mengalami pemulihan setelah periode pelemahan sebelumnya. Selain itu, data perdagangan serta laporan penjualan ritel dari British Retail Consortium juga akan dirilis.
Di Jerman, produksi industri diperkirakan rebound pada Januari. Namun, pesanan pabrik yang sempat tertunda dari pekan sebelumnya diperkirakan mengalami penurunan setelah mencatat kenaikan selama empat bulan berturut-turut. Surplus perdagangan Jerman juga diperkirakan menyempit menjadi sekitar €15,2 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Di Prancis, defisit perdagangan diperkirakan turut menyempit. Sementara itu, kawasan Eurozone akan merilis data produksi industri yang menjadi indikator penting aktivitas manufaktur regional.
Asia Pasifik
Di China, investor akan terus memantau perkembangan dari National People’s Congress setelah pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang lebih moderat untuk 2026 di kisaran 4,5% hingga 5%.
China juga akan merilis data inflasi Februari. Indeks harga konsumen diperkirakan meningkat menjadi 0,8% dari sebelumnya 0,2%, sementara harga produsen diperkirakan masih turun namun dengan laju yang lebih lambat sekitar 1,1%.
Data perdagangan untuk dua bulan pertama tahun ini juga akan dirilis. Surplus perdagangan diperkirakan melebar sekitar $12 miliar secara tahunan menjadi $182 miliar. Selain itu, indikator moneter dan kredit juga menjadi perhatian karena pinjaman baru dalam yuan diperkirakan menurun pada Februari, sebagian karena faktor musiman terkait libur Tahun Baru Imlek.
Di Jepang, data final diperkirakan menunjukkan ekonomi tumbuh 0,3% pada kuartal IV 2025, lebih kuat dari estimasi awal 0,1%, didukung peningkatan belanja modal. Pengeluaran rumah tangga diperkirakan rebound 0,8% pada Januari, sementara harga produsen diperkirakan naik tipis 0,1% pada Februari.
Pasar juga akan memantau pesanan mesin, indeks ekonomi bertepatan dan indikator leading, serta neraca transaksi berjalan.
Di Australia, investor akan mengevaluasi indikator kepercayaan konsumen dan bisnis, ekspektasi inflasi konsumen, serta data final izin pembangunan.
Data Mingguan Perdagangan Emas (02 – 06 Maret 2026)
Open : 5.341,05 High : 5.419,37 Low : 4.996,08 Close : 5.168,23 Range : 423,29
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.970 | R1 5.393 |
| S2 4.771 | R2 5.618 |
| S3 4.546 | R3 5.816 |
Gold Outlook : Bullish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (02 – 06 Maret 2026)
Open : 65,83 High : 67,78 Low : 63,57 Close : 67,31 Range : 4,21
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 76,01 | R1 99,23 |
| S2 61,03 | R2 107,47 |
| S3 52,79 | R3 122,45 |
Oil Outlook : Bullish
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
