Weekly Review dan Outlook 18 – 22 Mei 2026 menunjukkan perubahan besar pada sentimen pasar global. Reli saham berbasis kecerdasan buatan mulai kehilangan tenaga setelah investor kembali fokus pada lonjakan inflasi, kenaikan imbal hasil obligasi, serta meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Kombinasi faktor tersebut mendorong penguatan dolar AS, menekan harga emas, dan memicu reli tajam harga minyak mentah.
Wall Street Berbalik Melemah Setelah Reli AI
Wall Street ditutup melemah tajam pada akhir pekan lalu. Investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham teknologi setelah pasar menilai reli sebelumnya terlalu agresif dan tidak lagi sejalan dengan kondisi ekonomi aktual. Kekhawatiran inflasi kembali mendominasi pasar setelah data inflasi Amerika Serikat bulan April dirilis lebih tinggi dari ekspektasi.
Indeks Dow Jones turun 1,07% ke 49.526,17. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,24% ke 7.408,50 dan Nasdaq jatuh 1,54% ke 26.225,15. Meski demikian, S&P 500 masih mencatat kenaikan mingguan ketujuh berturut-turut, sedangkan Nasdaq mengakhiri reli enam pekan beruntun.
Pasar sebelumnya terlalu fokus pada momentum saham berbasis artificial intelligence. Namun, investor kini kembali memperhatikan pergerakan pasar obligasi dan data ekonomi yang menunjukkan tekanan inflasi masih tinggi dan berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Bursa Global Ikut Tertekan
Tekanan juga terjadi di pasar saham global. Indeks STOXX 600 Eropa turun 1,48%, sementara indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang merosot 2,5%. Di Jepang, indeks Nikkei turun hampir 2% setelah inflasi grosir meningkat menjadi 4,9% pada April, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan masih berada di jalur kenaikan suku bunga. Di Korea Selatan, indeks Kospi terkoreksi lebih dari 6% setelah sebelumnya mencatat reli sangat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Sentimen Risiko
Kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,597%, level tertinggi dalam setahun. Sementara yield obligasi 30 tahun menembus 5,122%.
Yield tenor 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter juga naik ke 4,079%. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pasar mulai meningkatkan taruhan terhadap potensi kenaikan suku bunga tambahan dari Federal Reserve tahun ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun meningkat menjadi sekitar 38,8%, jauh lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya yang berada di bawah 14%.
Transisi Kepemimpinan The Fed Jadi Sorotan
Pasar juga mencermati pergantian kepemimpinan bank sentral AS. Hari Jumat menjadi hari terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua The Fed sebelum digantikan oleh Kevin Warsh.
Penunjukan Warsh oleh Donald Trump meningkatkan perhatian pasar karena Trump selama ini terus mendorong pemangkasan suku bunga. Investor kini menunggu arah kebijakan Warsh dan sejauh mana dirinya akan mempertahankan independensi kebijakan moneter The Fed.
Dolar AS Menguat Tajam
Ekspektasi kenaikan suku bunga mendorong penguatan dolar AS selama lima hari berturut-turut. Indeks dolar naik ke 99,28 dan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir.
Euro turun ke USD1,1624, sementara poundsterling melemah ke USD1,3318 dan menyentuh level terendah dalam lebih dari lima pekan. Dolar AS juga menguat terhadap yen Jepang hingga mencapai 158,74.
Penguatan dolar terjadi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven berbasis dolar dan naiknya imbal hasil obligasi AS.
Harga Minyak Melonjak karena Konflik Timur Tengah
Pasar energi kembali menjadi pusat perhatian dalam Weekly Review dan Outlook 18 – 22 Mei 2026. Harga minyak melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa Iran hanya bersedia melanjutkan negosiasi jika Washington menunjukkan keseriusan diplomatik. Di sisi lain, Donald Trump menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan harus membuka kembali Selat Hormuz.
Komentar tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Akibatnya, harga minyak WTI melonjak 4,2% menjadi USD105,42 per barel, sedangkan Brent naik 3,35% ke USD109,26 per barel.
Secara mingguan, Brent mencatat kenaikan sekitar 8%, sementara WTI melonjak lebih dari 10%.
Harga Emas Tertekan Penguatan Dolar
Harga emas mengalami tekanan besar sepanjang pekan lalu. Penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi membuat investor mengurangi minat terhadap aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Harga spot gold turun 2,4% menjadi USD4.540,14 per troy ounce. Sementara kontrak berjangka emas AS melemah sekitar 3% ke USD4.543,60 per troy ounce.
Secara mingguan, emas spot terkoreksi sekitar 3,7%, menjadi penurunan mingguan terburuk sejak pertengahan Maret. Pasar kini menilai bahwa tekanan inflasi global dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Outlook Pasar Pekan 18 – 22 Mei 2026
Fokus utama pasar pekan ini masih tertuju pada perkembangan konflik Timur Tengah, arah kebijakan The Fed setelah pergantian ketua, serta pergerakan harga energi global. Jika harga minyak terus bertahan tinggi, tekanan inflasi global berpotensi meningkat lebih lanjut. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS dan menjaga yield obligasi tetap tinggi. Situasi ini juga dapat membatasi ruang kenaikan pasar saham global dalam jangka pendek.
Di sisi lain, investor akan memantau komentar dari Kevin Warsh terkait arah suku bunga AS. Pasar ingin melihat apakah kepemimpinan baru The Fed akan tetap agresif melawan inflasi atau mulai membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter.
Untuk pasar komoditas, harga minyak masih berpeluang bergerak volatil selama risiko geopolitik belum mereda. Sementara itu, emas kemungkinan tetap menghadapi tekanan jika dolar AS dan yield Treasury melanjutkan penguatan.
Secara keseluruhan, Weekly Review dan Outlook 18 – 22 Mei 2026 memperlihatkan bahwa pasar global mulai memasuki fase yang lebih defensif. Investor kini lebih fokus pada risiko inflasi, kebijakan suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik dibanding euforia reli saham teknologi beberapa pekan terakhir.
WEEK AHEAD
(18 – 22 Mei 2026)
Pelaku pasar global masih akan memantau perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada pekan ini. Pergantian antara komentar yang lebih lunak dan pernyataan agresif dari kedua negara diperkirakan terus memengaruhi sentimen pasar keuangan global.
Kenaikan harga minyak akibat ketidakpastian geopolitik tetap menjadi perhatian utama investor karena berpotensi memperkuat tekanan inflasi global. Di sisi lain, pasar saham masih mendapatkan dukungan dari optimisme sektor artificial intelligence, terutama setelah sejumlah perusahaan teknologi memberikan proyeksi bisnis yang kuat.
Namun, reli sektor AI akan menghadapi ujian besar melalui laporan keuangan NVIDIA yang dijadwalkan rilis pekan ini.
Amerika
Fokus utama pasar di kawasan Amerika akan tertuju pada risalah pertemuan terbaru Federal Open Market Committee. Investor akan mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga setelah data inflasi AS menunjukkan kenaikan lebih tinggi dari perkiraan pasar.
Laporan keuangan NVIDIA juga menjadi perhatian besar pekan ini. Pasar menilai kinerja Nvidia akan menjadi ujian penting bagi reli saham berbasis artificial intelligence yang selama ini menopang penguatan Wall Street. Selain Nvidia, sejumlah perusahaan besar lain seperti Walmart, The Home Depot, Intuit, dan Lowe’s juga dijadwalkan merilis laporan keuangan.
Dari sisi data ekonomi, investor akan memantau PMI awal AS, indeks manufaktur Philadelphia Fed, arus modal, serta survei sentimen konsumen University of Michigan. Data sektor perumahan juga menjadi sorotan, termasuk housing starts, building permits, pending home sales, dan indeks pasar perumahan NAHB.
Di Kanada, pasar akan memperhatikan data inflasi April, penjualan ritel, dan harga rumah baru.
Eropa
Di Eropa, investor akan fokus pada data aktivitas ekonomi dan tingkat kepercayaan bisnis. Di Jerman, indeks sentimen konsumen GfK diperkirakan kembali turun untuk bulan keempat berturut-turut. Sementara itu, indeks iklim bisnis Ifo diproyeksikan melemah untuk bulan ketiga berturut-turut dan menyentuh level terendah sejak Mei 2020.
Data PMI awal dari kawasan Euro Area, Jerman, Prancis, dan Inggris juga menjadi perhatian utama pasar. Aktivitas manufaktur diperkirakan sedikit melambat, sedangkan tekanan di sektor jasa diperkirakan mulai mereda.
Dari Inggris, pasar akan mencermati data inflasi, pengangguran, dan penjualan ritel. Inflasi tahunan Inggris diperkirakan turun menjadi 2,7% pada April dari sebelumnya 3,3%. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di 4,9%, sementara pertumbuhan upah mingguan diproyeksikan stabil di 3,8%.
Selain itu, investor juga akan memantau data inflasi final Euro Area, GDP final Jerman, sentimen konsumen Eropa, serta data perdagangan dari Italia dan Spanyol.
Asia Pasifik
Di kawasan Asia Pasifik, China menjadi sorotan utama karena akan merilis serangkaian data ekonomi penting. Investor akan memantau produksi industri, penjualan ritel, investasi aset tetap, tingkat pengangguran, dan harga properti untuk melihat kondisi ekonomi terbaru negara tersebut.
Produksi industri China diperkirakan tumbuh 5,9% secara tahunan pada April, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Penjualan ritel juga diproyeksikan meningkat, sementara pertumbuhan investasi aset tetap diperkirakan melambat.
Pasar juga akan memperhatikan keputusan kebijakan moneter People’s Bank of China yang diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman utama tenor 1 tahun di 3,0% dan tenor 5 tahun di 3,5%.
Di Jepang, data awal GDP kuartal pertama diperkirakan menunjukkan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 1,7%. Data perdagangan Jepang juga akan menjadi perhatian karena ekspor dan impor diperkirakan tumbuh lebih lambat akibat dampak konflik Timur Tengah terhadap perdagangan global.
Investor turut mencermati data inflasi Jepang yang diperkirakan sedikit melambat menjadi 1,7%. Data tersebut penting untuk mengukur peluang langkah lanjutan Bank of Japan (BoJ) terkait kebijakan suku bunga.
Sementara itu, Australia dan India dijadwalkan merilis data PMI manufaktur dan jasa awal Mei. Australia juga akan mengumumkan data tenaga kerja, ekspektasi inflasi konsumen, serta risalah pertemuan terbaru Reserve Bank of Australia.
Data Mingguan Perdagangan Emas (04 – 08 Mei 2026)
Open : 4.693,79 High : 4.773,48 Low : 4.511,48 Close : 4.539.17 Range : 262,00
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.443 | R1 4.705 |
| S2 4.346 | R2 4.870 |
| S3 4.181 | R3 4.967 |
Gold Outlook : Bearish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (04 – 08 Mei 2026)
Open : 98,44 High : 102,62 Low : 95,02 Close : 101,26 Range : 101,26
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 96,65 | R1 104,25 |
| S2 92,03 | R2 107,23 |
| S3 89,05 | R3 111,85 |
Oil Outlook : Bullish
Baca juga: Weekly Review dan Outlook: Konflik Timur Tengah
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!

