Dolar Melemah Setelah Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan
Dolar melemah pada akhir pekan setelah laporan tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan hasil yang jauh lebih buruk dari perkiraan. Data terbaru memperlihatkan ekonomi AS kehilangan sekitar 92.000 pekerjaan pada Februari, berbalik dari kenaikan yang direvisi menjadi 126.000 pada Januari. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4%.
Dolar melemah karena pasar mulai memperkirakan Federal Reserve bisa memangkas suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Kontrak futures suku bunga kini menunjukkan peluang sekitar 76% bahwa bank sentral AS akan mulai memangkas suku bunga pada September.
Namun sejumlah ekonom menilai pelemahan pasar tenaga kerja mungkin hanya bersifat sementara. Ekonomi AS dinilai masih cukup kuat sehingga permintaan tenaga kerja berpotensi kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Franc Swiss Menguat karena Ketegangan Timur Tengah
Ketika dolar melemah, investor global beralih ke aset safe haven. Franc Swiss menjadi salah satu mata uang yang paling diuntungkan dari kondisi tersebut.
Franc menguat sekitar 0,5% terhadap dolar AS dan euro. Mata uang Swiss memang sering menguat saat risiko geopolitik meningkat.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menuntut Iran untuk melakukan “penyerahan tanpa syarat”. Pernyataan tersebut memperkeras retorika konflik yang terjadi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Trump juga menyatakan keinginannya untuk ikut menentukan pemimpin Iran berikutnya setelah perang berakhir. Pernyataan itu semakin menambah ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Harga Minyak Melonjak di Atas $90 per Barel
Lonjakan ketegangan geopolitik mendorong harga minyak melonjak tajam. Kontrak minyak mentah WTI naik lebih dari 11% hingga menembus $90 per barel, level tertinggi sejak Agustus 2022.
Kekhawatiran pasar meningkat setelah Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memperingatkan bahwa ekspor minyak Teluk bisa berhenti jika kapal tanker tidak dapat melewati Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak dan produk energi setiap hari. Gangguan pada jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
Di sisi lain, Arab Saudi mulai menaikkan harga minyak untuk pembeli Asia dan mengalihkan pengiriman melalui pelabuhan Laut Merah untuk menghindari risiko di Hormuz.
Pasar Saham AS Turun dan Risiko Stagflasi Muncul
Ketika dolar melemah, tekanan juga muncul di pasar saham Amerika Serikat. Indeks utama Wall Street turun tajam karena investor khawatir terhadap dampak kombinasi kenaikan harga energi dan pelemahan ekonomi.
Indeks S&P 500 turun sekitar 1,4%, sementara Nasdaq Composite merosot 1,6%. Dow Jones Industrial Average juga turun sekitar 1%.
Lonjakan harga energi bersamaan dengan meningkatnya pengangguran menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko stagflasi, yaitu kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi.
Kekhawatiran tersebut bahkan mulai memicu tekanan pada sektor keuangan. Perusahaan investasi besar BlackRock dilaporkan membatasi penarikan dana pada salah satu produk private credit karena meningkatnya kekhawatiran investor.
Emas Menguat di Tengah Permintaan Safe Haven
Kondisi geopolitik dan pelemahan dolar ikut mendorong kenaikan harga emas. Logam mulia tersebut naik sekitar 1,6% ke kisaran $5.160 per ounce pada perdagangan akhir pekan.
Investor kembali memanfaatkan emas sebagai aset lindung nilai ketika konflik global meningkat. Namun pergerakan emas sepanjang pekan tetap berfluktuasi karena penguatan dolar sebelumnya sempat menekan harga logam mulia tersebut.
Dalam periode ketegangan geopolitik, emas dan dolar sering bergantian menjadi aset safe haven utama. Ketika dolar menguat, emas biasanya menghadapi tekanan jangka pendek. Sebaliknya, ketika dolar melemah, harga emas cenderung mendapatkan dukungan.
Prospek Harga Emas Senin | 09 Maret 2026
Harga emas mencoba rebound setelah sempat turun mendekati area support 5.050, namun kenaikan masih tertahan di area SMA 50 di kisaran 5.200. Penolakan di area tersebut menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat, sehingga harga kembali bergerak turun untuk menguji support 5.050. Jika level ini ditembus, maka penurunan berpotensi berlanjut menuju area 4.990 hingga 4.935.
Sementara itu, indikator RSI berada di kisaran level 44 dan masih bergerak di bawah area netral 50, yang menunjukkan momentum cenderung bearish. Sebaliknya, jika harga mampu kembali naik dan menembus 5.200, maka emas berpeluang menguji resistance berikutnya di sekitar 5.260.
GOLD INTRADAY AREA
R1 5.206 R2 5.260 R3 5.305
S1 5.050 S2 4.996 S3 4.935
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 5.050 |
| Profit Target Level | 5.130 |
| Stop Loss Level | 4.990 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 5.170 |
| Profit Target Level | 5.070 |
| Stop Loss Level | 5.210 |
Prospek Harga US Oil Senin | 09 Maret 2025
Harga US Oil pada grafik H4 terlihat melonjak tajam dan membentuk gap kenaikan yang cukup lebar di area 92,49 hingga 105,01, menandakan momentum bullish yang sangat kuat dalam jangka pendek. Saat ini harga masih bergerak jauh di atas garis SMA 50, yang mengindikasikan tren naik masih dominan. Namun indikator RSI sudah berada di kisaran 88, yang menunjukkan kondisi overbought sehingga membuka peluang terjadinya konsolidasi atau koreksi teknikal dalam waktu dekat, terutama untuk menguji area gap di sekitar 105,01 hingga 92,49.
Selama harga tetap bertahan di atas area tersebut, tren kenaikan masih berpotensi berlanjut dengan target berikutnya di kisaran 111,84 hingga 114,20.
US Oil INTRADAY AREA
R1 111,84 R2 114,20 R3 120,00
S1 105,01 S2 101,74 S3 92,49
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 105,10 |
| Profit Target Level | 111,84 |
| Stop Loss Level | 101,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 111,80 |
| Profit Target Level | 109,00 |
| Stop Loss Level | 114,30 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
