Dolar Safe Haven Bangkit Usai Serangan ke Iran
Dolar safe haven kembali menunjukkan perannya setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran. Ketegangan di Timur Tengah langsung mendorong arus risk-off global. Indeks dolar melonjak hampir 1% pada Senin, mencatat kenaikan harian terbaik dalam tujuh bulan terakhir.
Penguatan ini memberi sinyal bahwa dolar masih berfungsi sebagai aset lindung nilai saat krisis geopolitik muncul. Dalam beberapa bulan terakhir, investor sempat meragukan refleks tersebut. Tahun lalu, dolar gagal reli ketika gejolak pasar global terjadi akibat kebijakan tarif besar-besaran pada 2 April 2025, yang dikenal sebagai “Liberation Day”.
Saat itu, risiko justru berasal dari Amerika Serikat sendiri. Investor enggan mencari perlindungan pada mata uang negara yang memicu ketidakpastian. Kini situasinya berbeda. Krisis berasal dari konflik internasional, bukan dari kebijakan domestik AS.
Likuiditas Pasar AS Jadi Magnet Arus Dana
Analis menilai kedalaman pasar keuangan AS menjadi faktor kunci. Pasar obligasi pemerintah AS mampu menyerap arus dana besar ketika investor mengurangi risiko. Saat dana global masuk ke US Treasury, permintaan terhadap dolar ikut meningkat.
Kurangnya alternatif dengan likuiditas setara juga memperkuat posisi dolar. Karena itu, dalam periode volatilitas tinggi, investor tetap kembali ke mata uang AS. Kondisi inilah yang membuat dolar safe haven kembali mendapat dukungan kuat.
Meski begitu, sebagian pelaku pasar menilai perdebatan belum selesai. Mereka melihat kekuatan dolar sangat bergantung pada jenis guncangan yang terjadi.
Lonjakan Minyak dan Dampaknya ke Pasar
Harga minyak melonjak hampir 6% dan mendekati 71 dolar per barel, level tertinggi sejak Juni tahun lalu. Kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz memicu lonjakan tersebut. Jalur ini menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global.
Serangan AS dan Israel ke Iran memicu aksi balasan Teheran ke target regional. Perusahaan pelayaran mulai mengalihkan rute kapal sebagai langkah pencegahan. Arab Saudi juga menghentikan sementara operasi di fasilitas Ras Tanura setelah serangan drone.
Di sisi lain, OPEC+ sepakat menaikkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada April. Namun angka ini lebih kecil dari kisaran yang sebelumnya dipertimbangkan. Pasar tetap waspada terhadap risiko geopolitik.
Sebagai eksportir energi bersih, Amerika Serikat relatif lebih terlindungi dari lonjakan harga minyak dibanding negara importir. Faktor ini ikut menopang penguatan dolar.
Wall Street Pulih, Emas Tertahan
Pasar saham AS sempat tertekan tajam sebelum akhirnya pulih menjelang penutupan. S&P 500 berakhir sedikit lebih rendah. Dow Jones Industrial Average turun sekitar 0,2%, sementara Nasdaq Composite ditutup menguat tipis setelah sempat merosot 1,6%.
Investor kembali memborong saham teknologi berkapitalisasi besar. Nvidia naik 2,9% dan Microsoft menguat 1,5%. Saham pertahanan juga melonjak, sementara Exxon Mobil ikut terdorong kenaikan harga energi.
Harga emas sempat menembus 5.419 dolar sebelum bertahan di atas 5.300 dolar. Namun reli saham dan kenaikan imbal hasil obligasi AS membatasi penguatannya. Kenaikan indeks harga manufaktur ISM ke 70,5 kembali memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong yield lebih tinggi.
Arah Selanjutnya untuk Dolar
Pergerakan berikutnya sangat bergantung pada harga minyak dan selera risiko global. Jika harga energi terus naik dan pasar tetap defensif, dolar safe haven berpotensi mempertahankan momentumnya.
Sebaliknya, jika minyak turun dan ketegangan mereda, aset lindung nilai lain seperti franc Swiss dan yen Jepang bisa kembali menonjol. Untuk saat ini, pasar melihat dolar kembali menjalankan fungsi utamanya saat krisis global meningkat.
Prospek Harga Emas Selasa | 03 Maret 2026
Pada grafik H4, emas sudah breakout dari pola rectangle 5.100–5.250 dan membentuk gap ke atas. Gap di area 5.250–5.280 sempat hampir tertutup, namun harga kembali naik dan kini bertahan di atasnya, sehingga zona tersebut berfungsi sebagai support baru.
Harga juga berada di atas SMA 50 yang mulai menanjak, menandakan tren jangka menengah masih bullish. RSI di kisaran 60–65 menunjukkan momentum beli tetap kuat dan belum overbought ekstrem. Selama harga bertahan di atas area gap dan SMA 50, peluang kenaikan menuju 5.400–5.470 masih terbuka.
GOLD INTRADAY AREA
R1 5.404 R2 5.470 R3 5.600
S1 5.250 S2 5.168 S3 5.100
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 5.290 |
| Profit Target Level | 5.400 |
| Stop Loss Level | 5.240 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 5.404 |
| Profit Target Level | 5.350 |
| Stop Loss Level | 5.480 |
Prospek Harga US Oil Selasa | 03 Maret 2025
Pada grafik H4, US Oil terlihat melakukan breakout kuat dari area konsolidasi di sekitar 66.00–67.77 dan membentuk gap naik hingga area 69.27. Gap tersebut belum tertutup dan kini menjadi support terdekat, menandakan tekanan beli masih dominan dalam jangka pendek.
Harga saat ini bertahan di atas SMA 50 yang sudah menanjak, mencerminkan perubahan struktur tren menjadi bullish. Selama harga tidak kembali turun menembus 67.77 dan SMA 50, bias naik tetap terjaga. RSI berada di kisaran 60-an, menunjukkan momentum masih positif dan belum overbought ekstrem.
Dengan struktur higher high yang mulai terbentuk, peluang kenaikan lanjutan menuju resistance 72.91 hingga 74.20 masih terbuka, selama tidak terjadi penutupan gap secara penuh dan ditutup di bawah gap tersebut.
US Oil INTRADAY AREA
R1 72,91 R2 74,27 R3 75,72
S1 69,27 S2 67,77 S3 66,09
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 69,50 |
| Profit Target Level | 72,00 |
| Stop Loss Level | 67,60 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 72,90 |
| Profit Target Level | 71,00 |
| Stop Loss Level | 74,40 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
