Yen Jepang Menuju Pelemahan Bulanan terhadap Dolar AS
Yen Jepang menuju pelemahan bulanan terhadap dolar AS pada Jumat setelah Bank of Japan mengecewakan pelaku pasar yang berharap kebijakan suku bunga lebih agresif. Sementara itu, Federal Reserve menurunkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga pada Desember. Yen sempat memangkas sebagian pelemahannya setelah pemerintah Jepang menegaskan sedang memantau pergerakan nilai tukar dengan kewaspadaan tinggi di tengah tren pelemahan tersebut.
Inflasi Tokyo Tetap di Atas Target
Data pada Jumat menunjukkan inflasi inti di Tokyo meningkat pada Oktober dan tetap berada di atas target 2% bank sentral. Namun, nada hati-hati dari Gubernur BOJ Kazuo Ueda membuat yen tertahan. Bank sentral mempertahankan suku bunga di 0,5%, dan sikap yang kurang hawkish menahan apresiasi yen lebih lanjut.
Seorang analis menyebutkan bahwa BOJ pada akhirnya tetap perlu menormalisasi kebijakan setidaknya hingga 1%, mengingat kenaikan upah yang berkelanjutan serta belanja fiskal yang semakin besar akan memperkuat tekanan inflasi di masa mendatang.
Pemerintah baru di bawah pimpinan Sanae Takaichi diperkirakan akan melanjutkan kebijakan fiskal yang ekspansif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, arah kebijakan ini berpotensi memperlemah yen karena pasar memperkirakan inflasi bisa meningkat tanpa diimbangi pengetatan moneter yang cukup cepat.
Kinerja Yen dan Dolar Sepanjang Bulan
Yen Jepang menuju pelemahan bulanan terhadap dolar AS terbesar sejak Juli, dengan dolar naik 4,2% terhadap mata uang tersebut sepanjang bulan ini. Sementara itu, indeks dolar naik 0,35% menjadi 99,82 dan mencatat kenaikan bulanan sekitar 2%, tertinggi sejak Juli.
Federal Reserve Terbelah dalam Kebijakan
Greenback menguat berkat optimisme terhadap prospek ekonomi AS, meski pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Pejabat Federal Reserve masih khawatir terhadap inflasi yang tinggi dan belum yakin akan melakukan pemangkasan suku bunga tambahan tahun ini.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan bahwa perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan serta keterbatasan data ekonomi dari pemerintah bisa membuat pemotongan suku bunga tambahan sulit terealisasi tahun ini. Ia menegaskan perlunya fleksibilitas kebijakan di tengah ketidakpastian tersebut.
The Fed memangkas suku bunga sesuai ekspektasi pada Rabu, namun dua anggota dewan berbeda pandangan. Sebagian menyerukan penurunan suku bunga yang lebih dalam, sementara yang lain menilai pemangkasan seharusnya tidak dilakukan.
Sejumlah pejabat regional The Fed, termasuk dari Dallas dan Cleveland, menilai langkah pemangkasan tersebut prematur karena inflasi masih tinggi dan tekanan harga mulai menyebar di sektor ekonomi lain. Sementara itu, Presiden Fed Atlanta menilai pemangkasan suku bunga pada Desember belum pasti terjadi.
Data dari CME Group’s FedWatch Tool menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga Desember turun menjadi 63% dari sebelumnya 93% sepekan lalu. Seorang analis memperkirakan indeks dolar akan berkonsolidasi di bawah area teknikal 102 sebelum kembali menguat tahun depan seiring proyeksi akselerasi pertumbuhan ekonomi AS.
Euro dan Poundsterling Ikut Melemah
Euro turun 0,37% ke $1,1522 setelah Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga di 2% untuk ketiga kalinya berturut-turut. ECB menegaskan kebijakan saat ini sudah berada pada posisi yang sesuai di tengah risiko ekonomi yang mulai mereda. Sepanjang bulan ini, euro melemah 1,8% terhadap dolar.
Poundsterling juga melemah 0,14% ke $1,3132, posisi terendah sejak April 14, di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves. Pound diperkirakan turun 2,3% bulan ini, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Inggris juga menurun karena kekhawatiran terhadap dampak kebijakan fiskal yang akan diumumkan bulan November.
Analis memperingatkan agar investor tidak terburu-buru melawan tren pelemahan pound sebelum kejelasan kebijakan Bank of England minggu depan, terutama karena kemungkinan pemangkasan suku bunga masih terbuka.
Emas Melemah di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga
Harga emas turun 1% pada Jumat, tertekan oleh ketidakpastian seputar arah kebijakan suku bunga The Fed. Namun, logam mulia ini tetap menuju kenaikan bulanan ketiga berturut-turut. Harga spot emas turun 0,6% ke $4.001,74 per ons dan kontrak berjangka Desember turun 0,5% menjadi $3.996,5 per ons.
Indeks dolar yang mendekati level tertinggi tiga bulan membuat emas berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Beberapa pejabat The Fed yang menolak pemangkasan suku bunga menambah tekanan terhadap emas karena kebijakan yang lebih ketat cenderung mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil.
Meski demikian, lembaga keuangan besar memperkirakan prospek emas masih positif di tengah ketidakpastian ekonomi global, aliran dana ETF, dan pembelian bank sentral. Emas diproyeksikan rata-rata mencapai $4.300 per ons pada paruh pertama 2026.
Kebijakan Dagang dan Harga Minyak
Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menurunkan tarif terhadap China dari 57% menjadi 47% sebagai imbalan atas komitmen Beijing untuk memberantas perdagangan fentanil ilegal, melanjutkan pembelian kedelai dari AS, dan menjaga ekspor logam tanah jarang tetap stabil.
Di sisi energi, harga minyak berfluktuasi setelah laporan tentang kemungkinan serangan udara AS ke Venezuela. Namun, setelah Trump membantah kabar tersebut di media sosial, harga minyak kembali stabil. Brent ditutup di $65,07 per barel, naik tipis 0,11%, sedangkan WTI naik 0,68% ke $60,98 per barel.
Seorang analis pasar energi menyebut situasi ini bisa berubah drastis jika ketegangan meningkat di akhir pekan, karena potensi aksi militer akan mendorong lonjakan harga minyak pada awal pekan berikutnya.
Prospek harga Emas Senin | 03 November 2025
Pergerakan emas di time frame H4 menunjukkan tren menurun setelah gagal bertahan di atas area resistance di sekitar 4.027, dengan harga saat ini bergerak di bawah garis SMA 50 yang berfungsi sebagai resistance dinamis. Struktur harga membentuk lower high, mengindikasikan tekanan jual masih dominan.
Jika harga menembus level support 3.970, potensi penurunan bisa berlanjut menuju area 3.946 -3.928. Sebaliknya, kenaikan di atas 4.027–4.046 akan mengindikasikan potensi pembalikan jangka pendek, dengan potensi kenaikan menuju 4.070. RSI berada di sekitar level 49, mencerminkan kondisi netral dengan kecenderungan bearish ringan.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.027 R2 4.046 R3 4.070
S1 3.972 S2 3.948 S3 3.928
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 3.975 |
| Profit Target Level | 4.020 |
| Stop Loss Level | 3.945 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.025 |
| Profit Target Level | 3.985 |
| Stop Loss Level | 4.050 |
Prospek harga US Oil Senin | 03 November 2025
Grafik WTI Crude Oil H4 menunjukkan potensi pergerakan bullish setelah harga berhasil menembus dan bertahan di atas garis MA biru yang kini berfungsi sebagai support dinamis. Struktur harga membentuk pola higher low, menandakan tekanan beli yang meningkat. Jika harga mampu menembus resistance di 61,38, maka potensi kenaikan dapat berlanjut menuju area 62,02 hingga 62,58.
Namun, skenario bearish akan muncul apabila harga gagal bertahan di atas 60,66, yang dapat memicu penurunan menuju area 60, 20 – 59,70. Indikator RSI berada di sekitar level 57,02, mendukung momentum bullish yang masih cukup kuat selama harga tidak turun di bawah area support tersebut.
US Oil INTRADAY AREA
R1 61,38 R2 62,02 R3 62,58
S1 60,66 S2 60,20 S3 59,70
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 60,70 |
| Profit Target Level | 62,00 |
| Stop Loss Level | 60,20 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 62,00 |
| Profit Target Level | 61,40 |
| Stop Loss Level | 62,60 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disiniGRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Grafik XAU/USD pada timeframe H4 menunjukkan bahwa harga saat ini berada dalam fase pemulihan setelah tren turun yang cukup tajam. Harga bergerak di bawah SMA 50 yang menurun, menandakan tren jangka menengah masih bearish. Namun, terdapat potensi perubahan arah jika harga mampu menembus area resistance kunci di sekitar 4.060 yang bertepatan dengan SMA 50. Selama harga masih tertahan di bawah area ini, kenaikan yang terjadi cenderung bersifat pullback sebelum melanjutkan penurunan menuju support di 4.007, 3.982, dan 3.960.
Grafik WTI Crude Oil pada timeframe H4 memperlihatkan harga sedang bergerak mendatar setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam. Saat ini, harga berada tepat di sekitar garis SMA 50 (biru), yang menjadi area keseimbangan antara buyer dan seller. Selama harga mampu bertahan di atas SMA 50 dan menembus resistance terdekat di 60,66, maka ada peluang penguatan lanjutan menuju 61,38 dan 62,02. Skenario bullish ini akan semakin kuat jika RSI berhasil naik melewati level 50, menandakan peningkatan momentum beli.
Pergerakan emas di timeframe H4 menunjukkan tren menurun setelah gagal mempertahankan level di atas area resistance 4.008–4.056 yang kini berubah menjadi zona supply. Harga saat ini bergerak di bawah garis SMA 50, menandakan momentum bearish masih dominan.
Pergeraan US Oil pada timeframe H4 menunjukkan tren naik jangka menengah yang masih terjaga, terlihat dari posisi harga yang masih bergerak di atas garis SMA 50. Saat ini harga mengalami koreksi ringan setelah gagal menembus resistance di area 61,64–62,02. Selama harga bertahan di atas area support 59,27 dan garis SMA 50, tekanan beli masih berpotensi mendominasi dengan peluang rebound menuju 60,66 hingga 61,64.
Pergerakan emas pada time frame H4 menunjukkan tren turun yang masih berlanjut setelah gagal menembus area resistance di sekitar 3.970 dan 4.010. Harga saat ini bergerak di bawah garis SMA 50, mengindikasikan tekanan bearish yang kuat. RSI berada di bawah level 40, memperkuat potensi pelemahan lanjutan.
Pergerakan US Oil di time frame H4 menunjukkan harga bergerak di sekitar area 60,20 setelah mengalami koreksi dari puncak 62,02. Meskipun tekanan jual sempat muncul, harga masih bertahan di atas garis SMA 50 yang berada di sekitar 59,27, menandakan potensi kelanjutan tren naik.
Grafik XAU/USD H4 menunjukkan tren bearish yang masih kuat dengan harga bergerak di bawah garis SMA 50, menandakan tekanan jual tetap dominan. Level 4.010 yang sebelumnya menjadi area support kini berubah fungsi menjadi resistance, dan harga terlihat gagal menembus level tersebut. Saat ini, emas bergerak menurun dan mencoba menguji support berikutnya di area 3.946. Jika tekanan jual berlanjut dan harga menembus di bawah level ini, penurunan dapat berlanjut menuju 3.921 hingga 3.895.
Grafik WTI Crude Oil H4 menunjukkan bias bullish karena harga berada di atas SMA 50 dan RSI di level 59,90 menandakan momentum beli masih kuat. Skenario naik berlaku selama harga bertahan di atas 60,72–60,16, dengan target ke 62,58 lalu 63,48 hingga 64,05.
Grafik XAU/USD pada timeframe H4 menunjukkan pola double top di area sekitar 4.379 yang menandakan potensi pembalikan arah dari tren naik sebelumnya. Setelah gagal menembus level tersebut dua kali, harga mengalami penurunan tajam dan kini bergerak di bawah garis SMA 50 yang juga mulai melengkung ke bawah, menandakan momentum bearish yang meningkat.
Grafik WTI Crude Oil pada timeframe H4 menunjukkan adanya penguatan harga yang menembus garis tren turun, menandakan potensi perubahan arah dari tren bearish menjadi koreksi bullish sementara. Namun, harga kini mendekati area resistance penting di sekitar 62,90 hingga 63,48, yang berpotensi menahan kenaikan lebih lanjut. RSI berada di level overbought sekitar 71,62, menunjukkan potensi tekanan jual jangka pendek.
Pekan Penting bagi Kebijakan Moneter Global
Pergerakan emas di time frame H4 menunjukkan pola double top di area resistance 4.379, yang menjadi sinyal potensi pembalikan arah. Setelah gagal menembus level tersebut, harga mengalami penurunan tajam dan saat ini sedang melakukan retracement ke area 4.160–4.185, yang berdekatan dengan SMA 50 yang berfungsi sebagai resistance dinamis.
Pergerakan Oil pada timeframe H4 menunjukkan bullish kuat setelah menembus garis tren turun, dengan harga saat ini berada di sekitar level 61,69. Namun, RSI berada di area overbought sekitar 77,21 yang mengindikasikan potensi koreksi jangka pendek.
Grafik XAU/USD pada timeframe H4 memperlihatkan pola double top di area resistance 4.379, dengan target penurunan sudah tercapai di kisaran 4.000 setelah sebelumnya berhasil menembus neckline di area 4.186, yang kini berubah fungsi menjadi resistance. Pola ini menandakan potensi pembalikan arah dari tren naik sebelumnya. Saat ini, harga bergerak di bawah SMA 50 yang berada di sekitar level 4.186, memperkuat indikasi bahwa tekanan jual masih mendominasi. Setelah penurunan tajam, harga tengah melakukan retracement menuju area 4.160–4.186 yang kini berperan sebagai zona resistance utama.
Grafik US Oil pada timeframe H4 menunjukkan harga mulai berbalik arah setelah tren turun yang cukup panjang. Saat ini, harga telah menembus garis trendline turun dan bergerak di atas SMA 50. Kondisi ini menandakan adanya perubahan momentum dari bearish ke bullish.
Harga emas (XAU/USD) saat ini bergerak di bawah SMA 50 yang berada di kisaran 4.186, menandakan perubahan arah tren jangka menengah ke sisi bearish. Level tersebut kini berfungsi sebagai resistance utama setelah sebelumnya menjadi support. Meski demikian, harga masih bertahan di atas garis trend line naik dan area support penting di sekitar 4.060.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih berada dalam tren turun yang jelas, di mana pergerakan harga terus berada di bawah garis SMA 50 yang kini bertindak sebagai resistance dinamis di sekitar area 58,04–58,83. Saat ini harga mencoba melakukan koreksi naik, namun momentum kenaikan terlihat terbatas karena tekanan jual masih dominan.
