Wall Street Tutup Negatif di Penghujung Tahun
Wall Street melemah akhir tahun setelah indeks saham utama AS ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu, bertepatan dengan hari terakhir perdagangan 2025 yang berlangsung sepi. Investor memilih mengamankan keuntungan, terutama setelah reli panjang sepanjang tahun, termasuk di pasar logam mulia yang mencatat lonjakan harga signifikan.
Dow Jones Industrial Average turun 303,77 poin ke 48.063,29, sementara S&P 500 melemah 0,74% ke 6.845,50 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,76% ke 23.241,99. Meski mencatat kinerja tahunan dua digit dan kenaikan kuartalan, S&P 500 serta Nasdaq tetap menutup bulan dengan penurunan tipis.
Sentimen Global dan Isu Tarif Masih Membayangi
Wall Street melemah akhir tahun sejalan dengan bursa global yang bergerak terbatas di bawah rekor tertinggi. Sepanjang 2025, pasar menghadapi volatilitas tinggi akibat ketegangan geopolitik, dinamika kebijakan tarif, pelemahan dolar AS, serta euforia berkelanjutan di sektor kecerdasan buatan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyampaikan kebijakan tarif besar pada April, yang sempat mengguncang pasar global. Komentar dari Gedung Putih kala itu menegaskan bahwa kebijakan tersebut bertujuan melindungi industri domestik, meski pasar menilai langkah itu meningkatkan ketidakpastian perdagangan.
Eropa dan Asia Catat Kinerja Beragam
Saham Eropa bergerak tipis lebih rendah, namun tetap mencatat kinerja tahunan terbaik dalam empat tahun terakhir. Penurunan suku bunga, dukungan fiskal Jerman, serta rotasi investasi dari saham teknologi AS berharga mahal mendorong performa kawasan tersebut. Indeks STOXX 600 turun 0,1%, sementara FTSEurofirst 300 melemah 0,07%.
Di Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,05%, sedangkan Nikkei Jepang turun 0,37%. Pasar negara berkembang justru mencatat penguatan moderat, mencerminkan pergeseran minat investor ke aset non-AS.
Yield Obligasi Naik, Dolar Tertekan
Wall Street melemah akhir tahun juga dipengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi AS setelah data tenaga kerja menunjukkan penurunan tak terduga klaim pengangguran. Yield obligasi AS tenor 10 tahun naik ke 4,163%, sementara yield 2 tahun meningkat ke 3,475%, mencerminkan ekspektasi kebijakan suku bunga ke depan.
Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak stabil harian namun mencatat penurunan tahunan terdalam sejak 2017. Pemangkasan suku bunga, kekhawatiran fiskal, dan kebijakan tarif yang fluktuatif menekan kinerja greenback. Indeks dolar berada di 98,25, dengan euro bertahan di kisaran USD 1,1748.
Komoditas: Minyak Turun, Emas Koreksi
Harga minyak mentah turun tajam akibat kekhawatiran kelebihan pasokan, meski risiko geopolitik masih ada. Minyak WTI ditutup di USD 57,42 per barel, sementara Brent berada di USD 60,85, menandai penurunan tahunan terbesar sejak 2020.
Emas dan perak terkoreksi setelah reli kuat sepanjang tahun. Harga emas spot turun ke USD 4.312,39 per ons, meski sebelumnya sempat mencetak level tertinggi dalam 46 tahun. Perak mencatat koreksi lebih dalam setelah reli tahunan yang sangat kuat.
Fokus 2026: Arah Kebijakan The Fed
Memasuki 2026, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya menegaskan bahwa bank sentral tetap bergantung pada data ekonomi dalam menentukan langkah selanjutnya. Perubahan kepemimpinan di The Fed serta normalisasi rilis data pasca penutupan pemerintah terpanjang dalam sejarah AS diperkirakan menjadi faktor penting bagi pasar ke depan.
Prospek harga Emas Jumat | 02 Januari 2026
Harga emas pada grafik H4 terlihat masih berada dalam fase koreksi setelah gagal bertahan di atas area resistance 4.377–4.404, yang sebelumnya menjadi zona supply kuat. Penurunan membawa harga mendekati area 4.271, sebelum muncul upaya rebound teknikal, namun pergerakan ini masih tertahan di bawah trendline naik dan SMA 50 yang kini berfungsi sebagai resistance dinamis.
Selama harga belum mampu kembali menembus dan bertahan di atas 4.353–4.377, struktur jangka pendek cenderung masih bearish dengan potensi penurunan lanjutan ke area support 4.245 hingga 4.218. Sementara itu, RSI yang berada di kisaran 38 menunjukkan momentum masih lemah, meski ruang untuk rebound korektif tetap terbuka selama support tersebut mampu dipertahankan.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.353 R2 4.377 R3 4.404
S1 4.271 S2 4.245 S3 4.218
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.275 |
| Profit Target Level | 4.320 |
| Stop Loss Level | 4.240 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.350 |
| Profit Target Level | 4.300 |
| Stop Loss Level | 4.380 |
Prospek harga US Oil Jumat | 02 Januari 2025
Pergerakan US Oil pada grafik H4 sempat menguat, namun kenaikan tersebut masih tertahan oleh downtrend line di area resistance 58,03–58,45. Kegagalan menembus zona ini mendorong harga berbalik turun hingga menembus SMA 50 di kisaran 57,60, yang mengindikasikan tekanan bearish kembali mendominasi. Selama harga masih bergerak di bawah SMA 50, potensi penurunan lanjutan tetap terbuka dengan target mengarah ke area support 56,64 hingga 56,07.
Namun, jika harga mampu kembali naik dan bertahan di atas SMA 50, tekanan jual berpeluang mereda dan membuka ruang rebound menuju 58,03–58,45, meski area tersebut masih menjadi resistance kunci yang perlu ditembus untuk mengubah bias menjadi lebih positif.
US Oil INTRADAY AREA
R1 57,60 R2 58,03 R3 58,45
S1 56,64 S2 56,07 S3 55,60
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 56,70 |
| Profit Target Level | 57,50 |
| Stop Loss Level | 56,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 57,60 |
| Profit Target Level | 56,70 |
| Stop Loss Level | 58,10 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
