Market Summary
Dollar AS menguat pada perdagangan Selasa, meski masih berada dekat level terendah pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah pasar yang masih mencerna laporan ketenagakerjaan AS yang lemah, yang memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada pertemuan bulan depan.
Pasar juga mencermati langkah Presiden Donald Trump yang tengah menyiapkan pengganti Gubernur The Fed Adriana Kugler dan Komisaris Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), yang keduanya mengundurkan diri setelah rilis data ketenagakerjaan yang mengecewakan. Trump juga menyatakan akan segera mengumumkan kandidat baru untuk Ketua The Fed, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei 2026.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Semakin Kuat
Peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan September kini mencapai 91%, melonjak tajam dari 35% pada pekan sebelumnya. Bahkan, pasar mulai memperkirakan pemangkasan hingga 130 basis poin hingga Oktober 2026.
Di sisi lain, data indeks harga konsumen (CPI) bulan Juli menjadi fokus utama selanjutnya. Ekonom memperkirakan inflasi inti naik sebesar 0,3% secara bulanan dan 3,0% secara tahunan. Jika realisasi data tersebut tetap moderat, maka akan memperkuat peluang pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut.
Sektor Jasa AS Melemah, Tekanan Ekonomi Meningkat
Aktivitas sektor jasa AS stagnan pada bulan Juli. Indeks PMI non-manufaktur turun menjadi 50,1 dari 50,8 pada bulan sebelumnya, jauh di bawah ekspektasi pasar. Pesanan baru minim dan ketenagakerjaan menunjukkan tanda-tanda pelemahan lanjutan, meski biaya input naik paling tajam dalam hampir tiga tahun terakhir.
Kondisi ini memperlihatkan ketidakpastian dampak kebijakan tarif Presiden Trump terhadap dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Pasar Saham AS Terkoreksi, Kekhawatiran Tarif Membayangi
Indeks utama Wall Street melemah pada perdagangan Selasa. Dow Jones terkoreksi 0,14% ke 44.111,74, S&P 500 turun 0,49% ke 6.299,19, dan Nasdaq anjlok 0,65% ke 20.916,55. Pelemahan ini terjadi seiring kekhawatiran terhadap kebijakan tarif dan pelemahan data ekonomi.
Beberapa emiten besar, seperti Caterpillar, memperkirakan dampak signifikan dari kebijakan tarif, dengan potensi kerugian hingga USD 1,5 miliar pada tahun 2025.
Harga Emas Naik, Didorong Prospek Penurunan Suku Bunga
Harga emas dunia naik ke level tertinggi dalam dua pekan, didukung ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Emas spot menguat 0,2% menjadi USD 3.380,20 per ons, sementara emas berjangka AS naik 0,2% ke USD 3.434,70 per ons.
Pelemahan dollar AS juga membuat emas lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lain.
Harga Minyak Melemah, Tertekan Kenaikan Pasokan OPEC+
Harga minyak dunia jatuh ke level terendah lima minggu. Brent turun 1,63% menjadi USD 67,64 per barel dan WTI melemah 1,7% ke USD 65,16 per barel.
Pelemahan ini dipicu oleh keputusan OPEC+ yang menaikkan produksi sebesar 547.000 barel per hari mulai September, mengakhiri pemangkasan produksi lebih cepat dari rencana semula. Kenaikan pasokan ini terjadi di tengah kekhawatiran permintaan global yang lemah dan ketidakpastian akibat kebijakan tarif AS terhadap mitra dagang utama seperti India dan negara-negara Uni Eropa.
Pasar Global Dalam Mode Waspada
Investor global kini berada dalam fase menunggu data inflasi AS dan keputusan kebijakan moneter The Fed. Sementara itu, ketidakpastian politik dan perdagangan di AS turut membebani sentimen pasar, baik di pasar saham, komoditas, maupun mata uang. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa minggu ke depan hingga arah kebijakan moneter dan fiskal AS lebih jelas. Dengan prospek suku bunga yang lebih rendah dan perubahan pimpinan bank sentral, dollar AS menguat dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.
Prospek harga Emas Rabu | 06 Agustus 2025
Pergerakan emas pada timeframe H4, terlihat harga saat ini berada di atas SMA 50, menunjukkan kecenderungan bullish jangka menengah. Namun, harga terlihat mengalami konsolidasi di area resistance 3.390. Indikator RSI berada di level 64.87 dan mulai mendatar mendekati zona overbought, mengindikasikan potensi koreksi jangka pendek.
Jika harga gagal menembus resistance 3.390, maka kemungkinan akan terjadi pullback ke area support di 3.366 atau 3.350 sebelum melanjutkan kenaikan ke level resistance berikutnya di 3.405 hingga 3.416.
GOLD INTRADAY AREA
R1 3.390 R2 3.405 R3 3.416
S1 3.366 S2 3.350 S3 3.333
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 3.367 |
| Profit Target Level | 3.390 |
| Stop Loss Level | 3.346 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 3.400 |
| Profit Target Level | 3.370 |
| Stop Loss Level | 3.420 |
Prospek harga US Oil Rabu | 06 Agustus 2025
Pergerakan US Oil pada timeframe H4, harga terlihat berada di bawah SMA 50, menunjukkan tren bearish masih mendominasi. Saat ini harga tertahan di area support sekitar 64,72 dengan RSI mendekati level oversold di 31.57, mengindikasikan potensi pullback jangka pendek ke area resistance 66,37 atau 67,52.
Namun, selama harga masih berada di bawah SMA 50, potensi tekanan turun tetap kuat dan jika support 64,72 ditembus, maka harga berpeluang melanjutkan penurunan menuju area 63,98 hingga 63,05.
US Oil INTRADAY AREA
R1 66,37 R2 67,52 R3 68,40
S1 64,72 S2 63,98 S3 63,05
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 64,80 |
| Profit Target Level | 66,30 |
| Stop Loss Level | 63,80 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 66,35 |
| Profit Target Level | 64,80 |
| Stop Loss Level | 67,55 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disiniGRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pasangan GBP/USD masih berada dalam tekanan bearish pada time frame H4. Level pivot berada di 1.3330. Selama harga bergerak di bawah level ini, potensi penurunan tetap terbuka menuju area support di 1.3220 hingga 1.3140.
Pergerakan emas di time frame H4 menunjukkan momentum bullish. Harga berhasil menembus area resistance di sekitar 3.365 dan kini diperdagangkan di atas garis SMA 50. Hal ini mengindikasikan potensi kelanjutan tren naik. RSI yang mendekati level overbought menunjukkan kekuatan beli masih dominan, meskipun ada kemungkinan koreksi jangka pendek.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pasangan USD/CHF masih cenderung bergerak bullish pada time frame H4. Level pivot berada di 0.8045. Selama harga bertahan di atas level tersebut, potensi penguatan diperkirakan berlanjut. Target berikutnya berada di area resistance 0.8120–0.8170.
Pergerakan harga emas pada time frame H4 menunjukkan momentum bullish setelah menembus garis tren turun dan bergerak di atas SMA 50, dengan RSI yang mendekati wilayah overbought, menandakan kekuatan beli yang dominan.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan tekanan jual setelah gagal menembus resistance 69,57 dan kini bergerak turun, meskipun masih bertahan di atas support minor 66,56 dan belum mengonfirmasi breakdown. Harga juga telah menembus ke bawah SMA 50, menandakan perubahan momentum ke arah bearish. Namun, secara keseluruhan tren besar masih flat, tercermin dari pergerakan harga yang terus berosilasi dalam zona konsolidasi lebar antara 64,72 hingga 69,57 yang ditandai area kuning. Selama harga tetap berada dalam zona ini, arah selanjutnya masih akan sangat bergantung pada reaksi harga terhadap batas-batas support dan resistance zona tersebut. RSI yang berada di kisaran 36,42 mendekati wilayah jenuh jual, mendukung potensi pelemahan lebih lanjut jika support 66,56, dengan target di 65,75-64,72.
Memasuki minggu kedua bulan Agustus, pelaku pasar akan dihadapkan pada kombinasi faktor yang bisa mengguncang sentimen investasi global. Ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan The Fed terus menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gelombang tarif baru pada 1 Agustus lalu. Di tengah kondisi ini, musim laporan keuangan perusahaan besar terus berlanjut, dan sejumlah keputusan penting dari bank sentral dunia akan menjadi sorotan utama. Berikut rangkuman agenda ekonomi dan pasar utama yang akan mempengaruhi pergerakan global, dibagi berdasarkan kawasan.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa harga emas masih berada dalam tren bearish pada time frame H4. Level pivot berada di 3.304. Selama harga bergerak di bawah level ini, tekanan turun diperkirakan berlanjut dengan target penurunan menuju area support di kisaran 3.281 hingga 3.255.
Pergerakan emas pada time frame H4 menunjukkan tekanan bearish setelah harga menembus garis tren naik minor, menandakan pelemahan momentum beli. Saat ini harga masih bertahan di atas support terdekat di 3.285. Jika support ini ditembus, tekanan jual berpotensi mendorong harga turun lebih lanjut menuju area support berikutnya di 3.268 dan 3.247.
Pergerakan US OIL pada time frame H4 menunjukkan tren bullish jangka pendek. Harga telah menembus resistance penting dan bergerak di atas SMA 50. Saat ini, harga terkoreksi dari area sekitar 70 namun tetap berada di atas support terdekat di 68,40. Selama harga bertahan di atas level ini, koreksi dapat dianggap sebagai pullback sehat dalam tren naik. Potensi rebound mengarah ke resistance berikutnya di 70,47, 71,32, dan 71,64.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa USD/JPY masih berada dalam tren bullish. Level pivot utama berada di area 149.00. Saat ini, pair tersebut tengah menguji resistance terdekat di sekitar 149.85. Jika harga berhasil menembus dan bertahan di atas level ini, kenaikan berpotensi berlanjut. Target berikutnya berada di kisaran 150.20 hingga 151.00.
Pergerakan harga emas pada time frame H4 menunjukkan konfirmasi pola bearish flag setelah menembus support kunci di 3.316, yang memicu tekanan jual lanjutan. Saat ini, harga bergerak turun tajam dan mendekati support terdekat di 3.288.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 menunjukkan momentum bullish yang kuat setelah menembus resistance di 69,63 dan kini menguji area resistance selanjutnya di 70,47. Kenaikan ini didukung oleh posisi harga yang jauh di atas SMA 50 serta RSI yang telah menembus ke zona overbought di atas level 70, yang mengindikasikan potensi jenuh beli.
