Kenaikan Harga Minyak Guncang Pasar Global
Kenaikan harga minyak memicu tekanan di pasar keuangan global setelah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel semakin memanas. Lonjakan harga energi ini langsung mempengaruhi pasar saham, mata uang, serta obligasi pemerintah di berbagai negara.
Pasar saham di Wall Street dan Eropa melemah pada perdagangan Kamis. Pada saat yang sama, dolar AS menguat karena investor mencari aset yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut terjadi ketika kekhawatiran terhadap pasokan energi meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Indeks Dow Jones turun 784 poin atau sekitar 1,61%. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,56% dan Nasdaq Composite turun 0,26%. Di Eropa, indeks STOXX 600 juga merosot sekitar 1,29%.
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Energi
Ketegangan geopolitik menjadi faktor utama di balik kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Serangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Washington memiliki kepentingan dalam menentukan arah kepemimpinan Iran. Pada saat yang sama, jet tempur Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan di sejumlah wilayah Iran.
Di sisi lain, Teheran meluncurkan gelombang rudal ke Israel dan memperingatkan akan membalas warga Amerika di berbagai wilayah. Eskalasi tersebut meningkatkan ketidakpastian pasar dan memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
Israel juga memperingatkan warga untuk meninggalkan wilayah selatan Beirut yang dikuasai kelompok Hezbollah. Peringatan itu memicu eksodus warga dari kawasan Dahiyeh, sebuah wilayah penting di ibu kota Lebanon.
Serangan Tanker Tingkatkan Risiko Pasokan
Ketegangan di kawasan Teluk memperburuk situasi energi global. Laporan menunjukkan bahwa beberapa kapal tanker minyak mengalami serangan ketika konflik meningkat.
Sebuah kapal tanker berbendera Bahama dilaporkan menjadi sasaran kapal tanpa awak bermuatan bahan peledak milik Iran saat berlabuh dekat pelabuhan Khor al Zubair di Irak. Selain itu, sebuah kapal tanker lain di perairan Kuwait mengalami ledakan besar yang menyebabkan kebocoran minyak.
Serangan terhadap kapal tanker ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi, terutama di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Banyak kapal tanker kini tertahan di kawasan tersebut karena lalu lintas pelayaran terganggu sejak akhir pekan. Data pelacakan kapal menunjukkan ratusan tanker masih berada di sekitar jalur tersebut.
Lonjakan Harga Minyak Dorong Inflasi
Gangguan pasokan energi mendorong kenaikan harga minyak secara tajam. Minyak mentah Amerika Serikat ditutup naik 8,51% atau sekitar 6,35 dolar ke level 81,01 dolar per barel.
Sementara itu, harga minyak Brent crude oil melonjak hampir 5% menjadi sekitar 85,41 dolar per barel. Kenaikan tersebut terjadi ketika beberapa produsen utama di Timur Tengah memangkas produksi akibat risiko keamanan.
Lonjakan harga energi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Investor mulai memperkirakan bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral, termasuk Federal Reserve.
Akibat kekhawatiran tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik untuk hari keempat berturut-turut. Yield obligasi Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,13%.
Dolar Menguat Saat Investor Cari Safe Haven
Ketidakpastian geopolitik juga mendorong penguatan dolar AS. Investor beralih ke aset yang dianggap aman ketika risiko global meningkat.
Indeks dolar naik sekitar 0,23% ke level 99,03. Mata uang euro melemah terhadap dolar, sementara dolar juga menguat terhadap yen Jepang.
Di pasar komoditas lain, harga emas justru melemah setelah sempat naik pada hari sebelumnya. Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai sedikit berkurang.
Prospek Harga Emas Jumat | 06 Maret 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat masih berada dalam fase konsolidasi setelah koreksi tajam dari puncaknya di area 5.375. Tekanan jual sempat mendorong harga turun cukup dalam, namun untuk sementara penurunan mulai tertahan di sekitar area 5.050 yang kini menjadi support penting. Selama level ini masih mampu dipertahankan, emas berpeluang mencoba bangkit melalui rebound teknikal.
Meski begitu, ruang kenaikan tampaknya masih terbatas karena harga saat ini bergerak di bawah garis SMA 50. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung berhati-hati setelah reli kuat sebelumnya. Jika terjadi rebound, pergerakan naik kemungkinan akan menguji area 5.206 sebagai resistance terdekat yang juga berdekatan dengan garis SMA 50.
Di sisi lain, jika tekanan jual kembali meningkat dan harga menembus 5.050 secara konsisten, maka koreksi bisa berlanjut menuju area 4.996 hingga 4.935 sebagai support berikutnya.
GOLD INTRADAY AREA
R1 5.206 R2 5.260 R3 5.305
S1 5.079 S2 4.996 S3 4.935
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 5.080 |
| Profit Target Level | 5.170 |
| Stop Loss Level | 5.040 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 5.170 |
| Profit Target Level | 5.070 |
| Stop Loss Level | 5.210 |
Prospek Harga US Oil Jumat | 06 Maret 2025
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan tren bullish yang kuat setelah reli tajam sejak akhir Februari. Harga juga sempat membentuk gap di area sekitar 70, yang memperkuat indikasi perubahan sentimen pasar ke arah positif. Selama harga tetap bergerak di atas garis SMA yang terus menanjak, tren kenaikan masih relatif terjaga.
Saat ini harga sedang menguji area resistance di sekitar 80,75 setelah kenaikan tajam. Kondisi ini membuka peluang terjadinya pullback teknikal terlebih dahulu menuju area support 77,91 hingga 76,03 sebelum melanjutkan kenaikan.
Jika koreksi tersebut mampu tertahan di area support, maka harga berpotensi kembali naik untuk menguji resistance berikutnya di kisaran 82,08 hingga 83,72. Sementara itu, RSI yang berada di sekitar level 68 menunjukkan momentum bullish masih cukup kuat meskipun mulai mendekati area jenuh beli.
US Oil INTRADAY AREA
R1 80,75 R2 82,08 R3 83,72
S1 77,91 S2 76,03 S3 74,93
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 78,00 |
| Profit Target Level | 80,50 |
| Stop Loss Level | 76,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 80,75 |
| Profit Target Level | 78,85 |
| Stop Loss Level | 82,10 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan silver pada time frame H4 masih cenderung bearish dengan level pivot di 85,50. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan penurunan berpotensi berlanjut untuk menguji area support di 81,65, kemudian 79,50, hingga 78,00.





Pergerakan emas pada pada timeframe H4 sebelumnya sempat melanjutkan kenaikan hingga menembus area 5.400, namun gagal bertahan setelah tertahan di resistance kuat 5.375. Dari area tersebut, harga berbalik turun cukup tajam hingga membentuk low di 4.996. Setelah menyentuh level ini, harga mencoba rebound, tetapi kenaikan masih terbatas.
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 menunjukkan tren yang masih kuat ke atas setelah breakout dari area konsolidasi dan melanjutkan kenaikan hingga menembus resistance 73.29 dan 71.63. Kenaikan ini juga didukung oleh posisi harga yang tetap berada di atas SMA 50, yang kini berfungsi sebagai support dinamis dan mengonfirmasi bias bullish masih terjaga.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada timeframe H4 masih berpotensi bullish dengan level pivot di 5.085. Selama harga bertahan di atas level tersebut, kenaikan berpeluang berlanjut untuk menguji resistance di 5.225, kemudian 5.260, hingga 5.335.

Pada grafik H4, tekanan jual terlihat dominan setelah harga gagal mempertahankan posisi di bawah resistance 5.375 dan breakdown dari area 5.250 yang kini berubah menjadi resistance kuat. Penurunan tersebut membawa harga mencetak low baru di 4.945 sebelum akhirnya terjadi rebound teknikal.
Pada grafik H4 US Oil, harga terlihat melanjutkan tren bullish setelah breakout kuat yang membentuk gap di area 69–70. Gap tersebut sejauh ini belum tertutup dan justru diikuti dengan kenaikan tajam hingga menembus resistance 73.29, mengindikasikan momentum beli masih dominan.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan US Oil masih berada dalam tren bullish dengan level pivot di 70,40. Selama harga bertahan di atas area tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka untuk menguji resistance di 75,30, kemudian 77,00, hingga 79,00.

Pada grafik H4, emas sudah breakout dari pola rectangle 5.100–5.250 dan membentuk gap ke atas. Gap di area 5.250–5.280 sempat hampir tertutup, namun harga kembali naik dan kini bertahan di atasnya, sehingga zona tersebut berfungsi sebagai support baru.
Pada grafik H4, US Oil terlihat melakukan breakout kuat dari area konsolidasi di sekitar 66.00–67.77 dan membentuk gap naik hingga area 69.27. Gap tersebut belum tertutup dan kini menjadi support terdekat, menandakan tekanan beli masih dominan dalam jangka pendek.
