Wall Street Catat Rekor Baru
Wall Street cetak rekor dan bursa saham global ditutup menguat pada perdagangan Jumat, didorong sentimen positif dari Wall Street setelah sejumlah bank sentral utama memangkas suku bunga.
Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones naik 0,37% ke 46.315,27, S&P 500 menguat 0,49% ke 6.664,36, dan Nasdaq melompat 0,72% ke 22.631,48. Ketiganya mencatat rekor tertinggi baru, melanjutkan tren penguatan dari hari sebelumnya.
Investor menilai pemangkasan suku bunga akan terus mendukung reli pasar saham, meskipun bank sentral AS menekankan pendekatan “meeting-by-meeting” yang bergantung pada data.
Pergerakan Saham Global
Sementara Wall Street cetak rekor, indeks MSCI saham dunia juga naik ke rekor tertinggi 982,29, menambah hampir 1% sepanjang pekan.
Di tengan indeks saham MSCI dan Wall Street cetak rekor, bursa Eropa (STOXX) justru melemah 0,16% pada penutupan, dengan penurunan tipis 0,13% dalam sepekan.
Di Asia, Nikkei Jepang turun 0,57% setelah Bank of Japan mengumumkan akan mulai menjual aset berisiko yang selama ini mereka pegang.
Komentar Pasar
Pasar dalam beberapa minggu terakhir berfokus pada keputusan The Fed. Meskipun pemangkasan suku bunga memberi dorongan, sebagian investor kecewa karena bank sentral tidak memberikan sinyal jelas mengenai serangkaian penurunan lebih lanjut.
Pelaku pasar kini menunggu laporan keuangan kuartal ketiga yang akan dirilis Oktober mendatang untuk melihat apakah tarif dan tekanan ekonomi global mulai memengaruhi profit perusahaan.
Obligasi dan Imbal Hasil AS
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik tipis. Yield obligasi 10 tahun meningkat 2,5 basis poin ke 4,129%, sementara yield 2 tahun naik 0,6 basis poin ke 3,574%.
Perkembangan Geopolitik dan Politik AS
Presiden AS Donald Trump mengatakan telah melakukan pembicaraan pertama dalam tiga bulan dengan Presiden China Xi Jinping. Keduanya sepakat untuk bertemu tatap muka enam minggu mendatang di Korea Selatan, membahas isu perdagangan, narkotika, dan perang Rusia di Ukraina.
Sementara itu, di dalam negeri, rancangan undang-undang anggaran sementara untuk mencegah penutupan pemerintahan AS pada 1 Oktober gagal lolos di Senat meskipun sudah disetujui oleh DPR.
Pergerakan Mata Uang
Indeks dolar AS naik untuk sesi ketiga berturut-turut sebesar 0,33% ke 97,67, meskipun secara mingguan masih mencatat kerugian tiga pekan beruntun.
- Dolar AS menguat 0,4% terhadap franc Swiss.
- Dolar AS turun 0,03% terhadap yen Jepang di 147,97.
- Euro melemah 0,35% menjadi $1,1745.
- Poundsterling Inggris turun 0,64% ke $1,3467 setelah Bank of England menahan suku bunga, namun memperlambat proses penjualan obligasi pemerintah.
Harga Komoditas: Minyak Turun, Emas Naik
Harga minyak mentah terkoreksi karena kekhawatiran permintaan energi lebih besar dibandingkan potensi dorongan dari pemangkasan suku bunga AS.
- Brent crude turun 1,1% ke $66,68 per barel.
- WTI melemah 1,4% ke $62,68 per barel.
Sebaliknya, harga emas melanjutkan reli dan mencatat kenaikan mingguan kelima berturut-turut.
- Spot gold naik 0,8% ke $3.672,08 per ons.
- Kontrak emas berjangka AS untuk Desember naik 0,7% ke $3.705,80 per ons.
WEEK AHEAD
(22 – 26 September 2025)
Sorotan Utama Pekan Depan
Pekan depan, perhatian utama pasar global akan tertuju pada arah kebijakan moneter, khususnya tindak lanjut dari keputusan The Federal Reserve yang baru saja memangkas suku bunga. Sejumlah pidato dari anggota FOMC, termasuk Ketua Jerome Powell, akan menjadi sorotan untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai jalur suku bunga di sisa tahun ini.
Selain itu, data ekonomi penting dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia Pasifik akan dirilis, memberikan gambaran terbaru mengenai inflasi, konsumsi, dan prospek pertumbuhan global.
Amerika
Di Amerika Serikat, pasar akan mencermati data inflasi PCE, ukuran inflasi favorit The Fed, bersama data pendapatan dan belanja pribadi. Konsensus memperkirakan pendapatan naik 0,3% dan belanja konsumen naik 0,5% pada Agustus, menandai kenaikan tiga bulan berturut-turut.
Selain itu, data penting lain termasuk:
- Pesanan barang tahan lama, diperkirakan turun 0,4%.
- PMI awal S&P Global, diperkirakan menegaskan perlambatan aktivitas sektor swasta pada September.
- Penjualan rumah baru dan rumah eksisting, keduanya diproyeksi melemah ke 0,65 juta dan 3,98 juta secara tahunan.
- Estimasi akhir PDB kuartal II, neraca berjalan, neraca perdagangan barang, dan survei sentimen konsumen University of Michigan.
Di kawasan Amerika lainnya, perhatian tertuju pada laporan PDB bulanan dan harga produsen dari Kanada.
Eropa
Di Eropa, fokus investor akan mengarah pada rilis PMI awal dari Eurozone, Jerman, dan Prancis. Sektor manufaktur Jerman diperkirakan mulai menunjukkan tanda stabilisasi setelah kontraksi lebih dari tiga tahun, sementara sektor jasa masih menyusut meski dengan laju yang lebih lambat.
Selain itu, agenda penting pekan depan meliputi:
- Survei iklim konsumen GfK dan iklim bisnis Ifo dari Jerman.
- Data pendaftaran mobil baru Eurozone.
- Angka pengangguran Prancis.
- Sentimen bisnis dari Komisi Eropa serta indikator iklim ekonomi dari Italia dan Turki.
Dari sisi kebijakan, Swiss National Bank dan Riksbank Swedia akan mengumumkan keputusan suku bunga, dengan ekspektasi mempertahankan tingkat kebijakan saat ini. Sementara di Inggris, perhatian tertuju pada PMI awal serta survei CBI terkait pesanan industri dan perdagangan ritel.
Asia Pasifik
Di Asia, People’s Bank of China (PBoC) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan satu dan lima tahun pada 3% dan 3,5%. Selain itu, data laba industri akan menjadi sorotan untuk mengukur kesehatan sektor manufaktur.
Dari Jepang, investor akan menantikan rilis PMI September serta inflasi konsumen Tokyo, di mana inflasi inti diproyeksi naik menjadi 2,8%. Risalah pertemuan terakhir Bank of Japan juga akan diperhatikan.
Di negara lain: Australia merilis PMI September dan Indeks CPI bulanan Agustus.
Geopolitik: Sidang Umum PBB di New York
Dari sisi geopolitik, perhatian dunia tertuju pada Sidang Umum PBB di New York. Pertemuan ini berlangsung di tengah ketegangan global, termasuk isu perang, perdagangan internasional, serta dinamika hubungan antarnegara besar.
Outlook Pekan Depan
Dengan kombinasi rilis data inflasi, belanja konsumen, PMI global, serta keputusan bank sentral, pekan depan akan menjadi penentu arah sentimen pasar. Investor akan mencari sinyal baru apakah pelonggaran moneter global berlanjut ataukah bank sentral tetap berhati-hati menghadapi inflasi yang masih persisten.
Data Mingguan Perdagangan Emas ( 15 – 19 September 2025)
Open : 3.644,96 High : 3.707,33 Low : 3.626,47 Close : 3.683,03 Range : 80,86
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 3.637 | R1 3.718 |
| S2 3.592 | R2 3.753 |
| S3 3.556 | R3 3.799 |
Gold Outlook : Bullish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (15 – 19 September 2025)
Open : 62,77 High : 64,37 Low : 62,21 Close : 62,37 Range : 2,16
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 59,44 | R1 63,76 |
| S2 60,82 | R2 65,14 |
| S3 61,60 | R3 65,92 |
Oil Outlook : Bearish
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
Arah Pasar ke Depan
Pasar keuangan global bersiap menghadapi pekan penting dengan sederet rilis data ekonomi dan keputusan kebijakan moneter yang berpotensi mengubah arah sentimen. Di Amerika Serikat, sorotan utama akan tertuju pada laporan inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI), yang menjadi indikator kunci menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve. Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter serta proyeksi ekonomi terbaru. Dari Asia, investor akan menanti data perdagangan dan inflasi dari Tiongkok, serta pembaruan GDP dari Jepang.
Memasuki pekan perdagangan yang lebih singkat di Amerika Serikat karena libur Labor Day, fokus utama investor global tertuju pada rilis data tenaga kerja bulan Agustus. Laporan ketenagakerjaan ini menjadi yang terakhir sebelum keputusan suku bunga Federal Reserve pada September, sehingga hasilnya berpotensi besar memengaruhi arah kebijakan moneter.
Minggu depan, perhatian utama pasar akan tertuju pada arah kebijakan suku bunga global setelah Federal Reserve memberikan sinyal dovish dalam simposium Jackson Hole. Investor akan mencermati data ekonomi penting dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia Pasifik yang berpotensi mempengaruhi pergerakan pasar.
Pekan depan, sorotan pasar global akan tertuju pada Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole yang digelar The Federal Reserve. Pidato Ketua Fed Jerome Powell akan menjadi momen penting, di tengah desakan Gedung Putih untuk pemangkasan suku bunga yang lebih agresif. Investor juga akan mencermati isi notulen rapat FOMC terakhir, yang menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara anggota.
Pekan depan, investor akan terus memantau perkembangan ketegangan perdagangan, khususnya menjelang tenggat 12 Agustus untuk kesepakatan AS–China. Jika tidak ada kemajuan, tarif lebih dari 100% berpotensi diberlakukan. Isu geopolitik juga akan menjadi sorotan, dengan rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mencari solusi konflik di Ukraina.
Memasuki minggu kedua bulan Agustus, pelaku pasar akan dihadapkan pada kombinasi faktor yang bisa mengguncang sentimen investasi global. Ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan The Fed terus menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gelombang tarif baru pada 1 Agustus lalu. Di tengah kondisi ini, musim laporan keuangan perusahaan besar terus berlanjut, dan sejumlah keputusan penting dari bank sentral dunia akan menjadi sorotan utama. Berikut rangkuman agenda ekonomi dan pasar utama yang akan mempengaruhi pergerakan global, dibagi berdasarkan kawasan.
Minggu depan, pasar global akan diwarnai oleh kombinasi antara perkembangan kebijakan perdagangan Amerika Serikat, dimulainya musim laporan keuangan secara penuh, serta sederet rilis data ekonomi utama dari berbagai negara. Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan terus mengirimkan pemberitahuan tarif baru ke sejumlah negara, termasuk Uni Eropa, memperluas tensi dagang yang telah mengguncang pasar keuangan.
