Inflasi AS Melambat Tekan Dolar AS
Inflasi AS melambat pada Januari setelah data terbaru menunjukkan kenaikan harga konsumen yang lebih rendah dari perkiraan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen naik 0,2% secara bulanan, di bawah estimasi pasar sebesar 0,3%. Secara tahunan, inflasi tercatat 2,4%, turun dari 2,7% pada bulan sebelumnya.
Perlambatan inflasi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar juga melihat peluang penurunan suku bunga tetap terbuka tahun ini jika tren inflasi terus melemah.
Indeks dolar turun tipis ke 96,85 dan mencatat pelemahan mingguan sekitar 0,84%. Euro menguat ke $1,1873 dan menuju kenaikan mingguan sebesar 0,5%, sementara dolar melemah terhadap franc Swiss dan mencatat penurunan mingguan sekitar 1%.
Yen Jepang Menguat Tajam Didukung Stabilitas Politik
Inflasi AS melambat turut memicu perubahan arus modal global, dengan yen Jepang menjadi mata uang dengan kinerja terbaik minggu ini. Yen menguat hampir 3% terhadap dolar AS, mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak November 2024.
Penguatan yen terjadi setelah kemenangan bersejarah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas fiskal Jepang. Kepastian politik ini mengurangi kekhawatiran pasar terhadap risiko keuangan pemerintah.
Selain itu, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan dalam beberapa bulan mendatang. Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat meningkatkan daya tarik yen dan mendorong penguatan lebih lanjut terhadap dolar dan euro.
Pasar Saham AS Bergerak Terbatas di Tengah Volatilitas Teknologi
Pasar saham AS bergerak terbatas setelah laporan inflasi gagal mendorong minat risiko yang kuat. Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average ditutup relatif stabil, sementara Nasdaq Composite mencatat kenaikan tipis 0,2%. Namun, secara mingguan, ketiga indeks utama masih mencatat penurunan sekitar 1,5%.
Saham teknologi berkapitalisasi besar mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap prospek investasi pusat data berbasis kecerdasan buatan. Saham Nvidia, Apple, Alphabet, Meta, dan Broadcom mencatat penurunan, yang membatasi kenaikan indeks secara keseluruhan.
Sebaliknya, saham sektor perangkat lunak seperti Salesforce dan Oracle menguat setelah laporan kinerja yang solid. Applied Materials dan Arista Networks juga mencatat kenaikan tajam setelah merilis laporan keuangan yang kuat.
Harga Emas Naik Didukung Permintaan Safe Haven
Inflasi AS melambat turut mendukung kenaikan harga emas, karena investor meningkatkan alokasi ke aset safe haven. Harga emas spot naik 2,2% ke $5.032,07 per ounce, sementara kontrak berjangka naik ke $5.054,15 per ounce.
Permintaan safe haven meningkat setelah Amerika Serikat berencana mengerahkan kapal induk USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik dan terhentinya pembicaraan nuklir dengan Iran.
Logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan signifikan. Komoditas perak naik 3,3%, sementara platinum melonjak hampir 3% dan kembali diperdagangkan di atas level $2.000 per ounce.
Harga Minyak Stabil Meski Tertekan Risiko Pasokan
Harga minyak mencatat kenaikan terbatas setelah data inflasi AS yang lebih rendah mendukung prospek ekonomi. Minyak Brent ditutup naik ke $67,75 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik tipis ke $62,89 per barel.
Data inflasi yang stabil meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga dapat turun secara bertahap, yang akan mendukung aktivitas ekonomi dan permintaan energi. Namun, potensi peningkatan produksi oleh OPEC+ membatasi kenaikan harga minyak.
Laporan Baker Hughes menunjukkan jumlah rig minyak AS turun menjadi 409, yang memberikan dukungan moderat terhadap harga minyak di tengah ketidakpastian pasokan global.
Prospek Pasar Tetap Bergantung pada Kebijakan Suku Bunga
Pergerakan pasar global menunjukkan bahwa investor semakin sensitif terhadap arah inflasi dan kebijakan moneter. Pelemahan dolar, penguatan yen, dan kenaikan harga emas mencerminkan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga global.
Pasar kini menunggu sinyal lanjutan dari Federal Reserve dan Bank of Japan untuk menentukan arah kebijakan berikutnya. Selain itu, perkembangan geopolitik dan kebijakan produksi minyak akan terus memengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek hingga menengah.
Prospek Harga Emas Senin | 16 Februari 2026
Pada timeframe H4, harga emas bergerak dalam fase konsolidasi setelah rebound dari support 4887 dan kini diperdagangkan di atas SMA 50 yang berada di sekitar 4982, yang berperan sebagai support dinamis. Posisi harga yang bertahan di atas SMA menunjukkan bahwa momentum pemulihan masih terjaga, meskipun pergerakan tertahan di bawah resistance kuat pada 5077 hingga 5119.
RSI berada di sekitar level 52, yang mencerminkan momentum netral dengan kecenderungan bullish ringan. Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas 5119, maka peluang kenaikan dapat berlanjut menuju resistance berikutnya di 5205. Namun, jika harga turun dan menembus di bawah SMA 50 di 4982, maka tekanan bearish berpotensi meningkat dengan target penurunan menuju support 4934 hingga 4887.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.982 R2 5.019 R3 5.077
S1 4.848 S2 4.789 S3 4.745
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.985 |
| Profit Target Level | 5.060 |
| Stop Loss Level | 4.930 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 5.075 |
| Profit Target Level | 5.000 |
| Stop Loss Level | 5.120 |
Prospek Harga US Oil Senin | 16 Februari 2025
Pada timeframe H4, US Oil bergerak melemah setelah gagal bertahan di atas resistance 63.61 dan kini diperdagangkan di bawah SMA 50, yang menunjukkan bahwa momentum kenaikan mulai kehilangan kekuatan. Penembusan di bawah SMA ini juga mengindikasikan perubahan bias jangka pendek menjadi bearish.
RSI berada di level 42, mencerminkan momentum bearish moderat yang masih membuka ruang penurunan lebih lanjut. Selama harga tetap di bawah 63.61, tekanan jual berpotensi berlanjut dengan target penurunan menuju support 61.69, dan penembusan di bawah level tersebut dapat membuka peluang penurunan menuju 61.08 hingga 60.08.
US Oil INTRADAY AREA
R1 63,61 R2 64,44 R3 65,49
S1 61,69 S2 61,08 S3 60,08
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 61,70 |
| Profit Target Level | 63,00 |
| Stop Loss Level | 61,00 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 63,60 |
| Profit Target Level | 62,00 |
| Stop Loss Level | 64,50 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Week Ahead: 16–20 Februari 2026
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menilai pergerakan harga emas pada time frame H4 masih berada dalam kecenderungan bearish dengan level pivot di 5.007. Selama harga bertahan di bawah area tersebut, tekanan jual diperkirakan masih berlanjut dengan potensi penurunan menuju area support 4.910, kemudian 4.875, hingga 4.845.





Pada grafik H4, XAU/USD terlihat gagal bertahan di atas area 5.019–5.077 dan kini bergerak di bawah SMA 50 yang mulai melandai, menandakan momentum bullish melemah. Tekanan jual meningkat setelah harga menembus support 4.982, membuka ruang koreksi lebih dalam. RSI berada di kisaran 37, menunjukkan momentum bearish masih dominan dan belum memasuki area jenuh jual ekstrem.
Pada grafik H4, US Oil terlihat menembus ke bawah area 63,61 yang sebelumnya menjadi support sekaligus berdekatan dengan SMA 50, menandakan momentum bullish mulai melemah. Harga juga bergerak di bawah garis tren naik jangka pendek, mengindikasikan potensi perubahan struktur ke arah koreksi lebih dalam. RSI berada di kisaran 38, menunjukkan tekanan bearish meningkat meski belum masuk area jenuh jual.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan WTI pada time frame H4 masih cenderung bearish dengan level pivot di 65,05. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan turun masih berpotensi berlanjut dengan support terdekat di 64,00. Jika harga menembus area ini, penurunan dapat berlanjut menuju support berikutnya di kisaran 63,60 hingga 63,20.

Pada time frame H4, pergerakan XAUUSD menunjukkan kecenderungan bullish moderat setelah harga bertahan di atas area support 5.019–4.982. Harga juga kembali bergerak di atas SMA 50 yang mulai melandai ke atas. RSI (14) berada di sekitar level 60, menandakan momentum beli masih terjaga tanpa indikasi jenuh beli.
Pada time frame H4, pergerakan WTI Crude Oil masih berada dalam tren bullish setelah harga bertahan di atas SMA 50 yang terus menanjak serta garis tren naik jangka menengah. Harga juga masih bergerak di atas area support kunci 63,61 sehingga struktur kenaikan tetap terjaga. RSI (14) berada di sekitar level 54, mencerminkan momentum bullish yang masih ada meski belum terlalu kuat.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas masih berada dalam tren bullish pada time frame H4, dengan level pivot di 5.000. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka dengan resistance terdekat di 5.085. Apabila level ini berhasil ditembus, penguatan berpotensi berlanjut menuju area resistance berikutnya di kisaran 5.145 hingga 5.230.

