Kinerja Saham Global Didorong Sektor Teknologi
Ringkasan Pasar & Proyeksi Ekonomi 22–26 Desember 2025 menunjukkan pasar saham global bergerak menguat, dengan sektor teknologi memimpin reli di Wall Street. Indeks saham global MSCI mencatat kenaikan harian meskipun secara mingguan masih membukukan koreksi tipis. Sentimen risiko membaik seiring meningkatnya kembali optimisme terhadap tema kecerdasan buatan, yang mendorong minat beli pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.
Di Amerika Serikat, indeks utama Wall Street ditutup di zona hijau. Nasdaq mencatat penguatan paling signifikan, diikuti S&P 500 dan Dow Jones. Kinerja ini mencerminkan kembalinya selera risiko investor setelah tekanan pasar pada pekan sebelumnya mulai mereda.
Di Eropa, indeks STOXX 600 menutup perdagangan pada level tertinggi sepanjang masa. Penguatan mingguan menjadi yang terbesar sejak akhir November, didorong oleh kinerja solid sektor industri dan teknologi.
Kebijakan Bank Sentral Jepang Tekan Yen
Dari pasar Asia, Bank Sentral Jepang menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade sesuai ekspektasi pasar. Namun, langkah tersebut justru mendorong pelemahan yen karena pelaku pasar melakukan aksi ambil untung. Yen tertekan hingga mendekati level yang berpotensi memicu intervensi otoritas.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 26 tahun, sementara indeks Nikkei menutup perdagangan dengan kenaikan. Kondisi ini menunjukkan pasar saham Jepang merespons positif normalisasi kebijakan moneter, meski tekanan tetap membayangi pasar mata uang.
Data Ekonomi AS Beri Sinyal Stabilitas
Ringkasan Pasar & Proyeksi Ekonomi 22–26 Desember 2025 juga menyoroti data ekonomi Amerika Serikat yang cenderung stabil. Penjualan rumah eksisting naik tipis pada November, meski ketidakpastian ekonomi dan suku bunga hipotek yang tinggi masih menahan permintaan. Sentimen konsumen tercatat melemah dibandingkan ekspektasi, namun tetap lebih baik dari bulan sebelumnya.
Inflasi konsumen menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, meski pasar tetap mencermati potensi distorsi data. Secara umum, kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi mulai mereda, sehingga memberi ruang bagi bank sentral AS untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih akomodatif ke depan.
Pasar Mata Uang dan Obligasi Bergerak Dinamis
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat terhadap yen seiring perbedaan arah kebijakan moneter. Indeks dolar mencatat kenaikan moderat, sementara euro bergerak terbatas terhadap dolar. Pergerakan ini mencerminkan sikap pasar yang masih berhati-hati menjelang arah kebijakan bank sentral utama.
Sementara itu, pasar obligasi global mengalami kenaikan imbal hasil. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan 30 tahun bergerak naik mengikuti lonjakan yield global, mencerminkan penyesuaian ekspektasi suku bunga dan rilis data ekonomi yang tertunda.
Harga Minyak Naik, Logam Mulia Tetap Kuat
Di sektor energi, harga minyak menguat di tengah kekhawatiran potensi gangguan pasokan dari Venezuela. Pasar juga mencermati perkembangan geopolitik serta keputusan suku bunga bank sentral global. Minyak mentah AS dan Brent sama-sama mencatat kenaikan harian yang solid.
Untuk logam mulia, perak melonjak ke rekor tertinggi baru, didukung permintaan investasi dan ketatnya pasokan. Emas mempertahankan tren positif dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan, seiring meningkatnya spekulasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS.
Prospek Pasar Menjelang Akhir Tahun
Ringkasan Pasar & Proyeksi Ekonomi 22–26 Desember 2025 mencerminkan pasar global yang mulai menemukan keseimbangan antara optimisme pertumbuhan dan kehati-hatian kebijakan moneter. Saham teknologi kembali menjadi motor penggerak, sementara volatilitas tetap tinggi di pasar mata uang dan komoditas. Menjelang akhir tahun, fokus investor akan tertuju pada arah suku bunga global, stabilitas inflasi, serta dinamika geopolitik yang masih berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.
WEEK AHEAD
(22 – 26 Desember 2025)

Agenda Global Pekan Pendek Libur Natal
Pekan perdagangan menjelang Natal berlangsung lebih singkat, terutama di Amerika Serikat, dengan pasar saham dan obligasi tutup lebih awal pada 24 Desember serta libur penuh pada 25 Desember. Meski likuiditas cenderung menipis, investor tetap mencermati sejumlah rilis data ekonomi yang tertunda dan berpotensi memengaruhi arah pasar menjelang akhir tahun.
Amerika
Di Amerika Serikat, perhatian tertuju pada estimasi kedua pertumbuhan Produk Domestik Bruto kuartal ketiga yang diperkirakan mengonfirmasi ekspansi ekonomi sebesar 3,2% secara tahunan. Data laba korporasi juga akan dirilis, memberikan gambaran kinerja sektor bisnis di tengah perlambatan global.
Selain itu, pesanan barang tahan lama untuk Oktober diproyeksikan meningkat 0,4%, sementara bank sentral AS akan merilis data produksi industri untuk Oktober dan November. Indikator lain yang ikut dipantau meliputi kepercayaan konsumen Conference Board, Richmond Fed Manufacturing Index, serta Chicago Fed National Activity Index.
Dari Kanada, pelaku pasar akan mencermati pertumbuhan GDP bulanan serta ringkasan pertimbangan kebijakan bank sentral yang dapat memberi petunjuk arah suku bunga ke depan. Data harga produsen juga menjadi perhatian untuk menilai tekanan inflasi dari sisi biaya.
Eropa
Kalender ekonomi di Eropa juga relatif sepi tanpa agenda besar. Inggris akan merilis data final GDP kuartal ketiga, investasi bisnis, dan neraca transaksi berjalan. Zona euro mempublikasikan data registrasi mobil baru, sementara Jerman merilis harga impor.
Italia melaporkan harga produsen, sedangkan Spanyol menyajikan data neraca perdagangan, inflasi produsen, serta GDP final kuartal ketiga. Sementara Swiss akan merilis indeks sentimen konsumen,
Asia-Pasifik
Di China, perhatian tertuju pada pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional yang berlangsung dari 22 hingga 27 Desember. Agenda pembahasan mencakup rancangan undang-undang terkait perlindungan lingkungan, perencanaan pembangunan nasional, dan perdagangan luar negeri.
Jepang akan merilis notulen rapat kebijakan bank sentral Oktober serta data inflasi Tokyo, dengan inflasi inti diperkirakan turun ke 2,5%. Selain itu, produksi industri November diproyeksikan melemah, sementara penjualan ritel diperkirakan mencatat pertumbuhan tahunan dan tingkat pengangguran tetap stabil.
Di Australia, pasar mencermati notulen rapat bank sentral Desember untuk petunjuk kebijakan lanjutan
Gambaran Umum Menjelang Akhir Tahun
Secara keseluruhan, pekan depan diperkirakan berlangsung dengan volatilitas terbatas akibat libur Natal, namun rilis data kunci tetap berpotensi memicu pergerakan selektif di pasar. Investor cenderung menjaga posisi dengan fokus pada sinyal pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan moneter global menjelang pergantian tahun.
Data Mingguan Perdagangan Emas (15 – 19 Desember 2025)
Open : 4.295,79 High : 4.374,56 Low : 4.271,42 Close : 4.337,70 Range : 103,14
GOLD PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 4.281 | R1 4.384 |
| S2 4.225 | R2 4.431 |
| S3 4.178 | R3 4.487 |
Gold Outlook : Bullish
Data Mingguan Perdagangan US Oil (15 – 19 Desember 2025)
Open : 57,30 High : 57,59 Low : 54,87 Close : 56,51 Range : 2,72
OIL PRE ANALYSIS
WEEKLY VALUE AREA
| WEEKLY SUPPORT | WEEKLY RESISTANCE |
| S1 55,06 | R1 57,78 |
| S2 53,60 | R2 59,04 |
| S3 52,34 | R3 60,50 |
Oil Outlook : Bearish
Dapatkan update seputar Pasar saham global trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.
Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menilai bahwa pasangan EUR/JPY masih berada dalam kecenderungan bullish dengan level pivot di 182,39. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka. Resistance di 183,40 kini telah berhasil ditembus, yang sekaligus mengonfirmasi kelanjutan tren bullish. Dengan demikian, target kenaikan selanjutnya berada di area 183,65 hingga 183,91.





Pada grafik H4, harga emas masih bergerak dalam tren naik dengan harga bertahan di atas SMA 50 dan garis tren naik, namun tekanan beli mulai melemah. RSI membentuk bearish divergence, di mana harga sempat mencetak higher high sementara RSI justru membentuk lower high, sehingga mengindikasikan potensi koreksi jangka pendek.
Pada grafik H4, US Oil masih berada dalam tren bearish setelah harga turun dari area 59,02 dan membentuk low baru di sekitar 54,24. Rebound yang terjadi selanjutnya hanya bersifat korektif dan tertahan di area 56,83 yang berdekatan dengan SMA 50, sehingga area tersebut kini berperan sebagai resistance dinamis.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan silver masih cenderung bullish pada time frame H4, dengan level pivot di 65,10. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan diperkirakan masih berlanjut dengan resistance terdekat di 67,10. Jika resistance ini berhasil ditembus, harga berpotensi melanjutkan penguatan menuju area 68,50 hingga 70,00.

Pergerakan XAUUSD pada grafik H4 masih menunjukkan bias bullish setelah harga bertahan di atas SMA 50 dan bergerak mengikuti garis tren naik jangka menengah. Harga saat ini berkonsolidasi di atas area support 4.285–4.306, yang sebelumnya berfungsi sebagai area resistance, sehingga selama zona ini mampu dipertahankan, peluang kenaikan lanjutan masih terbuka. Resistance terdekat berada di area 4.356, diikuti zona 4.381–4.400 sebagai target kenaikan berikutnya.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah harga bergerak di bawah SMA 50 dan membentuk tren turun jangka pendek. Penurunan tajam membawa harga menguji area support 54,87 sebelum terjadi rebound teknikal, namun kenaikan saat ini masih bersifat korektif.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menilai pergerakan GBP/USD pada time frame H4 masih berpotensi bearish dengan level pivot di 1.3385. Selama harga bertahan di bawah area ini, peluang penurunan tetap terbuka dengan target support terdekat di 1.3305. Jika support tersebut ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju area support berikutnya di 1.3285 hingga 1.3265.

Pada grafik H4, pergerakan harga emas menunjukkan bias bullish yang mulai melambat setelah reli dari area demand 4.265–4.285. Rebound tersebut berhasil mendorong harga menembus area resistance 4.330 dan bertahan di atas SMA 50, yang menegaskan struktur naik masih terjaga. Namun, harga saat ini terlihat berkonsolidasi tepat di atas area breakout tersebut, menandakan hilangnya momentum lanjutan dalam jangka pendek.
Pada grafik H4, pergerakan harga US Oil menunjukkan tekanan bearish yang masih dominan setelah harga turun tajam dan bergerak jauh di bawah SMA 50, yang menegaskan struktur tren turun masih kuat. Penurunan membawa harga menembus area support bertahap hingga berada di bawah pivot point 55,47, menandakan tekanan jual belum mereda.
