Market Summary
Peluang trading US Oil kembali menjadi sorotan pasar setelah harga minyak melonjak tajam akibat meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak hampir 28% hingga mencapai level tertinggi baru dalam tiga setengah tahun di sekitar $113 per barel pada awal sesi perdagangan Eropa hari Senin.
Lonjakan tersebut terjadi setelah konflik di Timur Tengah meluas hingga menyasar fasilitas penyimpanan minyak di Iran. Serangan tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global, sehingga mendorong reli harga minyak yang sangat kuat.
Meski sempat mencapai puncak baru, harga minyak kemudian terkoreksi dari level tertinggi intraday dan kembali diperdagangkan di sekitar $106 per barel. Koreksi terjadi setelah muncul laporan bahwa negara-negara anggota G7 bersama International Energy Agency (IEA) akan membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat guna meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan.
Serangan AS–Israel dan Gangguan Selat Hormuz
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan operasi militer bersama yang menargetkan sejumlah depot minyak Iran selama akhir pekan. Peristiwa tersebut memperbesar risiko gangguan terhadap produksi dan distribusi energi global.
Sebelumnya, harga minyak memang sudah bergerak naik setelah militer Iran menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia karena sekitar 20% pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.
Gangguan pada jalur strategis ini langsung meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, sehingga mempercepat kenaikan harga minyak di pasar internasional.
Dolar AS Menguat di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak juga memicu perubahan sentimen di pasar keuangan global. Indeks dolar AS tercatat menguat hingga menembus level 99,5 dan mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.
Kenaikan tersebut terjadi karena investor mulai merevisi ekspektasi inflasi setelah konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve kemungkinan akan menunda rencana pemangkasan suku bunga.
Selain itu, meningkatnya ketidakpastian geopolitik juga mendorong arus dana menuju aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Peluang Trading US Oil di Tengah Volatilitas Pasar Energi
Di tengah kondisi tersebut, peluang trading US Oil semakin menarik perhatian pelaku pasar karena pergerakan harga minyak menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Lonjakan harga yang tajam dalam waktu singkat mencerminkan kuatnya respons pasar terhadap perkembangan geopolitik global.
Selama konflik di Timur Tengah masih berlangsung dan kekhawatiran terhadap pasokan energi global tetap tinggi, volatilitas harga minyak berpotensi terus mendominasi pasar. Situasi ini membuat peluang trading US Oil menjadi salah satu fokus utama investor di pasar komoditas energi.
Analisis Teknikal
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan US Oil berpotensi melanjutkan koreksi pada time frame H4, dengan level pivot di 112,50. Selama harga masih bertahan di bawah level tersebut, tekanan koreksi diperkirakan berlanjut dengan support terdekat di 97,00. Jika level support ini ditembus, penurunan berpotensi berlanjut untuk menguji support berikutnya di 91,50 hingga 85,00.
Sebagai alternatif skenario, jika harga kembali bergerak naik dan menembus level 112,50, maka kenaikan berpotensi kembali mendominasi dengan target pengujian area resistance di kisaran 119,50 hingga 124,80.
Resistance 1: 112,50 Resistance 2: 5119,50 Resistance 3: 124,80
Support1: 97,00 Support 2: 91,50 Support 3: 85,00
Dapatkan update seputar trading di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda.





Harga emas mencoba rebound setelah sempat turun mendekati area support 5.050, namun kenaikan masih tertahan di area SMA 50 di kisaran 5.200. Penolakan di area tersebut menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat, sehingga harga kembali bergerak turun untuk menguji support 5.050. Jika level ini ditembus, maka penurunan berpotensi berlanjut menuju area 4.990 hingga 4.935.
Harga US Oil pada grafik H4 terlihat melonjak tajam dan membentuk gap kenaikan yang cukup lebar di area 92,49 hingga 105,01, menandakan momentum bullish yang sangat kuat dalam jangka pendek. Saat ini harga masih bergerak jauh di atas garis SMA 50, yang mengindikasikan tren naik masih dominan. Namun indikator RSI sudah berada di kisaran 88, yang menunjukkan kondisi overbought sehingga membuka peluang terjadinya konsolidasi atau koreksi teknikal dalam waktu dekat, terutama untuk menguji area gap di sekitar 105,01 hingga 92,49.
Week Ahead: 02–06 Maret 2026
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih berpotensi bullish dengan level pivot di 5.055. Selama harga bertahan di atas level tersebut, penguatan diperkirakan berlanjut untuk menguji resistance di 5.165, kemudian 5.195, hingga 5.225.

Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat masih berada dalam fase konsolidasi setelah koreksi tajam dari puncaknya di area 5.375. Tekanan jual sempat mendorong harga turun cukup dalam, namun untuk sementara penurunan mulai tertahan di sekitar area 5.050 yang kini menjadi support penting. Selama level ini masih mampu dipertahankan, emas berpeluang mencoba bangkit melalui rebound teknikal.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 masih menunjukkan tren bullish yang kuat setelah reli tajam sejak akhir Februari. Harga juga sempat membentuk gap di area sekitar 70, yang memperkuat indikasi perubahan sentimen pasar ke arah positif. Selama harga tetap bergerak di atas garis SMA yang terus menanjak, tren kenaikan masih relatif terjaga.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan silver pada time frame H4 masih cenderung bearish dengan level pivot di 85,50. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan penurunan berpotensi berlanjut untuk menguji area support di 81,65, kemudian 79,50, hingga 78,00.

Pergerakan emas pada pada timeframe H4 sebelumnya sempat melanjutkan kenaikan hingga menembus area 5.400, namun gagal bertahan setelah tertahan di resistance kuat 5.375. Dari area tersebut, harga berbalik turun cukup tajam hingga membentuk low di 4.996. Setelah menyentuh level ini, harga mencoba rebound, tetapi kenaikan masih terbatas.
Pergerakan US Oil pada timeframe H4 menunjukkan tren yang masih kuat ke atas setelah breakout dari area konsolidasi dan melanjutkan kenaikan hingga menembus resistance 73.29 dan 71.63. Kenaikan ini juga didukung oleh posisi harga yang tetap berada di atas SMA 50, yang kini berfungsi sebagai support dinamis dan mengonfirmasi bias bullish masih terjaga.
