Perang Iran Picu Lonjakan Minyak dan Inflasi
Perang Iran mengguncang pasar global pada Kamis setelah eskalasi konflik AS dan Israel terhadap Iran mendorong harga minyak melonjak tajam. Brent sempat menembus di atas $119 per barel setelah serangan terhadap ladang gas South Pars Iran, fasilitas gas utama di Qatar, serta kilang minyak di Arab Saudi dan Kuwait. Lonjakan ini meningkatkan kekhawatiran inflasi global karena energi merupakan komponen utama biaya produksi dan transportasi.
Perdagangan minyak berlangsung sangat volatil. Minyak mentah AS ditutup turun tipis ke $96,14 per barel, sementara Brent berakhir di $108,65 per barel, masih naik secara harian. Harga sempat melemah setelah pemerintah AS mengambil langkah untuk memperluas pasokan serta pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang meredakan kekhawatiran pasar.
Saham Global Melemah, Sentimen Risk-Off Menguat
Lonjakan harga energi akibat perang Iran langsung memicu aksi jual di pasar saham dunia. Di Wall Street, indeks Dow Jones turun 0,44%, S&P 500 melemah 0,27%, dan Nasdaq kehilangan 0,28%. Bahkan S&P 500 ditutup di bawah moving average 200 hari untuk pertama kalinya sejak Mei, menandakan tekanan teknikal yang signifikan.
Indeks saham global MSCI turun 0,88%, sementara indeks STOXX 600 Eropa merosot 2,39%, penurunan harian terbesar sejak awal Maret. Korelasi negatif yang tajam antara saham dan harga minyak menunjukkan bahwa kenaikan energi langsung memicu mode “risk-off”. Investor cenderung menghindari aset berisiko saat inflasi meningkat dan pertumbuhan ekonomi terancam.
Bank Sentral Tahan Suku Bunga di Tengah Ketidakpastian
Sejumlah bank sentral utama memilih mempertahankan suku bunga sambil mengevaluasi dampak ekonomi konflik Timur Tengah. Bank of England mempertahankan suku bunga dan menyatakan siap bertindak jika risiko meningkat. Gubernur Andrew Bailey juga menilai pasar mungkin terlalu cepat memperkirakan kenaikan suku bunga.
Bank Sentral Eropa, Bank of Japan, dan Federal Reserve juga menahan kebijakan moneternya. Mereka menyuarakan kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan memperlambat pertumbuhan. Imbal hasil obligasi pemerintah global naik karena pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Sementara itu, bank sentral Australia justru menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 10 bulan dan memperingatkan risiko inflasi yang “material” akibat kenaikan harga energi. Swiss mempertahankan suku bunga nol dan siap melakukan intervensi untuk menahan penguatan franc Swiss sebagai aset safe haven.
Dolar Melemah, Yen dan Euro Menguat
Indeks dolar AS turun sekitar 1% terhadap sekeranjang mata uang utama. Euro menguat ke sekitar $1,1586, sementara yen Jepang juga menguat meskipun masih mendekati level sensitif 160 per dolar yang berpotensi memicu intervensi pemerintah Jepang.
Bank of Japan mempertahankan suku bunga jangka pendek di 0,75% dan mengadopsi nada hati-hati terkait inflasi. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama sebelumnya memberikan peringatan keras terhadap pergerakan mata uang yang berlebihan.
Harga Emas Justru Anjlok di Tengah Konflik
Berbeda dari pola klasik safe haven, emas justru turun tajam akibat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Harga spot emas merosot 3,5% ke sekitar $4.650 per ounce, sementara kontrak berjangka turun 5%. Logam mulia lain seperti perak dan platinum juga melemah signifikan.
Sebelumnya, emas bergerak dalam kisaran sempit $5.000–$5.200 sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Penurunan tajam terjadi setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga dan menegaskan ketidakpastian dampak lonjakan minyak terhadap inflasi. Pasar kini memperkirakan hampir tidak ada pemangkasan suku bunga tahun ini.
Prospek Harga Emas Jumat | 20 Maret 2026
Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat masih berada dalam tekanan bearish kuat setelah menembus beberapa level support penting dan bergerak jauh di bawah SMA 50, yang mengonfirmasi dominasi seller dalam jangka pendek. Penurunan terbaru berlangsung tajam dan saat ini harga masih berada di atas zona support kuat 4.503–4.403, sehingga area tersebut belum tersentuh dan tetap menjadi potensi demand utama apabila pelemahan berlanjut.
Indikator RSI yang mendekati area oversold menunjukkan momentum turun sudah cukup ekstrem, namun belum memberikan sinyal pembalikan yang jelas. Selama harga belum mampu kembali menembus resistance terdekat di sekitar 4.726, tekanan turun masih berpeluang berlanjut untuk menguji zona support 4.503–4.403, dengan risiko penurunan lebih dalam menuju 4.274 jika area tersebut ditembus.
GOLD INTRADAY AREA
R1 4.726 R2 4.803 R3 4.900
S1 4.503 S2 4.403 S3 4.274
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 4.505 |
| Profit Target Level | 4.700 |
| Stop Loss Level | 4.380 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 4.725 |
| Profit Target Level | 4.600 |
| Stop Loss Level | 4.805 |
Prospek Harga US Oil Jumat | 20 Maret 2025
Pergerakan US Oil pada time frame terlihat harga masih bergerak dalam fase konsolidasi setelah reli kuat sebelumnya, dengan harga kini berada di sekitar area support 92,50 yang berdekatan dengan SMA 50, sehingga zona ini menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya. Struktur harga menunjukkan momentum bullish mulai melemah setelah gagal mempertahankan posisi di bawah resistance 99,99, sementara penurunan terbaru mengindikasikan tekanan jual jangka pendek sedang meningkat.
Selama harga mampu bertahan di atas 92,50 dan SMA 50, peluang pemantulan tetap terbuka untuk kembali menguji resistance 99,99 hingga 104,73. Namun, jika support tersebut ditembus secara meyakinkan, koreksi berpotensi berlanjut menuju 89,81 hingga 86,11 sebagai area support berikutnya, sejalan dengan RSI yang bergerak di sekitar level netral dan belum menunjukkan kondisi jenuh jual maupun beli.
US Oil INTRADAY AREA
R1 99,99 R2 104,73 R3 108,00
S1 92,50 S2 89,81 S3 86,11
| OPEN POSITION | BUY |
| Price Level | 92,60 |
| Profit Target Level | 98,00 |
| Stop Loss Level | 89,80 |
| OPEN POSITION | SELL |
| Price Level | 98,90 |
| Profit Target Level | 93,50 |
| Stop Loss Level | 101,00 |
Dapatkan update seputar pasar dari instrument lainnya di tpfx.co.id . Buka akun demonya disini GRATISS.
Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna dan membantu dalam perjalanan trading Anda. Selamat trading dan semoga sukses!
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan GBP/USD masih berpotensi bearish pada time frame H4, dengan level pivot di 1.3300. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan penurunan diperkirakan berlanjut dengan target support terdekat di 1.3240. Jika level ini ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju area support berikutnya di 1.3215 hingga 1.3190.





Pergerakan emas pada time frame H4 terlihat masih berada dalam tekanan bearish setelah penembusan kuat di bawah area support 4.961 dan 4.900. Harga saat ini bergerak di bawah SMA yang mulai menurun, mengindikasikan tren turun masih dominan, sementara RSI berada di area oversold namun belum menunjukkan sinyal pembalikan yang signifikan.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bullish setelah harga berhasil bertahan di atas area support 92,50 dan didukung oleh posisi harga yang masih berada di atas SMA yang menanjak. Saat ini harga sedang menguji resistance 99,99, sehingga jika mampu ditembus, potensi kenaikan dapat berlanjut menuju 104,73 hingga 108,00.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan emas pada time frame H4 masih cenderung bearish, dengan level pivot di 5.025. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, potensi penurunan masih berlanjut dengan support terdekat di 4.981. Jika level ini ditembus, penurunan berikutnya berpotensi menguji area 4.965 hingga 4.945.

Pergerakan XAU/USD pada time frame H4 terlihat masih berada dalam tekanan setelah gagal bertahan di atas area 5.061 dan saat ini bergerak konsolidasi di sekitar 5.000 dalam range sempit. Harga juga masih berada di bawah SMA yang mulai menurun, yang mengindikasikan momentum bearish jangka pendek masih dominan.
Pergerakan US Oil pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bullish setelah harga mampu bertahan di atas area support 92,50. Saat ini harga bergerak konsolidasi di sekitar 95,00 setelah sebelumnya mengalami lonjakan tajam. Posisi harga yang masih berada di atas SMA juga mengindikasikan bahwa tren kenaikan jangka pendek masih terjaga. Selama harga tetap bertahan di atas 92,50, potensi kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance terdekat di 99,99, kemudian berpeluang melanjutkan penguatan menuju area 104,73 hingga 108,00.
Dari sisi teknikal, analisis Trading Central menunjukkan bahwa pergerakan AUD/USD pada time frame H4 masih memiliki kecenderungan bullish, dengan level pivot berada di 0.7040. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan masih terbuka untuk menguji resistance terdekat di 0.7100. Jika level ini berhasil ditembus, penguatan berpotensi berlanjut menuju resistance berikutnya di 0.7130 hingga 0.7150.

Harga emas pada grafik H4 terlihat masih berada dalam tekanan setelah turun menembus area support 5.061 dan kini bergerak di bawah garis SMA 50 yang mulai mengarah turun. Penurunan tersebut menunjukkan momentum bearish masih cukup dominan, meskipun saat ini harga terlihat mencoba bergerak stabil di sekitar area 5.005.
Pergerakan US Oil pada grafik H4 terlihat sedang mengalami koreksi setelah sebelumnya gagal bertahan di area resistance 99,99. Tekanan jual mendorong harga turun dan kini menguji area support terdekat di kisaran 92,50.
